Share

Tawaran Kesalahpahaman

Hedi menggelengkan kepalanya menolak. "Maafkan saya. Saya hanya mematuhi perintah Presdir saja."

Tak punya pilihan, akhirnya Shena bersedia meski dengan terpaksa menemui Mahendra. Tepat ketika dia mengikuti langkah Hedi yang telah berjalan lebih dulu di depannya, Rafael menghentikannya kembali.

"Apa hubunganmu dengan Presdir kita, Shena?" tanya pria itu penasaran. Perasaan cemburu yang dirasakannya tak disembunyikannya oleh Rafael untuk dilihat oleh Shena.

"Apalagi memangnya selain atasan dan bawahan?" 

"Tetapi bagaimana bisa Presdir ingin bertemu denganmu? Pria super sibuk itu? Orang yang jarang sekali terlihat berinteraksi dengan bawahannya? Bagaimana mungkin meminta bertemu denganmu kalau bukan karena kalian saling mengenal?"

Apa yang ditanyakan Rafael tidaklah salah. Dengan identitas yang dimiliki oleh Mahendra serta keterkenalannya akan sifat dingin dan acuh tak acuhnya, bagaimana bisa kenal dengan orang seperti dia?

Jika bukan karena satu malam yang mereka habiskan bersama malam itu, ia pun tak dapat percaya apabila sang presdir meminta bertemu dengannya.

Namun, masalah ini, dia tak perlu membicarakannya pada Rafael, kan? Apabila pria asing yang tidur dengannya di malam itu merupakan presdirnya sendiri.

Shena melepaskan pegangan Rafael pada lengannya. Tanpa melihat kepada pria itu, ia menjawab dingin, "Tak ada hubungannya denganmu. Aku pun tak punya kewajiban untuk memberitahu mu semua masalah pribadiku, Rafael. Kau harus ingat kita hanya rekan saja, tidak lebih."

Untungnya Hedi begitu sabar menunggu Shena datang menghampirinya. Pada saat Shena masuk ke dalam lift, ia sebenarnya merasa tak enak hati telah membuat menunggu kaki tangan sang bos.

Dalam perjalanan menuju ke ruangan Mahendra, tiba-tiba saja keringat dingin kembali muncul membasahi dahi serta punggungnya. Shena mengambil langkah mundur, bersandar di dinding lift. 

Hedi yang melihat kelakuannya bertanya heran "Apa Anda baik-baik saja?" 

"Bukannya tadi kubilang aku sedang tidak enak badan?" batin Shena menjawab sinis. Berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang buruk, di permukaan ia tidak menampilkannya dan hanya memberi isyarat pada Hedi kalau dia tidak apa-apa.

Hedi tidak bertanya lagi, kembali menengok ke atas di mana nomor lantai terus naik. Begitu lift berhenti, ia keluar lebih dulu lalu kemudian disusul Shena.

Semakin dekat dirinya menemui Mahendra, semakin banyak pula keluarnya keringat dingin di punggungnya. Dia juga merasakan keinginan untuk muntah. Akan tetapi dia terus mencoba menahannya.

Hedi mengetuk pintu yang tertutup di hadapannya, mengisyaratkan pada sang presdir yang ada di dalam bahwa dia telah tiba.

Tak butuh waktu lama bagi Mahendra untuk membuka pintu itu. Pada saat dia melihat wanita di belakang Hedi, ia terdiam seraya mengamati sosok Shena yang kini membeku kaku.

"Saya sudah membawa Nona Shena, Presdir."

Dia pun mengangguk, "Kau bisa tunggu di luar. Aku panggil kalau urusanku telah selesai," jawabnya singkat yang dapat dipahami maksudnya oleh Hedi. Ia pun berpamitan pergi dari sana, meninggalkan kedua orang itu di depan pintu yang terbuka.

"Masuk." perintahnya pada Shena singkat.

Tinggal berdua saja dengan pria yang berusaha dihindarinya, menyebabkan Shena berubah tegang dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apalagi di bawah tatapan kelam nan tajam itu, ia merasakan ketakutan samar menyelimuti.

Mahendra duduk di sofa tamu. Ia juga menyuruh agar Shena duduk hingga mereka dapat nyaman berbicara.

Sesaat terjebak hening yang lama. Mahendra terus mengamati seorang wanita yang telah menemaninya malam itu. Setiap kali dia melihat wajah cantik dan pemalu ini, ia seakan diingatkan akan malam bergairah mereka. Dan kepuasaan yang jarang dia rasakan itu kini kembali menggelegak seolah ingin membangunkan binatang buas dalam dirinya.

Rengkuh dia. Peluk dia erat. Cium dia sampai jejaknya memenuhi kulit mulus yang terasa nikmat kala disentuh. Walau kini pikirannya tak jauh dari ingin meniduri wanita di depannya lagi, namun wajah tampan Mahendra masih mempertahankan ketenangannya seperti biasa.

Demi menutupi gairahnya, kakinya disilangkan agar wanita lugu di dekatnya itu tidak menyadari akan keanehannya.

"Apa kau masih ingat aku?" Tanpa menunda lama Mahendra lebih dulu bertanya.

Shena mengangkat wajahnya yang tadi menunduk. Melirik sisi wajah sang presdir yang tampan kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Meskipun awalnya dia tidak mau mengakui, namun karena pihak lain telah memanggilnya lebih dulu, tak mungkin baginya menyangkal kalau dia tidak ingat pria ini.

"Asistenku telah salah membawamu malam itu. Untuk mengkompensasi kerugian yang engkau alami, aku bersedia untuk membayar harga."

Ketika Shena mendengar penjelasan ini, dia merasakan perasaan campur aduk. Antara senang karena akhirnya pria ini percaya kalau dia bukanlah wanita murahan, dan merasa terhina karena diingatkan betapa rendahnya harga dirinya di mata lelaki berkuasa ini.

Shena mengembuskan napasnya ringan. Ia berpikir, ia tidak perlu kompensasi apa pun. Lagi pula malam itu yang salah juga dirinya. Diantara mereka berdua, apabila terjadi kesalahpahaman maka sekarang telah terselesaikan. Selama pria ini percaya kalau dirinya bukan perempuan seperti itu, dan dia telah mendapatkan permintaan maaf, ia merasa itu cukup. 

Lalu mengenai anak yang dikandungnya ... Shena mengepalkan tangannya di atas lutut, aku bisa membesarkannya sendiri. Tak perlu bagi Mahendra tahu soal ini, putusnya kemudian.

"Saya tidak membutuhkan kompensasi apa pun dari Anda, Presdir," jawabnya terdengar tulus yang cukup mengejutkan bagi Mahendra.

"Tapi malam itu, kau ... itu pertama kalinya bagimu." Mahendra berkata dengan suara rendah karena ingin menjaga perasaan Shena agar tidak merasa malu.

Benar sekali apa yang dikatakan oleh Mahendra. Malam itu merupakan kali pertama bagi Shena melakukan hubungan intim seperti itu dengan pria. Saat dia berpikir dapat menjaga mahkota berharganya untuk suaminya nanti, yang terjadi justru sebaliknya. Seorang pria yang tak berhak atas dirinya telah merenggutnya lebih dulu.

"Sudah terlanjur terjadi dan saya tidak meminta pertanggungjawaban Anda. Anda dapat melupakan kejadian malam itu, begitu pula dengan saya. Saya akan anggap bahwa semuanya itu tidak pernah terjadi. Dengan begitu, Anda dan saya dapat tenang menjalani hidup masing-masing seperti sebelumnya. Saya hanya berharap Anda menyetujui usulan saya ini."

Tidak ada keraguan sama sekali di sepasang mata jernih itu. Seolah-olah kesempatan emas yang dirinya tawarkan, yang bagi wanita lain begitu sangat menginginkannya, menjadi tak berharga bagi wanita cantik di dekatnya kini.

Mahendra bukanlah tipe orang yang memaksa. Mendengar keputusan Shena, ia tidak mengatakan apa pun lagi.

"Jika sudah tidak ada lagi yang mau Anda katakan, saya permisi dulu." kata Shena seraya menundukkan kepalanya sopan lalu berdiri dari duduk. Namun sebelum dia dapat berdiri dengan benar, pandangannya menggelap dan dia jatuh limbung ke depan.

Mahendra yang melihat itu sontak saja menangkap tubuh Shena, menghindarkan wanita itu dari jatuh ke depan dan melukai dirinya sendiri.

"Shena!" panggilnya terkejut. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status