Share

Pt. 03 : IPK Tinggi Nggak Jamin Kuliah Lancar Jaya

"Jadi langkah kamu setelah ini apa Asmara?" Tanya Bu Andin setelah bicara panjang panjang lebar tentang IPK ku semester lalu, buku rekam kegiatan selama menjadi mahasiswi di fakultas kesehatan, sampai kemungkinan-kemungkinan buruk yang sejak seminggu lalu hanya datang dan pergi tanpa permisi ke otakku semua bu Andin bahas.

"Jujur bu... saya nggak ada pandangan apa-apa... pikiran saya udah buntu... kalau menurut bu Andin dilihat dari mata prodi, apa yang harus saya lakukan?" Ujarku akhirnya menyuarakan kegalauan hatiku tanpa meperlihatkan kehancuranku, apa yang harus dipertahankan? Untuk mengejar uang 21 juta sampai besok tanggal 15 jelas nggak bisa! Sekarang aja udah tanggal 1? Mau nyongkel bank mana nih? Otakku ruwet seketika. Bahkan Bu Andin pun tadi mengatakan, posisiku saat ini sulit untuk mendapatkan beasiswa, sebodoh itukah aku? Bukan masalah bodoh sih sebenernya. Tapi karena aku yang selalu bilang untuk beasiswa kurang mampu alias keluarga miskin bukan kriteria yang pas sebagai beasiswa ukuran tenaga kesehatan, jadi itu sangat sulit di gapai.

"Kalau mau tetep melanjutkan semester ini, segera lunasi pembayaran administrasi sebelum tanggal 15 bulan ini seperti yang di sepakati kamrin, kamu sudah ketemu pak Saiful waka rektor kan?" Tanya bu Andin membuatku kembali memutar kenangan seminggu lalu, kalau di pikir ulang aku memang keterlaluan, bahkan aku hampir saja menghancurkan jendela ruangan wakil ketua dua rektor kampusku. Bodoh! Ya! Aku memang sedungu itu saat apa yang ku perjuangkan masih terasa sia-sia.

"Saya sudah cerita ke bu Andin... orang tua saya baru saja di tipu modal 500 juta itu hilang begitu saja... saya-" ujarku yang langsung terpotong dengan ungkapan bu Andin, sakit! Sangat sakit!

"Lho itu terserah kamu sama orang tuamu, ini adalah prosedur administrasi kampus, kalau kamu mau bertahan ya biayanya harus sepadan. Ini udah baik lho kami memberi kelonggaran waktu sampai tanggal 15, sedangkan teman-temanmu semua harus sudah selesai di tanggal 10. Kami sudah berbaik hati sama kamu... harap kerja samanya Asmara..." kata bu Andin yang jelas sekali tidak mau mendengar penjelasanku. Aku menghela nafas panjang, mencoba mencari ketenangan di balik rasa nggak nyaman ku sekarang.

"Kalau saya belum bisa membayar di tanggal itu, apa yang harus saya lakukan?" Tanyaku akhirnya mencoba menenangkan diri.

"Silahkan ajukan cuti, di tujukan ke KA Prodi S1 keperawatan yang sudah di setujui dosen TA nya..." jawab bu Andin tegas, disinilah aku paham sekarang. Kenapa prodi ini meskipun masih baru tapi sudah sekuat ini pengaruhnya? Karena KA prodinya adalah bu Andin, tegas, tidak bertele-tele. Meskipun ku akui terkadang tidak mau mendengarkan lebih jauh apa yang akan mahasiswa sampaikan selama ia sudah bisa menduga kemana arah pembicaraan itu, tegasnya memang sedikit menindas perasaan. Besok kalau aku punya universitas sendiri, aku nggak mau punya Dosen yang borjuis sekaligus nggak punya empaty kaya gini, setidaknya dengarkan dulu apa yang lawan bicaranya sampaikan tanpa harus memotong. Sakit tau!

"Cuti ya bu? Oke... sepertinya saya akan memilih mengajukan cuti bu..." kataku akhirnya dengan senyum yang kusajikan semanis mungkin.

"Baiklah! Sebelum itu kamu harus mendiskusikan dengan wali mu dulu, setelah orang tua mu tau, kamu bisa mengajukan ke dosen TA mu. Jika sudah nanti kasih ke saya surat pengajuannya, baru saya sampaikan ke Dekan FIKES..." ujar bu Andin membuatku mengangguk paham.

"Biaya administrasi cutinya sampai berapa bu? Biar saya siapkan dulu..." tanyaku dengan menampilkan raut tenang, padahal hatiku meronta.

"Kamu yakin? Sebenarnya saya sayangkan kalau kamu cuti... IPK mu semester lalu 3,8... tapi ya karena prosedur seperti ini... semua kembali ke kamu saja lah..." ujar bu Andin tanpa memberiku kesempatan untuk berargumen, "biaya administrasi cuti 15% dari SPP satu semster dan untuk cuti kamu mengambil 2 semester, jadi ketika kamu cuti di semester ganjil maka kembali lagi di semester ganjil, begitupun ketika mengambil cuti di semester genap maka kembalinya di semester genap juga... berlaku kali lipatnya... sampai sini ada yang di tanyakan?" Sambung bu Anin membuatku mengangguk.

"Kalau begitu, biaya administrasinya di bayar persemester ya bu? Kalau satu semester 15% berarti 1 juta 200 ya bu?" Kataku setelah memutar otak menghitung prosentase administrasi cuti, seketika hatiku mencelos, bahkan biaya cuti saja tetap besar. Tapi lebih baik membayar 2,4 juta  untuk mengajukan cuti sementara daripada besok tanggal 15 harus menyerahkan 21 juta. Itu lebih ringan, meskipun otakku juga ngeblank memikirkan bagaimana mendapatkan uang segitu tanpa harus ngerepotin bapakku.

"Jadi kamu sudah bulat mau cuti?" Tanya bu Andin lagi yang tetap ku angguki, beliau memberikan buku rekam kegiatanku. Memintaku menemui dosen TA ku dulu, rasanya aku ingin teriak saat keluar dari ruangannya setelah undur diri. Aku berjalan ke lorong ruang Dosen FIKES, mencari ruangan pak Rangga --Dosen TA ku--.

"Shit!" Umpatku tanpa sadar saat melihat siluit pak Candra, ingin lari tapi jalur ini hanya ada satu, nggak mungkin aku balik badan kan? Keliatan banget kalau menghindar. Ganteng sih, tapi songong banget! Masa iya minta aku jadi istrinya biar kuliah ku tetap jalan? Oh no! Bukan ini yang ku inginkan! Lebih baik cuti daripada jadi istrinya, aku nggak akan sanggup menerima tatapan benci teman-teman ku yang mengagumi pak Candra.

"Ara?" Panggil pak Candra begitu menyadari yang berjalan di arah berlawanan darinya ini aku. Biasanya Dosen disini memanggilku dengan nama depanku --Asmara-- tapi entah kenapa dosen satu ini memanggilku dengan nama yang ramah di gunakan teman-temannku, baik dari HMP, BEM, Komunitas, dan kelas. Kadang orang menganggap aku terlalu sibuk dengan organisasi, padahal di organisasi selain BEM aku hanyalah anggota bayangan. Kadang jengah juga kalau mendengar pak Candra memanggilku dengan nama Ara.

"Hmm..." sahutku terkesan tidak sopan, tapi dia juga yang memulai tidak sopan, membahas pernikahan di saat yang sangat menyulitkan! Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, untung aku nggak tergoda, Nggak peduli wajahnya seganteng Kai Exo.  

"Mau kemana lagi?" Tanya pak Candra berusaha ramah, aku sendiri yang risih.

"Ketemu pak Rangga, baru dapat konfirmasi di chatt beliau di ruangannya..." jawabku tanpa berniat menghentikan langkah. Berlalu tanpa sedikitpun menoleh pada lelaki yang tingginya selalu membuatku mendongak, sakit leherku selama ini kalau ngobrol sama dosen necis ini.

"Ada perlu apa?" Tanya pak Candra balik badan mengikutiku, kenapa harus balik badan sih pak?

"Bukannya bapak mau ada kelas? Kenapa malah ngikutin saya?" Tanyaku acuh tak acuh.

"Ini jam istirahat Ra... saya niatnya mau mau kantin, tapi saya pengen denger perkembangan kasus kamu..." ujarnya kali ini mensejajari langkahku. Aku mendengus kesal menyadari kesalahanku, iya ini jam istirahat.

"Saya bukan terdakwa yang terkasus... dan saya tidak sedang dalam sebuah kasus..." sahutku masih cuek. Sampai akhirnya aku lega melihat sosok pak Rangga. Aku melambai tangan. "Pak Rangga!" Panggilku agak keras dan lelaki paruh baya itu mengangguk, memberi isyarat tangan agar aku mengikutinya. "Saya permisi pak..." kataku pada pak Candra membuatnya mendengus.

"Saya mohon jangan menghindari saya..." kata Pak Candra tak lagi ku hiraukan. Kurasa lebih penting urusan dengan dosen TA daripada meladeni dosen psikolog.

###

Kepalaku pusing, apa yang bisa aku lakukan disaat seperti ini? Aku harus bagaimana? 2,4 juta bukan uang yang sedikit untuk seorang pengangguran sepertiku, setelah percakapanku dengan pak Rangga tempo hari, aku mencoba menghubungi bapak dan ibuku. Aku mengatakan semuanya tanpa di tambah-tambahi tak juga di kurangi, apa yang dikatakan bapak membuatku miris dalam hati tanpa bisa ku setujui air mata yang siap luncur ke bumi...

"Beneran kamu nggak apa kalau harus cuti dulu?" Tanya bapakku di balik telephone yang tergeletak di meja dengan headset bertengger di telingaku.

"Aku nggak masalah pak... ini yang terbaik yang sudah Allah berikan ke kita, mau menolak pun rasanya sulit. Aku juga belum dapat pekerjaan. Aku nggak bisa egois minta uang segitu besarnya ke bapak, padahal aku tau kondisi ekonomi kita gimana... waktunya masih 2 minggu lagi buat bayar administrasi cuti... aku juga akan cari uang entah gimana caranya... bapak jangan pikirin perasaan aku, aku nggak apa..." kataku mencoba menahan rasa tertohok dalam batinku, pingin nangis tapi nggak mau terlihat lemah.

"Kamu yakin?" Kali ini suara ibu, aku bersyukur dengan keputusanku tidak menggunakan video call dalam panggilan ini, aku nggak akan bisa menahan air mataku jika sudah melihat wajah sendu ibu dengan nada suara seperti ini. Ibu pasti sangat sakit.

"Serius bu aku nggak apa... lagian masih ada tahun depan buat ngajuin kuliah lagi... aku yakin bu ini yang terbaik..." kataku mencoba menguatkan diri sekaligus meyakinkan pusakaku itu bahwa aku baik-baik saja.

"Ibu gagal ya mendidik kamu dengan layak?" Ujar ibu berhasil meloloskan air mataku sebanyak yang tidak bisa kuduga tadi.

"Nggak... ibu nggak gagal..." kataku setelah menghela nafas panjang, mencoba menetralisir agar tidak terdengar aku menangis. Siapa bilang jadi satu-satunya anak perempuan dimanja? Apakah keadaan seperti ini bisa di bilang orang tua ku memanjakanku? Jika iya, harusnya mereka langsung membayar administrasi keseluruhan semester ini kan? Nggak peduli uang itu di dapat darimana. Iya?

"Kuliah mu jadi terbengkalai Ara..." sergah ibu ku dengar sedang menangis.

"Udah bu nggak apa... aku besok kerja... aku udah urus SKCK... aku akan daftar kerja... sampai nanti aku kuliah lagi... insyaAllah bu... doakan aku..." kataku merasa semakin sesak didadaku, apanya kerja? Semua lamaranku yang kukirim sejak sebulan lalu ditolak semua, sejak bapak bilang ia ditipu aku sudah mencoba mencari pekerjaan disamping padatnya kuliahku. Dan semua nihil. Aku hanya tidak ingin memmbuat ibuku semakin merasa bersalah.

Suara chezzy berteriak di ponselku membuatku tersadar dari lamunan tentang percakapan kemarin dengan ibu dan bapakku, aku angkat panggilan dari pak Thoif --Dosen Bahasa Indonesia ku-- "hallo, Assalamu'alaikum pak..." sapaku sembari mengalihkan rasa sakit setiap ingat suara ibuku.

"Ha??? Serius pak???" Tanyaku tak habis pikir, mengabaikan surat pengajuan cuti ku yang baru sampai salam pembuka, bahkan ketika surat itu belum sampai ke meja bu Andin, apa yang dikatakan pak Thoif lebih dari sebatas bom waktu untukku. Ingin kumenangis detik itu juga. 

###

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nurul Aminin
Karena dosen memang maha benar...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status