Share

Pura-Pura Buta
Pura-Pura Buta
Author: Syarlina

Mereka tidak tahu aku sembuh

"Mas Heru!" Gumamku dengan senyum terkembang. Terdengar suara deru mobil berjalan memasuki halaman rumah. Aku yakin itu mobilnya. Aku bergegas turun dari lantai atas kamarku. 

 "Bu, hati-hati jalannya, jangan lari!" Mbok Yem asisten rumah tangga yang sudah lama kerja ikut keluargaku, terdengar khawatir tapi tidak kudengarkan. Aku terlalu senang hingga terus berlari riang menyambut kedatangan belahan jiwa. Mas Heru, suami yang setia mendampingiku baik senang maupun duka. Apalagi saat aku terpuruk kehilangan penglihatan, dia tetap setia disampingku.

 Rasanya tidak sabar memberikan kejutan kepadanya. Pasti dia tidak menyangka kalau aku sudah bisa melihat. 

 Namun belum sampai di pintu depan, langkahku terhenti, senyumku lenyap seketika saat mata ini melihat dengan jelas dari balik jendela kaca rumah, kalau Mas Heru keluar dari mobil bersama Lastri--sekretaris dan juga merupakan sahabat dekatku. Bukan hal yang aneh, karena mereka sering datang bersama ke rumah ini. Yang janggal kenapa harus bergandengan tangan. Mesra lagi.

 Degup jantungku berdetak lebih cepat, dadaku berdebar hebat. Apa ini? Bukan dia yang terkejut tapi aku. Apakah selama ini mereka sedekat itu?

 Segera aku berbalik dan duduk di kursi tamu dengan pikiran kacau. Kuraba dada ini. Bunyi degupnya masih terdengar tidak beraturan. 

 'Tidak mungkin. Mungkin aku cuma salah paham saja.' Mencoba berpikir positif. Namun rasanya sulit, melihat senyum bahagia mereka, sisi hatiku menolak.

Pintu depan terdengar terbuka. Masih terdengar gelak tawa mereka dari tempatku duduk. 

 Kuhitung dalam hati. 'Satu … dua … tiga.'

 "Delia? Kok a--ada di sini?" Tergagap Mas Heru bertanya. Dia tampak terkejut melihatku duduk sendirian di ruang tamu. Refleks dia mengurai genggaman tangan Lastri. Lalu berjalan mendekat.

 Perhitunganku tepat. Selama aku buta, pendengaranku lebih sensitif. Aku dapat menghitung jarak dan suara langkah kaki. Dapat menghitung berapa langkah dari arah pintu depan sampai ke tempatku duduk. Saat seperti ini ternyata sangat berguna. 

  Sedang Mbok Yem sudah berdiri di depanku dengan tatapan yang entah, penuh misteri. Seperti ada yang ia pikirkan atau pendam. Dia terlihat menggelengkan kepala dengan wajah takut mengarah ke Mas Heru. Kenapa? Aku tidak dapat melihatnya langsung karena takut Mas Heru curiga.

 "Bosan, Mas. Di kamar terus," jawabku datar. Mas Heru duduk di sebelah. Dia seperti mengamati. Apa sandiwaraku ketahuan ya?

 "Nggak apa sayang, kamu bisa keliling rumah ini. Bebas mau kemana saja. Ke taman belakang juga bisa, biar nggak bosan. Kan kamu suka lihat bunga-bunga yang kamu tanam," ujarnya sambil mengelus lembut rambut panjangku. Sedang tangan sebelahnya di udara mengkode Lastri untuk duduk di seberang kursiku. 

 Aku tersenyum kecut. "Bagaimana aku bisa melihat bunga tersebut Mas, kamu lupa kalau aku,"

 "Ma--maaf Sayang. Bukan maksud Mas untuk, e … ehm, maaf," sesalnya langsung memotong ucapanku. Tampak merasa bersalah.

 "Lupakan, kamu sama siapa Mas ke sini? Kudengar tadi ada suara perempuan, Lastri ya?" Kusunggingkan senyum tipis ke arah depan. Berpura tidak tahu.

 "E … ehm, iya Sayang, sama Lastri. Tuh, dia duduk di depanmu." Aku mengangguk dengan tatapan lurus ke depan, seolah menyapanya. Ya, di depanku duduk dengan diam atau memang diam-diam, agar aku tak tahu kalau dia ada di sini. Sekretaris suamiku. Aku sendirilah yang merekomendasikannya kepada Mas Heru, karena waktu itu Lastri sangat butuh pekerjaan. Kupinta saja Mas Heru untuk menerimanya, entah sebagai apa, asal dia bekerja. 

 Dari sini, dapat kulihat dia tersenyum tertahan dengan menatapku sinis. Duduk dengan jumawa sambil mengangkat satu kakinya ke atas kaki lainnya. Sengaja memperlihatkan paha mulusnya. Untuk apa? Apa untuk menarik perhatian Mas Heru? Heh! Roknya terlalu pendek. Setahuku dulu tidak seperti ini cara berpakaiannya.

 "Mbok Yem, bisa pergi. Biar Delia saya yang urus," titah mas Heru.

 "Jangan!" Teriakku.

 Mereka terkejut melihatku tetiba berteriak.

 "Maksudku, Mbok Yem tetap di sini. Aku merasa tenang kalau dia berada di sampingku. Kalau aku butuh apa-apa biar cepat diambilkan."

 "Lo, kan sudah ada Mas. Biasanya juga begitu. Sudah Mbok pergilah," ucapnya lagi.

 "Tapi Pak, Ibu," sahut Mbok Yem tertahan.

 "Mbok," panggil tegas Mas Heru.

 "I--iya, saya pergi." Seperti takut Mbok Yem berlalu pergi dari sini.

 Aku diam, biarlah. Mungkin itu lebih baik. Kalau tetap kularang, dia bisa curiga dengan sikapku barusan.

 "Ehm … bagaimana kabarmu Las? Hampir sebulan aku tidak melihatmu. Biasanya kamu selalu mengunjungiku," tanyaku basa-basi dengannya. Mengalihkan pembicaraan.

 "Hm, baik. Aku sibuk. Pekerjaan di kantor sangat banyak. Iya kan, Mas?" Dia melepas stilettonya dan berjalan pelan maju ke depanku. Tidak, tapi berbelok ke samping ke arah Mas Heru. Lalu duduk di dekatnya. Sangat dekat sampai tubuh Lastri menempel ke tubuh Mas Heru. Kupaksakan melihatnya dari sudut mataku. Agak sulit, karena terlihat samar, tapi dapat kupastikan tangannya bergelayut manja di bahu Mas Heru.

 Aku terhenyak takjub akan penglihatanku saat ini, ingin kumelotot melihatnya namun kutahan. Degup jantung berpacu cepat lagi. Kukepalkan tangan ke belakang badan. 

'Sabar Delia, sabar. Jangan emosi. Berpuralah kamu tidak melihatnya. Tahan. 

Jadi selama ini mereka menjalin hubungan di belakangku? Atau jangan-jangan mereka telah lama berselingkuh? Sungguh tega. 

 "Lastri, kamu di mana? Kenapa suaranya seperti di sampingku?" Sengaja kupancing pertanyaan ini.

 Terdengar sayup suara seperti berbisik, dari sudut mataku dapat kutangkap gerakan tangannya Mas Heru menyuruh Lastri kembali ke tempat duduknya.

 "Aku masih di sini, di depanmu, kenapa?" Jawabnya ketus. Marah. Dia sudah berpindah ke tempatnya. Sama, dengan jalan dibuat sepelan mungkin. Mencoba mengelabuiku, sayangnya aku bisa melihatnya. Apakah selama aku buta dia bertindak seperti ini? Pura-pura tidak terlihat.

 "Kenapa kemari? Mengunjungiku atau ada kerjaan bersama Mas Heru?" Nada suaraku terdengar ketus, sulit untuk bersikap wajar setelah terbuka wajah busuknya.

 "Iya, kami ada kerjaan bersama. Harus selesai malam ini." Wajahnya kembali ceria, dia tersenyum nakal sambil mengedipkan mata ke arahku, tepatnya ke arah Mas Heru. 

"Iya, Sayang. Kami malam ini lembur, nggak apa kan malam ini kamu tidur sendiri. Ehm … maksudku tidur duluan. Nanti aku nyusul kalau pekerjaanku sudah selesai, kamu nggak marah 'kan?" sahut Mas Heru seraya mengusap tanganku yang berada di pangkuannya.

 "Nggak apa Mas, aku ngerti. Kerjanya jangan terlalu diforsir nanti kalian sakit. Nggak lucu kan kalau sakitnya barengan juga," Kekehku, kupaksakan melucu menghibur hatiku yang sakit terluka karena penghianatan mereka.

Mereka tergelak ikut menertawakan leluconku.

 "Iya Sayang, nggak akan," sahutnya masih dengan bibir tertarik ke atas.

"Mas, tolong antar aku ke atas," pintaku dengan memegang tangannya erat. Rasanya malas berlama-lama duduk di sini.

 "Oh, iya Sayang, yuk! Sini Mas tuntun."

 "Lastri, maaf kutinggal dulu. Anggaplah rumah sendiri," ujarku pamit dengannya. Terpaksa.

"Tentu, pasti itu, aku sudah menganggapnya seperti rumah keduaku." Jawabannya membuat langkah kakiku terhenti. 

 Rumah kedua? Maaf Las, tidak akan kubiarkan itu terjadi. Itu hanya dianganmu saja.

 "Kenapa Del? Kok berhenti?"

 "Tidak apa Mas. Ayo!" Ajakku lagi.

 Aku berjalan berpura tidak melihat. Mata tetap fokus ke depan tidak melirik ke kanan dan ke kiri. Kubiarkan Mas Heru menuntunku pelan seperti orang buta hingga sampai naik ke atas, ke dalam kamar. 

Setelah berhasil mendudukkanku ke tepi ranjang, Mas Heru berlalu pergi. Dia sempat berpesan kalau perlu sesuatu panggil lah dia atau Mbok Yem. Aku mengangguk mengiyakan.

 Aku terduduk, merenungi ini semua. Mataku memanas mengingat kejadian barusan.

 Sekarang baru kutahu kalau Lastri menusukku dari belakang. Ternyata mereka selama ini berselingkuh dariku. Kapan? Lamakah? Atau baru saja saat aku kehilangan penglihatan?  

 Baik Mas, Lastri. Aku ikuti permainan kalian. Mari kita bertarung, siapa yang menang dan mampu bertahan bersandiwara lebih lama, aku atau kalian?

Comments (18)
goodnovel comment avatar
Billi Saputra
lumayan bagus di awal
goodnovel comment avatar
Ruhaeni S. Pd
bersandiwaralah, tenangkan hati dan bongkar sampai tuntas dan jadilah pemenang ...
goodnovel comment avatar
Andi
Suami Suami
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status