Share

Bagian 8

"Kamu di Jogja sampai kapan?" tanya Sakta di ujung sana.

"Ini sudah bersiap untuk pulang," jawabku. Aku melambaikan tangan pada beberapa teman yang berderap mulai meninggalkan lobi hotel.

"Bareng aku aja, tunggu ya." Tanpa basa basi ia telah memutuskan percakapan kami. Ia hanya tanya kapan pulang, lalu bilang tunggu tanpa menanyakan yang lain. Seolah tahu aku sekarang sedang di mana. Kebiasaan, gerutuku.

Sepersekian detik kemudian aku tersenyum sendiri mengingat jika medsos sekarang bisa bikin orang-orang tiba-tiba seolah menjadi cenayang, contohnya Sakta. Aku yakin ia memperkirakan aku sekarang di mana dari hasil stalking medsosku. Mengingat soal medsos membuat dadaku sesak. Gara-gara seorang teman upload foto kegiatan kami dengan men-tag akunku membuat istri Mas Riko salah paham. Aku memejamkan mata dan menarik napas panjang.

"Sedang merapal mantra ilmu halimunan, Bund?" Suara Sakta membuat mataku terbuka seketika. 

"Cepat banget sampainya? Perasaan teleponmu baru mati, kok udah sampai sini?" Sakta tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi dengan lesung pipit di pipi kirinya. Penampilannya masih sama. Rambut gondrong terkucir rapi, kaos dibungkus cardigan coklat kopi susu, celana jeans, dan sepatu Sneakers.

"Khawatir kamu digondol Riko," kekehnya. Aku menyapukan tanganku ke udara di depan mukanya. "Mas Riko lama banget, nggak turun-turun. Apa kita pamit ke kamarnya aja?"

Akhirnya kami pamit pulang dulu pada Mas Riko. Ada raut penyesalan dan ketidaknyamanan yang terpancar dari wajah Mas Riko. "Maafkan istriku, Ri." Aku mengangguk tulus. Istrinya hanya khilaf. Semua orang bisa saja bersikap sama ketika melihat foto-foto yang diunggah temanku di beranda medsosnya itu. Salah satu bahaya foto memang seperti itu, semua orang bebas menterjemahkan sesuai pikiran masing-masing berdasarkan visualisasi yang tampak.

Sepanjang perjalanan Sakta kuinterogasi. Kemana saja ia selama ini, yang tiba-tiba menghilang dan sekarang tiba-tiba muncul.

"Aku sedang mengurus proyek di Jogja. Hampir setahun baru selesai."

"Tapi kenapa tidak mengabariku?" protesku.

"Kamu terlalu sibuk sama Bagas. Makanya kamu tidak sempat membaca dan membalas pesanku. Aku sudah pamit, tapi tidak ada balasan apapun dari kamu." Keningku mengernyit mencoba mengingat kapan terakhir ia mengirim pesan W*.

Aku mulai membuka kunci ponsel dan mengetikkan nama Sakta di kolom search. "Nggak ada. Kamu nggak pernah mengabari apapun tentang proyek Jogja." Ia mengalihkan pandangan matanya dalam beberapa detik ke arahku dan tersenyum. "Paling udah disabotase pacarmu. Si Bagas yang over posesif itu." Aku melotot tidak terima dengan ucapannya. Ia hanya melirik sekilas lalu terkekeh. "Kamu masih aja membelanya? Sungguh tidak bisa kupercaya." Ia menggelengkan kepala dan kembali terkekeh mengejekku. Kutinju bahu kirinya dengan kesal.

Mobil berbelok ke arah kiri, masuk ke sebuah cafe yang cukup terkenal karena tempatnya yang nyaman dan menu makanannya yang enak. "Kita istirahat dulu di sini, sekalian sholat Maghrib." Matanya nanar mencari tempat parkir yang kosong, lalu seorang petugas parkir membimbing mobilnya mendapatkan tempat parkir. 

Mobil baru saja diparkir dengan manis, tiba-tiba ponselnya berdering. "Ya, Gus. Ini kami makan dulu sekalian sholat Maghrib." Aku mengernyit mendengar suara lamat-lamat di seberang teleponnya. Suara itu mirip sekali dengan suara Gus Sami.

Aku menarik napas dalam. Mengetuk kepalaku dan tersenyum bodoh. Bisa-bisanya otakku menerjemahkan suara lamat-lamat yang kudengar itu seperti suara Gus Sami.

"Proyek yang di Kudus segera aku mulai, Gus. Jangan khawatir, kalau melihat Feasibilty Study-nya sih bagus. Investasimu pasti segera mencapai BEP. Tapi aku minta investasimu yang satunya lagi segera ambil kalau nggak mau kehilangan." Sakta menoleh ke arahku. "Lama-lama aku bisa tergoda juga." Sedetik kemudian ia tertawa, begitu juga dengan orang yang diujung teleponnya.

"Aku turun dulu, mau ke kamar mandi," kataku. Ia mengangguk. Aku segera turun dari mobil dan langsung ke kamar mandi. Usai menyelesaikan hajat di kamar mandi aku memutuskan untuk langsung sholat Maghrib dulu supaya tidak bolak balik karena Musholla berada dekat dengan kamar mandi.

Saat aku menuju tempat makan pengunjung, kulihat Sakta sudah duduk di pojok ruangan. Mejanya sudah penuh dengan hidangan. Aku segera bergegas ke arahnya. Menu-menu kesukaanku sudah mengantri untuk kuhabiskan.

"Sholat dulu, gih," kataku.

"Makan dulu aja. Perutku udah lapar banget. Kalau sholat dulu malah nggak bisa khusyu' karena cacing-cacing di perutku protes udah nggak kukasih makan sejak semalam." Sakta meminum teh hangatnya sampai menyisakan isinya separoh gelas. Aku menatapnya tajam.

"Bukan karena nggak punya uang seperti biasanya, tapi karena nggak sempat makan." Dulu ia memang sering tidak punya uang, maka aku ingin memastikan jika ia tidak makan bukan karena tidak punya uang. "Itulah yang namanya rizki. Bukan apa yang ada pada kita, tapi apa yang diberikan pada kita. Meskipun dompet tebal berisi uang, tapi kalau tidak diberi rizki sarapan dan makan siang, ya ada aja yang menyebabkan kita tidak bisa sarapan dan makan siang." Aku masih menatapnya tajam, ingin memastikan jika ia tidak berbohong.

Ia memandangku, "Hei. Serius. Aku sekarang udah punya pekerjaan. Nggak akan merepotkan lagi." Ia tersenyum lalu menyuap makanannya ke mulut.

"Mobil itu?"

"Fasilitas dari kantor."

"Syukurlah. Aku ikut senang." Buru-buru kususuli kalimatku karena khawatir ia salah paham. "Bukan karena tidak mau kamu repoti lagi tapi aku senang lihat kamu sukses." Ia tersenyum, lalu menghabiskan sisa tehnya.

"Ohya, Minggu ikut aku lihat lokasi proyek, yuk."

"Nggak bisa. Ada sosialisasi bersama teman-teman komunitas Difabel di kantor Dinas Sosial."

"Minggu lho, Say. Hari libur," ucapnya dengan penekanan pada setiap kata.

Aku memandangnya meminta pengertiannya. "Kamu 'kan tahu, kalau sedang tahapan begini jam kerjaku tujuh hari duapuluh empat jam. Teman-teman relawan demokrasi basis marjinal udah berusaha negosiasi dengan pengurus, minta sosialisasi di hari kerja tapi hampir semua anggota komunitas bisanya hari itu karena hari lainnya mereka bekerja."

"Oke. Kapan kamu longgar, kabari aku." Ia berdiri, mendorong kursinya sedikit ke belakang. "Aku butuh masukan idemu. Jika aku tidak ingin investor membatalkan investasinya." Aku mengernyit, tidak memahami maksud kata-katanya. "Lanjutkan makanmu, aku sholat dulu."

Beberapa detik kemudian ia telah berjalan menuju musholla. Ia memang selalu susah kutebak. Tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Tapi yang jelas, ia selalu ada di saat aku butuh tempat mengadu dan berkeluh kesah. Namun demikian, status hubungan kami hanya seorang teman. Dan berkali-kali ia berpesan padaku untuk tidak jatuh cinta padanya.

***

"Mbak Rika, sudah di tunggu istrinya Mas Riko," kata Pak Eko, salah satu security di kantorku yang hari ini shift pagi. Ia biasa memanggilku Rika karena ia tidak bisa mengucapkan Richa.

Pak Eko sudah menyambutku sejak aku turun dari mobil. "Ada apa, Pak?" tanyaku setengah berbisik. Ia menggeleng, "Tidak tahu, Mbak." Aku bergidik membayangkan istri Mas Riko marah-marah di kantor gara-gara unggahan foto kemarin.

"Sudah sarapan, Pak?" Pertanyaan rutin yang selalu kutanyakan pada Pak Eko. Satu pertanyaan yang jawabannya bisa sangat panjang. Ia satu diantara suami yang pandai memuji istrinya. Ia akan bercerita panjang lebar menu yang disajikan istrinya, rasa khas masakannya yang tidak bisa ditemukan di warung manapun, dan sebagainya. Sering kali aku hanya senyum-senyum sambil mengangguk-angguk menyimak ceritanya.

Hari ini sepertinya ia tidak mau cerita banyak tentang masakan istrinya karena aku sudah ditunggu istri Mas Riko. "Sudah, Mbak. Pecel Pakis," jawabnya singkat. "Wah, enak tuh." Ia mengangguk sambil tersenyum.

"Mbak, istri Mas Riko di ruang tamu," katanya saat aku hendak masuk kantor melalui pintu belakang yang jaraknya lebih dekat dari ruanganku. "Tolong antar ke ruanganku, Pak." Sekian detik kemudian Pak Eko sudah tidak terlihat, terhalang oleh mobil-mobil yang terparkir.

Aku sudah menyiapkan mental jika istri Mas Riko mengamuk di kantor. Aku tidak takut karena aku tidak melakukan kesalahan apapun. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Mas Riko kecuali sebagai partner kerja. Aku tidak ada rasa sama sekali, bahkan jika ia tidak terikat pun aku tidak tertarik padanya.

Hari ini Mas Riko Dinas Luar ke Semarang, begitu informasi yang baru saja kudapatkan dari Zizi - salah satu staf Mas Riko. Pantas saja istrinya berani ke kantor, pikirku.

Setelah terdengar ketukan di pintu ruangan, kupersilahkan ia masuk dan kupersilahkan duduk di sofa yang ada di ruanganku meskipun ia tidak berkenan. Wajahnya sangat tidak bersahabat. Kerutan di keningnya karena menahan amarah semakin membuatnya terlihat tua. Matanya nyalang menambah terlihat semakin besar mata beloknya. Aku menelan ludah menahan gejolak emosi.

"Tidak perlu basa basi. Aku datang ke sini hanya untuk bilang, jangan goda suamiku. Cari laki-laki lain yang tidak punya anak istri. Kamu cantik, karir bagus, kaya, kemana-mana bawa mobil, pasti banyak laki-laki yang mau. Cari brondong pun mudah. Jangan ganggu rumah tangga orang!" cicitnya.

"Maaf, Mbak. Anda salah paham ...."

"Salah paham?" potongnya cepat.

"Salah paham apa? Foto itu? Kedekatan kalian? Atau apa? Hah?" Matanya melotot, urat lehernya terlihat jelas.

"Maaf, soal foto itu ...."

"Aku tidak butuh penjelasan!" Lagi-lagi ia memotong kalimatku. Dadaku rasanya sesak karena mulai dikuasai amarah. Aku mencoba menekannya tapi kata-kata yang kembali menyembur dari mulutnya membuatku benar-benar mencapai titik kulminasi tertinggi.

"Cukup! Sekarang tinggalkan ruanganku! Kalau Anda kesini hanya untuk memaki saya, Anda salah tempat. Ini kantor. Tempat kami bekerja, bukan tempat menerima tamu tidak jelas seperti Anda." Ia menggeram, tangannya mengepal. Sedetik kemudian ia telah berjalan menuju pintu sambil menghentak-hentak.

Suaraku membuatnya berhenti dan menoleh ke arahku, sementara tangannya telah mencapai handle pintu. "Anda telah mempermalukan diri sendiri dan suami Anda. Jangan salahkan siapa-siapa jika akhirnya dia lari. Bukan karena saya, atau perempuan lain tapi karena Anda sendiri yang tidak bisa menghormati dan mempercayainya." Sekian detik kemudian terdengar suara pintu dibanting.

Aku berkali-kali menarik napas dalam, mencoba menetralisir emosiku. Mataku terpejam cukup lama, mendengarkan detak jantungku, menstimulasi otakku agar memerintahkan jantung memompa dengan ritme yang lebih pelan sampai akhirnya kembali normal.

***

Aku sudah bersiap pulang setelah beberes. Hari ini tidak banyak yang kukerjakan. Kedatangan istri Mas Riko benar-benar telah mencuri semangat kerjaku hari ini. Hampir seharian aku hanya duduk mendengarkan lagu dari channel YouTube sambil membaca buku.

Ponselku bergetar, terlihat nama Sakta memanggil. "Ada apa?" kataku setelah saling mengucap salam.

"Nanti malam aku ke rumahmu, ya?"

"Jangan!" jawabku singkat yang pasti bisa membuat keningnya berkerut.

"Kenapa?"

"Janda tidak boleh menerima tamu laki-laki di rumah," kataku ketus.

"Hei, kamu kenapa? Oke, kita ketemu sekarang aja. Di tempat ngopi biasa."

"Malas. Aku ingin tidur," jawabku mulai melunak.

"Eits, menjelang Maghrib nggak boleh tidur. Kamu 'kan yang bilang, tidur menjelang Maghrib bisa bikin gila."

"Udah, aku jemput sekarang aja. Mobilmu biar di kantor, besok pagi aku antar Kamu ke kantor." Sambungan telepon terputus. Aku hanya bisa melongo sambil memandangi benda pipih dalam genggaman tanganku.

Orang seperti Sakta tidak mau dibantah sama seperti Gus Sami. Tangan kananku menepuk-nepuk keningku, lalu mengurut pelipisku. Aku merutuk dalam hati. Lagi-lagi nama Gus Sami berdengung di kepalaku. 

***

Mita el Rahma

Ditunggu komen-komennya ya, Kak.

| Like
Comments (5)
goodnovel comment avatar
janari
menarik ceritanya mba...tulisannya pun enak dbaca..
goodnovel comment avatar
Rangga Dewi
bagus sekali ceritanya kak
goodnovel comment avatar
Bias
bagus cerita nya kak
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status