Share

2. Menginginkanmu

Keesokan paginya.

"Astaga! Ini orang maunya apa, sih?" seru Mila sambil menatap layar ponselnya.

"Kenapa sih, Mil? Pagi-pagi udah ngomel. Pamali, ntar rezekimu dipatuk ayam," omel Shenka sambil menarik selimutnya kembali.

"Salah, itu untuk orang yang malas bangun pagi kayak kamu," ralat Mila.

"Oh, iyakah? Hehehe," cengir Shenka. "Trus, apa yang bikin kamu sewot?"

"Manajer kelab ini lho, pagi buta SMS aku lagi, bilang aku ga jadi dipecat, tapi harus menghadap bos besar nanti malam," jelas Mila.

Shenka terduduk dengan cepat.

"Pria yang aku pukul tadi malam?" tanyanya untuk memastikan.

"Iya."

"Kalau begitu gak usah datang. Dia pasti mau ngerjain kamu," cetus Shenka.

"Trus kerjaan aku gimana?" sahut Mila.

"Kan aku udah bilang, ntar kita cari lagi di tempat lain," jawab Shenka pula.

"Cari kerja itu ga mudah, Shen. Apa lagi untuk gadis ga berpendidikan seperti aku," kata Mila dengan wajah sedih.

"Tenang aja. Aku yakin bentar lagi kamu pasti dapat kerja di tempat yang lain. Santai sajalah, hari ini mari kita anggap kamu sedang berlibur," tukas Shenka dengan semangat.

"Oke deh kalau begitu. Disuruh santai siapa yang nolak. Tapi ... kamu yang belanja, ya."

"Sip, tenang aja. Sekarang kamu bersihin kamar mandi, gih," ujar Shenka.

"Katanya disuruh bersantai," protes Mila.

"Iyaaa, tapi bukan molor juga kaleee," sahut Shenka.

"Sial. Ya, udah pergi belanja sana. Aku udah lapar, nih."

Shenka pun pergi ke minimarket terdekat. Setelah memastikan cukup jauh dari rumah, ia mengeluarkan ponselnya lalu menelepon seseorang.

"Temanku butuh perkerjaan. Tolong carikan perkerjaan yang cocok untuk gadis tamatan SMA," pintanya pada seseorang, lalu menutup sambungan telepon itu.

***

Malamnya di kelab.

"Mana karyawan itu? Apakah dia sudah datang?" tanya Hans, begitu dirinya sampai di kelab.

"Belum, Pak. Sepertinya ... dia tidak akan datang," jawab Rovan pesimis.

"Kenapa? Apakah dia tidak butuh perkerjaan?" tanya Hans dengan nada remeh.

"Hanya feeling saja, Pak. Saya rasa temannya itu pasti keberatan Mila kembali berkerja," jelas Rovan.

Hans mengencangkan rahangnya karena kesal.

"Mana biodata karyawan itu? Berikan padaku."

Manajer itu berlalu dengan ribuan pertanyaan menggantung di kepala. "Ada apa dengan bos besar? Tidak biasanya dia meminta data karyawan kelab," katanya di dalam hati.

Hans pergi pun bergegas pergi setelah manajer kelab itu mengatakan sudah mengirimkan file yang ia minta melalui email.

Di dalam lift, ia membuka email lewat ponselnya, lalu membaca data Mila yang terlampir. Sudut bibirnya naik setelah mendapatkan alamat Mila. Tanpa membuang waktu, Hans bergerak cepat menuju tempat parkir.

Tidak sampai tiga puluh menit, Hans menemukan alamat rumah Mila. Dengan santai ia memarkir mobil di depan rumah itu. Sebuah rumah berukuran kecil, dengan pagar besi yang catnya sudah mengelupas. Dari balik kemudi, Hans mengamati sekitar rumah sementara otaknya berpikir mencari cara agar bisa bertemu dengan Mila dan Shenka.

Suara tawa mengusik lamunan Hans, ia melihat dua orang gadis berjalan beriringan sambil bersenda gurau menuju rumah.

"Ah, itu ... Shenka ... gadis yang kemarin," bisik Hans dengan hati berdebar. Gelenyar asing itu kembali menyapa tubuhnya.

"Hanya dengan melihatnya saja tubuhku sudah bereaksi begini? Kenapa, ya?" tanya Hans bingung.

Tawa kedua gadis itu masih terdengar jelas bahkan setelah tubuh mereka menghilang di balik pintu.

Hans ingin menghampiri Shenka, tetapi ia tidak memiliki alasan yang pas untuk menemuinya. Dalam keadaan bingung, tiba-tiba Hans melihat Shenka kembali berjalan keluar rumah. Gadis itu terlihat sedang menelepon seseorang.

Hans ingin turun untuk menyapa, tapi ia urungkan niat karena beberapa saat kemudian ia melihat seseorang datang menghampiri gadis itu, memberikan sesuatu lalu bergegas pergi.

"Wow, apa itu?" tanya Hans curiga.

Dari tempatnya berdiri Hans melihat Shenka memperhatikan benda itu lalu memasukkannya ke dalam saku baju. Hans tak tahan lagi, rasa penasaran menggelitiknya begitu kuat. Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun turun dari mobilnya. Dengan kaki panjangnya, Hans menghampiri Shenk, meraih lengan gadis itu lalu menyeretnya menjauhi rumah.

"Hei, siapa kau? Apa yang kau lakukan?" protes Shenka marah.

"Ssst, diamlah jika kau tidak ingin teman baikmu itu menyusul keluar," ancam Hans.

Shenka mengenali suara Hans. Bahkan dari postur tubuh pria itu Shenka sudah bisa menebak identitasnya.

"Kau ... pria dari keluarga Adalrich itu, kan?" tebak Shenka.

Hans melepaskan tangannya, memutar tubuhnya dengan cepat, memposisikan dirinya tepat di hadapan gadis itu.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku dari keluarga Adalrich?" tanya Hans heran.

"Kenapa? Apa tebakanku salah?" Shenka balik bertanya.

"Kau ... bisa sopan sedikit, tidak?" tegur Hans tidak senang.

"Anda sopan, saya pun segan. Aku bersikap tergantung bagaimana sikap Anda, Tuan," jawab Shenka tanpa takut.

"Mengapa kau tidak meminta maaf padaku? Padahal jelas-jelas kau sudah salah orang malam itu. Kau telah menyerang orang yang salah, Nona," kecam Hans.

"Well ... awalnya aku ingin meminta maaf, tetapi begitu ingat perlakuanmu malam itu, aku merasa tidak ada hutang permintaan maaf lagi padamu."

Kata-kata Shenka mengingatkan Hans pada ciuman mereka malam itu, debaran jantungnya langsung berdetak tak menentu. Terlebih lagi, tepat di hadapan Hans saat ini bibir mungil Shenka seolah memanggil untuk disentuh.

Hans memejamkan mata, menahan gejolak di dalam dirinya yang semakin liar.

"Kau ... telah menguji kesabaranku. Tidak bisakah kau sedikit menurut?" kata Hans geram.

Kata-kata Hans tak ayal membuat Shenka terbahak.

"Kau bukan siapa-siapaku, Tuan. Saudara bukan, teman bukan, pacar pun bukan. Mengapa aku harus menurutimu?" jawab Shenka balik bertanya.

"Kau tahu siapa aku, kan?"

"Tahu."

"Puluhan wanita mengantre ingin jadi kekasihku. Jika dikumpulkan, mungkin mereka sudah bisa dimasukkan ke dalam etalase jodoh yang bisa aku pilih kapan saja," kata Hans dengan sombongnya.

"Maaf jika mengecewakan Anda, Tuan Adalrich yang terhormat. Tetapi aku bukan gadis-gadis itu, dan aku tidak tertarik untuk menjadi salah satu dari mereka," balas Shenka tak mau kalah.

Hans merapatkan tubuhnya pada Shenka, memaksa gadis itu melangkah mundur hingga berakhir pada tembok yang ada di belakangnya.

"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Shenka terbata.

"Aku hanya ingin memastikan ... apakah kau benar-benar tidak tertarik padaku?" tanya Hans seraya bergerak semakin mendekat pada wajah Shenka.

Berada pada jarak yang begitu intim membuat dada Shenka langsung bergemuruh. Bagaimanapun juga, ciuman yang dilakukan Hans malam itu adalah yang pertama baginya. Jelas Shenka tidak akan bisa melupakannya dengan mudah.

Shenka memalingkan wajahnya yang semakin merona.

"Aku tidak tertarik padamu, menjauhlah," cicit Shenka.

Sudut bibir Hans naik beberapa derajat. Ia tahu gadis muda itu juga tertarik padanya. Hans meraih dagu Shenka, lalu memutar wajahnya sehingga sepasang mata mereka bertemu. Gelenyar asing semakin kuat mendera tubuh mereka.

"Aku menginginkanmu, Shenka. Jadilah kekasihku."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status