Share

Kenzie Mahendra

Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kedua orang tuaku bisa dibilang satu dari sekian banyak orang kaya di kotaku. Aku belum pernah merasakan kesulitan dalam hidupku.

Kedua orang tuaku memberikan perusahaannya kepadaku dan kakakku. Mereka tidak pernah membeda-bedakan dan selalu berusaha untuk berlaku adil kepada kami.

Kakakku sudah menikah satu tahun yang lalu dengan putri sahabat ayahku. Mereka dijodohkan, namun untungnya kulihat mereka berdua juga saling jatuh cinta. Istri kakakku sedang hamil enam bulan sekarang.

Jujur saja melihat kakakku yang sudah menikah, aku juga ingin sekali menikah. Tapi aku masih memiliki satu trauma. Bukan hal besar, namun karena hal itu aku jadi belum berani menikah.

"Ken, ngapain bengong?" tanya kakakku.

"Eh bang, nggak papa kok," jawabku kaget.

"Nggak keluar kamu? Weekend lho ini," ucapnya sambil menyenggol-nyenggol bahuku.

"Haha, mau keluar ke mana Bang? Di rumah juga semuanya udah ada," jawabku jujur.

"Ish ish ish. Jalan-jalan ke mana kek. Nggak bosen kamu di rumah terus?" tanyanya membuatku menggelengkan kepala.

"Kalian lagi ngomongin apa?" Kakak iparku membawakan buah untuk kami.

"Eh, makasih kak," ucapku setelah kakak iparku duduk.

"Iya sama-sama. Oh iya, gimana itu sekretaris kamu? Siapa namanya? Adeeva ya?" tanya kakak ipar membuatku salah tingkah.

"Eh? Kenapa emang sama dia Kak?" tanyaku.

"Emm, pura-pura nggak tahu ya kamu," goda kakak ipar dengan wajah jahil.

"Apa sih Kak?" Wajahku memanas karena ucapan kakak iparku.

"Ya udah deh kalau nggak mau ngomong. Hahaha," kakak iparku tertawa yang membuatku jadi malu.

"Apa si sayang? Kenapa emangnya sama sekretarisnya?" tanya abangku penasaran.

"Ya tanya aja sama adikmu itu," jawab kakak iparku.

"Eits, kenapa nih?" tanya abang penasaran.

"Nggak papa. Jangan ganggu aku!" Aku segera melarikan diri meninggalkan Abang dan kakak iparku dengan wajah yang terasa panas. Kurasa wajahku sangat merah sekarang.

Aku segera pergi ke tempat gym dan berolahraga.

"Duh duh, kenapa dek? Kamu suka sama sekretarismu?" tanya abangku yang ternyata menyusul ke ruang gym.

Blush.

Wajahku memerah, aku sangat merasakan panas di wajahku.

"Wow, ternyata iya ya. Wajahmu merah tuh," godanya.

"Bang. Tolong diem," jawabku tegas.

"Ken, kamu tau kan kalau kamu udah dijodohin sama mama papa?" tanya abangku dengan nada khawatir.

"Aku tau, tapi aku nggak mau kak. Orang pilihan mama papa juga nggak selalu baik kan? Tau sendiri apa yang dilakuin Isabel?" jawabku.

"Aku cuma mau ngasih tau aja sih, takutnya kamu kecewa kalau terlalu berharap sama sekretarismu itu," jawab abang.

"Aku emang berharap bang sama dia. Aku berharap dia mau jadi pacarku. Abang tau, selama ini aku udah ngejar-ngejar dia tapi jawaban dia tetep sama. Dia bilang dia nggak mau nerima aku jadi pacarnya," jawabku dengan wajah kecewa.

"Haah, ya yang siap aja ya kamu. Jangan sampai menyakiti anak orang. Kamu tau kan rasanya disakiti orang lain? Kamu sendiri yang paling tahu," ucap kakakku.

"Tentu saja aku tau, bahkan aku masih trauma sampai sekarang. Abang tau kan kenapa aku belum bisa komitmen sama orang?" tanyaku pada kakakku.

"Iya Abang tau, tapi yang penting Ken, kamu harus siap-siap kalau nantinya nggak sama sekretarismu itu."

"Apa nggak bisa kalau aku bilang ke mama sama papa buat nggak dijodohin?" tanyaku memelas.

Abangku itu hanya mengangkat bahunya.

"Haaah, sial, kalau bisa minta, aku pengen hidup di keluarga yang nggak jodoh-jodohan," kesalku.

"Sayangnya nggak bisa kan Ken?" Jawaban kakakku membuatku semakin kesal.

Aku segera keluar dari tempat gym menuju ke kamar. Setelah mandi, aku pun merebahkan tubuhku ke atas kasur.

Kubuka handphoneku dan kutulis satu nama di aplikasi instargram. Adeeva Kalandra.

Muncul wajah cantik Adeeva di sana. Kulihat satu per satu foto yang dia unggah di sana. Aku tidak pernah bosan melihat foto-fotonya meskipun setiap hari aku melihatnya.

Saat aku masih melihat-lihat foto lamanya, aku mendapat notifikasi bahwa Adeeva mengunggah foto baru dan juga cerita.

Langsung saja kulihat foto apa yang dia unggah.

Ternyata dia mengunggah foto bersama keluarganya dengan caption Love.

Aku tersenyum melihatnya dan setelahnya aku pun tertidur.

***

"Bangun Ken! Makan malam!" Kakakku membangunkanku.

"Hah? Udah jam segini aja?" tanyaku kaget karena melihat jam dan melihat langit yang sudah gelap.

"Buruan ayo makan. Kakak iparmu sudah masak banyak makanan."

"Haah, padahal aku nggak mau makan," jawabku.

"Enak aja kamu, buruan turun. Kasian istriku udah capek-capek masak malah kamu nggak makan," jawab kakakku kesal.

"Ish, lagian kalian berdua ngapain sih di rumahku? Rumah kalian itu kan bukan pajangan, udah malem juga kenapa nggak pulang-pulang?" tanyaku kesal.

"Kita mau nginep kok di sini," jawab kakakku dengan enteng.

"Ish!"

"Udah buruan, nggak usah gerutu terus," ucap kakakku sambil menyeretku turun dari kasur.

"Iya iyaaa." Aku pun mengikuti kakakku.

Aku dan kakakku pun turun ke ruang makan.

"Makan Ken," ucap kakak iparku sambil menyodorkan nasi ke arahku yang baru saja duduk.

"Wah, banyak banget masaknya," ucapku semangat.

"Hehe, aku pengen nyoba resep-resep baru sih," jawab kakak iparku yang membuatku tersenyum.

"Enak nih kayanya," ucapku sambil mengambil lauk satu per satu.

"Iya dong pastinya, istriku kan pinter masak," jawab kakakku bangga.

"Pamer terooos," ucapku jengkel.

"Haha, kenyataan dek," jawab abangku dengan wajah jahil.

"Udah ayo makan dulu." Kakak iparku menengahi.

"Hmm, udangnya enak! Aku mau nyoba kepitingnya juga!" Segera kuambil kepiting yang ada di hadapanku .

"Iya, makan semua. Jangan sisain kalau bisa," ucap kakak iparku.

"Wah, enak-enak semua sih ini. Kenapa nggak buka restoran aja Kak? Aku yakin bakal laris sih."

"Pelan-pelan makannya," ucap kakakku yang tak berselang lama, aku langsung tersedak.

"Uhuk uhuk."

"Dibilangin pelan-pelan kok. Nih airnya." Kakakku menyodorkan air putih untukku.

"Enak banget sih, kalau nggak cepet-cepet makan, nanti kalian nggak kebagian lho," ucapku sambil memukul pelan dadaku.

"Idih, kita mah nggak kaya kamu yang rakus," ejek kakakku.

"Enak aja!"

"Kalian tuh, nggak ada waktu yang terlewat tanpa berdebat. Debaaat terus," ucap kakak iparku yang seketika membuatku tersenyum malu.

"Dia duluan kak!" Aku menunjuk kakakku.

"Eh? Kok jadi aku sih?" protes kakakku.

"Iya lah, udah mau jadi bapak masih kekanak-kanakan aja."

"Enggak lah, aku sih udah dewasa dan pantas jadi seorang ayah."

"Ya ya ya, terserah Abang aja, yang penting Abang seneng," jawabku tak peduli.

"Dasar bocah!"

"Udah-udah, ayo dimakan lagi. Habisin semua ya."

"Ashiaaap."

Selesai makan dan membersihkan piring-piring, kami memutuskan untuk menonton film di ruang teater di rumahku.

"Mau nonton apa?" tanyaku pada kakak dan kakak iparku.

"Horor!" Kakak iparku langsung menyahut.

"Jangan sayang! Kamu kan lagi hamil, nanti kaget-kaget lagi," jawab kakakku dengan cepat.

"Iih, aku kan sukanya horor!" jawab kakak iparku sambil cemberut.

"Jangan!" tegas kakakku.

"Udah action aja," usulku.

"Oke, ya udah action aja," jawab kakakku mengiyakan.

"Cari Korean movie ya Ken," pinta kakak iparku.

"Iyaa siap," jawabku.

Kami pun menonton film yang sudah kami pilih.

"Dih, kakak ipar katanya pengen liat film malah tepar duluan," ucapku setelah menengok ke arah kakak iparku yang sudah terlelap.

"Ssst, jangan keras-keras. Kasian istriku capek," jawab kakakku.

"Iyaaa bawel. Kuganti ya filmnya," ucapku.

"Jangan. Liat aja, nanti kalau tiba-tiba istriku bangun biar bisa liat lagi."

"Ya udah deh," ucapku pasrah.

Aku menonton film dengan serius. Ternyata bagus juga filmnya.

"Udah selesai nih filmnya, bangunin tuh istrinya, suruh pindah ke kamar," ucapku pada kakakku yang ternyata sudah terlelap juga.

"Eh? Iya iya," jawabnya dengan kaget.

"Sayang, bangun yuk, kita pindah ke kamar," ucap kakakku sambil menggoyang-goyangkan badan kakak iparku.

"Eeeengh, filmnya udah selesai?" tanya kakak iparku.

"Udah. Ayo pindah ke kamar," ucap kakakku sambil membantu kakak iparku berdiri.

"Iyaa."

Mereka berdua berjalan menuju salah satu kamar di rumahku yang memang biasanya mereka pakai saat menginap di rumahku.

Aku melanjutkan untuk menonton film. Mencari film action lainnya.

"Begadang ah, besok libur juga."

Aku pun tidur pukul dua dini hari ketika sudah menamatkan lima film. Karena malas pindah ke kamar, aku pun tidur di ruang teater yang sofanya adalah sofabed.

Sebelum tidur aku memeriksa email, barangkali ada pesan penting yang harus kubalas sekarang juga.

Ternyata ada dua email yang mendesak. Aku pun segera membalas email tersebut.

Selesai membalas email, kulihat waktu sudah menunjukkan pukul dua lebih dua puluh menit, aku pun memutuskan untuk tidur karena mataku juga sudah terasa lelah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status