Share

Chapter 2 • Rain

Rumor bahwa cuaca di masa sekarang sangat sulit di prediksi memanglah benar adanya. Seperti saat ini, dua puluh menit yang lalu Lea masih bisa merasakan sengatan cahaya matahari saat ia keluar dari  supermarket dan sekarang malah tanpa aba-aba hujan turun secara keroyokan alias deras memaksa penghuni bumi untuk sekedar melipir dan meneduh.

Seperti gadis berkaus putih dengan cardigan coklat susu yang berdiri dengan wajah ditekuk di salah satu tempat teduh.

Lea. Gadis itu adalah Lea.

Sudah sekitar lima belas menit dia berdiam diri di emperan toko yang tutup, namun belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Gadis itu menghela napas. Niat hati ingin mampir ke supermarket untuk membeli bahan masakan sebelum dirinya menuju apartemen Ken, yang ada malah dirinya terjebak sendirian di sini.

Lea mengeratkan genggamannya pada kantung belanjaan yang berlogo salah satu super market besar. Gadis dengan rambut di kuncir setengah itu menggigit bibirnya sambil menunduk. Dingin.

Dia sudah mencoba menghubungi Ken, tapi ponselnya tidak aktif. Terang saja, tadi sebelum Lea pergi ke supermarket Ken sudah bilang bahwa dia ingin tidur dan ponselnya sedang lowbat yang mana saat ini pasti sudah mati. Ugh, bisa Lea bayangkan Ken yang sedang bergulung di balik selimut tebal dengan nyaman, berbanding terbalik dengan dirinya yang malah terciprat guyuran hujan seperti ini.

Lea mengedarkan pandangan, menunggu taksi yang mau mengangkutnya. Entah memang mungkin ini hari sial atau apa, dari tadi Lea menunggu namun tidak ada satupun taksi yang lewat mau berhenti ketika dia melambaikan tangan.

Layanan online? Jangan di tanya. Andai saja bisa, Lea pasti sekarang sudah berada di dalam kendaraan yang dia pesan. Sekali lagi, ini memang mungkin hari sialnya. Kuota intetnetnya dari jam dua belas tadi sudah habis dan belum sempat Lea membeli pulsa untuk isi ulang.

Tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang berhenti di depan ruko samping Lea berdiri. Lamat-lamat Lea perhatikan saat pengendara itu membuka helm.

Lea melebarkan matanya dengan mulut terbuka,

"ARGAN!" teriak Lea girang saat menyadari bahwa orang tersebut adalah orang yang dia kenal (read : sekedar tahu).

Berbeda dengan Lea yang terlihat senang hingga bertepuk tangan, Argan malah terkejut bukan main. Dia kira dia sendiri di sini sampai tiba-tiba suara memekakan telinga itu mengejutkannya.

Siapa pula gadis ini- batin Argan. Hampir saja Argan terjungkal ke kubangan air yang ada di sampingnya jika tidak berpegangan pada tembok di sebelahnya.

Argan menegur gadis yang tidak dia kenal itu dengan tatapan khasnya yangvterkadang membuat lawan bicaranya takut.

Bukannya takut, gadis di hadapannya itu malah bertanya. "Lo kehujanan juga, ya?"

Argan membuang muka malas. Pertanyaan bodoh, decak laki-laki itu dalam hati.

Argan menyilangkan tangannya di dada guna menghalau hawa dingin tanpa menghiraukan gadis yang kini melongokan kepalanya ke ruko tempat Argan berteduh.

Melihat Argan yang acuh, Lea memutar bola matanya. "Kalau ada orang nanya itu di jawab. Guna mulut buat apa coba,"

Tak lama terdengar grasak grusuk suara kantung plastik. Argan melirik sebentar.

Tanpa di sangka ada uluran minuman kaleng dari gadis yang sekarang sedang nyengir lebar.

"Buat lo, biar mulut lo nggak lengket karena kelamaan mingkem," Argan menatap sinis gadis berkuncir setengah itu sebelum mengalihkan pandangan ke sebrang jalanan tanpa menghiraukan uluran itu.

"Nggak apa-apa lo nggak suka sama makanan, minuman, atau orangnya. Tapi kalau lo di kasih sesuatu itu harus di terima," ucap Lea.

Gadis itu menggoyangkan kaleng di tangannya. Dirasa tak ada sambutan, Lea akhirnya menempelkan tubuhnya ke tembok dan mengulurkan tangan agar menjangkau lipatan tangan Argan untuk menjejalkan minuman kaleng ke sela lipatan.

Argan sempat memberontak dengan melepas kaitan tangan di dadanya, namun dengan tenaga penuh Lea akhirnya bisa meletakan minuman kaleng itu ke telapak tangan Argan.

"Minum aja kenapa, sih. Nggak gue kasih racun kok,"

Argan akhirnya menerima minuman itu dan langsung membukanya. Meminumnya seteguk.

Baru saja Argan ingin kembali mengangkat kaleng kecil itu ke bibirnya ketika suara sindiran terdengar di telinganya. "Iya, sama-sama Argan,"

Argan melirik gadis itu sekilas sebelum menenggak habis minuman itu. Kemudian dia mengulurkan kaleng yang sudah kosong itu pada gadis di sebelahnya.

Lea yang melihat uluran kaleng kosong hanya bisa mengangkat alis bingung. Apa nih?

"Titip,"

Lea masih tidak mengerti. Titip apa? Sampah?

Argan mendecak, "Nggak ada tong sampah,"

Lea membulatkan mulut dan mengangguk mengerti. Gadis itu kemudian menerima kaleng kosong dan memasukannya ke kantung belanjaan. Biar saja nanti dia bereskan ketika sampai di apartemen Ken.

Tidak ada suara selain suara hujan yang semakin deras dan suara kendaraan di kejauhan.

"Argan," panggil Lea tanpa menoleh. Begitupun Argan yang juga tidak tertarik untuk menoleh pada sumber suara itu.

"Lo punya kuota internet nggak?"

Argan menoleh pelan. Heran.

"Gue mau pulang pake ojol tapi kuota gue abis," terang Lea sambil menoleh ke Argan yang ternyata juga sedang memandangnya lekat. Buru-buru Lea kembali ke posisi awal. Mengalihkan pandangan dengan canggung.

Argan kembali memutar kepala seperti semula. "Bareng."

"Maksudnya?" tanya Lea.

Argan ini bisa tidak sih bicara langsung satu kalimat dan bukannya sepotong-sepotong seperti ini.-batin Lea

"Bareng. Ujan reda," Lea kembali mengerutkan dahi. Setelah beberapa detik akhirnya Lea memahami kalimat rancu itu.

"Oh! Lo ngajak gue balik bareng? Pas ujan reda?" Argan hanya berdehem sebagai respon.

"Ngomong gitu aja di singkat-singkat. Dikira jaman SMS kali ah," gerutu Lea.

Mereka kembali diam. Menikmati rintikan hujan yang akhirnya perlahan mereda dan sekarang tinggal tersisa gerimis tipis. Lea yang melihat Argan mulai memakai helm dan menaiki motor besarnya akhirnya meraih semua kantung belanjaan dan berjalan mendekati laki-laki itu.

"Ini taruh di mana?" tanya Lea begitu melihat jok penumpang yang sangat kecil dan pastinya akan sulit membawa kantung-kantung ini bersamanya. Lea mengusap pelan rambutnya yang terkena rintikan gerimis dengan lengan atas.

Argan menoleh. Memandang Lea sebentar sebelum melepas helm yang dia pakai untuk diulurkannya pada Lea. Gadis itu menyambut uluran Argan dengan muka bingung. Argan meraih semua kantung belanja yang di pegang Lea untuk ditaruhnya di stang motor.

Setelah Argan beres dan menyalakan mesin, dia mengedikkan dagu. Menyuruh Lea bergegas menaiki motornya.

Tanpa di suruh dua kali, Lea langsung memakai helm dan menaiki motor besar Argan.

"Udah," kode Lea, memberi aba-aba bahwa dia sudah siap.

Tanpa kata, Argan langsung memacu motornya kencang membuat Lea hampir terjungkal karena terkejut.

Gadis itu refleks memegang pundak Argan erat sebagai pegangan. Setelah di rasa dia mulai stabil, Lea menepuk bahu Argan.

"Pelan-pelan Argan," ucapnya.

Bukannya menuruti apa kata Lea, Argan malah menambah kecepatannya. Lea semakin memegang pundak Argan erat, matanya terpejam ngeri.

"ARGAN! GILA LO YA?!" Teriak Lea. Kaki gadis itu semakin menekan di pijakan motor, takut kepleset dan dia mental dari kuda besi yang sedang melaju cepat itu.

Bruuuumm!

"GUE NGGAK BAKAL MAU DI BONCENG LO LAGI!"

BRUUUMMM!!!

Lea akhirnya menubrukan diri ke punggung Argan. Terdengar benturan dari helm yang gadis itu pakai dengan punggung keras Argan. Lea memegang jaket laki-laki itu erat, matanya terpejam.

"ARGA SIALAN!!! JANGAN NGEBUT BISA NGGAK, SIH?! EMANG LO TAU RUMAH GUE DI MANA? Ha?!" teriak Lea di dekat telinga Argan. Berharap laki-laki itu mengurangi laju kendaraannya.

Dan benar saja, motor yang Lea naiki memelan. Eh, kok berhenti? pikir Lea. Gadis itu membuka mata perlahan. Oh, lampu merah!

Lea langsung duduk tegak dan memukul-mukul punggung Argan gregetan tanpa memperdulikan tatapan pengendara lain, "Lo tuh, kalau mau mati, mati aja sendiri! Jangan ngajak gue! Gue masih mau ngerasain nikah dan punya anak! Ih-"

"Rumah dimana?" potong Argan tanpa menoleh. Lea jadi bingung, ini orang ngomong sama siapa sebenarnya?

Tangan Lea yang hendak kembali melayangkan pukulan terhenti di udara, "Ha?"

"Rumah," ulang Argan.

"Oh, Apartemen Griya Indah. Itu sebenarnya-- E-eh, EH! ARGAN SINTING!!! AAAARRRGGHHHH!!!" teriak Lea begitu Argan langsung menancap gas saat lampu berubah hijau.

Motor Argan melaju cepat mengabaikan kendaraan di belakang yang beberapa kali memberinya klakson peringatan. Sumpah Tuhan, gue ngga mau mati muda. Gue belum kawiiiiiinnn,- Lea merapalkan do'a dalam hati.

•••

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status