Share

05

Reni mondar-mandir di depan pintu apartemen Gery sambil mengotak-atik telfon genggam miliknya. Sesekali ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Namun tak ada respon dari ujung sana. 

Sudah tiga hari setelah kejadian itu. Dan Gery masih tidak bisa dihubungi. Dia juga tidak ada di apartemennya. Reni sangat cemas dibuatnya. 

"Ayolah Gery. Jangan lakukan ini. Aku khawatir sama kamu." Reni berbicara sendiri masih mengotak-atik telfon genggamnya. 

Sudah hampir tiga jam dia menunggu di sana. Namun Gery belum memperlihatkan batang hidungnya. 

Gery pribadi yang arogan. Tidak suka diusik. Cenderung kasar, dan tidak suka miliknya dimiliki orang lain. Maklum, dia tumbuh dalam lingkup keluarga kaya. Ibunya sangat memanjakan dirinya. Di usianya yang sudah menginjak 28 tahun, dia masih seenaknya masuk kerja. Kerja saat dia ingin saja. 

Namun dia sangat baik pada Reni. Gery satu-satunya sandaran Reni saat ayahnya meninggal dunia dan mulai mendapat perlakuan tidak menyenangkan oleh ibu dan saudara tirinya. 

Gery menjadi tempat Reni berlindung. Gery adalah segalanya bagi Reni. 

Reni mulai lelah. Ia butuh istrahat. Ia harus tetap fresh besok untuk melakukan siaran. Perutnya juga dari tadi berbunyi nyaring. Ia pun meninggalkan apartemen Gery dengan perasan hampa. 

Reni menyusuri jalan menuju rumahnya tertunduk lesu. Langkahnya pelan. Ia seakan menghitung langkahnya di bawah penerangan lampu jalan yang agak redup. 

Rumahnya terletak di pinggiran kota. Setelah turun dari bus, ia harus berjalanan kaki selama lima menit hingga mencapai rumah. 

Tanpa ia sadari, seseorang mengikutinya dari belakang. Kaki panjang, rahang kokoh, dipadu dengan pakaian serba hitam membuatnya terlihat seperti pembunuh berantai. 

Jezin, ia membuntuti Reni sejak pulang dari kantor. Saat Reni menunggu di depan apartemen Gery, ia memakai mode tak terlihatnya dan terus mengomel karena terlalu lama disana. 

"Kenapa kau harus membuang waktumu menunggu orang yang tak peduli padamu? Dasar gadis bodoh. Apa susahnya melepas pria sepertinya?" Dumelnya kesal. 

Jezin menghentikan langkahnya. Matanya tertuju pada seorang pria yang berjongkok di depan pagar rumah Reni. 

Reni mengangkat kepalanya dan langsung berhambur memeluk sosok itu. 

"Bodoh. Aku baru pulang dari apartemenmu. Aku menunggumu disana sangat lama." Reni masih memeluk Gery erat. Gery pun balas memeluk Reni. Mereka terlihat melepas rindu yang sangat lama mereka pendam. Tanpa sadar ada sepasang mata yang mengawasi mereka tak suka. 

"Aku ingin pergi jauh darimu. Aku membencimu karena menghianatiku. Tapi aku tidak bisa, Ren. Aku sangat mencintaimu." Gery mempererat pelukannya. 

"Aku berani bersumpah, Ger. Aku tidak pernah selingkuh darimu. Aku tidak tau bagaimana itu terjadi. Itu bukan aku. Aku bersumpah."

Gery mengurai pelukannya. "Apa kau pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya?"

"Aku hanya menemuinya satu kali. Dia datang ke kantor dan ingin bertemu denganku. Lalu kami bicara di kafe. Tapi sikapnya memang aneh. Dia mengatakan hal-hal yang tidak pernah aku lakukan. Dan mengatakan kepalaku terbentur, karena itu aku tidak mengingatnya."

"Apa kepalamu pernah terbentur?"

"Tidak. Aku baik-baik saja. Ger, tolong percaya padaku. Aku tidak menghianatimu." Reni memandang Gery penuh keyakinan. 

"Aku percaya. Lupakan apa yang sudah terjadi. Aku yakin, dia hanya orang yang ingin menghancurkan hubungan kita." Gery membelai rambut Reni penuh kasih. Reni tersenyum bahagia diiringi anggukan. Ia kembali masuk ke dalam pelukan Gery. 

"Ger, aku lapar. Dari tadi aku belum makan karen menunggumu." Reni mengeluh manja. Masih memeluk Gery. 

"Gadis bodoh. Ini sudah jam 10 malam dan kau belum makan. Ayo, aku akan membelilanmu makanan enak."

Mereka pun bergandengan tangan meninggalkan tempat itu. Jezin tersenyum pahit melihat pemandangan yang disajikan Gery dan Reni. Ia sangat ingin menghampiri mereka dan melepaskan tautan tangan mereka. Keberadaannya bahkan tidak mereka sadari karena terlalu hanyut dalam kebahagiaan. 

"Kenapa aku harus berdiri di sini dan menyaksikan sikap konyol mereka? Hahaha. " Jezin terbahak. Namun itu tidak mencerminkan hatinya. 

"Kita lihat sekuat apa cinta kalian." Jezin mengeluarkan senyum liciknya. Matanya terus mengikuti sepasang anak manusia yang tengah berbahagia itu. 

*****

Hari ini para pegawai di kantor penyiar sangat sibuk. Mereka kedatangan tamu spesial yang akan melakukan wawancara saat on air nanti. Segala sesuatu dipersiapkan dengan sempurnah. Mereka tidak ingin ada kesalahan saat acara mengudara. 

Tidak hanya pada sistem, mereka juga merubah interior ruangan. Mengganti lukisan dan hiasan ruangan. Mereka sangat antusias. 

Reni pun tak kalah sibuk. Ia tampak mempersiapkan script yang akan ia tanyakan nanti pada tamu yang akan menemaninya selama on air. 

"Kapan tamu kita datang, Pak?" Tanya Reni pada produser

"Sebentar lagi. Tolong perhatikan naskahmu, Reni. Menurut informasi, tamu kita sangat mudah tersinggung. Dia punya tempramen buruk."

"Saya akan melakukan yang terbaik, Pak. Tapi saya dengar-dengar tamu kita masih sangat muda, Pak."

"Betul. Beliau adalah CEO muda dari perusahaan asing yang cabangnya merajai pasar indrustri fashion di negara kita. Tas seharga 3 M yang di pakai atris cantik Semi di fashion show kemarin malam dari brand beliau."

"Wah. Luar biasa."

"Aku percayakan padamu Reni. Lakukan yang terbaik. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Kunjungan orang-orang ternama seperti ini sangat kita butuhkan. Rating kita akan melonjak drastis."

"Saya akan melakukan yang terbaik Pak."

"Terima kasih." Produser menepuk pundak Reni memberi semangat dan berlalu. 

Reni manarik nafas panjang. Baru kali ini dia akan melakukan sesi wawancara dengan orang asing. Biasanya, stasiun radionya hanya melakukan wawancara dengan pengusaha lokal, artis dan tokoh-tokoh publik. 

Reni melangkah ke ruang ganti. Memilih gaun yang pas ia kenakan malam ini. Dia harus terlihat elegan, sopan dan tentunya cantik. 

"Ini gaun Anda untuk siang ini, Nyonya."

Reni berbalik. Ia mendengar suara yang tak asing di telinganya. Dia menemukan Seli berjalan menghampirinya sembari membawa kotak kado berukuran besar. 

Reni membuka tutup kotak itu penasaran. "Siapa yang memberikanmu gaun secantik ini, Sel?" Reni mengangkat gaun itu takjub. 

Gaun selutut berwarna hitam yang tampak sangat mewah dengan kain motif timbul. Bagian depan dan belakangnya tertutup sempurnah. Sopan. 

"Sepertinya gaun dari Gery. Tadi kurirnya hanya mengatakan hadiah untuk Nona Reni. Apa kalian sudah baikan?" 

"Em. Gery percaya kalau itu bukan diriku."

"Seharusnya aku tidak ikut pusing saat kalian bertengkar. Itu hanya buang-buang waktu dan tenagaku. Buktinya kalian pasangan yang tidak bisa dipisahkan."

"Hahaha. Aku mencintaimu. " Reni memberikan simbol hati ke arah Seli. 

Seli hanya bergidik ngeri. "Apa kau akan memakai gaun itu saat on air?"

"Tentu saja. Aku harus terlihat cantik di depan tamu terhormat kita. Aku akan memakainya dan berfoto untuk Gery." Reni tersenyum nakal. 

"Ya ya ya. Lakukan apa yang kau mau untuk merayakan kebahagiaanmu karena Gerymu sudah kembali." Seli memutar tubuhnya berlalu meninggalkan Reni. 

"Terima kasih sayangku. Aku akan mentraktirmu malam ini." Reni setengah berteriak. 

Seli yang sudah hilang ditelan pintu kembali menongolkan kepalanya dari balik pintu. "Aku ingin makan steak di restoran seberang malam ini. Katanya steak di sana enak."

"Dasar kamu. Giliran dapat traktir pilih yang mahal."

"Aku juga mencintaimu. Aku menuggumu. " Seli balas memberikan simbol cinta ke Reni dan menghilang dari balik pintu. 

Reni hanya tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu. Ia lalu melanjutkan mengganti pakaiannya dengan gaun yang baru saja ia terima. 

Reni keluar dari ruang ganti menuju ruang penyiar. Visualnya malam ini terlihat sangat anggun. Ia menggulung rambutnya membiarkan leher jenjangnya terekspos bebas. Make up sederhana, ia padukan dengan aksesoris kecil yang melingkar di lehernya. 

Waktu on air sisa 10 menit lagi. Tamu yang akan membersamainya siang ini pasti sudah menunggu di ruang penyiar. 

"Reni, tamunya sudah menunggu di dalam." Produser menghampirinya yang terlihat sangat buru-buru. 

"Baik, Pak. Saya langsung masuk saja Pak."

Reni berlalu. Ia mengatur nafas agar tidak gugup. Dan berjalan menghampiri pria yang duduk membelakanginya. 

"Mohon maaf membuat Anda menunggu, Tuan." Reni sedikit membungkuk dan meletakkan cript yang ia bawa ke atas meja. 

Muka yang tadinya dihiasi senyuman cantik tiba-tiba berubah tegang. Ia mengerutkan kening tak percaya dengan apa yang dia lihat. 

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status