Share

Bab 3

Edward mulai berlatih ilmu beladiri satu minggu kemudian. Dia berlatih di bawah bimbingan Martin, Kepala Pelayan Keluarga Sanjaya yang juga merupakan orang kepercayaan Kakek Sanjaya.

Kakek Sanjaya datang memantau perkembangan latihan Edward setiap beberapa hari sekali.

“Bagaimana? Apakah kamu menyukai latihanmu?” tanya Kakek Sanjaya suatu hari.

“Saya suka, Kek. Tapi aku bosan jika harus berlatih sendirian terus!” jawab Edward manja.

“Jangan khawatir. Kakek akan menyuruh Martin agar mencarikan teman berlatih untukmu,” janji Kakek Sanjaya.

Edward tersenyum senang.

Dua hari kemudian seorang bocah kurus datang bersama Martin. Dia datang untuk menemani Edward berlatih ilmu beladiri.

Nama bocah itu adalah Leon, tanpa nama keluarga di belakangnya.

Dia adalah seorang anak yatim piatu berusia tujuh tahun yang diambil Martin dari sebuah panti asuhan. Kabarnya, dulu – tujuh tahun yang lalu – Leon ditinggalkan begitu saja di depan panti asuhan saat masih bayi merah. Waktu itu, tali pusarnya bahkan masih ada!

“Tuan Muda, ini Leon. Mulai hari ini dia akan menemani Tuan Muda berolah raga dan berlatih ilmu beladiri,” kata Martin memperkenalkan Leon pada Edward.

Edward memandang Leon dengan tatapan jijik. Dia kemudian mendekati Leon lalu berjalan lambat mengelilingi bocah yatim itu beberapa kali, sementara sepasang matanya memindai sosok kurus itu dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Tingkahnya persis seperti seorang pedagang ternak yang sedang menaksir harga seekor kambing.

“Sepertinya tubuhnya terlalu kurus. Apakah dia cukup kuat untuk berlatih ilmu beladiri?” ujar Edward ragu dengan sikap yang amat jumawa.

Martin tersenyum tipis, “Kalau Tuan Muda tidak cocok, saya akan cari yang lain.”

Edward menggeleng. Dia menyunggingkan senyum tipis laksana seorang professional pencari bakat dan berkata, “Tidak perlu, aku akan melatihnya supaya dia lebih kuat!”

Martin langsung terhenyak.

Dia tak menyangka Edward akan sesombong itu. Cucu Kakek Sanjaya itu baru berlatih beberapa minggu, bahkan belum genap satu bulan, akan tetapi sikapnya sudah seperti pelatih ilmu beladiri professional saja.

Antara gusar dan gundah, Kepala Pelayan Keluarga Sanjaya itu akhirnya hanya dapat mengeluh dalam hati, “Sepertinya, ini tidak akan berjalan sesuai harapan!”

Tak lama berselang, Martin beranjak pergi meninggalkan Edward dan Leon di aula olahraga.

Sepeninggal Martin, Edward segera menghampiri Leon. Sikapnya penuh ancaman dan sepasang matanya memancarkan sorot penindasan tanpa ampun.

“Namamu Leon, ‘kan?”

“Iya, Tuan Muda.”

“Baik. Sebelum mulai latihan, saya akan memberi tahu aturan dan tugas-tugasmu selama latihan. Yang pertama, ucapanku adalah satu-satunya aturan di sini. Yang kedua, tugasmu adalah melakukan apapun yang kuperintahkan. Ketiga, kamu tidak boleh masuk atau keluar aula ini tanpa izinku. Paham?”

“Paham, Tuan Muda.”

“Bagus. Sekarang aku mau istirahat sebentar, kamu tunggu di sini!” perintah Edward seraya beranjak pergi dengan langkah angkuh dan dagu yang terangkat tinggi.

Setelah itu, sunyi.

Leon termenung sendirian. Hatinya tiba-tiba membesar dan semangatnya melambung tinggi saat melihat berbagai peralatan olahraga mahal yang bertabur di tempat itu. Tangannya bahkan terlihat sedikit gemetar ketika dia memberanikan diri menyentuh sebuah dumbel karet berwarna abu-abu.

Kemudian, ia mencoba mengangkat dumbel itu dengan hati-hati. Terasa nyaman dan pas dalam genggaman tangannya, tidak ringan dan tidak juga berat. Sepertinya, ukuran dan bobot benda itu memang disesuaikan untuk anak-anak seusianya.

Selanjutnya, sambil tetap menggenggam dumbel di tangannya, Leon mulai berkeliling mengamati berbagai alat-alat kebugaran canggih dan mewah yang selama ini hanya bisa dia lihat pada tayangan televisi di panti asuhan.

Leon benar-benar tenggelam dalam kekaguman.

Dia seperti terdampar pada dunia khayal yang mewah dan indah. Berulang kali, dia terlihat menyentuh atau mengusap barang-barang mahal itu hanya demi membuktikan bahwa dia tidak sedang bermimpi.

Dia benar-benar larut dalam kekaguman, hingga tak sadar bahwa Edward telah kembali.

“Hei – sedang apa kamu?!?” bentak Edward seraya berlari menghampiri.

Leon terperanjat kaget bukan kepalang hingga bahkan dumbel di tangannya terlepas lalu jatuh dan menggelinding ke dekat Edward.

Edward memandang dumbel berwarna abu-abu itu dengan tatapan jijik lalu bertanya dengan nada gusar, “Siapa yang mengizinkanmu menyentuh barang-barangku?”

Leon tergagap, “Ma … maafkan saya, Tuan Muda.”

Edward tak peduli, “Aku tidak mau tahu! Sekarang juga – bersihkan semua benda yang telah kamu pegang. Aku tidak sudi barang-barangku disentuh oleh tangan kotormu itu!”

Leon mengangkat kedua tangannya lalu memeriksanya dengan teliti, namun semua terlihat biasa saja. Tidak ada noda atau kotoran apapun di sana. Dia kemudian memandang Edward dengan perasaan takut campur bingung seraya berkata, “Maaf, Tuan Muda – tapi tangan saya tidak kotor.”

Edward mendengus kasar, “Huh – kalau aku bilang kotor, ya kotor! Belum apa-apa kamu sudah berani membantah. Apa kamu lupa dari mana kamu berasal? Apa kamu pikir derajat dan kedudukanmu sama denganku? Asal kamu tahu, jangankan tanganmu – seluruh dirimu hanyalah kotoran di depanku!”  

Leon tersurut beberapa langkah ke belakang. Ucapan Edward benar-benar menusuk kalbunya. Hatinya mendadak bergolak seiring harga dirinya yang terkoyak.

Dia ingin melawan, tapi dia tak berani.

Bagaimanapun, dia cukup tahu diri bahwa dirinya memang bersalah dan sedikit terlalu lancang. Apapun alasannya, menyentuh barang-barang yang bukan miliknya tetaplah merupakan suatu tindakan yang tak dapat dibenarkan!

Akan tetapi, bukankah tidak ada satupun barang-barang itu yang rusak?

Dia hanya menyentuhnya!

Bagaimana mungkin dia bisa dihina serendah itu hanya karena menyentuh tanpa izin?

Leon akhirnya hanya dapat menatap Edward dengan pandangan rumit yang sulit untuk diterjemahkan. Namun dia tak menduga sama sekali, tatapan itu justru membuatnya terjebak makin jauh dalam masalah!

Edward ternyata tersingung oleh tatapan mata Leon. Dia bahwa merasa bahwa Leon ingin menantangnya. Cucu orang terkaya Morenmor itu kemudian memberondong dengan nada suara tinggi penuh penindasan, “Apa?!? Kamu tidak terima? Kamu ingin melawanku?” 

Leon tergagap lagi. Sekarang bukan hanya harga dirinya yang terkoyak, namun seluruh keberaniannya pun hancur berantakan tak bersisa.

Suaranya bahkan terdengar bergetar ketika dia berkata, “Ma … maaf, Tuan Muda. Saya tidak berani!”

Edward tidak puas, “Lalu apa maksudmu mentapku seperti itu?”

Leon kembali tersentak kaget.

Dia segera menundukkan kepalanya, benar-benar tidak berani lagi menatap Edward.  

Bocah malang itu kemudian berkata penuh ketakutan dan penyesalan, “Maaf Tuan Muda, saya tidak sengaja. Saya tidak akan mengulangi lagi. Saya juga akan mengerjakan perintah Tuan Muda. Saya akan membersihkan semuanya sekarang juga.”

Edward tersenyum penuh kemenangan lalu berkata, “Bagus, bersihkan semua. Jangan ada yang terlewat, aku tidak mau ada sedikitpun bekas tubuhmu yang melekat di barang-barang milikku. Besok kita akan mulai latihan, aku mau semua sudah selesai pada saat itu. Paham?!”

“Paham, Tuan Muda.” Leon menyahut lirih.

“Bagus!” sahut Edward sambil beranjak meninggalkan aula olahraga. Dua orang pengawal tampak mengikuti saat ia berjalan menuju ke kamarnya.

Kini Leon kembali sendirian di aula olahraga yang total luasnya hampir menyamai setengah lapangan sepak bola. Entah bagaimana caranya dia akan membersihkan aula seluas itu. Dia hanya seorang anak kecil berusia tujuh tahun. Tubuh kurusnya tak mungkin menyimpan cukup tenaga untuk melakukan semua itu dengan hanya seorang diri.

Namun, perintah tetap perintah.

Leon pun mulai bergerak.

Dia memeriksa setiap ruangan yang terdapat di Aula Olahraga, mencari tempat penyimpanan alat-alat kebersihan. Setelah menemukannya, dia mulai memilih beberapa alat yang mungkin dapat digunakannya.

Malang, dia hanya dapat mengambil beberapa lembar kain lap dan sebatang sapu yang sepertinya nyaris tak pernah dipakai. Selain kedua barang itu, semuanya adalah alat-alat canggih yang bahkan belum pernah dia lihat sebelumnya.

Leon tak mengeluh.

Berbekal sapu dan kain lap, dia mulai membersihkan aula olahraga dalam kesunyian. Tangannya terlihat trampil menggunakan kedua barang itu. Bagaimanapun, selama tinggal di panti asuhan – dia memang dikenal sangat rajin membantu Ibu Pengurus Panti.

Akan tetapi, aula olahraga di mansion Keluarga Sanjaya jauh lebih besar dari pada gedung panti asuhan tempat tinggal Leon sebelumnya. Bahkan pada kenyataannya, aula olahraga itu sebenarnya lebih mirip sebuah stadion mini yang mewah. Tak bijak sama sekali jika mencoba membandingkannya dengan Gedung panti asuhan yang sempit dan kumuh.

Selanjutnya, sebuah tontonan yang menghancurkan nurani pun mulai berlangsung.

Sesosok tubuh kurus yang tampak kurang gizi mulai bergerak lambat, menyapu inci demi inci pelataran aula olahraga. Walaupun nyaris tak ada debu atau kotoran yang tersangkut di sapunya, Leon tetap menyapu.

Dia juga membersihkan setiap alat olah raga yang ditemuinya. Menggunakan selembar kain lap, dia mengusap semua peralatan mahal itu dengan teliti dan sangat hati-hati.

Lewat tengah malam, Leon akhirnya menyerah.

Tubuh kurusnya ambruk, tak mampu melawan lelah yang mendera sejak sore. Sementara sepasang matanya tertutup sendiri, tak lagi sanggup membendung kantuk yang terus menyerang. Tanpa dapat ditahan, Leon tertidur begitu saja di atas landasan mesin tredmill yang sedang dibersihkannya.

Leon tertidur di aula olahraga, bahkan sebelum dia mendapatkan jatah makan malamnya!

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status