Share

Bab 4 Danau Biru

Aroma kopi jelas sekali tercium dari arah tempat makan, Ziad mengikuti arah aroma itu dan jelas sekali tercium juga beberapa makanan yang lezat. Saat Zia mulai membuka matanya terlihat begitu banyak makanan yang tertata rapi oleh Bik Imah, orang tua Ziad juga terlihat bersama orang tua Zian dan Zain.

“Selamat pagi nak.” kata ayah Ziad.

“Ayah? dari mana ayah tahu kalau aku ada disini?” tanya Ziad.

“Kemarin malam orang tua Zian menelpon dan mengatakan kalau kamu nginap disini.” 

“Oh maaf ya yah, semalam Ziad tidak sempat kasih tahu ayah, karena Ziad terlalu capek ”

“Terlalu capek atau terlalu takut,”  kata Zain dari belakang yang sudah mengenakan seragam sekolah. Selang beberapa menit Zian juga turun dan sudah mengenakan seragam sekolah.

“Selamat pagi semua.” sapa Zian. 

“Zian, kamu mau masuk sekolah hari ini?” tanya ibunya. 

“Iya bu.”

“Tapi kan baru semalam kamu pulang dari rumah sakit.”

“Kondisi aku sudah baikan kok bu, ibu tenang saja ” kata Zian meyakinkan. 

“Ziad, kenapa kamu belum bersiap-siap?” tanya ayah Zain.

“Heeee iya om…kalau gitu Ziad siap-siap dulu.  Zian, aku pinjam seragam kamu dong.”

“Ambil saja di dalam lemari.”

“Okkk..” Ziad mulai bergegas pergi ke atas untuk bersiap-siap. 

Tiga kepala keluarga itu sarapan dalam satu meja di rumah Zian dan Zain, menu sarapan pagi itu sedikit berbeda dan sangat banyak sekali ada nasi goreng, omelet, roti, ayam goreng, sop ikan tuna, soto, sate, pecel lele dan masih banyak lagi.

“Bik Imah udah cocok buka warung makan serba ada.” canda Zain. 

“Ah..Aden bisa aja. Beberapa makanan ini dibawa oleh orang tua Aden. Bibik hanya buat seberapa saja.” kata Bik Imah. 

“Sepertinya sop ikan tuna ini bukan Bik Imah yang buat.” kata Zian. 

“Iya itu ibu Nirmala yang buat.”

“Tu kan, aku sudah duga kalau ini masakan ibu.”

“Iya, kamu harus makan sop itu yang banyak supaya kamu cepat pulih.” kata ibunya. 

“Iya.”

“Tante, kok aku tidak dikasih.” kata Ziad sedikit kecewa.

“Tenang ini masih banyak kok.” 

“Yeeeyyy…makasih tante.”

“Ziad, hati-hati ntar ikannya malah hidup dan berenang di dalam perut kamu.” kata Zain setengah berbisik-bisik untuk menakuti Ziad.

“Masa iya sih?” Ziad kembali berfikir untuk memakan sop ikan tuna itu.

Ziad lalu mengembalikan mangkuk besar yang berisi sop ikan tuna ke tempat semula dan mengurungkan niatnya untuk menyantap sop ikan tuna.

“Lho…kenapa kamu gak jadi makan ikannya?” tanya ayahnya. 

“Kuahnya aja deh yah.” kata Ziad sambil menyeruput kuah sop ikan tuna.

“Iya nih si Ziad, tidak tahu apa kalau ikan tuna sangat enak.” kata Zain sambil mengambil ikan tuna dan menaruhnya diatas piring.

“Hemmm enak banget masakan tante Nirmala ” kata Zain memuji sambil makan ludes ikan tuna itu.

“Zain, kamu bilang ikannya nanti berenang dalam perut.” kata Ziad. Semua orang yang ada di meja makan itu kaget bukan main mendengar kata-kata Ziad itu.

“Iya yah, kata Zain kalau kita makan ikan tuna nanti ikannya hidup dan berenang dalam perut kita.” kata Ziad dengan polosnya seperti anak SD. 

Semua orang tertawa mendengar kata-kata Ziad, ia heran apakah yang ia katakan itu salah atau bagaimana.

“Nak, yang namanya makanan kalau sudah masuk ke perut pasti bakalan dicerna. Tante nggak pernah dengar kalau ikan hidup dan berenang dalam perut.” kata Ibu Nirmala.

“Tapi kata Zain itu kata orang tua dulu.”

“Ya ampun kamu itu dibohongin oleh Zain.” kata ayah Zain sambil tertawa.

“Oh jadi gini ya Zain, gara-gara kamu aku nggak dapat makan sop ikan tuna dan malah makan kuahnya saja. Rupanya kamu berniat untuk menghabiskannya ya.” kata Ziad sambil memukul bahu Zain beberapa kali karena kesal banget dikerjai.

“Sudah jangan bertengkar. Nanti tante buatkan lagi. Oh iya, Zain, Ziad tante pesan sama kalian jangan kasih Zian untuk nyetir mobil sendiri untuk sementara waktu kira-kira sampai Zian benar-benar sembuh betul.” kata ibu Zian panjang lebar.

“Baik tante.” jawab Ziad dan Zain hampir bersamaan.

“Kalau boleh ayah sarankan kalian bawa satu mobil saja, nggak usah bawa satu-satu.”saran ayah Ziad.

“Iya om, hari ini kita bertiga pakai mobil Ziad” kata Zain.

SMA GARUDA tertulis jelas diatas pintu utama masuk, dari tahun ke tahun siswanya tidak pernah kurang dari 2000 siswa untuk siswa baru. Sekolah itu merupakan seokalah favorite banyak sekali program-program dan ekstrakulikuler dari sekolah mulai dari sains, atletik, seni, dan bahasa. Dan fasilitas yang disediakan juga sangat memadai mulai dari Lab. Sains, Lab. Bahasa, Sanggar, Ruang Musik, Tempat Olahraga dan masih banyak lagi. Sekolah itu juga melahirkan siswa-siswa yang berprestasi terbukti dari lemari piala yang terletak di ruang kepala sekolah. Siswa SMA GARUDA selalu memenangkan perlombaan mulai dari sanis, seni music dan lain-lain. Bel sudah dibunyikan semua siswa bergegas ke kelas masing-masing termasuk 3Z. Zian sudah tiba di kelas dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. 

“Selamat pagi Zian…” sapa Naya yang baru datang ketika melihat Zian kembali masuk.

“Selamat pagi Nay,” jawab Zian. 

“Gimana kondisi kamu?”

“Alhamdulillah sudah agak mendingan.”

“Terus kenapa kamu duduk di belakang lagi?” tanya Naya lagi. 

“Lebih nyaman aja dan tidak ada gangguan sama sekali.”

“Jadi kalau aku duduk didekatmu kamu terganggu ya?” kata Naya sedikit kecewa.

“Bukan seperti itu, ketika aku duduk di depan kayaknya aku seperti di perhatikan terus, dan itu membuatku sedikit terganggu.” kata Zian. 

“Habisnya kamu pintar dan juga tampan, makanya teman-teman selalu perhatikan, dan kamu juga bisa menjawab semua soal-soal yang sulit.” kata Naya dengan sedikit tersipu malu saat mengatakan tampan.

“Lagi pula, sudah ada orang yang duduk disana.” 

“Ohh..itu, iya kamu benar sudah ada yang duduk disana sejak kamu sakit.” kata Naya sambil duduk di bangku dekat Zian. 

“Kita kedatangan siswa baru?” tanya Zian heran.

“Iya. Waktu kamu terbaring pingsan di kelas dan dia juga yang membantu aku sebelum Ziad dan Zain datang membawamu ke rumah sakit. Aku dan dia juga ikut ke rumah sakit waktu itu dan anehnya pas aku ngotot untuk menunggu kamu siuman dia malah yang paling ngotot banget untuk nunggu kamu siuman, Ziad beberapa kali menyuruhnya pulang sehingga dia mau akhirnya memutuskan untuk pulang. Kayaknya dia kenal sama kamu?” kata Naya panjang lebar. 

Zian hanya terdiam dan memikirkan siapa gadis yang dimaksud Naya itu, setahu Zian sedikit sekali gadis yang ia kenal bahkan hanya Naya saja yang ia tahu. Tiba-tiba Marina masuk kedalam kelas.

“Heyyy Marina selamat pagi…” sapa Naya dari arah belakang.

Zian memandang wajah gadis itu seperti tidak asing baginya, tapi ia melihat dimana ? pandangan Zian dan Marina bertemu satu sama lain, wajah Marina sedikit memerah saat Zian menatapnya dalam-dalam, tetapi yang dilakukan Zian hanya sebatas memastikan saja, sedangkan Marina mengartikan kepada hal yang lain.

“Zian, itulah gadis yang aku maksud tadi namanya Marina.” kata Naya membisik di telinga Zian. 

“Kamu sudah baikan?” tanya Marina.

“Iya.” jawab Zian singkat. Zian akhirnya ingat, dia gadis yang Zian temui waktu kecelakaan itu.

“Oh..iya ini sapu tanganmu.” kata Zian. sambil mengembalikan sapu tangan Marina.

“Jadi kalian saling kenal?” tanya Naya heran.

“Iya, aku bertemu dengannya waktu Zian kecelakaan.” kata Marina sambil menerima sapu tangannya dari Zian.

“Berarti kalian berdua sudah akrab dong.”

“Tidak juga.” kata Zian. 

Marina sedikit kecewa dengan perkataan Zian tadi, tapi tetap saja Marina kagum pada sosok laki-laki yang ia temui dua minggu lalu hingga membuatnya tidak bisa tidur. Siswa yang lain berhamburan datang sepertinya guru akan masuk ke dalam  kelas untuk memulai pelajaran. Pelajaran berlangsung sangat tertib, tenang dan rapi sekali. Di kelas sebelah yaitu di kelas Zain terdengar sedikit ribut karena guru mereka belum datang, hal itu membuat kelas Zian sedikit terganggu. Pelajaran pertama akhirnya selesai, Naya mulai menggeser bangkunya dekat dengan Zian dan menceritan tentang Danau Biru yang sering dibicarakan oleh satu sekolahan. Katanya di danau itu sering nampak sosok gadis di sana yang sedang menangis di bawah pohon rindang, kata orang danau itu adalah air mata gadis itu yang setiap waktu datang kesana untuk menangis. Zian lalu ingat danau yang dilihatnya waktu itu dan Zain mengatakan kalau ia melihat sosok gadis yang sendirian disana. Itu sebabnya tidak ada yang pernah berani melewati jalan itu karena tempat itu angker dan berhantu. Cerita horor Naya tak mempan pada Zian, ia sama sekali tidak percaya dengan cerita-cerita seperti itu semuanya pasti ada sebabnya tidak mungkin ada hantu atau apalah itu. Ketika semua pelajaran sudah selesai semua siswa mulai berhamburan pulang, 3Z berjalan menuju parkiran ke arah mobil yang mereka kendarai, kali ini giliran Zain yang menyetir mobil saat di depan gerbang Zain melihat gadis berdiri sendirian sepertinya menunggu jemputan, Zain sepertinya kenal gadis itu. Ya itu Marina gadis yang pernah ia temui.

“Zain kenapa kita tiba-tiba berhenti?” tanya Ziad. 

“Tunggu sebentar ada urusan sedikit.” kata Zain sambil bergeges keluar mobil dan mendatangi Marina.

“Kamu lagi nunggu jemputan ya?” tanya Zain pada Marina.

“Iya, tapi belum sampai-sampai juga.”

“Kalau gitu biar aku yang antar gimana?” 

“Memangnya gak ngerepotin kamu dan teman-temanmu?”

“Gak kok, ayok.” 

Zain lalu menyuruh Ziad duduk di belakang bersama Zian agar Marina bisa duduk disebelahnya. Ziad sedikit kesel olehnya karena dipaksa duduk di belakang, tetapi apa boleh buat kalau Zain sudah berkata begitu.

“Seharusnya aku yang nyetir tadi, jadi kejadian seperti ini tidak terjadi dan kita bisa pulang. Aku malah sudah lapar nih.” gerutu Ziad.

“Sudahlah.” kata Zian sambil membaca buku komiknya tanpa menghiraukan Marina dan Zain sedikitpun.

Sepanjang perjalanan Zain terus saja mengoceh, tetapi pandangan Marina terus saja ke arah Zian lewat kaca sepion itu ia bisa terus memandangi wajah Zian yang serius membaca komik dan beberapa buku disampingnya. Ziad hanya cemberut saja dari tadi, karena masih kesel tanpa ia sadari mereka mulai lewati jalan yang di bicarakan oleh semua siswa tentang Danau Biru yang angker itu.

“Zain, kenapa kita lewat sini?” tanya Ziad. 

“Ini arah ke rumahku.” jawab Marina.

Mereka mulai melewati danau itu, Ziad sudah sangat ketakutan setengah mati sedang mereka bertiga tidak. Mobil itu menyusuri jalan yang sepi membuat Ziad makin diselimuti ketakutan yang luar biasa. Setelah melalui jalan itu terlihat hamparan bunga-bunga sejauh mata memandang. Hilang semua rasa takut itu ketika Ziad melihat hamparan bunga.

“Zian coba kamu lihat ini.” tunjuk Ziad.

Sekilas Zian takjub akan tempat itu dan ia melihat hamparan dandelion disana. Perjalanan yang sangat menakjubkan bagi mereka bertiga.

“Marina ini semua…” kata Zain yang belum sempat melanjutkannya, karena sangat takjub dengan apa yang ia lihat.

“Iya Zain semua hamparan bunga itu milik keluargaku, nah kita akan tiba di rumahku sebentar lagi.” kata Marina. 

“Nah, kita sudah sampai di rumahku.” kata Marina.

Zain dan Ziad sangat takjub sekali melihat rumah Marina yang seperti istana kerajaan. Zian tidak terlalu memperdulikannya.

“Ayo masuk!” ajak Marina. Ketika Zain ingin mencoba masuk Ziad mencegahnya.

“Tidak usah repot-repot Marina, sebaiknya kami pulang saja.” spontan Ziad yang masih menutupi mulut Zain.

Zian hanya diam di dalam mobil, ia tidak ikut turun bersama kedua sahabatnya itu, karena masih sibuk dengan bukunya. Akhirnya mereka bertiga pulang melalui jalan yang sama, karena kata Marina hanya itu jalan satu-satunya menuju kerumah dirinya. Ketakutan mulai menyelimuti Ziad lagi setelah keluar dari ladang bunga yang sudah seperti surga belum lagi rumah Marina yang seperti istana. Setelah melaluinya perasaan Ziad mulai tenang, sedangkan Zain hanya tersenyum bahkan tidak takut seperti Ziad, karena ia berhasil mengantar Marina dan tahu di mana rumahnya dan Zian hanya menatap buku novel horror yang dibaca setelah semua komik habis dilahap habis.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status