Share

Saya Enggak Gila!

“Eh, siapa itu?”

              “Astaga, gila ya dia?”

              “Buk, itu orang gila?”

              “Sttt, jangan di tunjuk. Udah ayo, ikut ibuk belanja aja.”

Nilam gugup, ia begitu saja menjadi pusat perhatian begitu turun dari mobil pengangkut sayuran yang berhasil di temuinya  begitu sampai di jalan besar. Beberapa orang menunjuknya sembari berteriak kata ‘gila’

              “Oh, maaf. Maaf saya enggak sengaja, maaf.” Nilam langsung menunduk, memungut satu persatu belanjaan seorang ibu-ibu yang tidak sengaja ia senggol.

              “Enggak apa-apa neng, enggak apa-apa.” si ibu memperhatikan Nilam lekat, hal itu tiddak urung membuat Nilam merasa jengah.

              “Kamu orang baru di sini? Ibu enggak pernah liat.”

              “Eng, sa.. saya baru aja dateng bu, dari desa.”

              “Oalah, mau kemana?” Nilam menggelengkan kepala, ia juga tidak tau harus kemana. Tapi sepertinya ia perlu mencari warung terlebih dahulu karena perutnya sudah sangat lapar.

              “Ikut ke rumah ibu dulu mau?”

              “Eh?”

              “Jangan salah paham, ibu cuma kasian sama kamu. Liat, orang-orang di sini pada takut karena ngira kamu itu gila.”

              “Saya enggak gila!”

              “Ibu, tau. Makanya, ikut ke rumah ibu dulu ya? bersihkan badan kamu di sana, abis itu terserah kalau kamu mau pergi.” Nilam mengernyitkan dahi, sedikit merasa curiga dengan kebaikan yang tiba-tiba di tawarkan kepadanya.

              “Ibu juga punya makanan kalau kamu mau.”

“Makanan?”

“Iya. Mau ya, mampir dulu ke rumah ibu.” Nilam menganggukan kepala cepat, perempuan itu membuang semua kecurigaannya ketika mendengar kata ‘makanan’ dari mulut ibu yang mengaku bernama Darmi tersebut. Nilam memutuskan untuk menerima bantuan ibu paruh baya yang sepertinya memiliki banyak uang karena bisa mengenakan banyak perhiasan di tangannya.

"Jadi kamu itu nekat ke kota mau ngadu nasib?" Nilam menganggukan kepala dengan cepat, bibirnya masih belum bisa di ajak melakukan hal lain selain menguyah makanan. Pipi perempuan itu bahkan membengkak saking banyaknya makanan yang ia masukan kedalam mulutnya.

"Kamu juga enggak punya siapa-siapa di sini? Kamu ini nekat loh Nilam." Bu Darmi menggelengkan kepala, sama sekali tidak habis pikir dengan kenekatan perempuan muda di hadapannya.

“Terus sekarang rencana kamu apa?” Nilam menggelengkan kepala, sejak tadi kepalanya sudah semerawut memikirkan nasibnya setelah ini. Uang yang di berikan oleh perempuan tua di rumah pak Tono juga pasti tidak banyak, karena perempuan itu sama miskinnya dengan Nilam.

“Haah, begini saja. Kamu ikut ibu aja ke kota yang lebih besar ya? Ikut kerja sama ibu di sana?" Nilam mengangkat kepalanya begitu mendengar tawaran bu Darmi.

"Kota ini tidak ada apa-apanya di bandingkan kota tempat ibu kerja Nilam, di sana ada banyak hal yang bisa di jadikan pekerjaan." Ibu Darmi meminum tehnya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.

"Kamu tamatan apa?" ragu-ragu Nilam menggelengkan kepala, Bu Darmi mengangguk seolah mengerti arti gelengan perempuan itu.

"Enggak apa-apa Nilam, di kota tempat ibu kerja perempuan bisa tetap cari uang walau enggak punya ijazah. Kamu pikir-pikir aja dulu, lusa ibu berangkat. Malam ini istirahat dulu di sini ya." Nilam lagi-lagi menganggukan kepala, otaknya masih belum bisa di ajak berfikir karena makanan di piringnya belum habis.

Nilam keluar dari kamar dengan rambut masih berantakan, perempuan itu bahkan belum sempat mencuci wajahnya dengan air. Nilam panik karena hari itu untuk pertama kalinya ia bangun ke siangan.

“Hahaha, pelan-pelan Nilam. enggak apa-apa saya tau kamu pasti lelah.”

“Ma..maaf bu.”

“Enggak apa-apa, yuk makan. Oh, atau kamu mau cuci muka dulu?” Nilam memilih mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya bergabung bersama bu Darmi di meja makan.

"Ibu kerja di pelayanan jasa gitu, orang-orang di kota besar itu lebih gampang ngerasa suntuk. Mereka juga terlalu sibuk untuk bisa ngurus rumah atau bahkan ngurus diri mereka sendiri" Nilam mengunyah makanannya pelan, sembari menyimak penjelasan bu Darmi soal pekerjaannya di ibu kota.

"Kalau kamu ikut ibu, kamu juga enggak akan sendirian Nilam. Kamu bisa punya banyak temen di sana, ada banyak sekali gadis-gadis kampung yang kayak  kamu ini merantau tapi enggak punya bekal kemampuan. Ibu yang nampung mereka semua supaya bisa bekerja" Bu Darmi bangkit dari duduknya sebentar dan kembali dengan ponsel di genggamannya, Nilam tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi benda canggih tersebut.

"Nih, ini namanya Rara. Dia dulu dari kampung juga. Duh ibu kalau inget gimana dia pas pertama dateng masih suka sedih. Kurus enggak ke urus, untung anaknya mau kerja apa aja enggak suka pilih-pilih ikut ibu akhirnya." Nilam melihat gambar di ponsel bu Darmi berubah, kali ini Nilam melihat perempuan bernama Rara itu sedang berfoto di depan sebuah mobil yang kelihatan mewah. Mobil itu bahkan lebih bagus di banding mobil milik pak Tono.

"Nah ini, sekarang kemana-mana udah pake mobil anaknya. Ibu seneng banget litanya, udah banyak ketawa, bisa ngurus diri berasa kayak ngeliat anak sendiri yang akhirnya sukses."

"Tapi.." Nilam ragu-ragu menatap bu Darmi yang sekarang sudah berhenti bercerita dan memandang Nilam bingung.

"Tapi saya bukan cuma enggak punya ijazah bu, saya enggak pernah sekolah. Enggak bisa baca tulis" Nilam melihat bu Darmi tersenyum sembari meletakan ponselnya di atas meja, bu Darmi juga membelai rambut ikal Nilam yang tergerai dengan sayang.

"Enggak apa Nilam, saya udah bilangkan? Di kota besar ada perkerjaan yang bisa kita dapatkan walau tidak pernah sekolah, tidak punya ijazah dan bahkan tidak bisa baca tulis sekalipun. Kamu hanya perlu punya tubuh yang sehat dan juga kenalan, itu aja" Nilam menatap bu Darmi yang masih membelai rambutnya lembut kemudian mengangguk, keputusannya sudah bulat ia akan memulai hidup barunya dengan mengikuti ibu Darmi ke ibu kota.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status