Share

BAB 2

Sudah pulang?”

Aruna mengerjap kaget, tanpa sadar kakinya melangkah membawa Aruna ke rumah, bukan ke kantor seperti seharusnya. Aruna mendengus, memangnya ia masih memiliki kewajiban untuk datang kesana setelah ini. Dennis tentu sudah melayangkan surat pemecatan untuknya sekarang. Kalaupun belum, Aruna sudah siap untuk mengajukan surat pengunduran diri. Keputusannya untuk bekerja di Osric Corp sungguh sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Runa, kamu baik-baik saja?” Tanya Sara khawatir,

Aruna mengulas senyum terpaksa, “Aku baik-baik saja, hanya sedikit merasa tidak enak badan jadi aku meminta ijin pulang lebih cepat.”

Sara nampak tak yakin dengan jawaban Aruna, ia mengukur suhu tubuh Aruna dengan menyentuh kening Aruna, “Tidak demam, tapi wajahmu kusut. Apa tak terjadi sesuatu di kantor?”

Adik ayah-nya ini memang memiliki insting sekuat ibu kandung, Aruna memutar otak mencari pengalih perhatian, matanya tertumbuk pada tentengan belanjaan di tangan kiri Sara.

“Bibi belanja? Lalu nenek?”

Sara salah tingkah ia membuka tutup mulutnya bingung harus mengatakan apa pada Aruna. Hal ini membuat Aruna panik, serampangan Aruna memasuki rumah tanpa merasa repot melepas sepatu.

“Nenek!” Teriak Aruna, kakiknya lemas seketika setelah menemukan Neneknya tengah tertidur di depan tv.

Nenek menggeliat dan membuka mata lalu tersenyum bahagia melihat Aruna duduk bersimpuh di sampingnya.

“Nona, Nona sudah pulang? Kukira Nona pulang larut lagi seperti kemarin.”

Aruna menghela nafas lega, jika sebelum ini ia selalu merasa sedih ketika nenek memanggilnya ‘nona’ seperti bicara pada orang asing, tapi siang ini Aruna merasa itu adalah panggilan terindah yang pernah ia dengar. Ia sempat kalut tadi, setiap hal buruk serta merta melintas begitu saja di benaknya mengingat kondisi nenek yang tak mungkin untuk di tinggal sendirian di rumah. Penyakitnya membuat Nenek dapat dengan mudah mencelakai dirinya sendiri.

“Apa kabar, Runa?” Sapa seorang pria dari balik pintu kamar Sara.

“Paman?” Tanya Aruna tak percaya, ia mengucek mata berkali-kali memastikan apa yang ia lihat bukan imajinasi atau ilusi optik, “Paman kembali?”

Juna mengerutkan cuping hidung seakan tersinggung dengan pertanyaan Aruna. Ia membungkuk di samping Aruna lalu mengacak-ngacak rambut Aruna, membuat Aruna memberengut tak terima karena masih diperlakukan seperti anak kecil.

“Apa kamu pikir pamanmu ini penipu dan laki-laki tak bertanggung jawab? satu tahun lalu aku berjanji akan berusaha menaikan derajat keluarga kita dan hari ini aku datang untuk menepati janjiku!”

“Menepati janji?”

“Besok kita akan pindah ke Thailand, bisnis pamanmu cukup berjalan baik di sana.” Jelas Sara setelah menaruh belanjaan di dapur.

“Kita akan memulai kehidupan baru di Thailand, kamu tak perlu lagi bekerja seperti robot di perusahaan sialan itu. Aku dan pamanmu juga akan berusaha mencari dokter yang cocok untuk Nenek. Yang terpenting dari semuanya adalah, keluarga kecil kita akan mengukir kenangan manis dan meninggalkan kenangan buruk di sini, untuk selamanya.”

Untuk selamanya-selamanya. Meninggalkan selamanya.

Aruna menggeleng keras, dan bangkit menuju kamar tidurnya. “Aku ingin tidur sebentar, rasanya kepalaku masih pening.”

“Baiklah, akan kubangunkan saat makan malam.” Sahut Sara yang dibalas Aruna dengan debuman pintu kamar.

000ooo000

Kenangan buruk. Aruna tak menyangkal apa yang Sara katakan tentang negara ini bagi keluarga mereka. Sepuluh tahun lalu, orang tua Aruna meninggal karena keracunan gas di klinik tempat keduanya bekerja. Setelah itu, Aruna tinggal bersama Sara dan Juna karena hanya merekalah sisa keluarga yang ia miliki selain nenek. Saat itu Aruna berusia dua belas tahun, tak banyak yang dapat ia ingat hari itu. Namun, semua orang yang menghadiri pemakaman ayah dan ibu mengatakan Aruna gadis yang cukup tegar karena tidak menangis seperti anggota keluarga yang ditinggal pergi yang lainnya. Ah, kalau jujur sebenarnya Aruna tak begitu ingat bagaimana ia melewati hari-hari itu. Terkadang bahkan Aruna merasa seakan tiba-tiba terlahir di usia tujuh belas tahun sama sekali tak ingat tentang hari-harinya ketika kecil.

Dua tahun setelah kepergian kedua orang tuanya, Nenek terserang Alzheimer. Dokter bilang, penyakit Nenek terjadi karena Nenek tak dapat menangani rasa kehilangan setelah kepergian ayah. Ayah sangat mirip dengan kakek, mungkin ketika ayah meninggal membuka kembali luka nenek saat kakek meninggal dulu. Tahun kelabu terus berjalan, klinik kecantikan Juna gulung tikar karena isu miring yang mengatakan Juna menggunakan bahan-bahan berbahaya dalam produknya. Juna harus menjalani berkali-kali pemeriksaan dan keluar masuk ruang interogasi, beruntunglah tuduhan itu tak terbukti sehingga Juna tak perlu mendekam di penjara. Namun sayangnya keberuntungan itu tak berjalan untuk bisnisnya, nama baik Juna tercoreng dan sulit untuk dikembalikan seperti semula. Hingga akhirnya Paman memilih pergi ke luar negeri mencoba peruntungan baru.

Aruna sempat berpikir Juna akan seperti karakter antagonis dalam drama-drama yang tak akan pernah kembali setelah bisnisnya sukses. Sepertinya ia memang terlalu terpengaruh drama di TV.

Gadis itu merebahkan tubuh di atas tempat tidur, rasanya punggungnya berderak ketika bergerak. Bibi benar, pekerjaan Aruna di Osric Corp. sungguh menguras tenaga bahkan untuk pegawai rendahan sepertinya. Setiap pagi ketika tiba dalam kubikel, setumpuk file telah menanti untuk di entry dan entah kapan dapat selesai ia kerjakan. Belum lagi berhelai-helai post-it di layar komputer dari staff senior yang meminta Aruna mengerjakan tugas yang sesungguhnya menjadi kewajiban mereka. Seringnya Aruna tak sempat merasakan indahnya makan siang di cafetaria atau sekedar menikmati jalan santai sepulang kerja karena tenaga nya benar-benar menghilang, diserap sedemikian rupa di kantor. Maka setiap malam Aruna akan berjalan pulang mirip seperti zombie.

Kita akan memulai kehidupan baru di Thailand,

Seharusnya ia senang dengan kemungkinan baru yang Juna bawa sekarang. Aruna tak perlu lagi bekerja di tempat itu. Tak perlu lagi bersembunyi setiap kali tanpa sengaja berpapasan dengan Damar ketika pria itu mengunjungi ayahnya, atau tak perlu lagi pura-pura tak peduli ketika teman-teman kantor membicarakan rumor tentang Damar. Karena ia tak akan pernah bertemu bahkan mendengar berita tentangnya di Thailand. Pindah ke sana membuat Aruna menghapus otomatis kenangan tentang pria itu, hal yang sama seperti yang nenek lakukan delapan tahun lalu.

Hampir saja Aruna menutup mata jika ponsel di saku blazernya tak bergetar keras dan membuat Aruna terlonjak hingga tanpa melihat siapa yang memanggil, segera ia terima.

Halo.”

Kamu dimana?”

Jantung Aruna bertalu mengenali suara di seberang sana, ketika mengecek caller id yang muncul di layar ia merutuki kesembronoannya sendiri yang segera menerima tanpa melihat dulu siapa yang memanggil.

Aku di rumah, kenapa?” Jawab Aruna ketus

Tak ada gunanya berbohong dan bermulut manis untuk pria ini, lagipula sebentar lagi ia juga akan menyakiti Aruna seperti yang ia lakukan tadi.

Kita menikah.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status