Share

Bab 5. Trauma

Alexandra tidak menyangka jika dia akan tinggal bersama seorang Om yang baru pertama kali ia temui.

Berjalan dengan ragu, Alexandra selalu berjalan di belakang William sambil memandang punggung lelaki itu.

Ketika William berhenti dari langkahnya, kepala Alexandra tak sengaja menabrak punggung William hingga terpental sedikit ke belakang.

William menoleh ke belakang. “Kamu malu berjalan di sampingku?” tanya William.

Alexandra menggeleng cepat.

“Lalu?”

“Itu… “

William memindai bayangan Alexandra dari atas sampai bawah. “Untung aku minta Evan beli pakaian buat kamu,” katanya yang mengalihkan pembicaraan. Dia menarik lengan Alexandra agar berjalan di sampingnya. “Besok lusa kita akan daftar sekolah yang baru. Karena nggak mungkin kamu bersekoiah di tempat yang lama, kan? Jauh.”

Apakah William selalu seperti itu? Seakan dia bicara pada dirinya sendiri?

“Terserah Om,” jawab Alexandra.

Ketika William berhenti di depan sebuah pintu. Alexandra yang berjalan lebih jauh langsung memutar kakinya. William menahan tawanya karena tak mau membuat keponakannya itu malu.

“Ini tempat kita pulang, jangan lupa, jangan nyasar,” kata William.

Alexandra masuk duluan disusul oleh William di belakangnya.

Apartemen William besar. Sangat besar malah. Lebih besar jika dibandingkan rumah paman Oliver.

“Kamar kamu di sebelah sana, kamarku di sebelahnya,” kata William. “Ada kamar mandi di dalam kamar, aku tau karena kita membutuhkan privasi.”

Alexandra mengangguk.

Tak lama Evan masuk membawa paperbag yang berisikan pakaian dan kebutuhan yang dibutuhkan oleh Alexandra.

“Kalau kekecilan kita bisa beli lagi besok,” kata William dengan enteng.

**

Jam satu malam, tenggorokan Alexandra terasa kering. Dia ingin mengambil minum yang ada di dapur, jadi dia harus keluar dari kamarnya malam itu.

Ia pikir William sudah tidur di kamarnya, tapi ternyata om-nya itu sedang minum di minibar yang ada di sebelah dapur.

William yang tahu ada pergerakan dan mata yang mengawasinya lalu menoleh.

“Kenapa? Kamu nggak bisa tidur?” tanya William.

Alexandra menggeleng. “Aku haus.”

William lalu mengangguk dan fokus pada gelas wine-nya lagi. Sikapnya saat ini sangat berbeda dengan beberapa jam yang lalu.

Karena Alexandra tak mau menganggu William, jadi dia mengambil air mineral di dalam kulkas dengan buru-buru. Tapi karena tangannya licin, dia memecahkan botol yang ada di dalam kulkas.

Mata Alexandra membulat terkejut. Ia tak mau membuat masalah di hari pertama ia tinggal dengan William.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya William.

Alexandra dengan tangan gemetar memunguti pecahan botol.

“Biarin aja di sana, biar aku yang bereskan,” kata William.

“Tapi… “

“Kamu tidur aja, pasti capek,” kata William.

Nada dingin itu tak mungkin Alexandra sangkal lagi. Jadi dia buru-buru masuk ke dalam kamarnya sebelum membuat William muak padanya.

Dari celah pintu sedikit terbuka, Alexandra mengintip William yang sedang berjongkok sambil mengambil pecahan beling tersebut. Dari dalam hati Alexandra muncul ketakutan apabila William ingin mengusirnya sama seperti Martha kemarin.

“Agh!” Terdengar suara William melenguh. Alexandra yang hendak menutup pintu kemudian membuka pintu kembali. Dia berlari dan melihat jari telunjuk William yang mengeluarkan darah.

“Om nggak apa-apa?” tanya Alexandra. Gadis itu mengambil tisu kemudian menekan jari telunjuk William, setelahnya diarahkan tangan William ke wastafel dan mencucinya.

“Kenapa nggak jadi tidur?” tanya William.

“Mana mungkin aku tidur.”

“Kamu takut?”

Alexandra mengangguk.

“Takut apa?”

“Takut… kalau Om mengusirku.”

“Gara-gara apa? Memecahkan botol ini?”

Alexandra mengangguk lagi.

William tersenyum. Meski gelap tapi bayangan William terlihat begitu tampan malam itu.

Tangan William yang kekar mengangkat pinggang Alexandra dan mendudukkannya di sebelah wastafel. “Aku nggak sejahat itu. Apalagi karena masalah kecil. Bodoh,” kata William.

Wajah Alexandra memerah karena malu. Ia pun turun lalu berlari masuk ke kamarnya.

Mata William melirik ke mana bayangan itu pergi masih dengan senyumnya seperti tadi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status