Share

Bab 8

Niken merasa lega melihat teman-temannya sudah kembali ke perkemahan. Mereka dibawa mobil polhut setelah petugas melakukan pencarian keesokan harinya. 

Melihat Rama turun dari kendaraan, Niken langsung menghampirinya. Raut muka cowok itu terlihat sedih. Dia tak bicara apa-apa. Di dalam kendaraan mobil itu, Niken tidak melihat Tedy dan Bando. Niken penasaran, lalu menuju sebuah kendaraan lainnya yang berada di paling belakang. Namun dia juga tidak melihat kedua cowok itu. 

"Tim SAR masih melakukan pencarian. Kita memang berada di tempat yang terpisah," kata salah seorang petugas. Dia menatap Niken yang masih diselimuti perasaan panik.  

Niken lalu kembali. Ia menuju ke dalam tenda, dimana teman-temannya berada disitu. Di dalam tenda itu, Rama beserta ke empat teman lainnya terlihat lemas. Mereka tak ada yang bicara. Wajah-wajah mereka seperti diselimuti rasa takut yang luar biasa. 

"Apa sebenarnya yang terjadi Rama?" tanya Niken setelah kondisinya mulai tenang. 

Cowok itu menghela napas. Dadanya naik turun. Dia seolah mengingat sesuatu yang ada dalam pikirannya. 

"Kejadiannya begitu cepat," katanya. Sejenak dia menghentikan kalimatnya, sebelum kemudian bibir Rama kembali bergetar. 

"Kita tidak menyangka sebelumnya akan terjadi cuaca buruk," kata Rama mulai bercerita. 

Ya, saat mendaki Bukit Tanjakan Cinta itu tiba-tiba kabut turun. Mendung tiba-tiba menjadi pekat menghitam. Melihat cuaca itu, mereka tetap melanjutkan pendakiannya. Hingga kemudian datang angin puting beliung. 

Melihat kejadian itu Rama dan teman-temannya mencari tempat berlindung. Banyak pohon-pohon yang tumbang. Mereka mencari selamat sendiri-sendiri. 

"Lalu?" tanya Niken penasaran. 

"Semuanya tiba-tiba jadi gelap, Niken," sahut Rama. "Aku tidak melihat teman-teman yang lain kemana. Karena kita sibuk mencari selamat sendiri-sendiri."

Sesaat cerita Rama berhenti. Ia melihat Lastri yang turut mendengarkannya. Cewek itu lebih banyak diam. 

"Kata Feri tubuh Tedy dan Bando terlempar saat kejadian itu."

"Terlempar?" kata Niken mengernyitkan kedua alisnya. 

"Ya. Kita sempat mencarinya. Namun usaha itu gagal. Lalu kita memutuskan untuk kembali ke perkemahan, namun sia-sia. Kita kesasar tidak tahu arah. Ditambah lagi hujan begitu lebatnya sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa."

*****

Pencarian terhadap Tedy dan Bando tidak dilanjutkan. Tim SAR tidak berani melakukan pencarian di tengah kabut tebal. Terlalu berisiko. Apalagi tingkat kemiringan bukit itu hingga mencapai 45 derajat. Bukit itu memang menjadi salah satu jalur menuju Oro-Oro Ombo, Kalimati, Arcopodo dan puncak Mahameru.

Malam itu, memang tidak seperti biasanya. Selain hawanya dingin, kabut semakin tebal. Membuat keindahan alam puncak Mahameru itu hilang dari pandangan. 

Rama terlihat membakar api unggun. Beberapa temannya sudah tertidur pulas sedari tadi. Cowok itu duduk menyendiri. Ada perasaan menyesal dalam bathinnya. Seandainya dia tidak memaksa memilih camping di tempat ini, mungkin peristiwa ini tidak akan pernah terjadi. Perasaan bersalah itu seperti terus menghantui dirinya. 

Lamat-lamat telinga Rama mendengar suara langkah. Dia membiarkan langkah itu semakin mendekat. "Kau masih belum tidur, Niken?" suara Rama memecah kebisuannya sendiri. 

"Belum. Aku kepikiran dengan Tedy dan Bando," sahut Niken. Cewek itu memilih duduk di samping Rama. 

"Semoga saja besuk cuacanya tidak seburuk malam ini. Sehingga tim SAR bisa melanjutkan pencariannya," sahut cowok itu. 

"Sebelum berangkat aku memang sempat ingin menunda pendakian itu. Tetapi Tedy terus memaksa..." katanya lagi. 

"Jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi, Rama. Kita percayakan semuanya pada petugas agar mereka bisa menemukan keberadaan Tedy dan Bando," sahut Niken. Ia menatap cowok itu yang masih terlihat sedih. Niken merasa trenyuh melihatnya. 

Obrolan mereka terus mengalir. Hingga keduanya tidak merasa jika malam semakin larut. Niken terlihat kedinginan, meskipun dirinya sudah mendekat ke tungku perapian. 

"Pakailah ini Niken," Rama menyodorkan jaket kulitnya. Cewek itu terdiam. Ia terkejut melihat sikap cowok itu yang tiba-tiba begitu perhatian. Hati Niken tersentuh. Ada sesuatu yang lembut yang dia rasakan. Sesuatu itu begitu dalam sekali. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status