Share

BAB 6

 Lajutan dua tahun kemudian

Dinding krem berkelambu coklat dengan seprai kotak-kotak, lengang. Hanin  mengulang cerita lalunya, Karsa menjadi pendengar setia.

“Lima belas menit keterlambatanku salah satunya memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, Ka. Ketakutanku sendiri. Tentang pertanyaanku saat kita berteduh waktu itu, itu benar-benar menjadi kekhawatiranku.”

Karsa terkejut, “Diana?”

Hanin tersenyum. Hambar.

“Kau boleh percaya atau tidak, perasaanku tidak bisa berbohong kalau aku keberatan kau dekat dengannya. Terlalu berani jika perasaan ini dikatakan cemburu padahal kita bukan apa-apa. Kita teman. Mungkin dengan perasaan macam-macam. Aku takut, kalian sering bersama melebihi kebersamaan kita. Kau selalu dengan dia ketika ada acara, kau dekat dengannya. Dan posisiku dan Diana sama. Temanmu. Bedanya, kau lebih lama mengenal Diana sementara denganku baru beberapa bulan saja. Aku takut. Ketakutan seorang perempuan. Wajar, kan?”

Karsa menggeleng.

“Kau boleh saja tidak percaya, tapi itu yang aku rasakan. Sudah lama ya? Iya, sangat lama aku menyimpan perasaan itu bahkan jauh sebelum kau menyadari perasaanmu sendiri.”

Karsa meraup wajahnya kasar.

“Kenapa tidak bilang? Kenapa kau diam?”

 Hanin tertawa. Menertawakan perasaannya sendirian.

“Tidak mungkin. Sangat tidak mungkin jika aku mengakuinya terlebih dulu. Kau paham aku seperti apa. Gengsiku terlalu besar apalagi menyangkut cinta-cintaan.Ya namanya juga perempuan. Aku sengaja tidak bilang karena aku sadar, kau pun belum siap untuk menjalin kedekatan. Kau masih nyaman sendiri begitu juga aku yang nyaman dengan perasaan ini.”

 Karsa diam sebentar, mengatur napas yang tak karuan. Karsa tidak tahu, benar-benar tidak mengetahui jika salah satu alasan dua tahun mereka hilang adalah karena kesalahpahaman. Salah paham yang tidak masuk akal. Hanin benar, Karsa belum siap menjalin kedekatan, namun saat di mana mereka akrab di bulan-bulan selanjutnya, terus dekat meskipun ia belum siap mengatakan, Karsa sudah nyaman. Kenyamanan yang lagi-lagi membahayakan. Hanin paham jika Karsa masih ragu dengan perasaannya sendiri. Masih takut memulai, masih takut melangkah ke depan. Tidak mungkin saat itu Hanin jujur terhadap perasaannya, bukankah perempuan sejatinya dipilih bukan memilih?

Hanin percaya hatinya. Percaya jika hatinya mampu melewati perasaan suka tak karuan itu, paling tidak untuk saat itu setelah melihat Diana memandang Karsa berbeda di kursi depan kantin kampusnya.

Di bulan-bulan berikutnya, Hanin sedang berusaha.

 “Seberapa sering selama ini aku menyakitimu atas ketidaktahuanku, Nin?”

“Saat itu belum banyak,”

“Yang aku tanyakan selama ini,” desaknya.

Hujan turun begitu deras. Juni tiba-tiba mendung dengan hujan mengguyur. Cuaca tahun ini berubah-ubah tidak kenal musim. Tentang Juni ini, Hanin sedang mengulik tentang Juni lalu. Tentang memori-memori pada saat itu. Tentang perasaan yang ditumpuk berharap tidak ambruk namun nyatanya tetap saja, meluap mencari muaranya.

“Kau harus dengar alasanku selanjutnya, Ka. Baru kau bisa tahu seberapa besar kau menyakitiku.”

 “Ya apa, Nin? Rasanya aku hanya jadi lelaki jahat yang membiarkan perasaanmu tidak pernah baik-baik saja. Aku tahu aku salah, tidak pernah memberitahumu atau bisa jadi aku terlambat mengatakan kalau perasaan kita sama, kalau memang yang dibahas masalah rasa.”

“Aku tidak mengatakan seperti itu. Aku hanya ingin kau mendengarnya lagi.”

“Lalu bagaimana?”

Hanin menerawang jauh beberapa waktu belakangan. Bertemu Karsa setelah dua tahun tidak saling tatap muka adalah kesalahan besar. Bertemu Karsa hari ini sama saja seperti membuka satu per satu buku lama tanpa bisa dijelaskan sakitnya seperti apa. Buku itu sudah usang. Harusnya dibuang dan tidak pernah lagi dibuka meski hanya dikenang.

 “Setelah aku bertemu editorku hari itu, pak tua tidak marah. Beliau lagi-lagi hanya menunjukkan bahwa ia peduli terhadap karyaku. Ia hanya peduli terhadap karirku. Entah hanya itu saja atau dua pengakuan itu adalah ucapan sebagai penenang, aku merasakan bahwa beliau benar-benar tulus mengatakannya.”

Mata Karsa tidak pernah lepas dari wajah Hanin yang saat ini bercerita dengan berbagai macam raut muka.

“Setelah aku pulang dari kantor, sebenarnya tidak ada niatan untuk jalan-jalan sambil menunggu tukang es doger pinggir jalan di taman kota tempat biasa kita sering kunjungi bersama. Di kursi yang sama, waktu itu Diana datang. Menghampiriku yang sedang duduk sendirian. Aku enggak tahu dia dari mana, tiba-tiba saja dia datang.”

 “Diana lagi?”

Hanin mengangguk.

“Kalian bahas apa?”

Hanin tersenyum, “Bahasan dua perempuan yang ternyata menyukai satu lelaki yang sama.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status