Share

S1: Ocean & Sky Vagano

Emily menatap pemuda yang kira-kira berumur beberapa tahun di atasnya itu dengan tatapan kagum sekaligus segan.

"Ma, maaf, saya sudah merepotkan Anda. Saya tak bermaksud untuk ada di sini, maksud saya, saya mengalami kecelakaan. Terima kasih karena telah menolong saya, itu tadi kata Bu Hannah..." Emily gugup tak tahu harus berkata apa.

"Ya, tak apa-apa. Aku yang menemukanmu lalu membawamu kemari dan menyuruh dokter merawatmu. Tadi kau penuh luka dan bajumu juga basah kuyup dan robek-robek." senyum pemuda yang bernama Ocean itu cukup manis, membuat hati Emily deg-degan.

"A... apakah Anda yang menggantikan baju saya?" ia tersipu malu.

Ocean tak segera menjawab. Pemuda berambut panjang itu beberapa saat terdiam. Tiba-tiba ia tertawa ngakak, membuat Emily tambah tersipu malu.

"Tentu saja tidak. Aku tak sekurang ajar itu juga." jawabnya sambil berdeham lalu berusaha menjadi cool kembali.

"Dokter keluarga kami seorang perempuan dan ia tinggal di puri ini juga. Jadi kesehatan kami sekeluarga terpantau dengan baik sejak lahir karena beliau orang yang telah menolong persalinan kami. Maksudku, aku dan saudara kembarku."

'Kembar? Sudah tampan, tinggi dan gagah begini, punya kembaran lagi.' Demikian batin Emily yang masih merasa seperti berada di negeri dongeng.

"Ya, aku kakaknya dan dia adikku. Namanya Sky Vagano. Kami berdua keturunan terakhir Bangsawan Vagano yang telah menghuni puri tua ini dari abad ke 17."

'Wow, bangsawan. Pantas ruangan tidur ini antik sekali dan dekorasi interiornya masih seperti dari abad medieval.' Emily lagi-lagi dibuat kagum.

"Haiiiii.... Ada tamu cewek cantik rupanya!" seseorang tetiba masuk seperti angin ribut.

Emily terperangah bingung. 'Kok pemuda yang kedua ini begitu mirip dengan Ocean?'

"Perkenalkan, namaku Sky Firmament Vagano. Dan pemuda sok aristokrat ini kakakku Ocean Stallion Vagano. Kakakku yang masih single. Dan aku juga!" Sky memperkenalkan diri. Ia mirip sekali dengan Ocean, tapi rambutnya dipangkas pendek. Dan sikapnya sedikit lebih riang gembira.

"Namaku Emily Rose Stewart." Emily memperkenalkan diri. "Aku mahasiswi sastra Inggris di Universitas Evermerika."

"Wahhhh, jauh sekali. Kami dulu kuliah di Evermerika juga, tapi setelah lulus, gelar sarjana kami malah tak terpakai karena kami harus kembali ke pulau terpencil di tengah lautan Evertika ini." keluh Sky, duduk santai seenaknya di ranjang di sisi Emily.

"Sky, kita keturunan bangsawan yang terhormat yang harus meneruskan usaha serta nama baik keluarga kita." Ocean tampak sedikit jadi malu dan segan karena sifat adiknya yang tanpa tedeng aling-aling.

"Ya, Kakakku Sayang. Mau gak mau deh aku harus meninggalkan cita-citaku sebagai penerjun payung atau atlit gantole terkenal." Sky pura-pura mengeluh. "Untung di sini kita punya parasailing jadi aku masih bisa sedikit bersenang-senang di laut."

"Dan aku senang berkuda dan berenang." Ocean ikut bercerita.

"Anda berdua hebat dan mengasyikkan sekali. Dan sepertinya baik hati dan menyenangkan." Emily merasa kedua cowok kembar itu sama-sama baik dan ramah walaupun berbeda sifat. "Aku harap kehadiranku di sini tak merepotkan kalian berdua."

"Kami tak hanya berdua. Hannah Miles, kepala pelayan, adalah seperti ibu bagi kami, karena kami sudah tak punya ayah dan ibu. Kau bisa memanggilnya Bibi Hannah. Dan ada juga yang merawatmu, dokter keluarga kami, Doc Lilian, ia sudah tua tapi tak menikah. Tinggalnya sedikit jauh, di mercu suar seberang puri ini. Hanya sesekali ia datang bila dibutuhkan. Hanya ada sedikit orang yang tinggal di pulau yang sunyi ini, segera kau akan mengenal semuanya dengan baik." ucap Ocean lagi.

"Oh ya, sebentar lagi Bibi Hannah akan mengantarkan makan malam untukmu, Nona Emily. Kami sangat ingin makan bersamamu di sini, jadi kami akan minta beliau untuk mengantarkan semua hidangan terlezat khas Vagano di kamar tamu kami ini hanya untuk kita. Semoga kau menikmati semuanya sebagai tamu agung kami." tambah Ocean seraya berjalan ke pintu, memberi kode pada Sky untuk mengikutinya.

"Oh, jadi aku harus menginap di sini?" polos Emily malu, pula masih terkagum-kagum pada ketampanan mereka berdua.

"Ya, paling tidak sampai luka-lukamu itu sembuh. Mungkin dua minggu atau satu bulan? Tapi tak apa-apa, kami dengan senang hati akan merawatmu di sini. Anggap saja seperti di rumah sendiri. Semua sudah tersedia. Kau bisa mengenakan busana wanita milik almarhumah ibu kami yang masih terawat dan tersimpan di lemari. Masih sangat bagus untukmu. Kami segera kembali. Beristirahatlah."

Demikian pamit Ocean sebelum menutup pintu, meninggalkan Emily sendirian.

'Uhh, dua minggu tanpa bisa memberi kabar kepada keluargaku di Evermerika? Mungkin mereka mengiraku sudah meninggal dalam kecelakaan kapal pesiar yang hilang di tengah badai. Apa yang harus kulakukan?'

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status