Share

Bab 3 - Numpang Sarapan

Milly disambut dengan hangat oleh ibunya. Ibunya sempat terkejut mendapati Milly berdiri sendiri di ambang pintu dengan membawa sebuah rantang. Meski putrinya itu sedang menyunggingkan senyumannya, namun sang ibu bisa merasakan bahwa ada yang tak beres dengan putreinya itu.

Sebenarnya, Ibu Milly cukup mengerti bagaimana posisi Milly dan apa yang menimpa putrinya itu. Ibu Milly adalah sosok yang snagat dekat dengan Milly. Ketika Milly hamil, sang ibu adalah orang pertama yang tahu. Ibunya pulalah yang meminta Milly untuk memberi tahu Boy, dan Milly benar-benar melakukannya.

Ketika Boy memutuskan untuk bertanggung jawab, sebenarnya Ibu Milly sempat memiliki sebuah kekhawatiran, bahwa Milly tidak akan bahagia dengan Boy, karena pernikahan mereka jelas-jelas terjadi hanya karena rasa tanggung jawab. Ditambah lagi, keluarga Milly tentu cukup tahu diri, bahwa mereka akan berbesan dengan keluarga Boy yang merupakan konglongmerat. Namun pada akhirnya, orang tua Milly tak bisa berbuat banyak, bagaimanapun juga anak dalam kandungan Milly butuh status yang jelas nantinya.

Kini, melihat Milly berdiri di ambang pintu dengan membawa sebuah rantang dengan waktu yang hampir tengah malam, membuat ibu Milly merasa bahwa putrinya itu sedang tak baik-baik saja dibalik senyumannya.

“Apa yang kamu lakukan di sana, Nak? Ayo masuk.” Ajak Ibu Milly sembari melihat di sekitarnya. Tak ada Boy, apa memang Boy tak mengantar Milly?

“Ini, Milly tadi masak terlalu banyak, Bu. Jadi Milly bawa pulang buat dimakan sama Ibu sama Ayah.” Milly segera menuju ke meja makan keluarganya.

“Ayah sedang shift malam. Ibu jadinya tidur sendiri,” jawab sang ibu.

“Kebetulan sekali, Milly mau nginep sini malam ini.” Milly segera mengambil piring dan mengambil makanan di rantangnya. Dia duduk dan mulai menyantap makan malamnya. Tentu saja karena sejak tadi dia sudah menahan lapar.

Sang ibu hanya mengamati Milly, sebelum kemudian dia bertanya “Kamu belum makan?”

Milly menatap ibunya seketika, tampak ada kesedian dan kekhawatiran di wajah sang ibu, lalu Milly menjawab “Sudah, Bu. Orang hamil kan memang suka lapar.”

Sang ibu lalu duduk di sebelah Milly. “Kenapa kamu ke sini sendiri? Kenapa kamu nginep di sini? Suami kamu mana?”

“Uum, Boy tadi ngantar aku kok, Bu. Tapi dia sedang ada kerjaan penting dan mendadak di bandung, makanya aku mutusin buat nginep sini aja. Dia ngantar sampai depan gang. Mobilnya nggak bisa masuk.”

“Bener apa yang kamu katakan?” tanya sang ibu masih tak percaya.

Milly tersenyum lembut. “Bener, Bu…” Milly tidak bisa berkata lebih banyak lagi, dia tak ingin berbohong lebih banyak lagi. Akhirnya Milly memutuskan untuk menyantap makan malamnya kembali. Semoga saja ibunya tak lagi melemparkan pertanyaan lain.

Milly bersyukur karena ibunya tampak mengerti. Sang ibu hanya mengamati Milly saja tanpa melemparkan pertanyaan lain, sedangkan Milly entah kenapa merasa sedih dan lega, ketika Ibunya tak perlu tahu apa yang sedang menimpanya saat ini.

***  

Milly masuk ke dalam kamarnya setelah menyelesaikan makan malamnya. Dia menghela napas panjang sembari mengusap lembut perutnya yang sudah mulai membuncit.

Semenjak bekerja menjadi asisten pribadi Clara, Milly memang lebih sering tinggal di apartmen Clara. Baru beberapa minggu terakhir, Milly kembali tinggal di rumah ibunya setelah memutuskan berhenti bekerja dengan Clara. Kemudian, Boy menikahinya, dan dia pindah ke apartmen baru pria itu.

Kini, Milly kembali tidur di kamar mungilnya. Setidaknya, ketika berada di sini, Milly tak merasa tertekan seperti saat berada di dalam apartmen Boy.

Milly menghela napas panjang. Dia menuju ke arah ranjangnya, mulai duduk di sana dan masih mengusap lembut perutnya.

Apa suatu saat nanti, Boy akan membuka hati untuknya? Astaga… memangnya siapa dia? Dibandingkan dengan Clara —perempuan yang dicintai Boy setengah mati, Milly sama sekali tak ada apa-apanya.

Clara adalah model papan atas dengan postur tubuh proposional. Tinggi langsing dan semampai. Sedangkan dirinya, Milly memiliki postur mungil dan berisi meski tidak gemuk. Clara adalah sosok yang selalu modis, sangat pantas bersanding dengan Boy yang juga memiliki penampilan modis, sedangkan dia…

Milly menghela napas panjang, dia membaringkan tubuhnya pada ranjang mungilnya. Apa yang kamu pikirkan saat menerima pinangannya, Mill? Tanya Milly pada dirinya sendiri.

Milly kembali mengusap lembut perutnya. Tentu saja yang dipikirkan Milly hanya status untuk anaknya kelak. Milly tak akan mempedulikan lagi tentang perasaannya jika memikirkan tentang anaknya. Meski begitu, menjalani hal ini membuat Milly merasa sakit.

Kamu harus banyak bersabar, Mill… kamu harus bersabar… nasehatnya dalam hati. Akhirnya, Milly memutuskan memejamkan matanya dan mulai menenggelamkan diri ke dalam dunia mimpi.

***  

Di lain tempat. Boy mengamati jalanan ibu kota dari jendela kaar apartmennya. Sesekali dia menyesap bir kaleng yang ada di tangannya.

Apa dia sudah keterlaluan tadi? Apa dia salah karena sudah menghindari Milly sampai seperti itu hingga Milly sedih dan memilih menginap di rumah orang tuanya?

Sial!

Boy hanya belum bisa menerima keadaannya. Dia adalah pria bebas sebelumnya. Dia memiliki kekasih, dia memiliki perempuan yang sangat dicintainya. Kemudian tiba-tiba, peremouan itu menikah dengan pria lain, membuat Boy gila dan meniduri asisten dari kekasihnya itu hingga hamil. Boy bukanlah pria brengsek yang lepas tanggung jawab begitu saja. Dia memutuskan untuik bertanggung jawab, meski dia tak bisa menjanjikan apapun pada Milly.

Sejujurnya, Boy masih tertekan dengan semua keadaan ini. Menikah dengan Milly sama sekali tak pernah terpikirkan untuknya, karena itulah, Boy masih menyesuaikan diri.

Perhatian Milly tadi yang memasak makan malam untuknya, membuat Boy terganggu. Dia tidak suka diperhatikan, dia tak suka ketika ada seseorang yang mencoba mencuri-curi hati dan juga perhatiannya. Boy masih mencoba untuk mengobati luka patah hatinya karena Clara, dan perhatian Milly bukan salah satu ‘obat’ yang bagus untuk hal itu. Karena itulah, yang bisa Boy lakukan hanya menghindar sebisa mungkin.

Boy menyesap kembali minumannya sebelum dia berjalan pergi meninggalkan kamarnya. Boy menatap pintu kamar Milly. Dengan spontan kaki Boy melangkah mendekat ke arah pintu kamar Milly, lalu dia mulai membukanya.

Boy masuk ke dalam sana, mengamati segala penjuru ruangan yang memang tak berubah sedikitpun.

Milly hanya membawa sebuah koper yang berisi pakaiannya. Perempuan itu tak membawa apapun, jadi tidak ada yang berubah dengan kamar perempuan itu. Bahkan koper Milly saja masih tampak berada di depan lemarinya, dan belum dibongkar.

Boy menghela napas panjang. Ada sebuah rasa sesak di dadanya yang entah berasal dari mana. Boy tidak tahu, apa yang dia rasakan saat ini. Boy juga tak mengerti, kenapa dia merasakan perasaan sesak seperti ini saat menginmgat tentang Milly. Memangnya, apa pedulinya dengan perempuan itu? Yang terpenting saat ini, dia sudah bertanggung jawab, jadi, dia tak harus mencurahkan perhatiannya secara berlebihan, kan?

Boy akhirnya meninggalkan kamar Milly lalu kembali ke kamarnya dan melemparkan diri di atas ranjangnya. Dia terbaring nyalang dengan pikiran yang berkelana. Kenapa perasaannya menjadi segunda ini? Apa yang terjadi dengannya?

***   

Keesokan harinya…

Ketika membantu ibunya memasak sarapan, Milly mendengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Milly menatap ibunya seketika, dan mengira bahwa yang datang adalah ayahnya.

“Biar aku saja yang buka pintunya, Bu. Paling itu Ayah.”

“Biasanya kalau Ayah shift malam, dia baru pulang jam sembilan. Ini baru jam tujuh.”

“Mungkin temannya sudah gantiin.” Milly menjawab sembari menuju ke arah pintu. Dia membuka pintu depan rumahnya dan alangkah terkejutnya ketika dia mendapati Boy yang sudah berdiri menjulang di ambang pintu rumahnya. “Boy?” Milly menampilkan raut wajah terkejutnya.

“Kenapa terkejut gitu?” tanya Boy dengan santai.

“A —apa yang kamu lakuin di sini?” tanya Milly dengan terpatah-patah.

“Jemput kamu, memangnya apa lagi?”

“Tapi aku…”

“Dan sarapan bareng. Nggak apa-apa, kan, kalau aku numpang sarapan di sini?”

Pertanyaan Boy benar-benar membuat Milly ternganga karena terkejut. Kenapa Boy ingin sarapan di rumah sederhananya? Kenapa pria ini datang menjemputnya pagi-pagi sekali? Apa rencananya? Apa yang diinginkannya? Kenapa tiba-tiba Boy berubah?

-TBC-

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status