Share

Bab 3 • Haruskah Pulang?

Lusi memandangi Noah dengan dahi berkerut.

Tadi dia memang memberikan Noah ijin memasuki kamar Aila untuk membangunkan putri angkatnya, tapi jantung perempuan setengah baya itu nyaris naik ke tenggorokan saat melihat mereka malah bermesraan.

Meski Noah sudah memasang tampang bersalah, tapi Lusi masih belum memaafkan pria bule itu sepenuhnya.

"Sayang, ibumu ingin bicara denganmu," ujar Lusi akhirnya, setelah memberi Noah pandangan penuh peringatan.

Aila terdiam, mematung sesaat. Sepasang warna abunya menatap handphone yang disodorkan Lusi untuknya.

"Aila," tegur Lusi dengan nada lembut. "Risa menunggumu."

Mengerjap, Aila memandang Lusi, bibi sekaligus ibu angkatnya. Ada pertanyaan yang coba disampaikan gadis itu lewat pandangan mata.

Haruskah dia menerima panggilan telepon dari ibunya?

Tapi wajah lembut dan senyuman Lusi sudah merupakan jawaban, membuat Aila akhirnya meraih HP dari Lusi.

"Halo, Bu," ujarnya lirih. Belum sempat dia berkata lain, suara sentakan langsung menyahutinya.

"Kenapa lama sekali, Aila?!! Ibu sampai capek menunggumu!!"

Menggigit bibir, Aila memandang Lusi yang hanya mengangguk menyabarkan.

"Maaf, Bu. Tadi aku baru bangun tidur, jadi—"

"Memangnya di sana sekarang jam berapa?! Jangan mentang-mentang kamu tinggal bersama Lusi dan suaminya, lalu kamu bisa enak-enakan. Sebenarnya bagaimana, sih, cara Lusi mendidik? Sepertinya dia terlalu memanjakanmu."

Ada torehan sakit yang dirasakan dalam hati, kedua matanya pun memanas. Namun menyadari kehadiran Lusi dan Noah, membuat Aila memaksakan senyuman.

"Bu," ujarnya, berusaha lebih bersabar. "Tadi kata Mama, Ansia semalam kecelakaan. Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Apa maksudmu? Aila, adik kembarmu kecelakaan dan kamu hanya bertanya bagaimana kabarnya?" hardik Risa, memberi satu lagi denyutan sakit dalam dada Aila. "Seharusnya, begitu kamu mendengar soal Ansia, kamu bergegas kemari!"

Deg!

"Pulang, Aila. Secepatnya. Sudah kewajibanmu untuk berada di sisi Ansia di saat seperti ini."

"Tapi, Bu. Setidaknya beri tahu aku dulu soal keadaan Ans—"

"Cepat pulang dan lihat saja sendiri keadaannya. Jangan bersikap keterlaluan."

Bahkan, tanpa perlu repot untuk bertanya bagaimana kabar Aila, Risa langsung menutup panggilan telepon begitu saja. Rupanya, kabar sang putri kandung yang sudah hidup berpisah selama 14 tahun, bukanlah hal yang penting baginya.

"A—aku mau mandi dulu," ujar Aila dengan suara tercekat. "Tolong," sambungnya, saat Noah hendak mendekat.

Pandangan Aila menunduk, dia tidak sanggup bertatapan dengan siapapun saat ini. Namun setelah kedua orang itu keluar dan pintu kamarnya tertutup, dia luruh ke atas tempat tidur. Air mata yang sedari tadi ditahan, akhirnya tumpah juga.

Berapa kali pun Aila berpikir, dia tetap tidak mengerti. Perlakuan kedua orang tuanya sangat berbeda antara dia dengan Ansia.

Bagi mereka, seolah hanya ada Ansia dan sama sekali tidak ada tempat bagi Aila.

Bahkan, setelah Lusi keguguran dulu lalu meminta salah satu antara Aila atau Ansia yang bisa diasuhnya sebagai pancingan, mereka langsung setuju untuk menyerahkan Aila. Sejak itu pula, Arthur Lewis, suami Lusi, selalu mengirimkan sejumlah uang secara rutin untuk kedua orang tuanya.

Apa dia memang dibuang? Atau dia sengaja dijual demi uang bulanan yang Aila tahu tidak sedikit jumlahnya?

Tapi, kenapa?

"Sebenarnya aku ini salah apa, sampai ibu dan ayah nggak menyayangiku?" isak Aila. Rasa sakit yang tertimbun dalam hati atas perlakuan kedua orang tuanya sejak lama, kini menyeruak.

Aila lalu berdiri di depan cermin seukuran badan. Mata sembabnya mengamati pantulan diri yang terlihat.

Rambut kecokelatan yang berkilau sewarna madu, hidung mancung, kulit kuning langsat dan sepasang bibir berwarna peach alami.

Secara keseluruhan, penampilan Aila sama persis seperti Ansia. Satu-satunya yang membedakan hanyalah warna mata mereka. Mata Ansia berwarna hitam sedangkan Aila abu-abu cerah, nyaris seperti warna perak.

Dengan penampilan yang sangat serupa, lalu kenapa kedua orang tuanya sangat membedakan mereka?

Aila menghela napas berat. Tentu saja dia cemas soal kecelakaan yang dialami Ansia. Namun di satu sisi, untuk pulang lalu tinggal bersama kedua orang tuanya, membuat Aila ragu.

Respons Risa di telepon tadi saja masih seperti itu, lalu bagaimana dengan ayahnya?

Tubuhnya bergidik. Bahkan sekedar teringat pandangan dingin sang ayah, sudah membuat Aila ketakutan.

"Apa aku harus pulang?" keluhnya.

•••

Comments (4)
goodnovel comment avatar
Hafidz Nursalam04
hhbjjjjjgffhjk
goodnovel comment avatar
Ona Lam
ya bisa saja
goodnovel comment avatar
Nurmala Mala
tidak bersahabt
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status