Share

BAB 6 Mengundurkan diri

"Apa yang kamu lakukan, Nina?" suara itu tiba-tiba terdengar, mengoyak keheningan dan membuat bulu kuduknya merinding.

Venina terperanjat mendengar suara itu. Mulutnya setengah terbuka dan napasnya tercekat ketika tatapannnya berserobok dengan mata Alfian. 

“Kamu sedang apa?” ulang Alfian lagi dengan wajah tenangnya. Matanya tidak terlepas dari wajah Venina.

Venina menoleh dengan lambat, napasnya tercekat ketika mata bertemu dengan sosok Alfian. Tatapannya terpaku pada wajah tenang pria itu, namun tubuhnya bergetar dalam ketegangan yang tak terlukiskan.

"Saya.. saya harus pulang, Pak," ucap Venina dengan suara yang terbata-bata, mencoba menahan kecemasan yang melanda dirinya. Kehadiran Alfian membawa sedikit kelegaan, namun ketegangan masih menguasai dirinya.

Alfian mengernyitkan dahinya. “Pulang?” tanyanya sambil bersedekap.

Venina menganggukan kepalanya sambil mengalihkan pandangannya.”Saya… saya harus pergi sekarang, Pak.”

“Apa yang terjadi, Nina? Kenapa harus terburu-buru seperti ini? tanya Alfian yang kini melangkah mendekat ke arah Venina. “Bukankah masih ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan di sini?” 

Venina terdiam sejenak, mencoba merumuskan jawaban yang tepat. Namun, sebelum dia bisa mengatakannya, Alfian sudah menariknya menjauh ke tempat yang lebih sepi.

"Tunggu sebentar di sini," bisik Alfian sambil memberikan jaketnya kepada Venina sebelum melangkah pergi.

Terdiam dan bingung, Venina berdiri di tempatnya dengan hati yang berdebar kencang. Dia tidak tahu apa yang terjadi atau mengapa Alfian menariknya menjauh. Tetapi ketika dia mendengar suara Erlangga yang datang dari kejauhan, dia mulai memahami situasinya.

Dengan perasaan yang tercampur aduk, Venina merasa bahwa dia harus segera pergi dari sana dan menghilang secepatnya. Dia tidak ingin bertemu dengan Erlangga lagi setelah apa yang terjadi semalam. Rasa malu dan kecemasan mencampuri pikirannya saat dia melangkah menjauh dengan langkah cepat.

Tanpa berpikir panjang, Venina bergegas mencari taksi untuk membawanya ke bandara secepat mungkin. Matanya terus memantau sekitar, khawatir Erlangga akan muncul kapan saja. Setiap suara yang terdengar membuat hatinya berdebar lebih kencang.

Taksi akhirnya tiba, dan Venina segera melompat masuk dengan gerakan canggung.

"Ke bandara, secepatnya," ucapnya pada sopir taksi dengan suara yang bergetar, sementara dia memasuki kendaraan dengan hati yang berdebar kencang.

Taksi segera melaju meninggalkan hotel itu jauh di belakang, tetapi Venina masih merasa seperti dia tidak bisa bernafas. Pikirannya terus-menerus berputar, mencoba memahami betapa cepatnya semuanya berubah, betapa cepatnya hidupnya berubah menjadi seperti dalam mimpi buruk.

Dia menutup mata, berusaha menenangkan diri, tetapi bayangan Erlangga masih menghantui pikirannya. 

***

Venina berdiri di depan meja Erlangga dengan tangan gemetar, menatap surat pengunduran dirinya yang dia letakkan di atasnya. Rasanya seperti sebuah akhir dari babak hidupnya yang lama, tempat di mana dia telah berjuang, berusaha, dan terjebak dalam hubungan yang rumit dengan atasannya sendiri.

Dengan napas yang terengah-engah, dia mencoba menenangkan diri, mengingat keputusannya untuk berhenti dari pekerjaan yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama ini. Meskipun ada rasa lega karena Erlangga tidak ada di ruangannya saat ini, Venina tetap merasa cemas dengan langkah yang akan dia ambil selanjutnya.

"Sudahlah, Nina. Ini yang terbaik," bisiknya pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hatinya.

Dia memutuskan untuk berhenti sejenak, menatap sekeliling ruangan kantor yang telah menjadi saksi bisu dari banyak cerita dan perjuangannya. Sementara itu, perasaannya terus bergolak, mencoba memproses semua yang telah terjadi dalam waktu singkat.

Saat dia hampir akan meninggalkan ruangan itu, terdengar langkah kaki yang mendekat. Venina memalingkan pandangannya dan melihat Alfian berdiri di ambang pintu. Hatinya berdebar keras, dan dia merasa seperti dunia di sekitarnya berhenti berputar untuk sejenak.

Alfian melangkah masuk dengan langkah mantap, matanya menatap Venina dengan tajam, seolah-olah mencoba mencari jawaban atas kehadirannya yang tiba-tiba. "Venina," sapanya dengan suara yang tenang, tetapi penuh dengan ketegasan.

Venina mencoba untuk tidak menunjukkan betapa terkejutnya dia dengan kemunculan Alfian. "Pak Alfian," jawabnya dengan suara yang sedikit gemetar, mencoba menutupi rasa cemas di dalam dirinya.

Alfian mendekati Venina dengan langkah yang mantap, tatapannya tidak berubah dari sebelumnya. "Akhirnya kamu kembali juga.”

Venina merasa tegang. Dia merasakan tubuhnya menjadi kaku, tidak tahu apa yang harus dikatakan pada Alfian. Dia hanya ingin pergi dan melupakan semuanya.

Alfian melangkah mendekati Venina, menyadari kegelisahan yang terpancar dari wajah wanita itu. “Apa kamu baik-baik saja, Nina?” tanyanya dengan suara yang masih lembut. “Saya khawatir karena kamu menghilang begitu saja kemarin dan tidak ada kabar setelahnya.”

Venina menelan ludah, mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat. "Saya… saya baik-baik saja, Pak. Dan maaf karena saya pergi begitu saja.”

Alfian menatapnya dengan tatapan yang penuh pengertian. "Saya mengerti. Tapi, bolehkah saya tahu apa yang terjadi? Apa yang membuatmu begitu terburu-buru?" tanyanya dengan lembut.

Venina merasakan napasnya tersangkut di tenggorokan. “Tidak… tidak ada apa-apa, Pak. Saya hanya tidak bisa bekerja lagi di sini?”

“Jadi, kamu mau mengundurkan diri?” desak Alfian dengan wajah tenangnya yang semakin membuat Venina merasa tak nyaman.

“Maaf karena saya membuat keputusan yang tiba-tiba, Pak,” tambah Venina, mencoba untuk tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang dalam kecemasan yang meluap-luap.

Alfian mengangguk, tetapi ekspresinya masih penuh tanda tanya. “Kamu yakin akan pergi begitu saja seperti ini tanpa bertemu dengan Erlangga dulu?” 

Tubuh Venina semakin menegang dan lidahnya terasa kelu. Dia ingin cepat keluar dari situasi ini secepatnya.

Alfian menatap Venina dengan ekspresi yang berubah-ubah. "Baiklah," lanjutnya akhirnya setelah beberapa saat terdiam. "Saya tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal  kalau memang kamu sudah membuat keputusan."

Venina merasa lega mendengar kata-kata itu, tetapi masih ada rasa cemas yang menghantuinya. "Terima kasih, Pak Alfian," ucapnya dengan suara yang bergetar.

Alfian mengangguk, lalu melangkah mendekati Venina. "Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu cari, Venina," ucapnya dengan lembut sambil menepuk bahu wanita itu. “Dan ingatlah kalau terkadang ada saatnya kita harus bersenang-senang dan tidak menganggap suatu hal dengan terlalu serius.”

Venina menelan ludahnya dengan susah payah, mencoba mencerna perkataan Alfian yang terasa sangat tersirat untuknya. Entah khayalannya saja atau bagaimana, dia merasa jika pria itu baru saja tersenyum dengan penuh arti padanya. 

“Baik, Pak,” ucap Venina setelah cukup lama diam. “Sekali lagi terima kasih,” tambahnya sebelum melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alfian di ruangan itu.

“Sampai jumpa lagi, Nina. Saya punya firasat kalau kamu akan segera kembali lagi!” seru Alfian ketika Venina sampai di ambang pintu.

Venina hanya menoleh sebentar sambil tersenyum kecil. Dia tidak tahu apa maksud perkataan pria itu yang terdengar sangat lantang di telinganya.   

Mungkinkah sebenarnya Alfian sudah tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Erlangga? Atau mungkin pria itu hanya sedang mengujinya? Entah kemungkinan mana yang benar, tetapi Venina bertekad dengan sepenuh hati jika dirinya tidak akan kembali lagi.

Setidaknya itulah keyakinannya saat ini, tanpa tahu apa yang akan terjadi…

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status