Share

10. Perburuan

“Silakan, Nona,” ucap seorang pelayan yang menyajikan makan siang untuk Viola.

Saat ini, kondisi Viola sudah jauh lebih baik. Alih-alih tinggal dikurung di dalam ruang pengap yang lembab, Kini Viola berada di dalam kamar yang mewah dan luas. Jelas ruangan ini jauh lebih baik daripada ruangan sebelumnya. Makanan yang datang tiap waktu makan juga lebih bervariasi dan rasanya lebih mudah untuk dicerna oleh Viola. Selain itu, Viola kini tidak berada dalam kondisi setengah telanjang karena hanya mengenakan pakaian dalam saja. Meskipun hanya diberikan gaun tidur, tetapi itu lebih baik daripada hanya mengenakan pakaian dalam saja. Setidaknya, pakaian yang dikenakan oleh Viola bisa melindunginya lebih lama dari serangan Gerald. Bisa dikatakan jika Viola berada dalam kondisi yang lebih baik daripada sebelumnya.

Namun, Viola sama sekali tidak bisa bernapas lega. Meskipun dirinya bisa tinggal di kamar yang mewah, mengenakan gaun tidur mahal, hingga menyantap hidangan lezat, tetapi ada harga yang perlu dibayar oleh Viola. Pergerakan Viola benar-benar dibatasi. Salah satu kakinya terikat dengan rantai, yang hanya akan dilepas dua kali sehari, tepat saat waktunya Viola masuk ke dalam kamar mandi. Rantai itu membuat Viola sama sekali tidak bisa meninggalkan ranjang. Mungkin benar, kondisinya jauh lebih baik, dan Gerald pun tidak pernah datang untuk menyentuhnya, tetapi apa bedanya kondisi Viola saat ini dengan kondisinya sebelumnya?

Viola menggigit bibirnya. Merasa begitu terhina. Setelah menyentuhnya sesuka hati, kini Gerald pun memperlakukannya seperti hewan peliharaan yang harus diikat dan dipastikan tidak melarikan diri. Viola memilih untuk mengabaikan makan siangnya dan menatap pemandangan yang ditampilkan oleh dinding kaca di hadapannya. Pelayan yang ditugaskan untuk mengatarkan makanan untuk Viola, terlihat cemas. Ia ditugaskan untuk memastikan Viola makan makanannya. Jika sampai Gerald tahu jika Viola tidak makan, maka dirinya yang akan mendapatkan hukuman.

Karena itulah, si pelayan pun melangkah maju dan berkata, “Sebaiknya, Nona segera menghabiskan makananya. Meskipun Tuan tidak terlihat mengunjungi Nona, tetapi ia selalu memeriksa kondisi Nona termasuk apakah Nona menghabiskan makanan Nona. Sekarang, meskipun Tuan masih berada di luar kota, ia pasti akan memeriksa seperti biasanya. Jadi, silakan makan makanannya, Nona.”

Terhitung sudah satu minggu, Viola tinggal di kamar ini. Tidak pernah sekali pun Gerald datang mengunjunginya, karena memang ia berada di luar kota untuk masalah bisnis. Itu jauh lebih baik bagi Viola. Karena jika bisa, Viola bahkan tidak ingin lagi bertemu dengan Gerald. Viola yang mendengar hal itu hanya bergumam, “Aku tidak lapar.”

Pelayan itu pun terlihat kesal. Ia melangkah lebih mendekat pada Viola yang masih duduk di tepi ranjang dan menatap ke luar dinding kaca. Pelayan itu sedikit menundukkan kepalanya dan berbisik, “Jangan bertingkah. Kau pikir, dengan aku yang menyebutmu sebagai Nona, posisimu jauh lebih tinggi dariku? Kau hanya boneka yang ke depannya akan menjadi budak seks dari Tuan. Jadi, tunjukan rasa terima kasihmu dengan bersikap sebagai semestinya. Kau beruntung karena mendapatkan belah kasih dari Tuan.”

Rupanya, bisikan itu berhasil membuat Viola bereaksi. Ia pun melirik wanita pelayan itu dan tersenyum tipis. “Jika kau pikir, posisiku saat ini patut untuk mengucapkan terima kasih, bagaimana jika kau lebih dulu merasakan posisi ini?” tanya Viola penuh arti lalu menarik mangkuk keramik sup hangat di atas nampan dan menghantamkannya pada kepala pelayan itu.

Tentu saja, pelayan yang tidak menebak hal itu terlambat bereaksi dan tersungkur dengan kepala berlumuran darah. Viola menatapnya dengan sorot gelap, tanda jika Viola benar-benar sudah berada di ambang putus asanya. Viola segera melepaskan semua seragam pelayan itu, dan melepaskan rantai yang mengikat kakinya dengan kunci yang berada di saku pelayan itu. Sembari mengenakan seragam pelayan, Viola bergumam, “Karena kau berpikir, posisiku itu sangat beruntung, maka silakan tempati posisiku yang menurutmu mendapatkan belah kasih dari tuanmu.”

Selama satu minggu ini, Viola memang tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Ia berperilaku tenang dan patuh atas semua perintah Gerald, walaupun Gerald tidak berada di sana. Saat tahu jika Gerald tidak ada di rumahnya, Viola pun bertekad untuk melarikan diri. Setelah hampir satu minggu mengamati sekelilingnya, Viola menemukan celah. Dan hari ini, Viola pun memilih untuk mengambil kesempatan yang mempertaruhkan hidupnya. Viola akan melarikan diri, dengan semua rencana yang tersusun apik di dalam kepalanya. “Aku sama sekali tidak akan pernah kembali ke sarang monster ini.”

***

Tepat pukul tujuh malam, Gerald tiba di kediamannya. Tanpa berbasa-basi, Gerald segera melangkah menuju kamar di mana Viola berada. Sebenarnya, Gerald sudah memasang kamera pengawas di dalam kamar ini, tetapi Gerald merasa ingin melihat Viola secara langsung setelah satu minggu ini dirinya harus disibukkan dengan pekerjaannya di luar kota. Gerald sebenarnya agak kesal karena begitu Viola sembuh, Gerald tidak bisa bersenang-senang dengan perempuan satu itu. Padahal, Gerald sudah menahan diri untuk tidak menyentuh wanita mana pun dan menunggu Viola benar-benar sehat. Tentu saja, hal itu membuat suasana hati Gerald memburuk. Bram sendiri menyarankan Gerald untuk menyentuh wanita lain saja, sayangnya Gerald seakan-akan kehilangan rasa. Ia tidak tertarik untuk menyentuh wanita lain.

Bram membukakan pintu kamar Viola yang terkunci. Begitu terbuka, kamar itu gelap. Gerald menghidupkan lampu, dan melangkah menuju ranjang di mana seorang wanita tengah berbaring memunggungi Gerald. Dengan kasar, Gerald menyentuh bahu wanita itu untuk membangunkannya. Namun, Gerald seketika marah saat mendapati jika wanita itu bukanlah Viola, melainkan seorang pelayan yang ditugaskan untuk melayani Viola. Pelayan itu berpakaian seperti Viola, da nada luka pada kepalanya. Pelayan itu masih bernapas, tetapi tampaknya kehilangan cukup banyak darah membuatnya tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama, apalagi tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.

“Sialan!” maki Gerald.

Bram yang mendengar hal itu segera mendekat pada tuannya dan bertanya, “Ada apa, Tuan?”

“Apa kau buta? Lihat! Wanita itu melarikan diri!” seru Gerald dengan geram.

“Dia benar-benar tidak tahu diuntung,” ucap Gerald lalu melangkah ke luar dari kamar tersebut.

Tentu saja, Gerald harus memberikan hukuman pada para pelayan dan pengawal yang membiarkan Viola melarikan diri begitu saja. Secara kasar, saat ini Gerald bisa membaca apa yang sudah dilakukan oleh Viola hingga bisa melarikan diri dan melewati para pengawal. Viola menyamar menjadi salah satu pelayan. Namun, Gerald rasa jika hal itu tidak bisa menjadi alasan bagi para pengawal dan pelayan untuk bertindak bodoh serta melewatkan hal penting seperti ini. Gerald berdiri di tengah aula tengah kediaman mewahnya dan berteriak memanggil semua bawahannya. Bram yang tahu jika ada hal buruk yang akan terjadi, hanya bisa menghela napas lelah dalam hati dan berdiri di samping Gerald.

Tak membutuhkan waktu lama, kini para pelayan dan pengawal sudah berbaris di hadapan Gerald yang terlihat begitu marah. Gerald menguarkan aura mengerikan yang rasanya bisa membuat siapa pun yang berhadapan dengannya berlutut dengan mudahnya. Semua bawahan Gerald menunduk dalam, walaupun mereka sendiri belum mengetahui kesalahan apa yang sudah membuat sang tuan marah besar seperti ini. “Aku sepertinya sudah terlalu lunak pada kalian, dan membuat kalian bertingkah bodoh. Karena kalian sudah membiarkan wanita itu melarikan diri, maka aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Datangi Bram, dan minta hukuman cambukkan dua puluh kali untuk para pelayan, dan pukulan sebanyak dua puluh kali untuk para pengawal. Lalu, setelah itu kalian akan bekerja di kebun anggur,” ucap Gerald lalu melangkah pergi begitu saja.

Para pelayan dan pengawal yang mendengar hal itu meluruh begitu saja. Ini hukuman yang berat. Bekerja di kebun anggur bukan hal yang mudah. Tentu saja, bekerja dengan mengurus kediaman milik Gerald yang luas ini terasa lebih baik daripada harus mengurus kebun anggur. Namun, mereka sama sekali tidak bisa mengeluhkan apa pun, mengingat kesalahan yang sudah disebutkan Gerald sebelumnya. Bram sendiri segera mengikuti Gerald dan berkata, “Kalau begitu, saya akan menemui Flo dan memintanya untuk mencari Viola, atau mencarikan wanita untuk menggantikannya.”

Gerald menggeleng. Tanpa menghentikan langkahnya, Gerald berkata, “Aku tidak mau pengganti, dan aku pun tidak mau siapa pun untuk mencarikan wanita itu.”

Bram yang mendengar hal itu tentu saja merasa bingung. Ia jelas mengenal siapa tuannya, dan rasanya reaksinya saat ini sangat berbeda dengan bayangannya. Bram mungkin tidak melihat, tetapi saat ini Gerald menyeringai dengan begitu menyeramkan sebelum berkata, “Karena aku sendiri yang akan berburu. Berburu peliharaanku yang baru saja melarikan diri. Ini pasti akan menjadi waktu perburuan yang sangat menyenangkan.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status