Share

|4| Makan Malam

“Mulai malam ini, hanya makan malam saja kamu tidak boleh lagi makan di kamar, Lita. Tuan Harraz memintamu untuk makan malam di luar bersamanya.” Mataku membulat sempurna mendengar perkataan Ummu Hilza. 

Tubuhku yang tadi rileks mendadak tidak nyaman, Ummu Hilza yang lagi-lagi terlihat merasa bersalah memintaku untuk mencuci muka, mengganti pakaian dan sedikit berdandan. Aku ingin menolak, tapi sepasang mata Ummu Hilza yang redup sudah memberitahuku, kalau aku sama sekali tidak bisa menolak perintah tersebut. 

Aku ke kamar mandi sibuk mencuci muka agar lebih bersih, Ummu Hilza yang masih di kamarku tengah menyiapkan gaun dan hijab bagus untuk kupakai. 

“Pakai ini.” Saat aku keluar dari kamar mandi, Ummu Hilza menunjukkan sebuah gaun cerah padaku.

“Kenapa aku harus memakai gaun yang paling dia sukai, Ummu?” Tanyaku setelah merasa familier dengan gaun yang wanita itu berikan. 

Tidak menarik kembali sodorannya, Ummu Hilza tetap memberikannya padaku, “Pakai saja. Agar saat memandangmu, bisa menjadi obat hati tersendiri untuk Tuan Harraz.” 

“Apanya yang obat hati?” Sahutku sinis, melebarkan mata setelah Ummu Hilza berkata demikian, “Aku tidak mau dia berpikir aku berusaha menggodanya agar merujukku lagi. Aku pakai baju ini saja, tidak akan memalukan jika aku memakainya di depan lelaki itu.” Kukibaskan baju yang kupakai untuk menunjukkannya pada Ummu Hilza benda ini masih bagus dan layak pakai. 

“Bukan itu maksudku Lita,” dengan raut tidak enak hati, Ummu Hilza berusaha menyangkal. Wanita cantik dengan paras campuran Indonesia dan Timur Tengah tersebut menyentuh lenganku. “Akhir-akhir ini Tuan Harraz suasana hatinya sedikit buruk, kamu lihat sendiri ‘kan seorang wanita bahkan ditamparnya keras tadi siang. Aku takut, saat kelak dia melihatmu hatinya tersinggung. Alangkah baiknya, jika kita menghindari resiko.” 

Tidak seharusnya aku membuat wanita paruh baya itu sememelas ini padaku. Tapi hati ini tetap enggan untuk menuruti maunya. “Berdandanlah sedikit,” bujuk Ummu Hilza. “Kamu tahu sendiri Tuan Harraz orang yang tempramen, aku tidak mau kamu menjadi korban khilafnya.”

Akhirnya aku menurut. Kupakai gaun favorit Tuan Harraz yang Ummu Hilza berikan, lalu berkaca untuk sedikit mempermak wajah agar terlihat lebih baik. 

“Memangnya apa yang wanita tadi siang lakukan, sehingga Tuan Harraz menamparnya?” Aku bertanya sambil terpana dengan wajahku sendiri di cermin. Aku takut melihat wajah lelaki itu lagi, yang menatapku dingin dan lekat, seakan tanpa ekspresi, dengan jakun yang naik-turun yang menandakan lelaki itu kesusahan menahan sesuatu yang memberontak gila dari dalam dirinya. 

“Dia menghinamu,” Ummu Hilza menjawab dari balik punggungku. Aku menatap balik mataku yang membelalak di cermin. “Entahlah, tapi yang kutahu, saat wanita itu berkata ‘kamu mungkin pura-pura hamil agar dirujuk, tapi sayangnya tidak kesampaian’, Tuan Harraz langsung menamparnya keras. Nona Alia adalah teman masa kecilnya Tuan Harraz, yang tadi siang untuk pertamakalinya Tuan Harraz memperlakukannya dengan buruk.” 

Aku membisu diam, kupakaikan segera kain hijabku ke kepala, menatanya dengan perlahan agar sesuai di wajahku. 

“T-Tuan Harraz tidak pernah menamparmu juga ‘kan?” Dengan suara lembut, Ummu Hilza menanyaiku. Entah kenapa wanita itu terlihat begitu berhati-hati, seakan di matanya aku hanyalah sebuah kaca retak yang akan pecah jika lebih dilukai. 

“Beberapa kali hampir pernah,” aku menjawab tenang. Ummu Hilza terlonjak tidak percaya, tapi itu kenyataannya. Selama ini, jika berhadapan lelaki itu aku selalu takut salah gerak-gerik yang akan membuatnya emosi. “Tapi selalu tidak jadi, tangannya yang terangkat langsung turun, sebagai gantinya dia menampar dirinya sendiri. Lebih keras dari yang sebelumnya lelaki itu lakukan pada Nona Alia tadi siang dan berkali-kali.” 

"Memangnya apa yang kamu lakukan sehingga membuatnya marah?" Suara khawatir Ummu Hilza menanyai. 

"Entahlah," jawabku sedikit meragu. "Aku selalu salah di matanya."

“Tuan Harraz mungkin sudah menunggu di meja makan,” aku menyela kalimat sendiri. Rasanya malas membahas kenangan lampauku dengan Tuan Harraz lagi pada orang lain. 

Ummu Hilza mengangguk teringat, aku dituntunnya ke ruang makan. Di sana benar-benar kudapati Tuan Harraz tengah menunggu. Lelaki itu tampan malam ini, dengan setelan kemeja mahal, sepatu pantofel dan rambut sedikit acak-acakan, sepertinya baru saja pulang dari tempat kerja. 

Aku tidak menyangka lelaki itu benar-benar menungguku, hidangan di meja makan yang sudah terhidang sejak setengah jam yang lalu sama sekali belum tersentuh. 

Tuan Harraz mengangkat kepalanya dan melirikku, satu itu juga tubuhku gemetar dan langkahku berat. Ya Tuhan, jantungku berdebar keras saking takutnya. Aku tidak berani melontarkan salam lebih dulu, mata Tuan Harraz sudah menelitiku dari atas sampai bawah dengan mulut terkatup rapat.

 “Assalamualaikum, Tu—” kalimatku terhenti melihat jakun kerongkongannya naik-turun. Gawat, aku dalam bahaya. Hal itu membuatku tidak berani mendekat. 

“Duduklah,” Tuan Harraz berkata tenang. Dipersilahkannya aku untuk menempati kursi yang berseberangan darinya. Aku menghempaskan pantatku saat itu juga, Ummu Hilza memerhatikanku dengan raut khawatir. Tuan Harraz tidak kunjung menyantap makan malamnya, lelaki itu terus memandangiku sedari tadi. 

“Ada wanita yang bilang mungkin saja kamu pura-pura hamil,” saat aku mulai lega tidak dipandanginya lagi, kalimat Tuan Harraz kembali membuatku tegang. Lelaki itu bicara tanpa menyentuh hidangan makan malam sama sekali, sedangkan aku sudah menyantapnya sedari tadi, karena terlalu kelaparan. Aku sudah menebak wanita mana yang lelaki itu maksud, Nyonya Hilza beberapa menit yang lalu sudah menceritakannya. 

“Agar aku berubah pikiran dan merujukmu,” tambah Tuan Harraz. Mendengarnya akuhampir tersedak nasi yang kukunyah. Meski sedari awal sudah tahu itu, baru kali ini aku berdendam pada Nona Alia karena tuduhannya terulang untuk keduakali dari mulut Tuan Harraz. 

“Sayangnya, tidak kulakukan. Jadi, aku tidak perduli kamu berbohong atau tidak.” Dengan santai lelaki itu menyeruput minumannya. Memberi jeda untukku bernapas sebelum lelaki itu menyerangku lagi. 

“Aku tahu kamu bukan perempuan bodoh Lalita,” setelah menghabiskan segelas air putih lelaki itu menyambung dengan senyuman. “Jadi kurasa kamu tidak akan menggunakan cara picik itu."

"Jangan kecewakan keyakinanku, kamu tidak bohong 'kan?"

Antara mengiakannya dan berbohong, aku dilema. Jika aku berbohong tidak hamil, mungkin lelaki ini akan percaya? 

"Atau kamu memang sengaja menipuku, agar kurujuk?" 

Saat itu kusahut lantang tuduhan lelaki itu, "Tentu saja tidak! Test pack yang kutunjukkan kemaren seharusnya sudah bisa menjadi bukti yang jelas, bukan?"

"Itu saja bagi keluarga Ghazalah tidak cukup," Tuan Harraz memberitahu. Mereka terlanjur meragukan kehamilanmu. Jadi untuk meyakinkan mereka, besok akan ku datangkan dokter kandungan untuk memeriksamu langsung."

"Lagian, kalau misalnya aku memang terbukti hamil, apa yang ingin mereka lakukan?"

"Mereka ingin aku merujukmu."

Tubuhku tegang mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya. 

"Tentu saja, meski kamu hamil kembar sekalipun, aku tidak mau melakukannya."

Tatapanku berubah kosong saat Tuan Harraz dengan gamblang mengakui. 

"Seharusnya sejak awal kita rahasiakan saja kehamilanmu, sayangnya keluarga Ghazalah susah ditipu." Lelaki itu menghela napas berat. Seakan bersamaku lebih lama membuatnya tersiksa. Tidak aku saja yang menderita di sini. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status