Share

Bab 5 : Vaksin

Pagi meniupkan udara dingin dari sisa embun tadi malam, menciptakan kenyaman tidak pernah ada semenjak pandemi terjadi. Suara kicauan burung menyanyikan lagu pilu untuk mencoba menghibur setiap orang yang mendengar. Walau tidak tahu siapa yang mendengar, apakah manusia terinfeksi mengerti tentang seni yang mendebarkan jiwa, tidak ada yang tahu pasti bahkan manusia terinfeksi sendiri. Bau busuk melambung di udara mengundang para burung pemakan bangkai bersama lalat yang berpesta pora. 

Masih di dalam ruang laboratorium, Hans dan Sati melanjutkan penelitian yang menemukan titik buntu tapi tidak untuk menyerah. Memakai pakaian lengkap penelitian laboratorium memulai kembali penelitian selanjutnya untuk mencari penyebab sekaligus solusi dari permasalahan yang terjadi. Sati yang mendapatkan air Zam-zam dari ruang kepala laboratorium meneteskan  air  di mikroskop lainnya yang tidak digunakan. Dia mengamati dengan teliti, tidak ada bakteri maupun parasit lain yang ada pada air, benar-benar bersih. Sati memperbesar hasil proyeksi objek hingga memperlihatkan molekul air yang sangat indah. Merasa sangat takjub dengan yang dilihat, Hans yang ada di sampingnya hanya memandang penuh kekaguman yang tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Hans mengambil air dari kamar mandi laboratorium dan meneteskan di kaca preparat lalu meletakkan di meja objek mikroskop yang tadi terdapat air zam-zam. Dia ingin melihat perbandingan apa yang bisa ditemukan antara air zam-zam dengan air lainnya.  Sati melakukan perbesaran proyeksi dan dihasilkan banyak mikroorganisme yang hidup pada air. Hans masih saja merasa penasaran dengan yang disaksikan terlalu luar biasa, dia membiarkan air Zam-zam di ruang terbuka diudara, agar bakteri dari udara dapat melakukan pencemaran terhadap air. Untuk sepuluh menit menunggu air agar tercemar udara bebas, sambil menunggu Hans mencampurkan setetes air zam-zam pada air dari kamar mandi tadi yang masih berada di meja objek mikroskop. Sati mengamati bersama Hans dan dihasilkan mikroorganisme tidak berani mendekat pada tetesan air zam-zam. Karena lebih penasaran Hans mencampur air keduanya, mengaduk pelan di kaca preparat. Hasil yang didapat air kamar mandi menjadi bersih dan organisme menjadi mati. Dia mengambil air yang dibiarkannya terbuka tadi dan meneteskan kembali di kaca preparat yang lain, hasil yang didapatkan tetap sama seperti di awal. Tidak ada mikroorganisme yang berani mendekati air zam-zam apalagi berenang di dalam air. 

"Benar-benar bersih." Suara Hans memuji takjub yang dilihat oleh kedua mata.

Sati hanya tersenyum melihat setiap tingkah teman bertahan hidup yang berada di samping.

"Saya hanya sering membaca jurnal tentang air ini, tapi tidak pernah menguji langsung lebih tepatnya saya belum sempat menguji kebenaran." membuat alasan agar tidak terlihat terlalu polos.

Sati hanya dapat tersenyum mendengar alasan dari Hans.

"Mari kita coba menggunakan air biasa, yang ada didispenser. Apakah ada mikroorganisme di dalamnya?" Sati menemukan suatu cara agar Hans memiliki banyak perbedaan hasil molekul air.

Setelah diteteskan dan diuji coba dengan hal yang sama seperti air zam-zam didapatkan bahwa hanya air zam zam yang mampu mempertahankan kebersihan airnya.

"Jelas airnya bersih, sebelum air layak dikonsumsi harus di masak atau ditetesi obat agar mikroorganisme mati." Memberikan pendapat atas hasil yang diperoleh.

"Air yang layak dikonsumsi adalah air yang tidak memiliki bau, tidak berwarna kotor, tidak mengandung timbal dan zat berbahaya lainnya sekaligus pH air tidak lebih dari tujuh." Melanjutkan penjelasan lebih detail kepada Sati tentang kiteria air yang layak dikonsumsi.

"Iya... Iya.... Bapak dokter." ledekan Sati hanya membuat Hans senyum-senyum sendiri akan tingkahnya.

"Kelamaan saya lihat bukan seperti dokter, jadi seperti guru." Sati melanjutkan ledekannya kepada Hans.

"Saya sekaligus guru, karena gelar saya Profesor jadi saya juga mengajar kelas mahasiswa." Merasa sedikit bangga dengan keadaan pendidikan yang dimiliki.

"Iya juga ya..." Sati kehabisan kata-kata dan sejenak terdiam.

"Ingat tidak dengan peneliti Masaru Emoto yang terkenal dengan penelitiannya mengungkapkan bahwa suatu keanehan terjadi pada sifat air.  Awalnya dia melakukan penelitian untuk menyembuhkan istrinya yang terkena penyakit kanker dan tidak dapat ditolong lagi. Sehingga dia meneliti tentang air, mengumpulkan dua ribu contoh foto kristal air dari berbagai penjuru dunia." Membuka percakapan kembali dan mengingatkan kepada Hans tentang peristiwa besar yang menakjubkan dalam dunia penelitian yang terjadi di abad 21.

" Peneliti Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung sugesti perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen, Dia juga menemukan  partikel kristal air terlihat menjadi indah dan mengagumkan apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, Tapi akan sebaliknya partikel kristal air terlihat menjadi buruk dan tidak enak dipandang mata apabila mendapat efek negatif disekitarnya." Hans menjelaskan dengan lantang dan lancar yang ada di isi kepala.

"Benar Hans, air akan berubah molekulnya tergantung dengan sugesti energi yang kita berikan."

"Beliau menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan ke dalam air tersebut." Hans melanjutkan penjelasan yang diketahui.

"Dan peneliti selanjutnya menemukan bahwa air yang dibacakan dengan ayat suci Al-Qur'an lebih indah bentuknya dari pada mendapat sugesti positif dari pujian." Sati langsung menyambung penjelasan Hans.

"Maka perkembangan saat ini di sekolah akan diputarkan musik klasik untuk pengantar belajar. Karena dapat merileksasikan fikiran." Mengingat sekolah Dicky yang menerapkan energi suara dalam belajar. 

"Benar, berbeda dengan masa kita sekolah dulu, harus dengan tegap melihat guru menjelaskan."

"Sati, kamu punya buku message from Water?" 

"Tidak, saya tidak memilikinya. Sangat sulit buku ditemukan di dalam negeri, jika beli dari luar negeri yang ada lebih mahal biaya kirim dari pada bukunya sendiri."

"Tapi kamu hebat, kamu banyak tahu tapi tidak memiliki bukunya, kamu benar-benar penuh misteri." Hans mengisyaratkan misteri pada Sati.

"Saya bukan hantu yang penuh misteri." Mendengar perkataan Sati, Hans dan Sati tertawa bersama seakan tidak ada beban hidup yang menjerat saat ini.

 

"Sampel yang kemarin masih ada?" Sati bertanya karena ingin melakukan uji coba kembali.

"Masih, saya menyimpannya di lemari pendingin sederhana agar tidak rusak."

"Apakah pasokan sumber energi kita cukup?"

"Sangat cukup Sati, ada banyak di lemari penyimpanan barang." Menenangkan kekhawariran yang ada.

"Baguslah, sekarang kita apakah bisa  uji coba lagi? Tapi kali ini menggunakan DNA saya. " Sati menawarkan diri untuk terlibat lebih jauh menjadi bahan uji coba.

"Baiklah." Mengambil sampel dari lemari penyimpanan, sedangkan Sati sedang mengambil sampel pada dirinya sendiri, lalu memberikannya kepada Hans untuk diteliti.

Sati dan Hans mengamati dengan serius dari layar proyeksi.

"Sama saja Sati, virus mengusai sel kamu juga. Apalagi kamu tidak pernah divaksin jadi saya rasa pergerakan infeksi jauh lebih cepat dari pada orang yang pernah terkena infeksi. Jadi jika kita ditularkan virus yang sama kita akan berubah menjadi mereka seperti di luar sana. Mereka yang seperti Zombie dan memakan organ manusia jika kelaparan." Mematahkan semangat setelah melihat hasil yang sama seperti uji coba kemarin, pada akhirnya menemukan titik buntu yang sama.

Sati tidak memperdulikan perkataan Hans dan terus melihat layar proyeksi. Terlihat virus berhasil menginjeksikan asam nukleat pada sel dan mengusai aktivitas sel. Tapi tiba-tiba sel melakukan perlawanan pada virus.

"Hans lihat!" Menunjuk ke layar untuk menegaskan yang dilihat.

"Ini luar biasa Sati." Ekspreai terkejut dan tidak mampu berkata-kata.

"Hans coba kamu teteskan air zam-zam." Dengan cepat Hans menjalankan perintah.

"Siap, bu bos." sedikit kesal karena sangat bawel terdengarnya.

"Virusnya....!" Sati terbelalak melihat yang terjadi di layar proyeksi.

"Kenapa virusnya?" menghampiri dan melihat yang terjadi.

"Virusnya melemah, dan bekerja sama dengan baik dengan sel." Sati merasa kagum dengan hasil yang di dapat.

"Melemah, virus diatur oleh sel.!!!!" Hans berteriak.

"Sstttt...!!" menenangkan Hans yang merasa gembira dengan hasil yang diperoleh.

"Tapi belum seutuhnya, mungkin butuh proses. Tapi virus tidak berhasil menguasai inti sel inang." Sati merasa belum seutuhnya virus mengalami kematian.

"Atau harus pakai metode suara, karena seperti tadi jika ayat suci Al-Qur'an memiliki energi super power pasti bisa mengatasi ini. Kita suntikkan vaksin tapi untuk penyembuhan selanjutnya kita bisa gunakan metode ini untuk menambah efek positif pada molekulnya."  Hans memberikan argumen yang masuk akal untuk diuji coba kebenarannya.

"Bisa jadi Hans."

"Kita harus uji coba dengan yang nyata Sati." Hans berfikir untuk menggunakan uji coba makhluk hidup.

"Uji coba dengan salah satu manusia terinfeksi?" Sati memberikan usul untuk menggunakan manusia terinfeksi secara langsung.

"Benar, untuk terlihat sejauh mana vaksin mampu mengatasi." Membenarkan usulan Sati seakan satu pemikiran.

"Tidak salah, kalau begitu ijinkan saya memilih objek yang akan menjadi uji coba penelitian." Sati memohon kepada Hans sambil menyatukan kedua tangan.

"Baiklah Sati." 

Sati hanya tersenyum mendengar persetujuan dari Hans. Merasa menang dengan permintaan yang dikabulkan. 

Kini mereka berdua sudah duduk di depan kaca gedung jendela laboratorium yang sangat besar. Entah sejak kapan dalam sekejap keduanya semangkin kompak. Setelah merapikan dan membersihkan percobaan dan memperbanyak vaksin. Tirai kaca jendela di buka, sehingga mata bisa memandang keluar sedang apa yang terjadi selama beberapa hari telah terlewati. Langit masih saja terlihat berwarna kemerahan seperti senja. Hans memberikan sebungkus roti dan minum kepada Sati, untuk yang sekian kali memakam dengan hikmat sambil mengincar makhluk terinfeksi mana yang bisa digunakan dalam penelitian.

"Maaf Sati kita hanya memiliki sedikit persediaan jadi hanya bisa makan satu kali sehari, hanya sebuah roti dan minum mineral." Meminta maaf atas kelemahan yang tidak memiliki pasokan makanan yang cukup banyak.

"Ha..ha..ha...." dengan lepas suara tertawa keluar tapi tetap terkendali 

"Kenapa tertawa?" berhenti makan dan memandang dengan wajah yang sangat serius.

"Ingin pesan pizza dimana? Semua orang terinfeksi, yang ada makan daging manusia terinfeksi. Ini yang paling aman, dan sudah cukup untuk tubuh." Menunjukkan roti yang tinggal setengah.

Hans tersenyum, "Kelihatannya kamu tidak suka makan?"

"Saya memang tidak suka makan, habisan kelebihan berat badan dari yang biasanya membuat saya sulit bergerak. Rasanya ada beban berat di tubuh." Membayangkan dalam kepala jika menjadi gendut.

"Bagus, kelebihan berat badan sangat tidak baik untuk organ tubuh." Hans membenarkan yang dikatakan oleh Sati.

"Setuju, bay the way kamu sering fitnes ya? Bentuk tubuh kamu bagus banget, pasti idaman cewek-cewek." Untuk pertama kalinya Sati memuji pria yang berada disampingnya.

"Saya hanya olaraga ketika bosan saja."

"Ketika bosan hasil seperti ini, kalau ada orang yang rajin pasti tampan banget." Membayangkan pria tampan dengan tubuh ideal dan menawan.

"Awas jatuh, menghayal ketinggian." Hans mengingatkan bahwa semua hanya hayalan, apalagi pada situasi sulit seperti ini ingin menemukan pria idaman dimana. Sedangkan semua tempat dipenuhi manusia terinfeksi.

"Sudah turun pakai tangga tadi. Hmmm... Boleh tanya tidak?"

"Tanya apa?" Terus menguyah roti di dalam mulut.

"Kamu sudah berkeluarga, bisa ceritakan seperti apa keluarga kamu. Pasti istri kamu beruntung dapatin kamu." Sati memuji wanita yang bersanding dengan Hans.

Hans terdiam sejenak, memandang mata sati.

"Kamu ingin dengar kisah saya?"

"Tentu, kita harus saling mengenal, kita patner."

" Tapi gantian ya?"

"Iya, janji." memberikan jari kelingking dan mengikat janji seperti anak kecil.

"Ok."

💎💎💎

Malam minggu bulan januari tahun 2020 pukul delapan malam di jalan lintas pusat kota sebelum pandemi terjadi. Suasana jalan raya tidak terlalu ramai, mungkin karena banyaknya para pemuda-pemudi yang lebih memilih di cafe untuk menghabiskan malam minggu. Mobil Hans bersama keluarga kecilnya melakukan perjalanan pulang dari gedung bioskop. 

"Pa, filmnya seru banget, seorang anak laki-laki yang memiliki indra keenam bisa melewati dimensi-dimensi lain." Regina istri Hans hanya bisa tersenyum mendengar cerita anaknya.

"Kamu suka?"

"Suka pa, nanti kalau aku sudah besar ingin jadi peneliti."

"Apa hubungan peneliti dengan indigo sayang?" Regina bertanya kepada putra semata wayangnya.

"Karena saya bukan indigo ma, jadi harus jadi peneliti agar bisa mengunjungi dimensi satu dengan yang lainnya."

"Ide bagus sayang." Hans menyemangati impian anaknya.

"Harus berhasil ma, agar papa tidak bekerja lagi bisa temani mama di rumah. Jadi mama gak kesepian lagi." 

"Mama tidak pernah kesepian, kan ada kamu." Mengusap kepala Dicky yang duduk di kursi belakang.

"Saya melayang ma." Memperagakan burung seperti terbang.

Semua tertawa dengan riang, truk besar pengangkut bahan pasokan makanan berkendara di luar jalur dan menabrak mobil yang dikendarai Hans yang melewati persimpangan. 

"BRUUGGG!!!!" Suara tabrakan yang menyebabkan mobil Hans berguling-guling di jalan raya.

Orang-orang berkumpul melihat kecelakaan yang terjadi, mencoba membantu dengan menelpon petugas dan nomor darurat. Hans dan keluarga pingsan dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance, sedangkan pengendara truk telah meninggal di tempat akibat terkena serangan jantung.

Hans tersadar di tengah pemeriksaan, menanyakan keadaan istri dan anaknya.

"Dokter bagaimana dengan kondisi anak dan istri saya?" Hans menanyakan pertanyaan yang umum kepada dokter mengenai orang yang dicintai.

"Maaf dokter Hans, istri anda sudah meninggal dan anak anda masih koma karena benturan keras di kepalanya." Dengan nada menyesal dokter memberi tahu kondisi keluarga Hans.

"Dokter berbohong?" Hans tidak percaya dengan apa yang didengar dari perkataan dokter.

"Saya tidak berbohong, saya mengatakan yang sebenarnya. Petugas medis lain sudah berusaha sebaik mungkin tapi kami tidak bisa melampaui yang diinginkan Tuhan." Mencoba meyakinkan Hans untuk menerima takdir yang terjadi.

"Bohong!!!" Hans berlari meninggalkan dokter.

"Dokter Hans,,,, Hans,,,..." Dokter mengejar Hans, tapi kalah cepat dengan lari Hans.

Hans pergi ke ruang UGD untuk mencari istri dan anaknya, tidak menemukannya di ruangan. Pindah ke ruang ICU menemukan Dicky yang terbaring koma dengan penuh luka ditubuhnya.

"Dicky,,, maafkan papa." Hans menangis dan mengingat harus mencari keberadaan istrinya.

"Regina.... Regina......!!!!!" Berteriak seperti orang gila yang lepas kendali, berharap istrinya menyambut teriakkannya.

"Hans... Hans tenanglah." dokter bersama beberapa petugas medis berhasil menyusul.

"Regina...!!!!!! Regina....!!!!"

"Dokter Hans tenanglah,!!!" Dokter Menampar pipi Hans dengan keras untuk menyadarkan.

"Regina... Regina..." menangis dan menyebut dengan nada pelan.

"Regina ada di ruang mayat Hans." Dokter mengatakan keberadaan istri Hans.

Mendengar perkataan dari dokter, Hans langsung lari ke ruang mayat. Membuka satu persatu penutup wajah pada semua mayat yang ada di ruangan, membuka satu persatu lemari penyimpanan mayat. Mencari istrinya yang kini menjadi mayat. Dekat ruang pemandian terdapat satu mayat yang belum diperiksanya, Hans berjalan dengan langkah lemah. Membuka penutup wajah mayat, iya menemukan apa yang dicari yaitu istri yang sangat dia cintai. Memeluk dengan erat istrinya dan mencium tanpa ragu bersama air mata terus membasahi pipi. Dokter dengan para medis hanya mampu melihat adegan tersebut tanpa bisa melakukan perbuatan apa-apa.

"Maafkan saya Hans." Memegang pundak Hans untuk memberikan dukungan psikologis menerima semua kenyataan yang terjadi.

💎💎💎

"Maafkan saya Hans." Memotong cerita Hans karena tidak ingin melihat Hans lebih jauh mengingat kenangan pahitnya.

Hans menghapus air mata yang sempat menetes karena teringat dengan mendiang istrinya.

"Tidak apa Sati."

"Seharusnya saya tidak bertanya aneh-aneh, saya sangat kelewatan batas"

"Tidak apa, masa itu memang merupakan masa sulit saya. Istri saya meninggal dan Dicky koma selama seminggu, rasanya saat itu saya ingin menyusul istri saya. Ketika saya ingin mengakhiri hidup saya, wajah Dicky datang membayang dan menyebut nama saya. Saya paham pada satu hal, saya tidak bisa menjadikan Dicky menjadi anak yatim piatu karena impiannya akan hancur."

"Saya sangat yakin Dicky pasti akan menjadi orang sukses yang dihargai dunia." Sati memberikan semangat kepada Hans.

"Dicky anak yang cerdas Sati, ketika dia tahu Regina meninggal dia hanya berkata, mama yang tenang disana, lihat Dicky akan berhasil dengan impian dan menjaga papa. Jadi mama tidak perlu khawatir." Menghentikan cerita sejenak, menghapus air mata yang akan terjatuh.

"Anak sekecil itu bisa lebih tegar dari pada saya." Melanjutkan kata-kata yang terhenti.

"Saya mengerti." Sati tertunduk merasa bersalah, karena tuntutan darinya membuat suasana menjadi tidak menyenangkan.

"Lalu bagaimana dengan kamu, Sati?" Hans bertanya balik kepada Sati tentang perjalanan hidupnya.

"Saya?" 

"Iya, kenapa bisa kamu yang menyebabkan kecelakaan beruntun."

"Kamu mengetahuinya?"

"Polisi sudah memeriksa TKP, kamu yang menyebabkan tabrakan beruntun." Mengingat polisi yang bolak balik ke ruang ICU dan mendatangi keluarga Sati untuk meminta keterangan.

"Iya, memang  itu adalah salah saya." Sati mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya karena kecerobohan akan emosi yang menguasai.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status