Share

07. Pasangan Sempurna

Akhirnya, meski dengan sedikit ragu, Thalia memutusan untuk menyentuh tombol hijau di layar ponselnya. Tak apalah mengambil sedikit resiko berbicara dengan sang mantan yang mungkin akan menagih uang untuk membayar helm mahalnya.

"Halo, selamat si ... a...l ..."

Belum selesai Thalia bicara, seorang perempuan di ujung sambungan menyemburnya. Untung saja mereka tidak sedang berhadapan, bisa-bisa muka Thalia basah terguyur hujan lokal.

"Hei ... dasar cewek murahan, lonte, ba*****, tukang rebut pacar orang!! Sini kalau berani, kita ketemuan, jangan main belakang!!"

"Oh, mantannya Bastian?! Ngajak gelud?! Oke, aku ladenin, mau ketemuan di mana?!" Seperti api tersiram bensin, Thalia terbakar emosi.

"Pertigaan kuburan kembar jam sepuluh malam. Berani nggak situ?"

"Kuburan kembar ...? Kecil, Bos! Jangankan kuburan kembar, kuburan tingkat pun aku datangin! Jangankan cuma kamu, cewek bulukan, ngga laku, ngaku-ngaku, beraninya main keroyokan, gank kunti 'aja kuhajar! Heh, datang sendiri kalau berani!!" Dada Thalia naik-turun menahan emosi yang nyaris naik ke ubun-ubun.

"Oke! Jam sepuluh malam! Lihat aja! Kamu bakalan aku buat menyesal!! Aw ..." ancam mantan pacar Bastian.

Thalia menyentuh tombol merah, tak dipedulikannya lagi suara bagai halilintar yang berteriak-teriak di seberang. Wajahnya memerah, tetapi setelah sekian detik kemudian semburat merah di wajah itu memudar seiring meredanya detak jantung Thalia. Gadis tomboi itu kemudian terkikik sendiri membayangkan dirinya berhasil mengerjai mantan pacar Bastian yang tak tahu malu itu.

Thalia kemudian menyimpan nomor itu dan mengatur supaya tak ada dering ketika nomor itu menelepon. Mengganggu saja. Saat ini Thalia harus fokus agar ia tak masuk ke pilihan pertama—jurusan Akuntansi—, Thalia lebih berminat untuk masuk ke Hubungan Internasional yang menjadi pilihan keduanya. Bekerja di kantor perwakilan Indonesia di luar negeri pastilah sangat keren. Itulah impian Thalia sejak ia mengenal Bahasa Inggris. Sedangkan pilihan ketiga terpaksa Thalia kosongkan, mengingat bahwa ia tak ingat mempunyai minat lagi sealin menggambar anime dan menulis receh.

_______

Dhimas berdiri di depan sebuah kos khusus mahasiswi sambil berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Ia bersama Thalia yang menggendong tas ransel tengah menunggu seseorang di sana.

"Oke, aku tunggu." pungkas Dhimas lalu memasukkan ponsel ke dalam celana belelnya.

"Dia sebentar lagi sampai."

"Iya, Kak."

Dhimas dan Thalia sedang menunggu di depan kos Anita. Di pagar rumah dua lantai itu tergantung sebuah papan putih bertulisan cukup besar berwarna hitam hitam berbunyi 'Terima Kos Putri', dan di bawah tulisan itu tertulis nomor ponsel yang bisa dihubungi. Melihat tulisan itu, Thalia langsung menyimpannya di ponsel, mungkin suatu saat ia membutuhkannya.

Tak lama kemudian, muncullah sebuah mobil hatchback¹ kecil berwarna kuning cerah. Mobil itu lalu berhenti tak jauh dari Dhimas dan Thalia. Dan dari dalamnya muncul seorang gadis dari pintu penumpang bagian depan, menyusul seorang laki-laki dari pintu pengemudi.

Gadis itu terlihat cantik meski hanya diterangi cahaya lampu jalan. Semakin dekat semakin tampak jelas ia berkulit putih bersih tanpa setitik pun noda di wajahnya. Rambutnya lurus hitam kecokelatan, tampak sekali warna rambutnya bukan alami. Rambut itu dibiarkan tergerai. Turun ke bawah pinggangnya. Gadis itu memakai celana pendek setengah paha, memperlihatkan kulit paha yang sama mulus dengan kulit wajahnya. Thalia bisa memastikan gadis ini 'mahal'.

Glek ... Thalia menahan ludah penuh rasa iri. Andai saja hasil menjual manga cukup untuk kebutuhan perawatan kulitnya.

"Hei, Dhim ... halo ... masuk yuk." setelah menyapa Dhimas, gadis itu menyapa Thalia dan memepersilakan mereka masuk dengan suaranya yang mengalun indah bagai nyanyian seorang Dewi.

Laki-laki yang mungkin adalah kekasih Anita berjalan begitu saja melewati Dhimas dan Thalia dengan wajah angkuhnya tanpa sedikit pun menoleh pada Dhimas dan Thalia.

Dhimas dan Thalia mengekor.

Sumpah demi-kian seterusnya—bukan demi Tuhan penguasa semesta alam—, Thalia rela bertukar tubuh dengan gadis itu. Thalia iri, sangat ... sangat ... sangat iri. Thalia tahu ada dua hal, atau dua cara, yang membuat seorang wanita terlihat cantik : cantik dari sananya atau cantik dari dananya. Sedangkan Thalia sendiri sadar, dari sananya ia biasa-biasa saja. Dari dananya ..., dana yang mana? Dana yang di ponselnya? Isinya hanya cukup untuk makan sebulan.

"Kenalin, Nita, ini Thalia."

Anita si tuan rumah berjabat tangan dengan Thalia. Haluuuus .... Rasa iri Thalia semakin menggila saat menyentuh telapak tangan sehalus kasmir itu. Gadis ini benar-benar mahal, sepertinya tak sekali pun pernah menyentuh ulekan atau gagang sapu. Apakah dia seorang putri? Atau anak konglomerat? Atau anak bos kebun sawit? Anak bos batu bara? Juragan martabak rasa batu bara? Juragan jengkol? Sepertinya bukan yang terakhir. Pikiran Thalia menerka-nerka tanpa dasar. Ngawur.

"Thalia."

"Anita. Yuk, kita ke dalam dulu, kamu taruh dulu barang kamu."

"'bentar ya, Hon." pamit Anita pada laki-laki yang ternyata memang adalah kekasihnya, yang dipanggil 'Hon' alias honey. Madu?

"Hmm ... jangan lama-lama. Aku lapar."

"Iya." jawab Anita lalu berjalan ke dalam rumah.

Dhimas dan kekasih Anita menunggu di teras rumah dengan suasana canggung. Mereka hanya membisu dalam posisi duduk berseberangan diagonal. Untung saja Anita dan Thalia tak lama meninggalkan mereka berdua.

Anita lagsung duduk mepet pada kekasihnya. "Dhim, kita mau cari makan, kamu sama Thalia sekalian bareng sama kita ya." ajaknya.

Sedangkan Thalia duduk di samping Dhimas dengan mengambil sedikit jarak.

"Yang ..." kekasih Anita menyela.

"Nggak usah, Nita. Nanti ngerepotin." tolak Dhimas halus, ia sadar keberadaannya tak diinginkan oleh laki-laki angkuh yang memanggil Anita dengan sebutan 'Yang' itu.

"Nggak, kok. Aku ulang tahun, rasanya ada yang kurang kalau nggak dirayain. Biasanya 'kan rame-rame, ya kamu tahu lah .... Tapi khusus kali ini aku pengen sedikit privacy. Jadi ya ... kecil-kecilan 'aja lah."

"Itulah ..., kita nggak ingin mengganggu privacy kalian."

"Dhim! Sikap kamu itu seolah-olah aku ini orang lain buat kamu. Sudahlah, nggak ada penolakan!"

Jika Anita sudah berkata "tidak ada penolakan", maka tak ada yang boleh menolak. Hitung-hitung lumayan juga ada yang mentraktir, anak orang kaya pula. Makanan lezat menunggu untuk mengisi perut Dhimas dan Thalia malam ini.

Sementara itu Thalia hanya bisa diam sambil sedikit mencuri pandang pada laki-laki yang duduk tepat di depannya. Ganteng, sayangnya sombong. Jauh-jauhlah dari hidup Thalia! Yang seperti ini cuma bikin makan hati. Daripada makan hati, lebih baik makan ampela. Minumnya teh kotak dalam kemasan botol, kalau ada. Dari penampilannya, laki-laki itu juga terlihat mahal. Sungguh pasangan serasi yang mahal, siapa pun yang melihat pasangan itu pasti akan iri.

.

.

Anita dan kekasihnya membawa Dhimas dan Thalia ke sebuah restoran masakan Italia yang trade mark-nya sudah terkenal di seantero nusantara, hanya saja keberadaannya tak menjangkau pelosok negeri. Sehingga yang tinggal di pelosok hanya mampu membayangkan saja kemewahan yang tak terjangkau kaki dan tangan.

Anita memilih meja di sebuah sudut dengan sofa berwarna putih tulang. Tempat favorit banyak orang. Ia pun memesan menu apa saja yang terlihat menarik di matanya. Kedua orang yang diajak Anita hanya bisa mengikuti karena mereka terlalu tahu diri. Kekasih Anita pun hanya mengikuti saja kemauan Anita, bukan karena terlalu tahu diri, melainkan terlalu malas berada bersama orang yang tak dikenalnya.

Sambil menunggu pesanan diantar, mereka pun berbincang.

"Oh ya, aku sampai lupa ngenalin kamu." ucapan Anita pada kekasihnya itu lebih terdengar seperti gadis penjaja tester makanan yang sedang menawarkan produknnya.

"Dhim, kenalin, tunanganku."

Dhimas mengulurkan tangannya sambil menyebut namanya, "Dhimas."

Kekasih Anita pun mengulurkan tangannya sambil menyebut nama, "Adrian." Setelah berjabat tangan dengan Dhimas, laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya pada Thalia. "Adrian."

"Thalia."

Dag ... dig ... dug ... jantung Thalia berdegup saat telapak tangannya bersentuhan dengan telapak tangan dingin Adrian.

Tangan itu halus, sama halusnya dengan telapak tangan sang tunangan. Bagaimana bisa seorang laki-laki memiliki tangan sehalus itu? Thalia saja tangannya kapalan akibat terlalu sering berurusan dengan ulekan batu ibunya. Ditambah dengan suara Adrian yang sangat maskulin, mampu menggetarkan jiwa siapa pun yang mendengarnya, seperti dentuman bass yang dihasilkan sound system yang biasa manggung bersama penyanyi impor. Sepertinya sikap angkuh itu bisa dimaafkan.

Dan haruskah Thalia rela disebut pelakor demi Adrian?

_______

1. hatchback : mobil penumpang berbasis sedan yang tidak memiliki 'ekor' sebagai bagasi, melainkan bagasi berada di belakang bangku penumpang.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status