Share

Chapter 3

"Gimana nih, gw udah kebelet nih, ayukk temenin dong ran" keluhku usai keluar kelas. Aku sudah kualahan menahan panggilan alam ini, sesuatu yang mendesak sudah diujung. Sial rasanya menahan keingginan untuk buang air kecil

"yah nay, gw udah laper banget malahan. males ah musti naik lagi ke toilet atas, pake toilet diujung aja ya" saran rani padaku. Bulu kudukku sedikit bergidik mendengar toilet ujung, yah ini toilet yang terletak dipojok kampus, agak sepi dan pastinya suasana rada menyeramkan.

"yah ran, kan disana itu,,,,"

"udah biar gw temenin, sekalian gw mau buang air kecil juga, rani sama monik duluan aja ke kantin, langsung pesen yang biasa yah" ucap laura dan menarik lenganku pergi, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan, ketimbang terjadi hal yang memalukan, pipis didalam celana. Tidak jangan sampai itu terjadi.

usai kakiku menginjak toilet itu, nyatanya tidak seseram yang kuduga. Tiolet itu bersih dan hampir tidak tercium bau pesing sama sekali, tanpa basi-basi aku dan laura langsung bergegas membuang panggilan alam ini. Ah lega rasanya, seperti terlepas dari ikatan

saat aku keluar dari toilet laura sudah terlebih dulu mencuci tangannya di wastefall, aku menyusulnya untuk kemudian merapikan diri didepan cermin. Rambutku sedikit berantakan tersapu sepoaian angin. Aku ingin memulai obrolan kosong bersama laura, namun dengan sigap laura menutup mulutku. Ia meletakkan jari telunjuk dibibirnya dan memberiku isyarat untuk diam. Aku melongo heran untuk tingkah nya itu.

Laura menunjuk satu toilet dengan pintu yang tertutup, dahiku mengkerut ketika mataku pun ikut tertuju melihat kearah pintu itu. detik berikutnya samar-samar aku mendengar suara, suara berupa desahan yang lirih

"Aaahh, kak,, aduhh iyahh iyahh gitu,, lebih cepat kakk,,,yahhh ahhhh gituhhhh" desah seorang wanita. Ketika aku yakin untuk apa yang aku dengar, aku melongo menatap laura yang kini terlihat menahan tawanya. Jujur saja rasa penasaranku memuncak, inisiatif aku mendekati toilet yang tertutup pintu itu perlahan,

"Ssshhh kak, buruan dong, nanti ada yang datang, ahhhh kakkk, aduhhh ahhhhh" desahan wanita itu semakin berat. Aku menggeleng untuk situasi ini.

"mereka bikin anak" bissiiku pada laura, dengan ekspresi polosku, Laura menutup mulutnya menahan tawanya.

"yank, aku mau nyampe, sayang, sshhhhh ahhh,,,enak aduhh" sekarang giliran cowok yang mendesah, tanpa kusadari laura menghampiri dan menggedor pintu itu dengan keras

"woi dosen mau masuk nih, kalian ngapain?" teriak laura lalu menarik tanganku untuk segeran pergi. Aku tidak bisa bayangkan apa yang terjadi pada dua sejoli itu, keluar dari toilet aku dan laura tertawa lepas, sungguh ini diluar dugaanku, aku hanya membayangkan bagaimana ekspresi mereka yang tengah memadu kasih, hampir menuju kenikmatan justru harus dikagetkan oleh laura yang mengada-ngada ada dosen. Itu setimpal kurasa

Rani dan Monik dengan sabarnya menunggu aku dan laura melepas tawa kami. Puas aku tertawa, rani sudah memasang tatapan mengintrogasi. Memintaku untuk menjelaskan hal lucu yang membuat kami tertawa hingga sampai dikantin. Aku menarik nafas panjang untuk menceritakan apa yang terjadi, dan sama seperti diriku dan laura, rani dan monikpun ikut tertawa

"wahh parah sih, gw kehabisan kata-kata kalau jadi kalian" ucap rani

"gila nggak tuh?masa di wc pojokkan lagi, bikin gw risih aja" lanjut laura.

"yaudah sih, mungkin mereka udah sama-sama saling nggak bisa nahan" sahut monik

"gw sih berharap dapet cowok nggak gitu, apasih yang mereka cari. kenikmatan sesaat doang, sayang mah nggak gitu juga" ejek laura sembari menyuap makan siangnya

"hmmm, menurut gw ya jelas sih cara mereka salah. cuman kan kita nggak tau alasan mereka gitu kenapa, yaudah sih itu urusan mereka" jawab rani

"Kalau gw jadi tu cwek, udah gw putusin cowok kayak gitu ih, amit-amit" kembali laura mengejek

berikutnya kami bertiga hanya tersenyum dan mengganti topik pembicaraan, yang pasti aku baru saja mengalami hal konyol untuk pertama kalinya didalam hidupku. 

****

kuliah hingga sore itu ternyata melelahkan, terlebih saat itu dosenku izin keluar untuk mengurus sesutau dan meninggalkan tugas resume yang cukup banyak. Ah perjalananku sebagai seorang mahasiswa sudah dimulai, dan dibalik susah payah ini tentu kelak akan berbuah manis.

aku memilih menyandarkan kepalaku diatas tas yang kuletakkan diatas meja, kemudian memejamkan mata menikmati sedikit rasa malas ini. Toh tugas tidak perlu dikumpulkan hari itu juga. Aku larut dalam lamunanku untuk seseorang. seseorang diluar sana yang sekarang hampir kulupakan cara dia tersenyum. suara petikkan gitar terasa merdu ditelingaku, seolah-olah menjada latar belakang untuk lamunanku.

semakin lama melodi dari petikan gitar itu membuatku hanyut, aku menikmatinya masih dengan mata terpejam meskipun aku tidak tertidur. Kemudian suara merdu seseorang yang tengah bernyanyi mengkuti irama petikkan gitar.

'jujurlah sayang, aku tak mengapa'

'biar semua, jelas tlah berbeda'

'jika nanti aku yang harus pergi'

'kuterima, walau sakit hati'

begitulah kira-kira kalimat dari lagu yang kudengar, bagiku ini menyentuh hati. Aku bangkit dari tidurku dan melihat siapa yang memainkan gitar itu. mataku tertuju pada reno yang duduk diatas meja, dikelilingi wanita-wanita yang duduk dibawah dengan kursi tentunya, kemudian beberapa cowok dibelakangnya. Ah ternyata si humoris pandai bermain gitar dan memiliki suara yang merdu.

sedikit kagum diriku mendengar nada suaranya, dan lagu yang ia bawakan berhasil menyapa relung hatiku yang tengah larut dalam galau dan dilema ini.

"Modal pinter gitar doang" ucap laura tiba-tiba, membuatku terkejut gelagapan.

"hah? maksudnya?" tanyaku heran

" lo kenapa mandangin dia segitunya? si Reno maksud gw" Laura balik bertanya

"Nggak kenapa-napa. Cuman seneng aja denger dia main gitarnya" jawabku

"lo suka sama dia?" tanya laura tanpa basa-basi

"apaan si ra, nanti kedengeran orang lain malah bikin orang lain salah paham lagi. Dibilang gw cuman suka aja denger dia main gitar, adem aja gitu lagu sama liriknya" ucapku membela diri

laura menaik turunkan bahunya tanpa membalas ucapanku, mataku memutari keadaan kelas, mencari rani yang tiba-tiba sudah menghilang, sebelumnya dia duduk disebelahku. Aku mendapati rani dan Monik tengah bergabung bersama cewek-cewek yang lain dan duduk mendengarkan reno main gitar. Aku menghela nafas panjang melihat mereka kini ikut bernyanyi bersama reno. 

"Nay boleh minta pin BB kamu nggak?" ucap seorang pria yang menghampiriku.

"hah?" ucapku kaget menatap pria itu, dia adalah Aldi. Dari yang kucuri dengar, dia jadi rebutan cewek-cewek dikelas karena kepinatarannya dalam berbicara, belum lagi wawasannya yang cukup luas, itu terlihat setiap kali ada diskusi pelajaran.

"Pin BBMmu" ulangnya lagi, seolah mengerti akan kebingunganku

"yaudah kasih aja nay, mungkin ada perlu apa-apa nanti" sahut laura. Aku tersenyum sembari mengangguk dan memberikan Pin BB ku pada Aldi. Meskipun aku tidak tau untuk apa pria populer dikelas saat ini meminta kontakku. Berfikiran positif saja, itu tidak buruk

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status