Share

2. Objek Fantasi.

            21+!!!

  "Pagi Ed, aku membawakan kopi spesial ini untukmu. "Tampak Edward sedang sibuk memeriksa setumpuk dokumen yang berada di meja kerjanya.

  "Oh kebetulan sekali, Jen, tolong bawa kemari." Edward melepas kaca mata beningnya dan tersenyum nakal kepada Jenifer.

   "Minum dulu selagi masih hangat. "Jenifer mengulurkan segelas kopi kepada Edward.

  "Terimakasih, tapi aku pikir tubuhmu lebih hangat di bandingkan dengan segelas kopi ini, Jen. "Edward membisikkan kata-kata sensual tepat di telinga kiri Jenifer. Tubuh Jenifer membeku, tidak di sangka sepagi ini ia akan mendapatkan rayuan manis dari seorang lelaki tampan seperti Edward Williams.

  "Ehm he he he terimakasih atas sanjunganmu, Ed. "Jenifer tertawa untuk menutupi kecanggungannya.

  "Aku tidak bercanda, aku serius."

  "Tapi Ed, orang-orang bilang, emmmm badanku gemuk. "Jenifer menundukkan kepalanya tidak pd, jarinya meremas-remas ujung kaosnya.

  "Siapa bilang? Mereka terlalu bodoh untuk menilaimu. Kamu tahu setiap kita berdekatan, adik kecilku langsung on. Seperti saat ini Jennn. "Edward dengan sigap mengelus punggung Jenifer dari atas ke bawah dan berakhir dengan meremas pàntat Jenifer yang padat dan kenyal.

  "Awwww. "Jenifer terhenyak dengan aksi Edward yang tiba-tiba mendadak agresif.

   "Jangan kaget, Jen. Nikmati saja. Maukah kau merasakan yang lebih dari ini?"

   "Aku, aku, ak------hmmmmmpt." Belum sempat Jenifer menjawab, Edward sudah membungkam bibir séksi Jenifer dengan sebuah ciuman panas. Jenifer tidak menolak ataupun membalas, ia masih bingung karena ini adalah ciuman pertamanya.

  "Kenapa diam saja? Kau tidak tahu cara membalas ciuman seorang pria."

  "Aku belum pernah berciuman. "Cicit Jenifer malu.

   "Baiklah, mulai saat ini aku akan mengajarimu bagaimana caranya berciuman dan banyak hal lain lagi yang lebih menyenangkan." Kembali Edward mencium bibir Jenifer, ia memagutnya pelan. Disesapnya bibir Jenifer yang terasa manis. Tangan Edward mulai bergerilya nakal meremas dàda Jenifer yang besar dan menantang.

  "Ahhhhhh. "Satu desahan lolos dari bibir Jenifer. Edward tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjejalkan lidahnya kedalam mulut Jenifer. Lidahnya mulai membelit lidah jenifer, saling mencecap bertukar saliva. Mata Jenifer terpejam ikut hanyut oleh gairah yang dikobarkan oleh Edward.

  Edward menarik kaos yang dikenakan oleh Jenifer ke atas, lalu melepas dan membuangnya ke lantai. Dengan segera ia membuka pengait brà, tidak sabar untuk menikmati payudàra Jenifer yang menggoda. Kini tubuh bagian atas Jenifer telah polos ia malu dan menundukkan wajahnya yang memerah.

  "Tubuhmu sangat indah Jen, aku sangat beruntung bisa memandangnya sedekat ini." Kata-kata rayuan meluncur bebas dari mulut Edward, membuat Jenifer hilang akal.

  Edward dengan cepat menyambar ujung dàda Jenifer yang telah mencuat seakan menantang untuk dinikmati. Dikülum dan dihisapnya secara perlahan dan bergantian. Tangan nakalnya pun  ikut meremas ujung payudàra yang satunya.

  "Edddddd. "Nafas Jenifer tersengal-sengal. Rasa aneh menjalari tubuhnya ketika Edward menghisap dàdanya secara intens. Tidak sampai disitu, tangan Edward mulai menarik resleting celana jeans Jenifer. Ia meloloskan celana jeans beserta celana dalamnya. Tubuh polos Jenifer terpampang jelas di hadapan Edward. Edward merasakan panas pada tubuhnya, hasratnya meledak-ledak tak tertahankan. Ia lalu mengangkat tubuh polos Jenifer ke atas meja Kerjanya. Edward merenggangkan dasi dan membuka jas kerjanya yang terasa sangat menyiksa.

  Edward mulai mencium lagi bibir Jenifer. Tangan kananya meremas payudàra Jenifer sedangkan tangan kirinya mulai membelai klírotis kewanitaan milik Jenifer. Jenifer tersentak mendongakkan kepalanya kebelakang. "Oh my God Edddd." Jenifer mengerang ketika Jemari Edward mengocok kewanitaanya secara pelan. Semakin lama ritme kocokannya semakin cepat, jari-jari Edward keluar masuk secara intens. Dan tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir dari dalam kewanitaanya Jenifer.

   "Edddd." Jenifer memekik kencang setelah pelepasannya datang, ia menjatuhkan tubuhnya kebelakang. Lemas disertai nikmat itulah yang di rasakanya sekarang.

  "Bagaimana, kau mau yang lebih dari ini huh?" Jenifer tersenyum sambil mengangguk malu-malu. "Bukalah pàhamu sekarang yaaa, gitu bagus sekali Jen." Edward mulai mengecup belahan kewanitaanya Jenifer, lidahnya mulai menelusup masuk kedalam kewanitaanya Jenifer yang merah merekah dan telah basah. Dengan cepat lidah Edward menusuk kewanitaanya Jenifer tanpa jeda.

  Tubuh Jenifer menggelinjang tak beraturan, sensasi nikmat akibat tusukan lidah Edward benar-benar sangat menyiksa. Secara reflek tangan Jenifer meremas rambut Edward, sedangkan tangan yang satunya meremas-remas payudàranya sendiri. Desahan -desahan nikmat lolos dari bibirnya.

  "Edwarddddd emmmmm shhhhh. Eddddd cukuppppp ahhhhh aku mau keluarrrr lagiiiiii aaaaa. "Sekali lagi tubuh Jenifer terguncang menegang ketika pelepasanya datang. Matanya sayu menatap tubuh atletis Edward yang ada di atasnya. Edward membalasnya dengan tatapan memuja.

  "Ini baru permulaan baby, sekarangggggg kita mulai ke intinya." Mata Jenifer membola ketika melihat Edward mengelus kejantanannya yang sudah tegak menegang. Panjang, besar dan sedikit berotot. Reflek Jenifer menutup matanya takut, sanggupkah ia------- "jangan takut, aku akan hati- hati. Percayalah padaku." Edward membuka tangan Jenifer yang menutupi matanya. Setelah Edward mengocok kejantanannya sebentar menggunakan cairan milik Jenifer, pelan-pelan ia memasukan ujung kejantanannya kedalam kewanitaannya Jenifer. 

  "Ahhhhhh. "Edward menggeram nikmat merasakan kejantanannya dijepit kencang oleh kewanitaan Jenifer yang sempit. Edward semakin bersemangat."Jennnnn---------"

  "Pak, pak, pak Edward, rapat akan segera di mulai." Edward berjengit kaget. "Sam apa yang sedang kau lakukan disini? Kau menggangguku dengannnnn." Kalimat Edward menggantung saat tersadar ia baru saja mengkhayalkan fantasi liar bersama Jenifer.

  "Oh ya, maaf saya lupa, silahkan kau pergi dulu. Lima menit lagi saya akan menyusul." Samantha segera menuju ruang rapat setelah mendapat instruksi dari sang bos.

  "Síal, belum sampai satu jam kenal dengannya kenapa aku bisa berkhayal bercinta dengannya." Edward menggerutu kesal, apalagi sekarang adik kecilnya memang benar-benar terbangun. Sungguh sangat menyiksa. "Huffft."

        TBC.

       Wkwkw huh hah Hani juga ikut panas dingin nulis ini. Selamat malam minggu gaesss. Ingat adegan ini hanya boleh di praktekan dengan pasangan yang sudah sah. Yang belum sah atau jomblo di haluin aja yak he he he.

     HANI ^^

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status