Share

Chapter 5

Tengg,,,,Teng,,,Teng

"woi yang merasa anak G5 masuk kagak, bel udah bunyi juga. masuk kelas sana" teriak seorang cowok mecniptakan kerusuhan. Aku yang kala itu tengah asik berbincang membahas gaya rambut terbaru bersama Rani dan Monik, saling bertatapan untuk kemudian melirik keluar. Penasaran siapa yang mecipatkan bunyi lonceng diiringi dengan suara teriakan.

"ada apa sih?" tanyaku ketika laura yang baru saja datang, masuk kelas dengan wajah kesalnya

"Si reno edan kali ya. Iya kali kuliah, terus masuk kelas pake bunyi lonceng segala, dikira kita masih siswa SMA apa?" protes laura.

"hah? gimana-gimana?" aku bangkit dari dudukku dan berjalan keluar untuk melihat lebih jelas tingkah laku reno. Demi ladang gandum yang berubah menjadi coklat, Reno berdiri diatas kursi, memegang pipa besi, dan memukul pipa itu dengan sepatunya sendiri. Anehnya gerombolan teman-temannya malah ikutan meciptakan bunyi bel dengan suara dari mulut mereka

"EHH KAMU, NGERUSUH AJA YA. KAMU ITU MAHASISWA, BUKAN SISWA. TAK BIKIN NILAIMU TINTA MERAH SEMUA YA" teriak salah satu dosen dari kejauahan. Sontak Reno dan teman-temannya rusuh berhamburan lari masuk kelas.

"Parah sih, hahahahaha" tawaku menghampiri yang lain. Bahkan laura pun masih memasang wajah kesalnya. Itu karena reno membentak dirinya untuk segera masuk kelas, jelas dia malu diteriaki didepan mahasiswa lainnya. Itulah reno dengan kelakukanya yang pecicilan.

"Emak nya reno pas ngandung dia dulu ngidam apa ya?, kelakuannya bener-bener" geleng Monik. Justru karena kehadirannyalah membuat kelas terlihat lebih rame. Memangnya ada yang melarang mahasiswa nggak boleh pecicilan kayak gitu?.karena kedewasaan nggak diukur dari kamu udah mahasiswa atau belum kan?. Belum tentu dia sekonyol itu dari dalamnya.

****

"nih Al, yang kemaren" aku menghampiri Aldi usai pelajaran pertama berakhir.

"hah? wah lo lagi bagi-bagi jajan ya?" celetuk reno. Memang saat itu aldi sedang kumpul bersama teman-temannya dikelas. wajahku seketika langsung memerah seperti tomat, malu karena diledek seperti itu. Ah sekarang aku ngerasain malu yang dirasakan laura.

"Apaan, udah lu bisa nimbulin fitnah. Sini nay kita ngobrol jauh-jauh nih dari dedemit" Aldi menarik tanganku untuk menjauh. dan sorakkan yang kudengar saat itu hanyalah "Hhhoooohhhh bulan madu sono" ledek mereka. 

"jangan dengerin mereka, tutup kuping, tarik nafas, keluarin aja jadi kentut" cetus Aldi, sanggup membuatku menahan tawa

"sory ya, gw cuman mau kasih ini. takut kelupaan" aku menyodorkan uang 

"ini uang buat apa?" tanyanya heran

"buat payung kemaren. Kurang ya?. gw nggak tau harga payung yang lo beli kemaren berapa, makanya asal nebak aja ini" aku kembali menarik tanganku.

"gw nggak ada beli payung nay" lanjut aldi

"hah? yang kemaren jumpa sama gw depan minimarket, pas lagi hujan itu elo kan?" aku memastikan

"iya gw. tapi gw nggak beli payung. gw pulang kayak gini nih" Aldi meletakkan telapak tangan diatas kepalanya, seolah-olah melindungi kepalanya dari sesuatu

"terus kenapa lo masuk ke minimarket lagi? kan lo yang bilang mau beli payung baru" dalam hati aku merasa bersalah, jika benar yang aldi katakan, itu berati hari itu aldi pulang basah kuyup

"ceritanya gw mau jadi pahlawan kesorean nay. Gw nggak jadi beli payung, uangnya nggak cukup. kalau gw nggak gitu lo pasti nggak bakalan mau pulang pake payung yang gw kasih. pinter nggak gw?" aldi memasang wajah cengengesan

"ya ampun Al. Kalau lo kemaren demam gw pasti ngerasa bersalah banget. Sory ya, hmm besok payung lo gw kembaliin" 

"udah nggak usah, santai aja. Payungnya lo ambil aja. kenang-kenangan biar lo inget sama gw terus kalau hujan" ucap aldi melepas senyum manisnya dan berlalu meningalkanku. Ia tidak memberiku ruang untuk protes lebih lanjut. Membuatku menghela nafas panjang hanya bisa mengalah.

*****

BBM Aldi : Kesel nay, Si reno godain abang-abang ber wig. Di uber-uber lah kita. Disangkanya kita godain Abang-abang cantik. Ngos-ngosan nih sekarang

BBM Michelle : hahahah. kasian jadi korban isengnya reno

BBM Aldi : Tenang, ntar di kos gw kunciin di wc, biar tidur ama bau berak dia. 

BBM Michelle :Eh jahat, hahaha jangan. anak orang itu AL

BBM Aldi : Anak dedemit dia. Lo udah makan? jangan telat makan ya. Ntar sakit perut, kalau lo nggak masuk kelas, dunia berasa sepi

BBM Michelle : hahaha raja gombal

BBM aldi : sekian berita hari ini. gw pulang dulu ya, musti bawa motor habis ini. bye nay

itulah chat konyo di BBM antara aku dan Aldi. Membuatku tidak sadar diri, bahkan ketawa-ketawa sendiri saat menerima chat dari dia. Dia itu pinter ngelawak sih menurutku. Belakangan aku tau dia deket banget sama reno, kata aldi sih Reno itu sohib dia dari dunia ghaib. Entahlah ya

"ketawa mulu nay, cieee Aldi anaknya asik ya?" Goda rani padaku.

"Mulai, mulaii ngeledek nya. gw ketawa karena emang dia lucu Ran." aku membela diri

"kalian bisa dibilang udah PDKT nggak sih?" tanya Monik tanpa basa-basi padaku.

"ha?Ih gw nggak sampe se Grrr itu ya. Iyakali Aldi niat PDKT. temenan doang ini nik" aku mengelak. meskipun dalam hati udah aminin aja, berharap sih iya

"lagi ngobrolin gw yaa?" goda Laura yang baru saja kembali dari toilet. sontak kami bertiga menarik nafas panjang, menerima tuduhan tanpa bersalah ini

"enggak, Ngomongin Aldi, yang bikin Nayna ketawa bareng hanphonenya" jawab Monik polos. Ya ampun anak siapa sih nik. Nyebar hoax gitu aja

"Lah? makin sering aja nih chat an. Gw mencium aroma-aroma cinta segera bersemi nih" sekarang laura ikut menggodaku

"Ledekk terus, ampe kenyang yah kalian ngeledekin" aku memasang ekpresi kesal. membuat mereka tertawa girang. Menjadi yang terbuli itu melelahkan

"Hati-hati gw ingetin. Jangan suka duluan ya, gw denger dia banyak deketin cewek. Nggak tau deh buat apaan" Laura menasehatiku. Dan ini sudah untuk kesekian kalinya aku mendengar Laura mengatakan hal itu. Betapa pedulinya dia soal perasaan sahabatnya ini

"Iya, iyaa bawel. Gw ketawa ya anaknya lucu sih. Seneng aja gitu denger cerita dia. Ya meskipun akhir-akhir ini ngerasain nyaman sih, Tapi gw kan nggak langsung nyimpulin apa yang gw rasain ini tuh rasa suka sama dia, bisa jadi nyaman berteman" jawabku asal-asalan

"Mana ada sih cewek ama cowok beneran temenan, udah hukum alam itu. kalau terlalu dekat pasti salah satunya ada yang bakalan naksir. Udah jalanin aja, yang penting jaga hati aja" saran Rani. Aku mengangguk setuju. Meskipun percakapan selanjutnya Laura bersikeras agar aku menjauhi aldi perlahan-lahan.

untuk saat ini memang aku belum mengakui, apa yang kurasakan adalah rasa suka. Ini terlalu dini untuk menilai sebuah rasa. Lagipun hatiku masih tergores untuk luka yang belum mengering. Untuk dia yang membuatku masih menunggu kabar tidak jelas. Namun aku tidak sedang berada dalam sebuah ikatan, yang mengharuskan aku untuk menjaga hati. Aku bebas dekat dengan siapapun, karena memang tidak ada yang melarang. Atau aku sedang berada dalam fase hubungan yang digantung???

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status