Share

6. Makan Malam

“Bagaimana kabarmu, Nira? Lama kita tidak bertemu,” sapa Jillian.

“Sangat lama.” Mata Nira berkaca-kaca.

“Dia istriku, Arina Katsuko. Masih belajar bahasa Indonesia.”

Pertemuan terakhir Jillian dengan Nira adalah 10 tahun yang lalu, hari di mana dia pergi bersama ayahnya menuju Australia. Kini perasaan malu, bersalah dan cinta bercampur menjadi kekacauan. Ia mengira Nira akan ada di Jakarta untuk memenuhi undangan para korban keluarga hunter. Dugaannya salah dan Jillian harus menghadapi hal yang tidak pernah ia ingin jumpai.

Nira berlari untuk memeluk teman masa kecil dengan penuh rindu.

“Kenapa baru pulang?” tangis haru Nira.

“Banyak gates yang harus aku urus. Aku sendiri tidak mengira akan bisa pulang.” Itu jawaban yang sudah Jillian siapkan bertahun-tahun. Jillian membalas pelukan Nira dengan satu tangan karena tangan yang lain memegang sepiring buah kersen. Jantungnya berdegup lebih kencang saat ia memeluk cinta pertamanya itu.

“Bodoh. Aku sudah menikah, aku tidak ingin bercerai,” bisik Jillian saat melihat Arina yang memalingkan muka.

“Aku lupa. Aku juga sudah menikah. Dasar Jillian!” Nira mengusap air matanya.

Nira berbalik, “Maafkan aku. Aku hanya teman masa kecilnya, tidak perlu salah paham.”

“She’s sorry. She is my childhood friend. Please don’t divorce me,” terjemah Jillian. Arina mengangguk dan tersenyum kecil.

“Namaku Nira.” Nira mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Arina.

Mereka bertiga duduk di beranda rumah menanti putra Nira yang sedang pergi bermain dengan Lalla. Pada akhir percakapan, Nira mengundang Jillian beserta istrinya untuk makan malam bersama. Jillian tidak keberatan karena lusa juga tidak ada hal yang ingin ia lakukan. Tak lama dua bocah yang ditunggu-tunggu pulang dengan pakaian kotor dan penuh keringat. Nira dan anaknya pulang.

***

Jillian mengenakan baju pinjaman Aditya dengan warna sesuai dengan selera orang Indonesia. Sedangkan Arina terlihat cantik dengan baju blus lengan panjang yang hangat. Ia membetulkan kerah baju Jillian dan memastikan bahwa suaminya tidak bau.

“What’s wrong? Why are you silent?” tanya Jillian.

Arina menggelengkan kepala.

Jillian menyentuh dagu Arina dengan lembut, “I know, you never shook the head and be quite.”

“I also know.... You love Nira, right?” Mata Arin berkaca-kaca saat Jillian tidak segera menjawab.

“She was my past. How can you think like that?”

Arina memeluk Jillian, “The day when you raped me.You said her name, Nira.”

Jillian menelan ludah pahit saat mendengar perkataan istrinya. Air mata menetes di pipi Arina. Dua tahun yang lalu wanita itu menangis ketakutan tetapi saat ini dia menangis karena tidak ingin kehilangan suaminya.

“I’m sorry. But you are only my love, Honey. I love you and Mulan. You two are... the only life I have,” bisik Jillian dengan rangkulan hangatnya.

“Promise?” Arina mengusap tetes air mata.

“I promise,” ucap Jillian sebelum mencium kening istrinya.

Jillian datang ke rumah Nira dengan berjalan kaki, ia mengendong Mulan dan Arina menggandeng Lalla. Matahari sedang tenggelam dan hari mulai malam, lampu-lampu jalan mulai menyalah, dan Jillian tahu bahwa waktu ini tidak akan banyak orang yang berpapasan dengan mereka. Rumah Nira tidak pindah dari susunan rapi perumahan dengan gaya perkotaan.

“Selamat sore.” Jillian mengetuk pintu.

“Mr. Jillian, welcome.... I am Roman, Nira’s husband,” sapa ramah laki-laki yang membukakan pintu.

“Terima kasih undangannya, ini istri saya, Arina. Maaf membawa Mulan dan Lalla,”

“Halo paman,” sapa Lalla yang jarang bertemu dengan ayah sahabatnya.

“Jadi kamu Lalla? Sana panggil Rafa di atas,” minta Roman.

“Baik Paman,” jawab Lalla semangat.

Di ruang tamu, Roman tak henti-hentinya kagum dan merasa beruntung bisa bertemu dengan seorang pemimpin organisasi hunter tingkat internasional. Dia yakin bahwa pertemuan ini akan membuahkan relasi yang baik bagi dirinya yang seorang ketua guild.

“Ya Tuhan, mengapa istriku tidak pernah cerita kalau kamu teman masa kecilnya. Rafa juga tidak cerita jika paman temannya adalah hunter nomor satu di dunia. Apa mereka sengaja menyembunyikan sesuatu dariku. Hahaha...”

“Aku dengar kamu mengurus guild ayah Nira?” basa-basi Jillian.

“Ya, hunter kami juga menghadiri konferensi kemarin. Jika Nira bilang sejak awal kalian berteman mungkin aku yang akan datang, tetapi demi Tuhan. Banyak sekali pekerjaan yang perlu aku urus. Banyak gates yang muncul mendadak di pulau Jawa, Itu benar-benar gila.”

“Ya, aku dengar kabar itu,”

“Sudahlah, kalian tidak akan pernah selesai jika terus membahas gates. Bagaimana kabarmu Arina? Apakah kamu betah tinggal di Indonesia,” Nira datang membawa teh hangat.

“Do you like living in Indonesia,” Jilian menerjemahkan.

“Makanan Indonesia seperti di Jepang.” Arina menjawab dengan aksen kaku.

“Bukankah kalian tinggal di London?” tanya Roman.

“Ya, kantor organisasi WH ada di sana. Aku juga resmi berwarganegara Jepang.”

“Pasti ini menarik untuk diceritakan. Akan aku panggil anak-anak dan mari makan malam.” Nira langsung melangkah menuju tangga rumah.

Makan malam mereka nikmati dengan bertukar cerita-cerita yang menarik. Jillian dengan segudang cerita monster dan gates selalu membuat anak-anak kagum. Nira menceritakan perkembangan belajar dua anak itu, bahkan dia mengenal Lalla sama seperti anaknya. Arina dengan kosakata bahasa Indonesia terkadang menceritakan pengalaman barunya di Indonesia atau cerita tentang Jillian sebagai suami.

Jillian meminta izin keluar untuk merokok, meninggalkan Roman yang sedang menerima panggilan telepon. Perasaannya masih setengah menganjal. Setengah perasaan Jillian lega kini karena kini Nira telah memiliki keluarga baru yang bahagia. Sedangkan setengah perasaan yang lain, Jillian masih merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ayahnya Nira 10 tahun yang lalu.

“Jillian, ini asbak jika kamu mencari.” Nira datang dengan asbak di tangannya.

“Maaf aku tak menepati janjiku yang dulu.”

“Kamu sudah menepatinya sekarang. Ayah pasti senang.”

Tapi perkataan Nira menusuk tajam ke hati Jillian, perasanya terasa getir saat mengingat hari itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status