Share

Gadis tanpa ekspresi

***

Aldo mendekati penjaga Pabrik tersebut, berbeda dengan di kota, jika di kota akan dijaga oleh Satpam sebagai petugas keamanan. Namun, di desa ini terlihat tiga orang penjaga seperti preman. 

"Permisi, apa benar ini Pabrik terbesar satu-satunya di desa ini?" tanya Aldo berbasa-basi.

"Ya, kamu siapa? Sepertinya bukan berasal dari desa sini," ucap salah seorang penjaga itu.

"Nama saya Danu, saya dari desa lain, maksud saya kemari ingin ikut bekerja di sini," papar Aldo yang memulai aksinya menyamar.

"Hmm, baiklah ... ayo ikut saya menemui Juragan Tono!" ajak penjaga itu.

Aldo pun mengikuti langkah pria berbadan kekar tersebut. Terlihat banyak para pekerja berbagai kalangan, ada yang sudah sangat senja usianya, ada pula yang masih belia, pria dan wanita semua terlihat fokus menjalankan pekerjaannya.

Seketika Aldo melirik seorang wanita yang tampak sangat berbeda, wajahnya cantik, matanya hitam pekat nan tajam. Namun, terkesan dingin, sangat berbeda dari semua gadis yang lain, tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya, seperti mayat hidup.

"Siapa namamu?" tanya Juragan Tono yang membuat pandangan Aldo teralihkan.

"Saya Al ... maksud saya, Danu. Nama saya Danu Juragan," jawab Aldo yang hampir keceplosan.

"Laki-laki setampan dan sebersih kamu, apa bisa bekerja? Di sini peraturan sangat keras, tidak menerima yang bermalas-malasan, masuk kerja di sini berarti menyetujui semua yang diperintahkan! Tidak boleh protes atau pun membangkang!" Papar Juragan Tono dengan jelas.

"Saya bersedia mengikuti semua peraturan yang diterapkan," sahut Aldo penuh keyakinan.

"Bagus, kamu bisa menyimpan barangmu di bangunan yang sudah saya sediakan, tapi ingat, bagi siapa pun yang tidak memiliki tempat tinggal di sini, maka boleh menempati gubuk yang tersedia, namun tidak gratis, setiap bulan gajihmu akan dipotong sebagai bayaran tempat tinggal yang saya berikan." Juragan Tono menjelaskan dengan akurat.

"Baik, Juragan." Aldo menjawab tanpa ragu-ragu.

Hari memang sudah sangat sore, perjalanan yang ditempuh dari kota ke desa cukup memakan waktu, para buruh pekerja di Pabrik ini pun semua mulai bubar.

Ayu kembali beristirahat ke dalam gudang, berbeda memang tempat yang Ayu huni dengan para pekerja yang lain. Ayu hanya diizinkan tinggal di dalam gudang yang mana tempat ia dulu dipasung.

Sebagian teman Ayu ada yang pulang ke rumah masing-masing, ada pula yang tinggal di tempat yang sudah disediakan Juragan Tono. Bagi mereka yang memiliki rumah sendiri, maka akan lebih beruntung karena tidak harus membayar sewa perbulannya.

Aldo yang baru pertama kalinya memasuki desa, merasa bingung dengan fasilitas yang seadanya, Namun demi terjawabnya semua dugaan tentang desa ini, Aldo pun merelakan hidup susah di desa.

Malam ini Aldo tidak bisa tidur dengan tenang, Aldo mengelilingi seluruh bangunan yang disediakan Juragan Tono itu.

Tiba-tiba Aldo berhenti di sebuah tempat ....

"Tempat apa ini? Sepertinya berbeda dari gubuk yang lain, gelap sekali di dalamnya, apa ini tempat kosong?" gumam Aldo dalam hati.

Deg! Seketika pintu terbuka, Aldo nyaris berteriak karena mengira hantu yang keluar.

"Kamu! Saya fikir ...." ucap Aldo terputus.

"Hantu?" Sambung Ayu datar.

Setelah berkata demikian, Ayu berlalu begitu saja.

"Hey, tunggu!" Aldo mengejar langkah Ayu.

Ayu tetap berjalan tanpa menghiraukan Aldo, kini Ayu berada di samping gang bangunan, Ayu berdiri di depan pohon besar, kemudian duduk sendirian merenung di sana.

"Apa yang gadis itu lakukan tengah malam begini duduk di luar sendirian? Mana di bawah pohon rimbun pula," gumam Aldo yang merasa merinding.

Aldo hanya memperhatikan dari belakang, ia penasaran dan ingin mencari tahu.

Ayu kini kembali menuju gudang, tanpa Ayu sadari, Aldo masih mengikutinya secara diam-diam. 

Ayu masuk dan mengunci pintu gudang yang telah menjadi kamarnya itu.

Aldo pun kembali beristirahat di gubuk yang ia tempati. Jumlah gubuk yang disediakan Juragan Tono ini lumayan banyak, setiap buruh memiliki gubuk masing-masing tanpa harus berkongsi.

Aldo merebahkan tubuhnya di atas tikar khas pedesaan, tidak ada ranjang mau pun kasur empuk, hanya beralaskan tikar dan sebuah bantal. 

"Siapa gadis itu? Kenapa ia tinggal di gudang yang tidak layak huni? Sikapnya juga sangat aneh." Sejuta pertanyaan hadir di benak Aldo, hingga akhirnya Aldo terlelap.

***

Pagi telah tiba, terlihat para buruh sudah krasak-krusuk berdatangan, Aldo pun mulai menjalani aktivitas barunya. 

"Heh, anak baru! Kamu dapat bagian mencongkel hari ini," ucap seorang pengawas gendut yang terlihat sangar.

"Baik kang," sahut Aldo menurut.

Kemudian terlihat Ayu yang baru muncul, dengan pandangan kosong, Ayu berjalan begitu santai.

Semua mata kini mengarah padanya, teman-teman kerja Ayu terlihat sangat cemas, mereka tahu sebentar lagi Ayu akan kembali dihukum, karena keterlambatannya bekerja.

"Gadis keras kepala! Sini kamu!" Perintah pengawas gendut yang bernama Tole.

Ayu mendekat tanpa berkata apapun.

"Sini tanganmu itu!" Perintah Tole lagi.

Ayu membentangkan kedua telapak tangannya, kemudian ...

Plak!

Plak!

Plak!

Tiga kali sebatan rotan yang cukup besar mendarat di tangan yang sudah tampak kasar dan penuh luka itu, Ayu hanya diam tidak menangis atau pun bersuara, tidak ada ekspresi apapun, padahal sungguh sebatan dari Tole itu sangat keras.

Aldo terperanjat, ingin rasanya berontak akan kekerasan itu. Namun, Aldo sadar, dirinya  ke sini dengan sebuah samaran.

"Ya Tuhan, sepertinya benar desa ini penuh kekejaman," batin Aldo.

Semua yang ada di Pabrik itu hanya diam dan menunduk, tidak ada satu orang pun yang berani bersuara.

Ayu melangkah santai seakan tak terjadi apa-apa, kemudian Ayu duduk sembari mengerjakan tugasnya.

Aldo semakin heran melihat Ayu tak bereaksi sama sekali.

"Yu, besok-besok jangan datang telat lagi, aku gak tega lihat kamu dihukum setiap hari," bisik Dewi dengan sangat pelan.

Ayu bahkan tak merespon ucapan Dewi.

Dewi adalah seorang wanita cantik yang sangat iba akan kondisi Ayu, walau Ayu tidak banyak bicara, bahkan sangat jarang membuka suaranya. Namun, Dewi tetap peduli pada Ayu.

Bersambung.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status