Share

Bab 4 : Siapa Aluna Mas?

"Tidak usah didengarkan omongan bibi tadi Non, Bibj hanya bicara asal saja" ucap Bibi mengelak.

Nasya mencoba tidak memikirkan apa yang dikatakan Bibi tadi. Dia fokus pada apa yang dilakukan saat ini, beberes kamar dan menata pakaiannya. Tidak terlalu banyak, hanya saja dia ingin semuanya terlihat rapi sesuai yang dia mau.

Setelah selesai beberes dia membersihkan diri dan berendam serta menghirup aromaterapi untuk membuat pikirannya tenang.

Sedangkan Arga saat ini sedang bersama Aluna di apartemen milik Arga itu. Sesaat setelah sampai di rumahnya tadi, Arga mendapat telfon dari Aluna yang menyuruhnya datang ke apartemen karena dia ketakutan.

"Ada apa?" tanya Arga setelah Luna mulai tenang.

"Papa mencariku, dia menyuruh beberapa bodyguardnya untuk menyisir kawasan disekitar sini, bagaimana ini? ucapnya gelisah.

"Tenanglah, disini kamu akan aman" ucap Arga menenangkan. Aluna beberapa kali mengatur pernapasannya agar lebih rileks.

"Itu cincin baru?" tanya saat melihat cincin dijari manis Arga.

"Ahh.. ini.. Hanya cincin biasa. Cincin peninggalan Papa, kalau tidak dipakai takutnya hilang" Arga mencoba menutupi kebenaran tentang pernikahannya.

"Ohh"

"Kamu harus segera mencari tempat tinggal, tidak mungkin kamu disini semalanya" ucap Arga.

"Aku akan disini sementara ini, minggu depan aku akan ke Paris" ucapnya sembari membereskan meja yang berserakan karena dia barusaja makan.

"Baiklah. Apa kau yakin akan kesana?" tanya Arga lagi.

"Ini adalah impianku sejak lama, aku sudah memutuskan untuk kesana. Ini hal yang aku suka. kamu juga tau itu" ucap Luna yang berhenti sejenak membereskan meja kemudian menatap dalam Arga.

"Hmm. Terserah kau saja" ucap Arga.

"Setelah semua yang aku inginkan terwujud, aku akan kembali kesini dan membuktikan pada mereka bahwa aku bisa" ucap Luna lagi. Arga hanya mengangguk mendengar penjelasan Luna.

Hingga malam menjelang Arga masih belum kembali kerumah. Nasya yang khawatir mencoba menghubungi suaminya tapi tidak diangkat, dia kirim pesanpun tidak kunjung dibaca.

*Mas, dimana? Ini sudah malam. Makan malam

sudah siap* Begitulah isi pesan Nasya yang tidak mendapat respon dari Arga.

"Tidak dibaca bik. Mas Arga kemana ya?" ucap Nasya pada bibi yang juga ikut khawatir.

"Ya sudah, mungkin masih repot Non. Lebih baik Non makan dulu saja" ucap Bibi sambil membalik piring Nasya.

"Aku harus menunggu Mas Arga pulang dulu bik, masa nanti aku sudah makan Mas Arga belum makan" ucapnya sambil tersenyum.

"Ya sudah? bibi tinggal beberes dibelakang ya Non"

"Iya Bik"

Nasya beberapa kali melihat ponsel, tetapi belum ada respon sama sekali dari Arga. Hingga pukul 10 malam, Nasya masih menunggu Arga di sofa ruang tamu. Tapi suaminya itu tidak kunjung muncul. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali kekamarnya karena dia pun sudah mengantuk.

Sampai dikamar, dibukanya balkon kamar dan duduk dikursi yang ada dibalkon, mengecek ponselnya lagi dan lagi tetap tidak ada balasan. Hingga akhirnya dia tertidur dikursi panjang yang ada dibalkon.

Arga tertidur di sofa apartementnya. Luna yang melihat itu hanya membiarkan saja karena Arga tidur dengan pulas.

Saat tengah malam, Arga terbangun. "Astaga, sudah tengah malam" gumamnya, Arga melihat sekeliling, "Luna sepertinya sudah tidur, lebih baik aku pulang" Arga segera bangkit dan keluar dari apartement itu.

Sampai dirumah, dia masuk ke kamarnya yang gelap, melihat kearah ranjang yang kosong, kemudian mencari keberadaan Nasya, yang ternyata ada di sofa balkon sedang tidur.

Arga menggoyang-goyangkan kaki Nasya, tetapi Nasya hanya berubah posisi. Arga semakin kencang menggoyangkan kakinya.

"Ehm.. Mas." Nasya akhirnya bangun.

"Apa ranjangnya sudah tidak layak? Kenapa tidur disini" bentak Arga kesal.

"Maaf mas, tadi ketiduran" ucap Nasya dengan suara serak khas bangun tidur. Tanpa mendengar penjelasan Nasya, Arga melenggang masuk ke dalam kamar mandi.

Nasya menyiapkan pakaian suaminya dan duduk dimeja rias, merapikan rambutnya yang acak-acakan. Setelah suaminya selesai mandi dan berpakaian. Nasya menghampiri suaminya.

"Mas, sudah makan? mau aku siapkan?" tanya Nasya.

"Sudah" ucap Arga singkat kemudian membaringkan badannya. Nasya hanya mengangguk dan menaiki ranjang untuk tidur.

Satu minggu kemudian.

Pagi harinya, Nasya bangun terlebih dulu. Setelah menyiapkan semua keperluan suaminya, Nasya turun kedapur untuk menyiapkan sarapan. Sarapan sederhana, hanya nasi goreng dan telor ceplok.

Setelah semua siap, dia kembali kekamar untuk membangunkan Arga.

"Mas, bangun, sudah siang ini" Nasya menggoyang-goyangkan kaki Arga.

"Hmm" Arga semakin menenggelamkan wajahnya dibantal. Nasya semakin mendekat ke Arga, dan menggoyangkan tubuh Arga.

"Kamu itu kenapa sih? Ini kan masih pagi" bentak Arga kesal.

"Mas, ini sudah jam9 lebih" ucap Nasya lembut.

"Apa? Kenapa tidak membangunkanku" Arga bangkit dan langsung berlari menuju kamar mandi.

Setelah menyiapkan pakaian Arga, Nasya turun menuju meja makan lebih dulu. Tak berselang lama Arga muncul, sudah berpakaian rapi, menuju pintu keluar.

"Mas, mau kemana? Sarapan dulu" teriak Nasya sembari berdiri.

"Nanti" ucap Arga singkat.

Arga terburu-buru, melajukan mobilnya dengan cepat menuju apartemen.

"Maaf terlambat aku terlambat, semua sudah siap?" ucap Arga terengah-engah karena setengah berlari. Luna hanya mengangguk dan menyeret kopernya keluar apartement. Arga membantunya membawa beberapa barang bawaannya.

Hari ini adalah hari keberangkatan Luna ke Paris untuk mengejar mimpinya.

Sampai di bandara, Aluna segera menuju ke bagian check in, dia terus melihat kebelakang, berharap orang yang dia tunggu muncul untuk mengucapkan salam perpisahan. Dia melambaikan tangan pada Arga.

Arga pun melambaikan tangan, dan menunggu sejenak hingga punggung Luna sudah tidak terlihat lagi. "Semoga berhasil" doanya pada Luna.

Arga tau seseorang yang di tunggu Luna, sebenarnya ada di dekat mereka, hanya saja dia tidak mau muncul di depan Luna. Dia bersembunyi di kumpulan banyak orang, yang mengantar keluarga mereka yang akan terbang. Arga membiarkan itu dan tidak ingin ikut campur.

Setelah mengantar Luna, Arga kembali kerumahnya, dengan wajah lelah dan perut terasa sangat lapar. Nasya yang melihat wajah suaminya segera menghampirinya.

"Mas belum makan kan? Aku siapkan makanan dulu" ucap Nasya dengan semangat. Dia sebenarnya sangat ingin bertanya pada suaminya itu apa yang baru saja dilakukan dan kenapa dia pergi dengan terburu-buru. Tapi di urungkannya.

"Iya" jawab Arga singkat.

Setelah makanannya sudah siap. Nasya memberitahu Arga untuk ke meja makan.

"Mas, sudah siap. Ayo makan" ajak Nasya.

Tanpa menjawab, Arga bangkit dan menuju meja makan. Nasya pernah mendengar kalau ingin merebut hati seseorang melalui perutnya terlebih dahulu, dan ini yang sedang Nasya usahakan.

Arga menyuap nasi goreng yang dibuatkan Nasya.

"Hmm" gumamnya pada suapan pertama, dia merasakan bahkan nasi goreng buatan Nasya sungguh enak. hingga tak terasa dia menghabiskan semuanya.

Nasya yang melihat itu merasa lega karena masakannya sesuai dengan selera suaminya.

"Enak mas?" tanya Nasya.

"Lumayan" jawab Arga singkat.

Setelah makan, mereka menghabiskan waktu dengan urusan masing-masing, Arga masuk ke ruang kerjanya melihat beberapa email yang masuk dan Nasya berada di taman belakang rumah untuk merawat tanaman disana.

Malam hari setelah makan malam, saat Arga di kamar mandi, ponselnya berbunyi. Awalnya Nasya mengabaikan tapi ponselnya terus berbunyi. Sehingga Nasya berpindah sisi ranjang yang biasa digunakan Arga.

Nasya melihat nama yang tertera disana disertai foto seorang gadis cantik sedang berpose.

"Aluna" ucapnya kemudian terdiam dan hanya melihat kearah ponsel itu.

"Sedang apa?" ucap Arga dari depan pintu kamar mandi.

"Aluna" gumam Nasya lirih.

"Siapa Aluna Mas?"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status