Share

2

Harsa-

Ada tikus yang tak tau aturan masuk dalam kantor, “Panggil Kepala HRD kesini!!” teriakku kesal saat menelpon bagian HRD, ada seseorang yang masuk keruanganku tanpa izin,

“Itu pak, ibu ayu” ucap salah seorang bawahanku,

“Kumpulin semua Office Boy di tempatnya, sekarang!!” pintaku sedikit geram, apa mungkin itu orang yang aku pecat kemarin, dia mau balas dendam karena itu. Office Boy yang mencoba menguntitku untuk mencari aib dari diriku.

“Sudah semua pak,” kata Ibu Ayu, aku langsung menuju ke ruangan tempat para Office Boy berada,

Mereka semua langsung berdiri saat aku datang, memang harus seperti itu seharusnya, mereka juga berjajar rapih seperti mau upacara.

Aku tak masuk ke dalam karena sirkulasi udaranya tak bagus untuk di hirup, dan membiarkan ibu Ayu yang mengurusnya, aku ingin melihat orangnya pasti ada salah satu dari mereka.

“Siapa yang tadi bertugas membersihkan gedung empat silahkan maju ke depan” ada sepuluh orang yang maju ke depan.

Aku langsung melirik ke salah satu orang lama, yaitu ajeng. Dia terkenal bukan karena orang lama, melainkan jajanan para manager disini. Dari tampilannya juga sangat berbeda dari lainnya.

“Dan dari kalian, siapa yang membersihkan lantai delapan?” aku langsung memperhatikan wajah mereka satu persatu, ada yang berbeda. Seperti ada orang baru disini. Gak lama ada seseorang yang di dorong paksa ke depan.

“Kamu?”

“iah saya bu,” ucapnya tundukin kepala, aku langsung bilang bawa dia keruangan. Dan dia memang orang baru disini. Penampilan berbeda seperti tak cocok bekerja seperti ini, minimal anak kuliahan atau sejenisnya. hal itu buat aku semakin curiga.

“Permisi pak, ini orangnya” aku cuman lambaikan jari agar dia keluar, membiarkan aku dan dia di ruangan ini. cewek itu hanya bisa menunduk

“Kamu tau, saat berbicara dengan orang dan kepala kamu nunduk seperti itu, tanda tak sopan?” ucapku menarik nafas karena tak boleh terbawa emosi.

“Maaf” jawabnya langsung tegakin kepalanya,

“Kamu tau peraturan di gedung ini?” Tanyaku mendekatinya, dan terpaku ke buah dadanya yang terlihat dari seragamnya, seolah tak mampu menutupi sepenuhnya.Sialnya, penis ku langsung ekresi melihat buah dadanya.

“Maaf pak, saya benar-benar tidak tahu, saya anak baru bekerja disini dan tak tau soal larangan itu” jawabnya menggengam tangannya sendiri. Walau kepala tegak tapi dia tak berani menatapku.

“apa yang kamu lihat tadi?” andai dia tak melihat apa-apa, dia masih kesempatan untuk berkerja disini, tetapi kalau dia melihatku sedang melakukan onani itu urusan berbeda.

“Jawab jujur,” pintaku saat dia hanya terdiam

“Ituuu, maaf saya tak sengaja”

“melihat saya melalukan sesuatu?” dia angguk sambil kembali menunduk.

“Iah, pak, Jangan pecat saya, saya benar-benar butuh pekerjaaan!” ucapnya langsung membungkukan badannya, tak sengaja kancing bajunya terlepas. Mataku melihat belahan buah dadanya yang memang besar.

“saya mohon pak, berikan kesempatan” ucapnya lagi terus membungkuk.

“Saya akan lakuin apapun, asal jagan pecat saya” lanjutnya.

“apapun?” sialnya setan di kepalaku memikirkan hal lain.

“iah apapun! dan saya berjanji menutup mulut dengan apa yang saya lihat” jawabnya mengigit bibirnya dengan mata yang memerah,

Aku kasih jempol atas keberaniannya berbicara seperti itu langsung di hadapanku, karena kebanyakan orang hanya bisa beberapa kata saja, dan akhirnya di pecat.

“Baiklah, buka beberapa kancing baju dan perlihatkan buah dada kamu,” ucapku spontan karena libido terasa meninggi melihat buah dadanya seperti itu.

“ttaaa taaapi?’ ucapnya terbata-bata,

“gak mau? besok gak usah kerja lagi, dan keluar dari ruangan ini” senyumku sinis

Dia diam sejenak dan langsung membuka beberapa kancing atas sampai terlihat kaos menutupinya. Gak lama dia kembali menyingkap kaosnya ke atas termasuk BH yang mungkin ukurnya 36D.

Aku Cuman menelan ludah sendiri melihat puting kecilnya yang tak sebanding dengan buah dadanya, penisku semakin meronta-ronta melihatnya,

“berlutut,” pintaku langsung buka resleting, langsung melakukan onani di hadapannya. Jujur aku semakin bergairah saat terus menatap buah dadanya.

Dia hanya membuang mukanya saat tau aku melakukan onani di depannya, “ohhh~” lenguhku mempercepat kocokan setelah lima menit terus menatapnya.

“Ahhhhh” jeritnya saat cairan sperma langsung menyemprot kearah wajah, leher, dan buah dadanya.

“Upss, sorry gak sengaja” kataku langsung kasih tissue basah yang biasa untuk membersihkan penis saat selesai onani.

“cepat bersihkan, dan anggap hari ini tak terjadi apa-apa,’ angguknya langsung membersihkan dengan tissue basah.

Selesainya dia pamit langsung keluar ruangan tanpa sepatah kata pun, sesuai kemauannya apapun asal tidak di pecat. Aku tidak akan memeceatnya kecuali dia membocorkan rahasia ini.

***​

Di pikiranku saat ini adalah kejadian tadi, kenapa aku harus melakukan onani di depan dirinya. Orang yang tak aku kenal, di tambah karena hanya melihat buah dadanya saja. libido ku hilang kendali.

“Harsaaa… sorry lama, “ suaara budi, yang merupakan dokter kenalanku, atau tepatnya teman saat SMA dulu.

Dia sekarang menjadi seorang dokter muda yang mempunyai masa depan cerah, dan aku menemuinya untuk masalah yang menurutku serius,

“Oke, hasilnya udah keluar?” tanyaku yang sudah lumayan lama duduk di ruangannya.

“ini” budi kasih hasilnya.

“Gue yang jelasin, “ potongnya.

“Dari keseluruhan semua sehat, semua bagus dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapiiiii”

“apa?” potongku gak sabar.

“Ada kelaianan genetic repoduksi sperma lo !” jelasnya langsung siap-siap jelasin.

“Proses pembentukan sperma ini dinamakan spermatogenesis. Pada tubulus seminiferus terdapat dinding yang terlapisi oleh sel germinal primitif yang mengalami kekhususan. Sel germinal ini disebut spermatogonium . Setelah mengalami pematangan, spermatogonium memperbanyak diri sehingga membelah secara terus-menerus (mitosis). Sedangkan sebagian spermatogonium yang lain melakukan spermatogenesis.”

“dan?” aku potong penjelasannya.

“Dan disinilah kelainan genetic lo harsa.. repoduksi sperma lebih cepat empat kali lipat dari manusia normal!!!”

“Tapi tenang, ini gak terlalu menggangu kalau setiap satu minggu satu kali harus ejakulasi, dan ini bisa menganggu kesehatan lo,”

“Jadi, libido gue gampang naik karena ini juga?” Tanya aku, budi cuman angguk pelan,

“kalau boleh tau, lo lakuin onani berapa kali dalam satu minggu?”

“Hampir setiap hari dalam bulan ini, termasuk hari ini”

“Hanya onani, atau Making Love?”

“Penis gue sangat berharga untuk melakukan itu, walaupun pakai pengaman,”

“Jadi, tadi onani?”

“Iah di bantuin Office Boy” aku memang terbuka soal berbicara dengan budi, karena demi mencegah masalah ini menjadi panjang lebar.

“Haa? Office Boy? Lo gay?”

“Noo!!, Maksud gue bukan Office Boy, tapi Office Girl,” tampang budi langsung bingung, pasti dia gak percaya apa yang aku ucapin.

“Serius gue, gue horny liat buah dada nya yang besar, dan gue onani di depannya.” Sebelum budi Tanya lagi, aku langsung jelasin lebih detail. Termasuk itu sebagai hukuman sebagai pegawai baru yang tak tau aturan,

“Hanya sebatas itu aja budi, serius” kata gue lagi selesai jelasin.

“Kalau lo terangsang karena cuman buah dada, kayak kita cek ke psikiater bagaimana?,”

“Maksud lo, gue ada gangguan?”

“bukan, kita check up, lebih baik mencegah daripada lo benar-benar gak bisa control libido lo?” ucapan budi benar sih, semakin hari. Aku susah mengendalikan libido, melihat buah dada yang besar seperti tadi

Dan hari ini cukup sampai disini, budi langsung membuat jadawal bertemu dengan psikiater yang katanya paling ahli. Gue ikutin sarannya budi.

***​

Hara / Mada –

Sore ini, sama sore seperti sebelumnya di pasar. Tempat dimana sekarang gue mencari uang bertahan hidup.

“Mada..oii ini uang kuli nya” ucap bang kumis, dia juragan sayur di pasar sini. Gue baru aja selesai bongkar sayuran dari mobil, dan total empat mobil gue habis bongkar bersama teman lainnya.

“Seratus ribu,” gumam gue, nilai yang lumayan besar untuk hari ini, karena biasanya gue cuman dapat lima puluh ribu sampai tujuh puluh ribu sehari, itu udah bersih di potong uang makan.

Dan satu yang unik di pasar ini, ramainya saat menjelang malam sampai pagi, atau tepatnya hampir dua puluh empat jam.

Gue pilih ambil pagi sampai sore, karena gue masih sayang sama badan gue, gak mau paksain untuk mencari hasil lebih.

Rumah, oh bukan tepatnya kontrakan. Gak jauh dari pasar sini, naik motor kesayang mio warna silver yang gue beli pakai duit sendiri hasil kerja keras gue selama ini.

“besok pagi-pagi matt jangan lupa!” salah seorang yang menjadi kuli bongkar muat, gue cuman kasih jempol ke arahnya,

Sebelum pulang gue beli pecel lele yang gak jauh dari pasar, murah meriah dan kenyang. Itu yang dipikiran kebanyakan orang sebagai kuli, termasuk gue sekarang.

“Bang ojekkkk” teriak perempuan dan langsung duduk di belakang jok motor gue.

“Ke arah jalan belimbing yah, “ lanjutnya sambil tepuk pundak gue.

“Maaf, saya bukan ojek mbak” jawab gue noleh ke belakang.

“Please, saya bayar deh sepuluh ribu” lanjutnya tepuk pundak gue lagi. Dari sekilas itu cewek mirip yang kemarin di tukang bubur.

“Ayo, ya ya!” dengan agak terpaksa gue jadi tukang ojek, lagi pula hanya beda gang dari kontrakan gue.

Tangannya pegang erat pundak gue, pas jalan agak rusak. Memang jalan dari pasar ke arah sana agak rusak, di tambah motor gue motor matic.

Mau gak mau harus imbangin, karena ini cewek lumayan berat. “bletakkk!” suara spakbor belakang gue kena ban belakang. Gak lama tubuh itu cewek tekan punggung gue.

Dan kembali ke posisi semula, rasanya ada sesuatu yang besar menempel di punggung gue, gue gak mau berpikir macam-macam karena bisa aja jadi masalah kedepannya.

“Kiriiiii kiiirriiii bang” ucap cewek itu tepuk pundak gue berkali-kali,

Sampailah di rumah kecil, atau tepatnya sederhana. Karena setau gue ini rumah udah kosong bertahun-tahun,

“ini uangnya” ucapnya lagi cewek itu, dan pantesan aja kerasa benturan di punggu gue, size nya besar. Tingginya gak terlalu tingg, tapi ideal. dan benar dia sekarang tinggal di rumah itu

“lumayan cebann..” dia gak hirauin gue, dan masuk ke rumah itu. Sebelum pulang gue lihat sokbreker dulu, takutnya ada sesuatu yang tak di harapkan. Karena takut ini motor jajan lagi.

***​

Rasanya badan udah pada lengket, bau badan sama bau keringet udah jadi satu, “Oii har… tadi nyokap telepon, tanyain keadaan lo” ucap iwan dari pintu pagar rumahnya,

Iwan sendiri saudara jauh papa gue, rumahnya memang kebanyakan di perumahan, dan gue pulang lewatin rumahnya.

Bukan bearti kontrakan gue besar, karena gue sendiri kontrak di belakang perumahan. Gak jauh dari rumahnya iwan.

“Bilangin aja kabar gue baik-baik aja, baru kemarin dia tanyain” jawab gue langsung gas ke arah kontrakan.

“Tapi ini udah empat tahun har…!” teriaknya.

“Nama gue Mada disini, bukan hara!!” jawab gue tanpa peduliin lagi.

Ucapan iwan memang betul, gue udah empat tahun disini. Gue kabur dari rumah karena selisih paham sama papa.

Sebagai koskuensinya, gue harus hidup mandiri. walau mama masih tanyain kondisi gue dari iwan. Bukan bearti gue hidup enak.

Itu semua hasil kerja keras gue selama empat tahun disini, dan gue berhasil bertahan hidup sampai hari ini,

Kadang mama telepon gue kalau ada sesuatu penting, dan kalau tidak penting, seperti tadi Tanya keadaan gue lewat iwan.

Sampai di kontrakan gue yang lebarnya empat kali tiga.. dan satu kamar mandi di dalam, cukup buat gue tinggal sendiri disini.

Gak ada dapur, karena gue gak bisa masak. Pagi-pagi udah berangkat ke pasar, sore baru balik. Dan semua udah itu buat gue sudah terbiasa melakukan hal ruinitas seperti itu.

Entah kenapa gue kepirian cewek tadi, gue gak bohong masih kepikiran size dadanya. Gak kayak cewek disini semua standar SNI. Kayak dia itu import,

Makin kacau pikiran gue, mendingan gue mandi terus makan. Dan besok siap bongkar lagi di pasar.

Bersambung

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status