Share

[8] Kehadiran Sosok Tak Terduga Di Rumah Lolita

Kemarin, waktu berlalu begitu saja, begitu pun dengan hari-hari selanjutnya. Lolita Cantika, gadis yang selama ini dikenal selalu ingin menempel pada tubuh si ketua BEM Universitas tetap ramai dibicarakan, tetapi dengan bahan gosip yang berbeda.

Lolita mendapatkan julukan baru di lingkungan kampusnya, yakni sebagai player kelas kakap. Hal tersebut bermula dari pesta perayaan kembalinya otaknya.

Kehadirannya bersama Richi saat pesta perayaan pribadinya dinilai negatif, oleh orang-orang yang melihat keberadaan mereka di kantin kala itu. Gosip mengenai dirinya yang merubah haluan pun berhembus sangat kencang, meski hubungan Richi dan kekasihnya tampak baik-baik saja dimuka umum.

Lolita— Fans Garis Keras Ketua BEM, Patah Hati Lagi?!

Ck! Wartawan Kampus ngapain ngangkat berita nggak guna gini sih?! Mana Bang Richi ikut kebawa-bawa. Sampah banget!” Dumel Lolita usai membaca buletin kampus yang dikirimkan Melisa beberapa menit lalu.

Saking niatnya, kehidupan asmara Richi sampai dibawa-bawa. Sosoknya bersama kekasihnya ikut dimuat dalam berita tentangnya.

“Baca beginian, gue jadi laper.” Gumam Lolita. Mata cantiknya melirik pada jam digital yang tersemat pada sudut ponsel.

“Turun ah!” Putusnya lalu merangkak menuruni ranjang. Pagi tadi ia melewatkan sesi sarapan bersama keluarganya.

Maminya yang kejam, akhir-akhirnya ini bersikap aneh. Setelah mengetahui dirinya tak lagi menggilai Adnan, dia sering kali menawarkan anak tetangga mereka.

Katanya, “jangan sampe Loli trauma terus malah jadi lesbi.”

Maklum, sepanjang sejarah dirinya hidup, Adnan merupakan laki-laki pertama yang dirinya sukai. Rasa suka itu pun dirinya utarakan kepada keluarganya.

“Bang, lap— per!”

Mata Lolita mengerjap. Di ruang tengah yang berlokasi tepat di depan kamarnya, sekumpulan pria muda tengah menatap ke arahnya.

“Mami nyisain nasi goreng tuh di dapur. Minta Mbak panasin aja, Lol.” Ucap Argam memberi tahu.

“Hai, Lol,” sapaan mengudara bersama sebuah tangan yang melambai di udara.

“Halo, Bang.” Balas Lolita pada si pemilik sapa, yang namanya ikut terseret pada kasus romansanya bersama si Ketua BEM.

Untuk sesaat, pandangan Lolita bergeser tanpa bisa dikendalikan. Disamping tamu baru kakaknya, sosok pria yang tengah dirinya hindari terlihat memalingkan wajah.

“Lol, sekalian, ambilin gue air dingin dong!” Pinta sahabat Argam, Alex.

“Dih, apaan lo Bang, maen nyuruh-nyuruh. Biasa juga ngambil sendiri. Ogah! Gue lama di dapur!” Sahut Lolita, lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan terkutuk, dimana terdapat Adnan didalamnya.

Lolita membanting dirinya pada kursi makan. Ia kesal. Sudah hampir satu bulan dirinya sengaja menghindari Adnan, tapi Abangnya justru dengan mudahnya mempertemukan mereka.

“Mbak Loli udah bangun?”

“Belom, Mbak. Ini Lili, bukan Loli!” Ucap Lolita membuat ART-nya meringis. “Mbak, temen-temen Abang udah lama datengnya?”

“Setengah jam yang lalu mungkin, Mbak.”

“Masa sih?”

Sudah selama itu, tapi ia tak mendengar apa pun dari dalam kamarnya.

“Iya, Mbak. Temen Mas Argam yang ini agak anteng ya, Mbak?! Mas Alex aja belum ada teriak-teriak loh.”

“Soalnya gue nggak lagi main PS, Mbak.” Sosok yang tengah dibicarakan oleh ART Lolita menyahut. “Air dingin dong, Mbak,” requestnya lalu menarik kursi kosong disamping Lolita.

“Lo nggak apa-apa, Lol? Shock nggak liat si Adnan?” tanya Alex, penasaran.

“B aja tuh! Pada lagi ngapain sih? Bang Tristan tumben nggak ikut ke rumah.”

Argam tergabung ke dalam tiga serangkai. Argam, Alex dan Tristan. Sejak dulu, ketiganya selalu bersama-sama. Lolita mengenal dekat sahabat-sahabat kakaknya itu. Mereka telah bersama sedari bangku SMA.

“Tristan nggak masuk kelompok gue. Misah dia, barengan sama temen-temennya si Adnan yang laen.”

“Diacak namanya?”

“Nah, tuh, pinter lo, Lol! Dandan sono! Ada si Adnan. Cakepan dikit dong, biar dilirik. Kita masih lama di sini.”

Lolita kontan berdecih. Untuk apa pakai dandan segala. Maaf saja, otaknya sudah kembali ke tempurung. Meski rasa cintanya masih menggunung, tapi akal sehatnya memaksa untuk tak lagi menunjukkannya pada Adnan.

“Eh, beneran ini lo udah nggak suka dia?” tanya Alex, usai melihat reaksi Lolita.

“Bener lah! Kayak nggak ada yang laen aja!”

“Hahahaha,” Alex terbahak. Lengannya menarik leher Lolita untuk dirangkul. “Buset! Akhirnya Lolita kita waras juga.” Kekehnya.

“Ehem,” dehem seseorang yang baru saja memasuki area dapur.

“Argam minta tambahan kopi.” Ucap sosok itu, yang ternyata Adnan.

“Oh, oke. Mbak, kopi Mbak, buat tuan muda Argam.” Seloroh Alex mewakili. Tangannya tetap bertengger pada leher Lolita dan Lolita pun tak mengenyahkannya. Gadis itu sibuk membuang muka, menghindari pandangan yang kapan saja bisa bertemu.

Bro, lo perlu apa lagi?”

Nothing,” jawab Adnan.

“Ya udah, lo ke depan lagi aja. Ntar biar gue bawain sekalian kopinya.”

“Oh, oke.” Tanggap Adnan lalu memutar tubuhnya untuk meninggalkan dapur.

Puff!” Alex tertawa ringan.

“Ngapain lo, Bang? Belom minum obat lo?” Selidik Lolita. Diantara kedua sahabat kakaknya, ia memang paling dekat dengan Alex.

“Lo liat nggak Lol, tadi?”

“Apaan?”

“Lo nggak ngeliat?”

Lolita mengernyit. ‘Apa sih maksudnya? Liat apaan?’ batinnya, tak mengerti. Sepanjang ada Adnan tadi, ia mengalihkan pandangan. Tak ingin melihat sosok yang telah mematahkan perasaannya.

“Lah, seriusan ini?” Pekik Alex sembari menarik tangannya dari leher adik sahabatnya. “Si Adnan ngeliatin tangan gue mulu, Lol! Cemburu kali dia liat kita.”

“Ngaco!”

“Sumpah ya, Lol! Gue ini laki, jelas taulah, gelagat sebangsa sendiri!”

Kalau saja Adnan tidak pernah mengatakan dirinya memiliki wanita yang disukai, Lolita mungkin akan mempercayai perkataan Alex. Sayangnya, kecemburuan tersebut tidak akan menjadi kenyataan. Adnan membencinya, sama seperti yang Lolita lakukan sekarang kepada pria itu.

“Bang, cabut sana! Gue mau sarapan! Laper b.g.t! Jadi nggak bisa bagi-bagi!”

“Siapa juga yang mau! Di depan ada pizza, wlek!

Setelah kepergian sahabat kakaknya, Lolita menghembuskan napas. Dunia terasa melelahkan baginya, seolah dirinya tak memiliki tujuan untuk tetap melangkah maju.

“Sumpah! Harus banget tuh orang disini?!”

Di kampus, Lolita sudah semaksimal mungkin untuk tak berpapasan. Ia benar-benar menghindari pertemuan dengan mantan cemcemannya.  Ia bahkan sampai mempersingkat waktunya, tak berlama-lama berkeliaran dan pulang tepat setelah jam terakhir berlangsung.

“Mbak, mikirin apa?” tanya si ART.

“Kucing tetangga, katanya berubah jadi naga, Mbak.” Beo Lolita, selalu ada-ada saja.

Lama Lolita berdiam di meja makan. Untuk tetap tak bertemu dengan Adnan, ia meminta asisten rumah tangganya untuk melihat situasi di ruang tengah. Memastikan jika teman-teman kakaknya tak lagi berada di ruangan itu.

“Gimana, Mbak? Udah pada pulang mereka?”

“Kayaknya udah sih, Mbak. Mas Argam Mbak liat masuk ke kamar, terus pintunya ditutup.”

Ah— berarti sudah aman.

Lolita bangkit, meregangkan otot-otot ditubuhnya. “Akhirnya,” helanya. Pulangnya mereka membuatnya tak harus mati terduduk di dapur. Jujur saja Lolita sudah bosan menunggu. Ia tak membawa ponselnya ikut serta, sehingga hanya berdiam tanpa  melakukan kegiatan apa pun usai nasi gorengnya habis tak bersisa.

Ketika dirinya berada di ruang tamu, Lolita sempat menatap titik dimana Adnan duduk. Untuk beberapa alasan, Lolita merasa heran.

Hari ini adalah hari pertama dimana pria itu menyambangi rumahnya. Itu terjadi karena tugas kelompok bersama abangnya, tapi kenapa?

Mengapa harus di rumahnya?!

Sekelebat pertanyaan itu memenuhi benak Lolita. Bukan kah ada banyak tempat? Contohnya saja, rumah pria itu atau mungkin café, tempat para anak muda biasa berkumpul dan mengerjakan tugas agar tidak bosan.

Lolita yakin ide berkumpul di rumahnya tidak tercetus dari mulut sang kakak. Argam tak sejahat itu, dengan mengundang penyebab mengapa bobot tubuh adiknya merosot jauh. Apa lagi tanpa pemberitahuan.

Jika memang ide tersebut berasal dari Argam, kakaknya pasti memberitahunya agar dirinya mempunyai persiapan. Misalnya dengan tak keluar kamar selama pengerjaan tugas sang kakak berlangsung.

Yah, pasti begitu— karena Argam tahu benar ia sedang menjauhi Ketua BEM mereka.

“Hadeh! Lolita yang paling cantik dimuka bumi, ngapain lo mikirin itu!” Monolognya, menghardik dirinya sendiri yang masih saja memikirkan Adnan.

Hal terpenting yang harus dirinya pikirkan adalah meminta sang kakak untuk tidak lagi membawa manusia itu ke rumah mereka.

“Pakaian kamu.. Jangan pakai itu lagi untuk keluar dari kamar!”

Tubuh Lolita tersentak. Gadis muda itu terperanjat hebat.

Ditempatnya berdiri, Lolita membeku, tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya—  bahkan ketika sosok yang baru saja melewatinya, lenyap memasuki kamar sang kakak.

“Dia muncul dari mana? Katanya udah pulang?!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status