Share

ISTRI MUDA
ISTRI MUDA
Author: nonakwon

PROLOG

Aku menarik Aiman keluar rumah. Bapak memperhatikan kami dari kursinya. Begitu pula dengan ibu yang sedang bermain dengan anak polisi yang bapaknya kini sedang kuseret tangannya keluar pagar.

Om terkampret ini malah senyum-senyum sendiri karena kuajak pergi. Apa dia pikir aku sedang mengajaknya mojok?

Bah!

"Om! Saya tahu saya salah. Dan saya berterima kasih sebanyak-banyaknya pada om yang —"

"Jangan panggil saya om, Mela —" ringisnya.

Aku tetap melanjutkan ucapan ku walau dia memotongnya sejenak.

"— yang sudah menyelamatkan saya dari insiden memalukan kemarin. Tapi om —"

Aiman menarik alisnya ke atas. Lihatlah duda satu anak ini. Usianya memang dua kali lipat dari usiaku, tapi kenapa ketampanannya setara dengan mas Adi si kasir Indoapril sih? Mereka kalau jalan bareng mungkin nggak akan kelihatan umurnya beda jauh!

Pak AKBP Aiman ini memang defenisi duda keren yang sebenarnya. Wajahnya bersih bahkan lebih mulus dari kakiku yang berbulu. Hidungnya mancung dan tipe pria gagah berani. Beda sekali dengan polisi yang sering kulihat gendut di beberapa kesempatan. Dan bibirnya itu...aduh.

Fokus Mel..fokus!

"Sekali lagi kamu panggil saya om, langsung saya nikahin nih."

Aku mendelik. Aiman malah cengengesan tanpa berdosa.

"Oke! Oke! Bang Aiman! Gini yah..intinya saya nggak mau nikah sama abang. Jangan paksa saya untuk balas budi dengan cara seperti itu please!" Aku menggosok-gosokkan kedua tanganku untuk minta ampun. Tapi beliau ini tetap tak bergeming.

"Saya masih kinyis-kinyis begini om! Eh bang! Jadi.. please cari yang lain saja. Kalau ada kerjaan lain saya siap deh, tapi jangan jadi binik Abang."

Aiman maju selangkah yang membuatku langsung refleks mundur ke belakang. Di belakangku ada selokan yang kalau saja Aiman tidak menahan punggungku, bisa saja aku terjerembab jatuh ke dalamnya. Tapi tetap saja, posisi seperti ini malah membuat wajah Aiman terlalu dekat di depan wajahku. Dan itu membuatku grogi hingga rasanya ingin pipis.

"Memangnya kenapa? Saya juga masih kinyis-kinyis kok. Langka loh dapet duda kayak saya. Seharusnya kamu beruntung."

Beruntung nenek gayung! Maunya apa sih om-om satu ini!

Baru saja selesai mengumpat, Aiman malah semakin memajukan wajahnya padaku. Aku refleks tutup mata sambil mendorong tubuhnya menjauh. Aiman tertawa, aku yang ketar-ketir.

"Jangan macem-macem yah! Saya laporin polisi!"

"Kan saya polisinya —" balasnya.

Aku langsung menghentak-hentakkan kaki karena merasa tak berdaya sama sekali. Oh Mela Iskandar! Mana embel-embel preman yang biasa kau gaungkan? Hari ini melawan duda beranak satu ini saja kau tak berdaya! Padahal kemarin kau berkelahi satu lawan satu dengan preman amplas dan kau tak gentar!

Ayo Mel! Hajar!

"Pokoknya saya nggak mau!"

"Kamu tinggal pilih saja. Nggak jadi kuliah di UI dan ke Jakarta karena saya laporin kamu tentang penggerebekan kemarin, atau kamu kuliah di UI, tinggal di Jakarta tapi menikah sama saya sambil asuh anak saya. Kamu kan pinter Mela. Pasti bisa milih mana yang baik untuk masa depan kamu," ucapnya sambil mengacak rambutku dan juga tersenyum penuh persekongkolan padaku.

Dengan langkah lebar, aku mengikutinya yang hendak kembali ke rumah. Peduli amat dengan jabatannya, aku jelas sekali ingin melakukan ini.

"Om... bentar!"

Aiman berbalik dan saat itu juga kulayangkan satu pukulan keras ke wajahnya. Dia mengaduh tapi tak membalasku. Justru malah tertawa nyengir sambil mengelus pipinya.

"Boleh juga. Tapi laporan kamu jadi dua yah. Penggerebekan dan pemukulan. Hukumannya bisa lebih dari tiga tahun loh."

Aku menjerit frustasi sambil mengacak rambutku gemas.

Ya Allah! Kenapa nasibku jadi begini?

====

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status