Share

Bab 5 • Di Belakangku

“Ugh! Lebih cepat! Akh!”

“Sst .... Sarah, pelankan suaramu.”

Sarah mendongak. Tubuhnya melenting merasakan nikmat sementara seseorang di belakangnya semakin cepat bergerak

Kamar mandi yang terletak di area bandara ini sedang ditutup karena rusak. Tentunya bukan tempat yang nyaman untuk digunakan, tapi hal tersebut tidak masalah bagi Sarah. Nyatanya, gadis bersurai pirang itu terus mengerang dan mendesah. Wajahnya memerah memancarkan kenikmatan, sementara tubuh polosnya sudah basah oleh keringat.

Mengerang, perempuan bule bersurai pirang itu pun tidak berdaya merasakan gempuran nikmat dari belakang tubuhnya.

“Ap-apakah kamu akan- akh! -melepaskannya begitu saj-ja?” tanya Sarah di antara sengal napas. 

"Don't be kidding," sahut lelaki yang sedari tadi memacunya. Secara mendadak dia menarik lepas bagian tubuh yang tadi menyatu dengan Sarah, tapi belum sempat gadis itu menyuarakan protes, dengan segera dia menyumpal mulut Sarah. "Ya, seperti itu," gumamnya, menyeringai merasakan nikmat.

Tidak ada sahutan yang bisa Sarah berikan dengan mulut terisi penuh.

"Aku memang sengaja menyimpannya agar bisa dinikmati nanti," sambung lelaki itu, lalu berganti mencium Sarah dengan ganas. "Tapi perlahan, aku akan membuat dia tunduk. Kalau saja si bibi sialan itu nggak masuk ke kamar dan memergoki kami. Cih!"

“Tapi dia per-gi. Akh!”

"Hanya selama seminggu," sahut si lelaki. "Lagi pula, permen yang kuberikan akan membuatnya ingin segera pulang dan menemuiku. Saat itu, aku akan bisa menikmati sepuasku."

"Engghhh!" Sarah mendongak dan membuka mulut saat ada sesuatu yang kembali menyeruak memasuki miliknya. Ada kenikmatan luar biasa yang dirasakan gadis itu sehingga membuatnya terus mengerang.

"Hhh ... padahal tadi sebelum berangkat ke bandara kita sudah melakukannya, sampai akhirnya terlambat datang," erang si lelaki, mempercepat gerakan dan menimbulkan suara berisik. "Pasti akan lebih nikmat lagi saat aku melakukan dengannya nanti. Aku akan jadi yang pertama bagi gadis itu."

Saat ini, di pandangan lelaki itu  bukanlah gadis pirang bermata biru yang tengah dipacunya, melainkan seorang gadis berambut coklat dan bermata abu.

"Ngh, Ailaa," erangnya, merasa semakin bernafsu. "Ailaa ... aku akan menjadikanmu milikku. Akan kujadikan kamu seperti perempuan murahan yang haus oleh sentuhanku.”

Sarah kembali mengerang, tapi lawan mainnya sama sekali tidak peduli. Di puncak kenikmatan dia memekik, menjeritkan nama lelaki yang sudah memberikan kenikmatan. "Argh! Noaahh!”

Permainan mereka masih berlanjut, tanpa menyadari bahwa ada seorang pria separuh baya yang diam-diam mengamati. Setelah rampung memuaskan diri sendiri, dia pun bergegas pergi dengan seulas senyuman penuh arti di wajah yang mulai dipenuhi keriput itu.

•••

"Sayang, kenapa lama sekali?" Lusi mencebik sebal saat Arthur akhirnya datang.

Tadi, selepas kepergian Aila dan baik Noah maupun Sarah sudah berpamitan, Arthur menyuruhnya agar menunggu di dalam mobil sementara dia akan ke kamar mandi dulu. Setidaknya, ada setengah jam lebih Lusi harus menunggu.

"Maaf, Sayang," sahut Arthur sambil memasang sabuk pengaman. "Kamar mandinya tadi sedang dipakai, jadi aku harus mengantri cukup lama. Bahkan akhirnya aku harus mencari kamar mandi lain yang kosong."

Lusi mendengus menyahuti. Dia masih sedih atas kepulangan Aila ke Indonesia sehingga tidak terlalu menghiraukan ucapan suaminya.

"Nah, kita pulang sekarang."

Arthur melihat wajah murung istrinya lalu melirik miliknya di bawah yang ternyata masih menggembung. Ada seulas senyum yang menggaris sebelum akhirnya dia menyalakan motor mobil.

Tidak lama kemudian, mobil Corolla Hatchback berwarna hijau lime itu pun melaju meninggalkan area bandara.

•••

Comments (5)
goodnovel comment avatar
fitri ramadani
aih si Noah ...
goodnovel comment avatar
Ana💞
Arthur punyanya istri tapi kok bermain sendiri??
goodnovel comment avatar
Nurmala Mala
gx tau ngmn ni
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status