Share

Penjara Perpisahan

Masih di hari yang sama, Vika dan Risa beranjak dari tempat tingga untuk menemui sang tahanan. Selama di taksi, gadis yang rambutnya dikepang itu gundah. Kekhawatiran muncul tanpa ada alasan yang jelas. Berulang kali ia menyelentik kuku sendiri hingga ujung jarinya terasa perih.

“Udah … santai aja, Vi,” tukas Risa yang memperhatikan.

“Kalau Ayah tidak suka, bagaimana?”

“Kenapa mesti tidak suka? Aku berani jamin jika Kakak akan merasa takjub dan puas ketika mencicipi masakanmu itu.”

Setiap pikiran berkecambuk, Risa selalu dapat mengusirnya dan membawa ketenangan buat Vika. Terkadang beberapa orang menyayangkan keputusan Risa yang tidak kunjung berkeluarga. Padahal, figure keibuan telah melekat kuat.

Kendaraan beroda empat berhenti di depan lapas. Suasana mencekam terasa lagi sekalipun adik Aris pernah datang ke sana. Sempat terpikir apakah kemenakan akan takut ketika berada di sana? Mengingat yang selama ini dilihat Vika hanyalah dunia indah penuh warna.

Risa membuka pintu mobil dan meraih tangan mungil lalu membantunya melankah turun. Kedua wanita itu masih bergandengan ketika memasuki rumah bagi para kriminal.  

Meminta izin menjadi hal pertama yang dilakukan tentunya. Barulah mereka diajak masuk ke ruang pertemuan.

"Ayah ...," teriak Vika. 

Kedua kepangan berayun, mengikuti derap langkahnya yang terburu-buru. Bahagia dirasakan oleh tiap inchi tubuh. Rasa itu tidak kalah besar ketika diumumkan sebagai juara kelas. Rindu tersampaikan, biarpun terhalang kaca setebal dua cm.

Duda yang ditinggal mati oleh istri itu lantas tersenyum dan mengangkat gagang telepon.  Kemudian, anaknya ikut mendekatkan benda putih ke arah telinga agar dapat mendengar suara malaikat di sana. 

"Bagaimana kabarmu, Nak?"

"Baik! Ayah sendiri bagaimana?" Manik hitam memandangi sosok gagah dengan wajah kusut. 

"Ayah baik-baik saja."

Kompak. Sebuah keluarga memang seharusnya begitu. Namun, yang tengah dilakukan keduanya adalah memberi kebohongan. Tidak ada yang ingin kedihannya terciduk.  

"Ayah, aku bawakan makanan. Ayah pasti tidak percaya, aku memasak ini sendiri." Vika mengeluarkan kotak bekal dari tas punggung yang dikenakan diiringi asal-usul bagaima makanan tersebut dibuat.

Lancar Vika mengurai memori. Bawang yang menggelinding jatuh pun tidak luput dibicarakan. Tiap langkah telah terlis dengan sempurna, kecuali satu kecerobohan. Ia menyembunyikan jari berplester, telepon di sisi kiri bahkan dipengangi dengan tangan kanan. Namun, keseruan membuat Aris sama sekali tidak menyadari. 

Petugas meminta kotak tersebut untuk diberikan pada Aris. Usai menerima hadiah dari sang putri, tahanan itu langsung memakannya. Lagi-lagi ia tersenyum menatap buah hati yang begitu perhatian.

"Hem ... enak sekali," ucapnya sambil menguyah udang. "Putri Ayah sudah jago masak sekarang."

"Ayah pasti bohong! Kata Tante, masakannya keasinan tuh." Vika memajukan bibir tanda jika tidak senang akan jawaban tersebut. Dalam hati lebih mengharapkan kritik agar bisa berbenah diri.

"Tidak kok. Ini masakan terenak yang pernah Ayah makan. Sungguh! Jangan dengarkan tantemu, Risa hanya tidak doyan asin."

"Kalau begitu, apa Ayah suka?"

"Suka sekali.” Cepat jawaban meluncur dari bibir yang terkena cipratan kuah dari tumis tersebut.

"Apa Ayah tahu?" Gadis berbaju lengan panjang itu meletakkan telepon sejenak. Ia berdiri dan mengeluarkan foto dari dalam saku celana. Kemudian, didekatkan ke kaca. 

"Aku menemukannya saat bersih-bersih," lanjutnya.  

"Benarkah?" Jari Aris meraba pembatas. Sesekali netra memandang sang putri, sebelum kembali terikat pada potret pujaan hati. "Kamu bahkan lebih cantik dari ibumu."

Vika tertawa, disusul senyum pria beranak dua. Mereka saling pandang, sebelum akhirnya petugas memotong percakapan dan berkata jika waktu kunjungan telah habis. 

"Jaga kesehatanmu, Nak," pesan Aris sebelum meletakkan kembali telepon dan berjalan pergi.

Singkat, tetapi pertumuan singkat itulah yang menyadarkan keduanya, bahwa waktu bukan hal yang mampu dibeli atau ditawar. Di kala berjalan menjauh, mereka luar biasa bahagia karena dapat berbincang. Dahulu mereka tidak pernah menyadari apalagi mensyukuri momen serupa. 

"Bagaimana, Vi?" tanya Risa yang telah menanti di luar. Ia memilih di sana agar tidak mengganggu pertemuan anak dan ayah.

"Ayah bilang jika dia menyukai masakanku."

"Tentu saja. Kan aku yang ngajarin.” Risa mengelus kepala sang keponakan. “Udah, ayo pulang."

***

Si gadis berambut panjang  termangu. Ruangan seluas 3x4 meter menjadi tempat sempurna untuk mengenang perjumpaan singkat. Mendadak, dirinya teringat akan buku harian yang sewaktu SD diterima sebagai hadiah ulang tahun. Pasti ada sesuatu yang menyenangkan saat dibaca. 

Segeralah bangkit dan membongkar lemari.

Walaupun enam tahun terlewat tanpa pernah mencari, ia masih ingat jika buku tersebut diletakkan di bagian paling bawah. Satu per satu baju dikeluarkan. Ia coba meraih benda yang disembunyikan di balik kerudung lama.

"Ketemu juga," ucapnya tanpa lawan bicara.

Sampul merah muda yang cantik. Menara Eifell menambah elegan penampakan dari buku tersebut. Ketika halaman pertama dibalik, tampak nama Vika Ayla Ramadhani. Terlihat pula beberapa catatan. Ia tersenyum, dirinya lupa jika pernah menulis aksara miring seperti tertiup angin. Untung saja kini tulisan tangan sudah lebih baik disbanding ketika pertama kali menginjak bangku sekolah. 

Tiap halaman tidak luput dari amatan. Rasanya seperti terjun ke masa lalu dan menonton diri sendiri pada waktu yang berbeda. Total ada 53 halaman yang berisi tulisan, sisa tiga puluh tujuh. Antusiasnya menggema, ingin meneruskan catatan hingga memenuhi buku tersebut. Akhirnya, dilukislah perasaan yang mampir usai mengunjungi ayah. 

Di hari Minggu berikutnya, Risa kembali berbincang dengan sang kakak. Kali ini bukan sekadar basa-basi, menanyakan kondisi yang sudah tentu tidak baik. Melainkan, mengutarakan pendapat yang telah lama  terpendam. Awalnya Risa tampak gugup, khawatir melintas di pikiran. Apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang mampu memancing emosi Aris. 

“Tadi katamu mau bilang sesuatu, kenapa diam?’’ Tanya Aris yang tidak sabaran.

"Kak, bagaimana kalau ...," tuturnya terhenti. Wanita lajang itu menghela napas, sejenak mengumpulkan keping keberanian.

"Bagaimana apa?" Tidak bisa menebak jalur pikiran adiknya.

"Bagaimana kalau menjual tanah keluarga? Sebenarnya aku sudah mengumpulkan uang, tapi masih kurang setengah lebih."

Tidak ada jawaban. Hanya hening yang membuat batin Risa makin diliputi risau. Ia menunduk, belum berani mengangkat pandangan. Raut tidak senang memenuhi wajah ayah Vika. Pria itu hanya menopang kepala dengan satu tangan, menatap wajah di balik kaca lalu membuka mulut. "Itu masih milik ayah."

"Bukan!" Lantang Risa menyuarakan opini di tengah kecanggungan. "Jika aku meminta, suratnya pasti akan langsung diberikan. Kakak, jangan keras kepala, Kakak mungkin akan baik-baik saja di sini, tapi bagaimana Vika meneruskan hidup tanpa ayah dan uang? Kakak harus bertanggung jawab untuk kepenuhan anak itu. Apa Kakak tahu betapa depresi ia menanggung rindu? Para tetangga juga selalu siap menerkam keponakanku dengan kalimat tajam mereka!"

Wajah Aris serasa ditampar. Kalimat tersebut cukup membuat egonya luntur. Selama ini, pria tersebut selalu enggan menerima bantuan karena baginya, pria harus bisa mengatasi semua permasalahan sendiri. 

Namun, pada momen ini, kenyataan pahit mulai memenuhi netra. Egonya saja yang besar, tapi usaha Aris untuk memperbaiki bisnis hampir mendekati nol. Selain menciptakan gunung hutang, tidak ada yang dirinya lakukan. 

Lama berpikir, menggaruk kepala yang tidak gatal. Sesekali diliriknya sosok muram di depan lalu menjawab, "Baiklah. Kalau begitu, tolong bantu aku."

Binar seketika terpantul dari manik hitam Risa. Dirinya takjub dengan perubahan pria bergodek tipis yang teramat cepat. Bisa dibilang, ini pertama kali ia dimintai tolong. Bertahun-tahun mencoba meruntuhkan dinding kesombongan Aris, akhirnya berhasil. Sesuai firman Allah, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Mungkin, inilah hikmah yang terpetik dari badai cobaan. 

"Iya, Kak. Aku akan langsung pulang ke rumah Ibu dan ...." Sudah amat antusias, lagi-lagi kalimatnya terputus. 

"Bukan itu! Tolong lelang rumahku segera dan carikan tempat tinggal sementara untuk Vika. Hutang harus segera dilunasi terlebih dahulu. Jika sudah, aku akan berusaha keras agar bisa membeli rumah lagi." Panjang lebar Aris menjelaskan permintaan.

"Tapi, Kak, kenapa harus menempuh jalan sulit, jika ada yang lebih mudah? Biar aku saja yang menjual tanah warisan." Wanita dengan tahi lalat di bawah bibir itu mulai tidak sabar. Keningnya mengkerut dengan debar jantung yang bertalu-talu.  Napasnya juga sedikit terengah-engah. 

"Suatu saat kamu akan berkeluarga, Sa. Ketika itu terjadi, kamu butuh banyak uang. Jangan sampai kesalahan ini terulang hanya karena terdesak situasi." Rasa sesal membuat Aris lebih berhati-hati, sekalipun untuk sekadar menuturkan aksara. Biar saja kemalangan menimpa dirinya, asal bukan adik yang sangat disayangi. 

"Jam kunjungan sepertinya akan segera habis. Tolong lakukan yang aku katakan tadi, aku percaya padamu, Risa," lanjutnya sebelum meninggalkan ruang komunikasi. 

Netra Risa masih terikat pada pundak Aris. Lebih dari siapa pun, ia tahu jika kakaknya bukan sengaja menempatkan diri sendiri dan keluarga dalam ngarai penuh duri. Namun, yang terlanjur tidak akan bisa diulang. Wanita itu pun meletakkan gagang telepon ke tempat awal dan mulai beranjak setelah salah satu petugas mempersilakan dirinya untuk kembali.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status