Share

Bab 4 • Terpaksa Pulang

Pukul delapan pagi dan suasana di Adelaide International Airport sudah sedemikian ramainya.

Aila berdiri di depan gate keberangkatan dengan membawa satu koper kecil, tidak berdaya dalam pelukan Lusi yang masih berat mengizinkannya pulang.

"Segera telepon Mama setelah mendarat," ujar Lusi dengan suara sengau karena menahan tangis. "Risa dan Heri, mereka akan menjemputmu 'kan?"

Aila tersenyum, jawabannya adalah tidak. Tanpa perlu bertanya pun, dia sudah tahu kalau kedua orang tuanya itu tidak akan mau repot untuk menjemput di bandara.

"Keterlaluan sekali mereka itu," berang Lusi sambil membersit hidung. "Dari dulu Mama heran dengan perlakuan pilih kasih mereka terhadapmu."

"Nggak apa-apa kok, Ma." Aila mengusap kedua pipi wanita yang sudah mengasuhnya selama 14 tahun itu. "Toh, nanti Aila bisa pesan taksi. Iya 'kan?"

Kedua mata Lusi sudah kembali berair, tapi dia berusaha agar tidak menangis lagi.

"Hati-hati, Sayang. Jangan mampir-mampir, langsung pulang dan istirahat dulu saja, baru menjenguk Ansia. Toh, keadaannya juga nggak terlalu parah. Paling-paling dia sedang mabuk, lalu menyetir. Risa sendiri yang cerita soal itu."

Aila mengangguk. Kondisi Ansia memang sudah dia ketahui dari Lusi, yang sudah terlebih dulu mendapat kabar dari ibunya lewat panggilan telepon kemarin.

Ansia mengalami kecelakaan tunggal pada dini hari. Dia ditemukan tidak jauh dari daerah pinggiran kota dengan hanya mengenakan kimono tidur di dalam mobil yang dia kendarai sendiri.

Menghela napas berat, Aila tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Ansia sehari-hari. Sudah terlalu panjang waktu yang terlewat tanpa mereka saling bertukar kabar.

"Sudah, sudah. Jangan membuat Aila semakin berat untuk pulang," bujuk Arthur, meremas kedua pundak istrinya. "Aila, uang sakunya tidak kurang 'kan?"

Aila tersenyum dan menggeleng. Selama ini Arthur memang jarang menghabiskan waktu bersama keluarga, tapi bagi Aila dia sosok seorang suami yang penyayang.

"Aila 'kan hanya seminggu di sana, Om," ujarnya. "Tapi Om malah mentransfer begitu banyak."

Tidak hanya membelikan tiket pesawat, yang jelas dengan harga jauh lebih mahal karena dibeli secara mendadak, tapi Arthur juga memberinya banyak uang saku.

"Biar kamu bisa sekalian jalan-jalan di sana," jawab Arthur, mengusap kepala keponakan istrinya itu. Selama 15 tahun pernikahannya dengan Lusi, mereka memang masih belum dikaruniai anak lagi setelah keguguran yang dialami Lusi dulu. "Ah, itu Noah datang. Akhirnya."

Menoleh, Aila bisa melihat Noah yang tengah berlari mendekat. Dahinya sedikit berkerut karena kekasihnya itu tidak datang sendiri.

"Sarah?" seru Aila bahagia. Sarah adalah sahabatnya yang dulu mengenalkan Noah. Bisa dikata, dia akhirnya berpacaran dengan Noah adalah berkat Sarah. "Kenapa kamu ikut ke sini?"

"Kejutan," sahut gadis bersurai pirang dan bermata biru itu, tersenyum lebar. "Noah semalam memberitahuku, dan aku memaksa ikut."

"Maaf terlambat, Princess." Noah memeluk dan mencium dahi Aila. "Salahkan Sarah yang sangat lama waktu kujemput tadi," sambungnya, dibalas senyuman Sarah.

"Hati-hati," ujarnya lagi, membelai sebelah pipi Aila yang bersemu merah. "Jangan selingkuh, lho."

"Noah!" seru Aila cemberut, ditingkahi tawa renyah kekasihnya.

"Ini." Noah memberikan sebuah kantong kertas berisi permen. "Buat camilan."

Aila mendengus, merasa kesal karena dia diperlakukan seperti anak kecil.

"Sudah waktunya, Sayang," sela Lusi, kembali menarik Aila ke pelukannya. "Hati-hati, ya. Ingat, langsung telepon Mama."

"Iya, Ma," angguk Aila.

"Langsung telepon kalau kamu mengalami kesulitan." Kali ini Arthur yang menariknya dan Aila sama sekali tidak menyangka kalau dia akan dipeluk. Selama ini hubungan mereka memang baik, tapi tidak terlalu dekat karena itulah Aila memanggil Arthur sebagai Om, bukan Papa.

"Ehm, iya, Om," sahut Aila, merasa canggung dalam pelukan Arthur. Dia nyaris memekik saat tangan Arthur yang semula mengelus punggung, malah turun lalu meremas pantatnya.

Tidak hanya itu, Aila juga merasa kalau tubuhnya sengaja ditekan sehingga menempel dengan tubuh Arthur, membuat gadis itu menyadari gundukan keras yang menekan perutnya. Terakhir, pria baya berusia 50 tahun lebih itu malah mencium leher Aila meski sekilas, membuat Aila langsung meremang.

"Hati-hati," ujar Arthur lagi, segera melepas pelukan, memasang wajah dan sikap biasa, membuat Aila kebingungan.

Sekilas Aila lihat, Lusi sedang membalikkan tubuh untuk membersit hidung, dan Noah juga asyik mengobrol dengan Sarah, sehingga mungkin mereka tidak melihat apa yang baru saja terjadi.

Dengan kaku Aila tersenyum, melambaikan tangan berpamitan dan segera berbalik menuju boarding pass. Ada perasaan sangat mengganjal yang dialaminya saat ini.

Kenapa tadi Arthur meremas pantatnya?

Lalu, ciuman di leher tadi, maksudnya apa? Dan lagi, gundukan mengeras yang menekan perut Aila tadi itu, apa?

Selama ini Arthur tidak pernah bersikap tidak senonoh atau yang semacamnya. Memang, mereka jarang bertemu karena kesibukan Arthur sebagai pebisnis sehingga membuat pria setengah baya itu lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah.

"A—aku pasti hanya salah mengira," ujarnya, berusaha menyingkirkan pikiran buruk yang tidak beralasan. "Om Arthur 'kan, suaminya Mama. Jadi, mana mungkin beliau bermaksud buruk. Pasti itu tadi hanya perasaanku saja."

 •••

Comments (9)
goodnovel comment avatar
Nabila Salsabilla Najwa
Bagus critanya
goodnovel comment avatar
Mariko Mitrajaya
Sdh ketebak kal menyangkut kembar apalagi wanita
goodnovel comment avatar
Irwin rogate
Tukar ranjang adalah sikap manusia yang memulai mesum
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status