Share

Chapter 6

—Devon Woody

Bayangan keseluruhan diri Lila masih terus mengganggu pikiranku. Sebenarnya, aku kesal. Mendadak setiap kali ingin memejamkan mata, penampakan bibirnya yang sedang memanggilku, benar-benar terasa nyata. Bahkan suaranya ketika menyebut ‘Dev’ terus bergema di dalam kepalaku.

Ini tidak adil!

Pada perempuan di depanku ini, aku tidak pernah merasakan yang sedemikian parahnya. Walau jelas, wanitaku ini tidak akan terkalahkan oleh siapa pun.

“Tuan Devon Woody?”

Aku tegak dari dudukku. Perawat memanggil. Setengah tubuhnya muncul di pintu.

“Sayang, sebentar ya?” Mengecup kening wanitaku sekilas, aku bergegas keluar.

“Silakan, Tuan. Dokter Viggo ingin bicara dengan Anda.” Perawat membukakan pintu ruangan dokter untukku, setelah kami tiba.

“Terima kasih.” Aku duduk setelah dipersilakan.

“Nyonya Esme mengalami banyak kemajuan, Tuan Devon.”

Bagus! Berita yang sangat bagus! “Lalu, apa—”

“Dokter! Pasien Esme Woody sudah siuman!”

Aku jadi yang pertama bergerak dari dudukku. Berlari segera ke kamar ruang inap istriku. Dia … akhirnya, dia bangun! Setelah hampir dua tahun koma, sekarang dia bangun!

“Dev,” panggilnya lemah. Sepasang matanya yang indah, mengerjap bahagia, walau sinar matanya begitu redup.

“Ya, Sayang. Ini aku.” Kudekati dan kupeluk tubuhnya dengan sangat hati-hati.

Keharuan sekaligus kegembiraanku, harus ditunda sejenak karena dokter ingin melakukan pemeriksaan lanjutan pada Esme.

Aku sudah memberitahukan kabar bahagia ini pada keluarga Hayden. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, ayah dan ibu mertua sudah hadir dengan tangis bahagia yang membanjiri wajah mereka.

Istriku adalah putri tunggal. Sementara dua saudarinya yang lain hanya anak angkat. Wajar saja jika ayah dan ibu mertua begitu bahagia akan kepulangan Esme setelah dua tahun lamanya berada dalam kondisi koma.

Senja baru tiba, saat aku keluar dari rumah sakit menuju parkiran. Ponselku terus berdering. Panggilan dari keluargaku.

“Halo, Ayah.” Membanting pintu mobil, aku duduk di balik kemudi. Panggilan setelah sekian lama.

“Bagaimana kabarmu?”

Basa-basi.

“Kabarku baik, karena menantu Ayah akhirnya sudah siuman.”

Ayah angkatku, terbatuk-batuk di seberang. Sebegitu terkejutkah?

“Kupikir, kau sudah membuang wanita itu.”

“Ayah!” Aku berusaha menahan diri. Meski aku tahu, ayah tidak akan pernah merubah pendapatnya tentang Esme yang menurutnya tidak pantas bersanding denganku. Karena istriku itu, lemah! Terlalu lemah untuk ada di tengah-tengah lingkungan keras kehidupan keluarga kami.

“Jika dia bisa memberimu keturunan, tidak peduli apakah itu bayi laki-laki atau perempuan, barulah aku akan mengakuinya sebagai menantuku.”

“Ayah, Esme baru saja bangun dari komanya. Kami butuh waktu untuk—”

“Sudah sangat terlambat untuknya. Dia nyaris empat puluh tahun tidak lama lagi. Dengan tubuh lemahnya itu, bagaimana bisa dia hamil?”

Kucubit pangkal hidungku sambil memejamkan mata. “Ayah. Apa ini yang ingin Ayah katakan? Setelah sekian lama kita tidak terlibat pembicaraan?”

Helaan napas ayah yang mulai terdengar pendek-pendek itu menandakan bahwa kesehatannya tidaklah baik. Dia tua. Renta. Namun sanggup menceramahiku seharian hanya karena perkara pasangan hidup.

“Di sini, kakakmu membutuhkan bantuanmu.”

Sudah kuduga. “Ada masalah besar yang terjadi?”

“Kakakmu memiliki masalah dengan keluarga Heimir. Perihal kejadian di masa lalu yang pernah terjadi antara keluarga Casius dan Heimir. Jadi, bantulah dia.”

Keluarga Casius, itu artinya, istri dari kakak angkatku.

Padahal, sudah sejak berpuluh tahun lalu kami tidak saling berhubungan dengan keluarga Heimir. Walau keluarga itu sedikit sombong dan sok berkuasa, tapi kami mengabaikan mereka karena tidak ada masalah serius yang menyinggung satu sama lain.

“Akan kupikirkan selagi menunggu masa pemulihan Esme.”

“Dia tidak perlu ikut denganmu. Bukankah dia masih memiliki kedua orang tua? Biarkan sementara waktu dia tinggal bersama mereka.”

Aku hanya bisa menghela napas. Mana mungkin bisa kutinggalkan Esme di Oland bersama ayah dan ibunya? Meski pastinya dia tidak akan melarangku pergi, aku tetap tidak ingin berpisah dengannya.

Esme baru saja kembali, setelah dua tahun seakan pergi tidak berniat pulang ke pelukanku lagi. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan yang sudah jelas teramat sangat berharga ini?

“Berapa lama?”

“Semakin cepat kau bantu menyelesaikan masalahnya, akan semakin cepat juga kau kembali pada istrimu.”

“Aku butuh kepastian, Ayah. Aku perlu memberitahu Esme untuk berjaga-jaga.”

“Beberapa minggu mungkin cukup.”

Aku tahu, ayahku pun ragu akan hal itu. Mana mungkin bisa mencabut hingga ke akar permasalahannya dalam waktu sesingkat itu? “Aku perlu mempersiapkan keberangkatanku selama beberapa hari.”

“Baiklah. Aku mengerti. Hubungi aku saat kau sudah bersiap-siap.”

“Baik, Ayah. Sampai nanti.”

Panggilan kuakhiri. Sebenarnya, mudah bagiku untuk menolak. Tapi sulit rasanya, jika aku ingin melakukannya pada keluarga ayah angkatku.

Dia yang membebaskanku dari penderitaan yang nyaris membuatku ingin mati bunuh diri.

Tiga belas tahun lalu, saat usiaku dua puluh tujuh tahun, ayah dan ibuku yang seorang pebisnis hebat, disiksa sampai mati oleh mafia paling berbahaya di kota kami. Mereka dibayar oleh musuh perusahaan.

Orang tuaku disiksa di depan mataku. Aku berhasil melarikan diri, tapi ditabrak dan mobilku jatuh ke jurang.

Ayah angkatkulah yang menyelamatkanku, saat aku bangun dari jurang dan merangkak ke jalanan.

Ayah membantuku membalaskan dendamku atas kematian kedua orang tua kandungku. Sampai tuntas!

Itu jadi alasan utama aku ingin berbakti dan melakukan apa pun, untuk keluarga ayah angkatku. Dia paling berjasa dalam hidupku yang sempat tidak ada artinya lagi waktu itu.

Ah, aku butuh kopi! Kulajukan mobilku ke jalanan menuju kedi kopi yang letaknya hanya beberapa puluh meter dari rumah sakit. Aku harus berpikir tanpa perlu mendengar—

Itu … Lila? Benar itu, Lila? Aku sedang tidak melihat hantunya Lila di bawah lampu jalan yang sudah menyala. Senja telah berlalu. Mungkin beberapa menit lalu. Tapi sedang apa gadis itu di sana?

Lila turun dari sebuah mobil mewah, bukan SUV tangguh yang dinaikinya di pertemuan pertama kami. Terlihat dia melambai seadanya melalui raut datarnya. Aku bisa dengan jelas melihatnya dari sini. Dia tetap semenawan—ah, sudahlah. Jangan memulai sesuatu yang tidak akan bisa kau akhiri!

Kedai kopi sudah di depan mata. Aku tidak harus mendatangi Lila, karena tidak ada yang ingin kubicarakan dengannya.

Justru akan sangat memalukan, jika kuingat bagaimana diriku ingin sekali menyentuhnya. Bahkan terbersit keinginan untuk bercinta dengannya. Gila!

Lila berjalan santai menuju kedai kopi yang ingin kutuju. Haruskah aku memutar balik saja? Pergi mencari kedai kopi lain atau kembali saja ke rumah sakit.

Ingat, Esme baru saja siuman. Seharusnya aku bersama istriku saat ini. Bukan malah memilih menikmati kopi dan bertemu wanita lain yang nyaris membuat tubuhku panas dingin saat menatapnya diam-diam.

Keberanianku lenyap, ketika wajah Esme melintas. Benar. Jangan seperti ini. Cukup menjadi bajingan dalam urusan lain, tapi jangan jadi pria berengsek untuk urusan perasaan. Terutama pada wanita.

Aku sudah bersiap pergi, sebenarnya sudah memutar mobilku. Lalu yang kulihat malah ada pria muda menghampiri Lila yang baru saja keluar dengan dua papercup di tangannya.

Sadar, kakiku menginjak rem kuat-kuat. Siapa pria muda itu? Lila sudah memiliki kekasih?

Ponselku berdering, ketika aku berniat untuk turun dari mobil. Hei, Dev. Untuk apa kau turun? Apa yang ingin kau lakukan?

Panggilan dari ayah mertua. Tanganku bergerak cepat, memang kurang ajar. Aku segera menonaktifkan ponselku. Meski hati dan akal sehatku melarang, aku tetap bergerak untuk keluar dari mobil dan menemui Lila.

Rupanya Lila cuma menyerahkan papercup-nya dan membiarkan dirinya tetap tinggal di sini, sementara pria yang kuyakini sebagai kekasihnya itu, masuk ke mobil dan berlalu pergi.

“Lila?”

Gadis itu tidak menoleh. Seolah dia tahu siapa yang memanggilnya. Tubuhnya tegak dalam pandangan yang tidak teralihkan. “Kau ingin mengabaikanku?”

Barulah dia menoleh dan menatapku. Bibirnya mengerut sebelum akhirnya menjawabku. “Kau yang lebih dulu mengabaikanku.”

Dengan memukulku telak. Hanya satu kali pukulan. “Untuk masalah itu aku minta maaf. Kemarin ada hal yang mengganggu pikiranku.”

Lila tidak menanggapi ucapanku. Dia bahkan mulai berjalan menjauhi kedai kopi. Kupikir, akan pergi meninggalkanku, rupanya malah melangkah menuju ke mobilku.

Aku mengikutinya. Kopi kini tidak lagi penting.

“Sebagai permintaan maaf, tolong antarkan aku pulang, Paman Dev.”

Kutatap dia lekat-lekat. Paman? Aku jadi sakit hati mendengarnya memanggilku dengan sebutan itu. “Okay. Naiklah.” Kubiarkan dia membuka pintu untuk dirinya sendiri, sementara aku bergerak menuju ke tempatku.

Lila tidak memilih duduk di sisiku. Dia ada di kursi belakang. Santai tanpa kata. Spontan aku merasa sangat kesal padanya.

“Apa yang kau lakukan seharian ini?” Haruskah aku memuaskan rasa ingin tahuku?

“Syuting.”

“Wah, aku baru tahu jika kau itu aktris.”

“Bukan. Aku bukan aktris. Hanya membantu sepupu dan pamanku untuk mengisi peran dalam sebuah musik video.”

Ah, begitu. “Kerja bagus. Kau gadis baik.” Tanpa sadar, aku bersikap seolah kami akrab. Sampai melupakan pandangan yang harusnya fokus. Nyaris saja aku menabrak seekor kucing yang melompat di depan mobilku.

Karena mendadak mengerem, Lila tersentak ke depan. Dia tidak mengatakan apa pun. Membuatku kesal. “Katakan apa pun itu, Lila! Kenapa kau selalu diam saat sesuatu terjadi padamu?”

“Karena keadaanku baik-baik saja. Itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan. Antarkan saja aku pulang, Paman. Sudah tidak jauh lagi.”

Menepikan mobil di pinggir jalan sepi dan tidak diterangi lampu jalan, aku melompat ke belakang begitu saja. Rasa kesal yang menghancurkan segala pertahananku.

Di sini remang. Aku sengaja. Tidak ingin membuatnya melihat ekspresiku yang kacau, serta perasaanku yang tidak menentu.

“Apa maumu, Lila?” Mencengkeram kedua pundaknya dengan frustrasi, aku bisa membaui aromanya yang manis.

“Dev, hentikan. Kau menyakiti—”

Aku kesal. Aku marah. Aku cemburu!

Aku senang, hanya karena dia memanggilku dengan sebutan itu.

Kuciumi bibirnya dengan tingkat kehati-hatian yang kujaga pasti. Aku tidak akan menyakitinya. Aku menyadari satu hal. Dia menyambut ciumanku.

“Ah,” desahnya lembut, ketika ciuman kami akhirnya terlepas.

Kurasa, dia menikmatinya.

Lila menunduk. Mungkin kesal atau bisa jadi—

“Ayo, hentikan. Kau masih punya tugas untuk mengantarkanku pulang.”

Kutatap matanya dalam keremangan yang menyelimuti kami. Apa aku salah menebak? Wajah Lila dipenuhi kabut hasrat. Dia tampak berusaha menahan diri.

Aku yang sudah menahan diri, tidak meminta tanganku untuk berhenti. Kusentuh Lila di mana pun aku menyukainya.

Lila terdiam. Kedua tangannya mencengkeram kulit lenganku. Semakin menusuk, ketika tanganku menyusup ke bawah gaunnya.

Kami saling menatap. Aku tahu dia nyaris lemas hanya dengan jari-jariku. Berulang kali kupastikan, bahwa bibirnya tergigit hanya untuk menahan desahannya yang kusuka.

Kudekatkan bibirku ke telinganya. “Keluarkan suaramu, Lila. Jangan menahannya.”

“Dev ...” Dengan getaran suara yang mempesona, Lila terengah-engah.

Dia masih muda. Mungkin wajar baginya yang perawan, begitu cepat merasakan hasratnya meledak saat disentuh. Jariku saja mampu membuatnya kalang kabut. Dia luar biasa.

“Dev, aku ... aku—”

Bibirnya yang berkata-kata, kuhalangi dengan ciuman menjalar. Di dalam rongga mulutnya, aku bersemangat memainkan peran gigi dan lidahku.

Lila basah. Sangat basah, hingga kurasa, dia pasti malu akan keadaannya itu.

Kutarik kembali kata-kataku. Lila terlihat tidak merasakan perasaan lain, selain menikmati. Kepalanya bahkan mendongak menatap langit-langit. Karena jari-jariku, belum berhenti menusuknya.

“Lila, apa yang kau inginkan? Katakan padaku.” Menciumi lehernya yang terbuka untukku, ada aroma keringat yang bercampur dengan parfumnya. Seksi.

Lila tidak menjawab. Dia hanya mencengkeram rambut di bagian belakang kepalaku dengan tangan gemetar. Padahal, saat di rumahku, di ruangan pakaian dia tidak bereaksi seperti ini.

Pikiranku memang ke mana-mana, tapi bibirku semakin serius di sini. Ketika dengan gerakan lembut, aku menuruni kecupanku dari leher hingga sampai ke payudaranya yang masih terbungkus gaun.

“Jangan lepas pakaianku.” Lila memegangi wajahku. Memberiku tatapan sendu yang menawan. Dari jarak sedekat ini, aku bisa dengan jelas melihat ekspresinya di dalam keremangan.

“Aku tidak akan melakukannya jika kau melarang.”

Lila memelukku erat. Setelah melepaskan pelukan, justru dia yang bertindak lebih berani dariku.

Dia merosot turun, menyentuh ritsleting-ku tanpa ragu. Tidak kuperlihatkan kebingunganku pada sikapnya yang sulit tertebak. Aku cuma menatapnya.

Sepersekian detik setelahnya, aku hanya terus mengusap rambutnya. Kepalanya menunduk, naik turun. Mulut manis itu bertugas penuh pada kejantananku. Desisan dariku memenuhi seisi mobil. Aku merasa layak mendapatkan semua ini darinya.

“Teruskan, Lila. Jangan berhenti.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status