Share

Part 3 (Terpanah)

Malam ini pukul tujuh tepat. Devan--Ayah Zea pulang dari pekerjaannya di Malaysia, ia langsung menemui putri tercintanya. Ia tersenyum lebar saat melihat Zea tengah membaca majalah di ruang tamu.

"Malam, Sayangnya Papa, lagi ngapain sih, sampai tidak tahu papa ada di sini?" Devan mencium ubun-ubun Zea, lalu duduk di samping putri kesayangannya itu. 

"Papa, zea kangen!" Zea memeluk erat pinggang pria paru baya itu, ia menangis haru. Sebulan ini ia tidak melihat pria yang paling ia cintai itu.

"Kok nangis? Ayo makan malam bersama. Papa sudah lapar, Zea sudah makan?"

"Huaa... ayo. Zea juga udah lapar, papa juga engga ngabarin aku kalo pulang.  Tahu gitu 'kan bakal masak sayur sop kesukaan papa," Zea cemberut, ia memukul-mukul pelan lengan Devan.

"Ha ha ha, kejutan,” tawa Devan, pandangganya mengedar mencari sosok yang ia rindukan. “Mama kamu diman?"

"Mungkin di kamar, Pa."

Saat Devan hendak menemui Mona, wanita itu justru menjumpainya di ruang tamu. Mona terkejud dan langsung memeluk Devan, ia tersenyum malu saat menyadari kalau Zea masih ada di sana. Ia merasa seperti kucing yang dipergok mencuri ikan, padahal kan Devan suaminya sendiri. Tapi, Mona tetap saja merasa malu karena mereka memang jarang terlihat mesra dihadapan Zea.

"Cie ... Mama malu, ngga apa-apa, Ma, sama anak sendiri juga." tawa Zea tertahan.

"Ada-ada saja kamu Zealana," ucap Devan mencubit pelan pipi chuby sang putri.

"Oh iya,  kenapa kalian belum bersiap?" tanya Mona, ia memandang Zea dengan tatapan mengintimidasi.

"Ma... Mama sama Papa serius nih mau jodohin aku? Zea masih mudah loh, Ma, Pa. Masih unyu-unyu gini. Masih suka tidur bareng Mama juga, masak... Mama tega sih lepasin Zea, nanti kalo Zea di apa-apain, siapa yang rugi?”

Mona duduk di samping Zea dan mengelus rambutnya lembut. "Zea, mama sama papa yakin. Bima orang yang tepat sebagai pendamping hidup kamu kelak, dia pemuda yang bertanggung jawab. Mama dan Papa hanya mengharapkan yang terbaik buat kamu."

"Tapi Ma, Zea engga cinta sama Bima," kata Zea lirih.

"Zealana, sayang. Papa dan mama juga menikah karena perjodohan, dan kamu lihat. Papa dan mama saling melengkapi  dan bukti dari cinta kami adalah kamu," ucap Devan memberi pengertian. Ia menggenggam erat jemari Zea. Dan satu tangganya yang bebas menglus surai Zea dengan sayang.

Zea tidak mengerti dengan perasaannya, setelah mendengar penuturan orang tuanya. Ia mengangguk pasrah,  lagi pula ia tidak akan bisa membantah perkataan orang tuannya.

"Sana bersiap, Mama sudah pilihkan gaun di atas meja riasmu."

"Iya, Ma."

Zea menatap pantulan dirinya di cermin, rambut pendeknya ia biarkan tergerai dengan riasan jepit rambut berwarna putih di sisi  kanan rambutnya. Bibir penuhnya ia oles sedikit Lip Gloos pink, kulit fairnya sangat kontras dengan gaun hitam yang ia kenakan. Dan wajah ovalnya yang chuby terlihat imut dengan sedikit riasan tipis. Hari ini, untuk pertama kalinnya Zea berdandan. Selama ini ia tidak perduli dengan penampilan, selama ia nyaman Zea tidak akan masalah memakai pakaian yang tidak modis atau paling Amel tidak suka.

Zea mempelajari tutorial make up baru-baru ini di you tobe.  Ia akan membuktikan kepada Rey kalau ia bisa  cantik, tapi Zea malu. Ia mondar mandir di kamarnya, memilih tetap memakai riasan atau menghapusnya. Zea tidak percaya diri.

"Zea, ayo sayang, mereka sudah lama menunggu!" Teriakan Mona mengalihkan perhatian Zea, tidak ada waktu lagi untuk menghapusnya. Zea menarik napas pelan berusaha membuat dirinnya tenang.

"Iya, Ma. Zea turun sekarang."

Zea melangkah perlahan dengan sepatu pantofel di kakinya. Ia masih tidak bisa memakai sepatu berhak tinggi, gaun hitam selututnya tapak pas di tubuh cebonya membuat Zea makin terlihat manis. Mona sampai terkejut, baru pertama kali ia melihat sang putri berdandan. Awalnya ia tak berharap banyak, mengingat Zea yang tidak perduli dengan penampilannya.

"Ya ampun, ini benaran Zea anak mama?" Mona menangkup wajah putrinya. Ia terpanah." Cantik sekali."

"Ah mama, jangan memuji begitu dong. Zea 'kan jadi malu," ucap Zea menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Yaudah, ayo kita berangkat sekarang."

Zea mengangguk dan berjalan beriringan bersama Mona menuju mobil. Malam ini udara begitu sejuk, para pengendara terus berlalu-lalang. Zea sedari tadi merasa nerfous, ia gugup sampai berkeringat dingin. Sedekat apa pun ia dan orang tua Bima, tetap saja ini  pertama kalinya dalam hidup mereka melihat penampilan Zea yang berbeda. Mamanya saja sampai  tidak menyangka, apalagi orang lain?

Ada satu hal yang membuat Zea tidak ingin bersama Bima, sejujurnya Zea takut bila Bima meninggalkannya seperyi Rey. Apalagi mereka selalu  bertengkar saat kanak-kanak, tidak Zea pungkiri. Bima memang terlihat seperti pemimpin bahkan saat ia masih remaja sekalipun. Bima cerdas dan sangat tampan, berbeda dengan dirinya yang biasa saja dan otak pas-pasan. Zea merasa hubungannya dan Bima tidak akan lama, sebab menurut Zea, semua pria menginginkan perempuan yang cantik. Zea bahkan tidak masuk ke dalam kategori itu. Mudah saja bagi Bima mengait gadis-gadis cantik diluar sana hanya dengan tampangnya saja, dengan kesempurnaan yang Bima miliki bukan tidak mungkin ia meninggalkan Zea yang hanya seongok debu ini.

"Tenang Ze, kamu jangan sampai jatuh hati sama Bima. Ingat semua cowok itu  sama, mereka cuman suka cewek cantik. Mereka buaya,  kecuali Papa," ucap Zea lirih.

Sampai di restoran, keluarga Setiawan ternyata sudah datang. Mereka sudah lobi dahulu memesan makanan dan minuman. 

"Lisa maaf sekali kami terlambat," ujar Mona mencium pipi kanan dan kiri wanita bernama  Lisa--Mama Bima. 

"Ngga pa-pa, kami baru saja sampai beberapa  menit yang lalu."

"Iya tenang saja mona dan mas deva," ucap pria parubaya dengan setelan jas formalnya, dia ayah Bima--pak Agus Setiawan.

Keluarga Zea menduduki tempat mereka masing-masing, Zea terus menunduk. Ia sangat canggung, biasanya ia tidak begini. Ia akan langsung memeluk Lisa, tapi kali ini ia tidak berani hanya sekedar untuk mengangkat kepala.

"Calon mantu mama kok menunduk terus?" Lisa mengangkat dagu Zea pelan, matanya membulat, senyum manis tercetak di wajah cantiknya. "Astagah, Zea cantik sekali,” pujinya tulus.

"Eh, anu. Eh itu, makasih tante," kata Zea  gugup  Ia rasanya ingin menengelamkan diri kedalam perut bumi saking malunya. Ia bahkan berbicara aneh sekarang.

Bima tertawa geli mendengar cicitan Zea, ia menutup matanya menahan tawa. Menurutnya wajah malu Zea sangat lucu, tadinya ia ingin terlihat cuek. Namun nyatanya hanya dengan melihat tingkah konyol gadis itu ia  ingin tertawa.

Zea menatap Bima dengan pandangan dingin, senyum lebar Zea berubah datar saat melihat Bima  menahan tawa. Ia merasa apa yang di pikirkannya tadi memang benar, Bima menertawakan penampilan juga wajahnya yang jelek. Zea salah paham, sebenarnya bukan itu yang Bima pikirkan, pemuda itu juga terpanah. Tapi ia tidak memperlihatkannya saja, menurut Bima Zea cantik apa adanya. Ia bukan tipe lelaki yang akan menilai kecantikan wanita hanya dari wajahnya, menurut Bima itu nomor sekian yang terpenting dia baik dan Bima nyaman bersamanya.

"Bima," Pak Agus memberikan kode agar putranya mengeluarkan cincin yang pagi ini mereka beli bersama. Bima mengangguk dan langsung mengeluarkan kotak berbentuk hati dari saku jasnya. Ia mengambil sebuah cincin perak kecil yang sangat cantik, dengan perlahan ia memasukan cincin itu kejemari tangan Zea. Setelahnya Zea di minta memasangkan cincin yang sama pada jari manis Bima, dengan tangan bergetar Zea meraih tangan besar bima. Ia  gugup, saking gugupnya cincin itu terjatuh ke lantai, Zea memohon maaf lalu memungutnya cepat. Ah dia menggagalkan suasana romantis ini, dasar Zea. Zea terus merutuki dirinya dalam hati, beruntung sekali ia. Orang tua Bima begitu menyayanginya lebih dari Bima sendiri. Tapi masalahnya, ia tidak hidup bersama mereka. Tapi, dengan cowok tampan di sampingnya itu yang baru beberapa saat lalu resmi menjadi tunangannya.

"Saya begitu senang, zea bisa menjadi pendamping hidup Bima kelak," ucap Lisa haru.

"Saya juga mersa sangat beruntung. Tidak akan ada yang menolak Bima, laki-laki seperti dia tidak akan mudah di cari," ujar Mona tersenyum. 

"Ma, Pa. Bolehkan Bima dan Zea ngobrol berdua?" tanya Bima meminta ijin.

"Silahkan, tapi tolong jaga dia," ucap Devan.

"Siap, Om."

Bima membawa Zea ketaman, ia memilih duduk di samping gadis itu yang masih terdiam. Zea terlihat murung dan tidak bersemangat. Bima melepas jasnya lalu memakaikannya di pundak Zea.

"Kalau malam itu jangan pake baju pendek. Dingin," kata Bima.

"Suka-suka gue dong, lo ngapain juga ngajak gue kesini?" tanya Zea keki, matanya memicing dan mendengkus kasar.

"Cuman mau ngobrol aja sih, udah lama kita ngga ketemu. Sekalinya ketemu... lo judes banget."

"Bodoh amat, pasti elo mau ngetawain penampilan gue kan? Gue tahu gue jelek. Sama seperti yang lo ucapin  delapan tahun lalu."

"Kata siapa?" Bima menatap intens manik mata Zea, ia mengusap pelan sudut mata Zea yang berair.

"Gue tau, perkataan gue dulu pasti masih membekas di hati lo, gue minta maaf soal itu." Bima menarik nafas dalam, ia menatap lagit." Gue cuman bercanda Ze, lo dulu maupun sekarang tetap cantik. Dulu gue ngatain itu cuman sekedar candaan, gue nggak tahu kalo itu membuat lo merasa insecure." Pandangan Bima beralih menatap Zea yang menunduk.

"Ngga kok, Bim, emang benar gue ngga cantik. Lagian ngapin juga lo terima perjodohan ini? Kalo ini cara lo nebus kesalahan lo, mending ngga usah. Gue tahu lo cuman kasihan sama gue," sangkal Zea lirih matanya terlihat memerah karena menahan tangis.

"Ze, gue nggak tahu. Gue  nggak ngerencanain apa pun, masalah perjodohan ini. Gue sama sekali ngga ngasut orang tua gue, mereka yang mutusin. Gue bener-bener minta maaf ze." Bima memeluk Zea erat, membiarkan gadis itu menangis di dadanya.  Bima seharusnya tidak berkata bahwa Zea jelek dulu, waktu itu Bima sedang kesal kepada gadis itu karena neneknya lebih dekat dengan Zea dari pada dirinya. Ia tidak tahu kalau perkataanya saat kanak-kanak masih  Zea yakini sampai saat ini. Sungguh Bima merasa bersalah.

"Yasudah, ayo kita berangkat sekarang."​

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Rahmy
Jadi iri sama Zea
goodnovel comment avatar
Rahmy
Bima sweet banget
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status