Share

Bab 2 • Morning Kiss

Pukul 02:37

Di sebuah jalan raya di pinggir kota yang sepi, terlihat sebuah mobil Ferrari Aperta berwarna hitam yang terguling.

Mobil termahal yang hanya ada 200 unit saja itu sekarang dalam keadaan ringsek. Salah satu sisinya rusak parah dan di atas aspal tercetak bekas terseret.

Di dalamnya, terlihat Killian yang terkulai di balik kemudi dengan darah meleleh.

"A—apa dia sudah ...."

Ansia keluar dari mobil dan berdiri gemetar. Bukan disebabkan dinginnya hembusan angin malam, meski saat ini dia memang hanya mengenakan kimono tidur yang tipis, tapi karena kondisi Killian.

"Dd—dia nggak bergerak sama sekali," bisiknya dengan nada menggetar. "Dia ... masih hidup 'kan?"

Kedua tangannya saling meremas dengan wajah ketakutan. Penampilan Ansia saat ini memang berantakan, tapi dia masih terlihat menarik.

"Ayo cepat kita pergi," ajak Dion, menghampirinya dengan langkah tertatih.

"Tt—tapi ...."

"Ans, ini kesempatan terakhir sebelum orang-orangnya datang dan menangkap kita."

Ansia terdiam, menyadari kebenaran ucapan Dion. Namun masih ada ragu di hatinya untuk meninggalkan Killian begitu saja.

"Ayo!" ujar Dion lagi, menarik Ansia pergi.

Menoleh sekali lagi, Ansia akhirnya menurut. Mobilnya melaju pergi, meninggalkan Killian di jalanan sepi begitu saja.

Tidak lama kemudian, Killian mengerang. Tubuhnya perlahan bergerak, kedua netra berwarna hitam itu pun mulai terbuka. Di antara kepala yang berdenyut sakit dan nyeri yang mendera sekujur tubuh, Killian berusaha mengumpulkan kesadaran.

Namun di saat yang sama ada sorotan tajam cahaya menimpanya, disertai suara derum mesin dan decitan ban. Saat berikutnya, terdengar suara benturan keras ketika Ferrari Aperto yang terguling itu ditabrak.

•••

07:32

Adelaide, Australia

Sinar matahari pagi menerobos masuk ke sebuah kamar tidur. Sehelai tirai berwarna biru muda melambai, tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka.

Di atas ranjang dengan kelambu berwarna senada, sang pemilik kamar menggeliat perlahan. Sepasang matanya lalu terbuka, menampilkan warna abu yang jernih.

"Aila! Bangun, Sayang." Terdengar seruan dari luar kamar disertai ketukan pintu.

Dengan malas Aila beranjak bangun. Dia berjengit saat menyadari ada tangan yang melingkar di perutnya.

"Noah!" serunya kaget. "Kenapa kamu tidur di sebelahku? Kapan kamu masuk? Siapa yang mengijinkanmu? Lalu—"

"Morning kiss, Princess," potong Noah, langsung mencium kening Aila. "Setidaknya, berikan aku kesempatan untuk menjawab."

Mendengus, wajah Aila cemberut memandang kekasihnya. Wajah Noah Albern termasuk tampan meski berkesan kalem. Rambutnya berwarna tembaga dengan sepasang warna bermata biru. Dengan sikap ramah dan murah senyumnya, membuat lelaki itu terlihat memikat.

"Aku tadi berniat membangunkanmu. Tante Lusi juga sudah memberi ijin kok," terang Noah, menarik Aila agar duduk di pangkuannya. "Lihat, sudah jam berapa sekarang?"

"Oh!" Aila berseru, memandang jam beker yang ada di atas nakasnya.

"Apa kamu bermimpi buruk?" tanya Noah, menyandarkan dagu di pundak Aila. "Dari tadi kamu mengerang, menyebut nama Ansia. Bukankah dia adik kembarmu?"

Aila mengangguk. "Perasaanku nggak enak, aku merasa seolah Ansia sedang berada dalam masalah besar."

"Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Kalian 'kan, sudah lama nggak bertemu, bisa jadi kamu merindukannya."

Menghela napas berat, Aila hanya diam. Memang, sudah empat belas tahun lebih mereka nyaris tidak bertemu. Bahkan sekedar bertukar kabar pun tidak karena Ansia sudah tidak pernah lagi membalas telepon maupun chat darinya sejak lima tahun terakhir.

"Apa kamu ingin pulang ke Indonesia? Saat ini kita 'kan, sedang liburan semester. Mau aku temani?" tawar Noah, kali ini menyibakkan rambut Aila lalu mengendusi lehernya.

Aila menggigit bibir, menahan geli, lalu menggeleng. Pulang ke Indonesia adalah pilihan terakhir baginya dan sebisa mungkin gadis itu ingin menghindarinya.

"Akh, Noah," desah Aila saat Noah menyesap kulit lehernya, membuat perempuan bermata abu itu pun mendongak dan bersandar di bahu Noah. "Geli."

"Aku suka baumu, Princess," bisik Noah, menggigit dan menjilat sekilas daun telinga Aila.

Aila menggigit bibir saat tangan Noah menyusup masuk ke piyama dan mengelus-elus perut ratanya. Sebelah tangan Noah juga perlahan membuka satu persatu kancing piama Aila

"Noah," desah Aila, merasakan sentuhan Noah yang perlahan, tapi terasa semakin intim. "Sudah, Noah."

"Sst. Jangan berisik, Princess. Nikmati saja."

Noah lalu membalik tubuhnya, membuat mereka duduk berhadapan. Dengan tatapan saling mengunci, Noah melepas sisa kancing piyama Aila. Tangannya sudah berada di tali bra, berniat menariknya turun, saat pintu kamar gadis itu tiba-tiba terbuka.

"Aila! Ada telepon dari Risa, ibumu," seru Lusi sambil menerobos masuk. "Katanya semalam Ansia kecelakaan. Jadi— Oh!"

Butuh waktu beberapa detik bagi Lusi untuk memahami situasi di mana Aila dan Noah mendadak panik dan berserabutan menjauh.

Wajah Aila seketika kecut, menyadari badai kemarahan yang harus dihadapinya.

•••

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Hafidz Nursalam04
terkereeeeed
goodnovel comment avatar
Rani Hermansyah
Mampir ya Karya receh Istri yang Tak Dirindukan
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status