Share

BAB 4

“Ya sudah, terserah Mas saja. Aku serahin aja semua urusan kontrakan ini ke Mas!” Kubaringkan tubuh menghadap Ari.

“Kamu ….” Masih kudengar suara Mas Dani menahan geram. Kupaksa memejamkan mata ini, walau terasa panas, menahan air mata yang nyaris meluncur bebas.

**********

Pagi ini Mas Dani berangkat kerja lebih awal, tanpa sarapan lebih dahulu. Ia bilang akan mampir ke kontrakan temannya dulu, mau menanyakan ada kontrakan kosong atau tidak.

Ting.

Kudengar bunyi notifikasi wa, tapi bukan dari hpku. Lho, ternyata hp Mas Dani ketinggalan. Sekilas kulihat pengirimannya Ahmad, kupikir mungkin teman yang akan ditemuinya pagi ini.

[Emangnya mertua lo, ngusirnya buru-buru pindah, gitu?] Terbelalak mataku membaca pesan itu.

Ya Allah, apalagi ini? Kenapa teman Mas Dani bisa bertanya seperti itu? Apa Mas Dani sudah memfitnah kedua orang tuaku? Astaghfirullah, berdenyut hatiku setelah membaca pesan itu.

“Mawar … lihat hpku, gak?” Tiba-tiba Mas Dani muncul di depan pintu kamar. Tanganku bergetar memegang hpnya, aku memandang ke arah Mas Dani dengan tatapan penuh tanya. Kuyakin sekarang wajahku sudah memerah, mataku pun sudah berkaca-kaca.

“Sinikan hpku!” Mas Dani merebut hpnya dari tanganku. Ia melihat mataku, namun buru-buru balik badan. Sepertinya ia tidak mau tahu apa yang sedang kurasakan saat ini.

“Mas …,” Kupanggil suamiku pelan.

Mas Dani berbalik. “Ada apa? Aku buru-buru nih. Nanti saja bicaranya kalau aku sudah pulang kerja!” 

Mas Dani langsung berbalik dan keluar rumah.

Luruh air mataku membasahi pipi. Tak kuat lagi ku menahan rasa kecewa yang begitu dalam terhadap suamiku. Aku duduk di tepi ranjang. Bibirku terus mengucap istighfar, berharap Allah akan meredakan rasa sakit di hati ini.

**********

Setelah selesai menyelesaikan pekerjaan rumah, aku bermain bersama Ari dan Ibu sambil menonton tv. Ari sudah mulai belajar tengkurap, tingkahnya begitu menggemaskan. Bila melihat kelucuan Ari, aku lupa semua rasa sakit hati yang diciptakan oleh ayahnya.

“War … hari ini Ibu dan bapak mau ke rumah pakde Galih. Mungkin sampai sore,” ujar Ibu.

“Oh iya, Bu. Memangnya ada acara apa di rumah pakde Galih?” tanyaku.

“Pakde Galih dan bude Rini mau berangkat umroh. Di rumahnya ada pengajian,” jawab Ibu.

“oh … alhamdulillah. Senangnya bisa umroh. Semoga nanti kita juga bisa umroh, ya, Bu,” ujarku.

“Aamiin. Semoga saja, ya. Oh iya, nanti kalau ada orang datang dari toko elektronik bawa magic com dan mesin cuci, kamu terima saja, ya! Sudah ibu bayar, kamu kasih tips saja untuk yang angkat barang! Uangnya ada di atas kulkas,” jelas Ibu.

“Lho, kok beli magic com dan mesin cuci, Bu?” tanyaku heran.

“Itu untuk kamu. Kan sebentar lagi kamu pindah ngontrak, itu nanti buat di sana. Supaya kamu gak repot,” jawab Ibu.

“Terima kasih, Bu. Ibu sampai memikirkan kebutuhanku sejauh ini. Aku mohon maaf, Bu. Selama ini belum bisa membahagiakan Ibu dan bapak,” Ku peluk erat tubuh Ibu.

“Sudah … tidak apa-apa. Kamu sudah memberi ibu seorang cucu yang lucu, itu sudah membuat Ibu dan bapak bahagia,” Ibu mengusap lembut bahuku.

Ting.

Ku raih hp, ternyata wa dari Mas Dani. 

[Mawar, hari ini kamu mulai packing barang-barang kita, ya!]

[Aku sudah dapat kontrakan. Besok kita sudah bisa pindah]

Cepat juga Mas Dani dapat kontrakan. Mungkin info dari teman yang ditemuinya pagi tadi.

[Alhamdulillah. Baik, Mas] jawabku senang.

“Bu, Mas Dani sudah dapat kontrakan. Katanya, besok kami sudah bisa pindah,” kataku.

“Alhamdulillah. Kamu yang sabar dan ikhlas. Jadilah istri yang soleha! Kurangi pertengkaran, kasihan Ari! Baik-baik bawa diri di tempat baru!” ujar Ibu.

“Baik, Bu. Aku akan mulai packing, Bu,” ucapku.

“Iya. Maaf Ibu tidak bisa bantu. Tapi nanti setelah pulang dari rumah pakde Galih, Ibu akan bantu,” ucap Ibu.

“Iya, tidak apa-apa, Bu,” ucapku.

**********

Ibu dan bapak sudah berangkat ke rumah pakde Galih, Ari sudah tidur. Aku mulai packing baju-baju yang ada di lemari. Tiba-tiba terdengar suara salam dari luar.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumussalam,” jawabku. Aku bergegas membuka pintu depan.

“Ini rumah bapak Narto?” Seorang laki-laki berseragam toko elektronik berdiri di ambang pintu.

“Iya betul, Pak,” jawabku.

“Ini Mbak, ada kiriman magic com dan mesin cuci,” ujarnya.

“Oh iya, Pak. Silahkan dibawa masuk saja!” ujarku.

“Baik, Mbak,” ucapnya.

Alhamdulillah ibu dan bapak memberiku magic com dan mesin cuci, jadi nanti pekerjaan rumahku tidak terlalu repot. Ah, ibu, bapak … betapa kalian menyayangiku, hingga memikirkan kebutuhanku seperti ini.

Tak terasa hari sudah sore. Ari sudah kumandikan, harum dan menggemaskan melihatnya. Saat ini aku bersantai di teras rumah, menanti kedatangan suamiku pulang kerja. Dari kejauhan, kulihat motor Mas Dani mendekat.

“Assalamu’alaikum,” ucap Mas Dani.

“Wa’alaikumussalam, Mas’” Kuraih tangannya, kucium dengan takzim.

Mas Dani mencolek dan mencium pipi Ari.

“Hm … anak ayah harum banget,” ucap Mas Dani gemas.

Aku tersenyum melihatnya. 

“Iya, Ayah. Aku udah mandi,” ucapku menirukan suara anak kecil.

Mas Dani mengusap kepalaku. Ah, betapa senangnya, kelembutan inilah yang aku kangen dari suamiku.

“Aku mandi dulu, ya,” ucap Mas Dani.

“Iya, Mas. Nanti kusiapkan makan,” ucapku.

Mas Dani mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Aku mengikuti dari belakang. Kuletakkan Ari di kasur. Sementara Mas Dani mandi, aku menyiapkan pakaian gantinya. Lalu kuraih Ari dan membawanya ke dapur, menyiapkan makan untuk kami.

Mas Dani sudah selesai mandi, ia berjalan menghampiri. 

“Mari, Mas. Kita makan dulu!” ujarku.

“Iya,” Mas Dani duduk di sebelahku.

“Hari ini anak ayah nakal, gak?” tanya Mas Dani sambil menggoda Ari.

“Tidak dong, Ayah. Aku, kan anak baik,” ucapku sambil tertawa kecil.

Sejenak kami tertawa bersama. Ya Allah, aku ingin setiap hari bisa tertawa seperti ini. Jangan ada lagi pertengkaran diantara kami.

“Itu magic com dan mesin cuci siapa?” tanya Mas Dani.

“Itu ibu dan bapak yang beli, Mas. Untuk kita di kontrakan katanya, Mas’” jawabku.

“Oh, alhamdulillah,” ucapnya.

“Tadi aku sudah bayar kontrakannya. Besok kita pindah. Aku sudah ambil cuti 2 hari. Kamu packingnya gimana, sudah selesai?” tanya Mas Dani.

“Tinggal sedikit lagi, Mas. Nanti malam juga selesai,” jawabku. “Kontrakan kita dimana, Mas?”

“Besok kamu akan tahu dan lihat sendiri,” jawab Mas Dani sambil terus mengunyah makanannya.

Aku hanya mengangguk. Aku akan berusaha menghindari pertengkaran, seperti nasehat ibu.

“Ibu sama bapak, kok gak kelihatan?” tanya Mas Dani.

“Oh … ibu sama bapak lagi ke rumah pakde Galih, Mas. Lagi pengajian, mau berangkat umroh,” jawabku.

“Oh …,” ucap Mas Dani menganggukan kepala.

**********

Hari sudah malam, aku sudah selesai packing. Karena barang yang kami miliki tidak banyak, maka tidak butuh waktu lama untuk packing. Mas Dani sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Ari sudah terlelap dari tadi. Aku pun beranjak menunjuk ranjang, membaringkan tubuh yang agak lelah setelah seharian packing.

“Mas,” panggilku.

“Hm …,” gumam Mas Dani.

“Kontrakannya dekat pabrik?” tanyaku.

“Sudah … jangan banyak tanya! Besok juga kamu tahu sendiri. Sekarang tidur, besok harus bangun pagi-pagi!” ucap Mas dani tegas.

“Hm … baik, Mas,” ucapku.

Aku penasaran, kira-kira kontrakannya dimana ya? Seperti apa kontrakannya? Apakah nyaman untuk Ari?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status