Share

Pelampiasan Mas Abi 2

"Mas, aku boleh tanya?" Izinku. Takutnya nanti mas Abi malah meledak-ledak dan enggan menjawabku sebab apa yang aku tanyakan ini sangatlah sensitif baginya. Tapi, sejauh aku mengenalnya, dia tak pernah sampai segitunya padaku. Atau mungkin aku tidak mengenal dirinya yang sebenarnya. 

"Boleh." Ujarnya. 

Dia mengunci mobil dan mengajakku untuk masuk ke mall. Sebab katanya, nanti kita sarapan dulu di dalam dan setelahnya membeli perlengkapan rumah. 

Iya, khusus hari ini, mas Abi mengatakan kalau kita tidak masuk kerja. Lagipula, ini hari Jumat dan biasanya tidak ada laporan yang masuk ke emailku. Kalaupun ada, aku akan jadwalkan ke hari Senin sebab hari Jumat memiliki jam kerja yang cukup singkat. 

"Hmm.... Kalau tidak keberatan, aku boleh tahu alasan mas kenapa pulang dalam keadaan mabuk?. Jujur saja, itu pertama kalinya aku melihat mas seperti itu." Tanyaku sedikit ragu. Apalagi saat aku bertanya hal demikian, dia malah mendelik menatapku kurang suka. 

"Hanya sedikit mengacaukan pesta saja, Alesha. Tidak ada yang perlu kamu dikhawatirkan. Jawabanku cukup menjawab, kan?"

Mana mungkin aku menolak. Pasti jawabanku adalah, "iya, mas. Sudah sangat menjawab." Kataku. Tersenyum padamu, namun jujur itu semua adalah palsu. 

Kami terus menyusuri masuk lebih dalam ke mall. Aku seketika tersadar kalau mas Abi belum makan kemarin. Apakah dia sudah dapat makan atau belum? Mengingat dia pulang dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan. 

"Mas?!" Panggilku. Dia sedang berhenti, melihat ponselnya. Sepertinya ada yang sangat penting. 

Dia menoleh dan menyahut. Hanya saja, fokusnya kembali ke ponselnya. Mungkin aku sedikit memaksa dengan mencoba untuk mengetahui urusannya, hanya saja rasa penasaranku ini tidak bisa aku tolak mentah-mentah. Aku beranjak mendekatinya, namun ketika aku terjadi dia langsung memasukan ponselnya ke saku celana. 

Jujur saja, aku sedikit tersinggung saat ini. 

"Iya? Apa?" Tanyanya. 

"Tidak. Aku hanya mau bilang kalau aku mau makan di sana!" Tunjuk ku ke salah satu restoran yang sering kamu masuki ketika mengunjungi mall ini. 

"Oh, oke. Ayo kita makan." Katanya, mengajakku dengan rangkulannya yang begitu ringan. 

***

Lagi-lagi aku tersinggung. Untuk kesekian kalinya aku bertanya, namun mas Abi mengabaikan ku dan malah lebih tertarik untuk melihat ponselnya. Bahkan makanan di depannya kalau bisa berbicara akan menggerutu seperti yang ingin aku lakukan kini. 

"Mas, makan dulu. Mas pasti belum makan dari kemarin." Kata ku mengingatkan kembali. 

"Iya."

Berulang kali hanya itu saja yang ia jawab, tidak ada kata lain. Mas Abi yang ada di depanku sekarang dengan status sebagai suamiku, sangatlah berbeda dengan mas Abi saat ia menjadi atasanku. 

Apa ini ada hubungannya dengan Elisa?. Astaga, memikirkannya membuatku pusing. Aku lebih baik menghabiskan makananku, daripada mengkhawatirkan segala hal yang belum tentu juga mau peduli denganku. 

Cukup lama, akhirnya aku dan mas Abi selesai makan dan memutuskan untuk membeli perlengkapan dapur beserta isi kulkas. 

"Ini!" 

Mas Abi menyodorkan kartu miliknya. Aku hanya tersenyum saja. "Tidak, mas. Kebetulan gaji dari mas juga masih banyak di rekeningku. Aku bisa memakai itu. Simpan saja untuk pernikahan mas dengan Elisa nanti." Kata ku. 

Sebab aku tahu, bahwa usia pernikahanku dengan mas Abi tidak akan berlangsung lama. Mas Abi harus bersama dengan cintanya, Elisa. Sedangkan aku mungkin akan mencoba untuk mencari pria lain. Beruntungnya kami memilih untuk nikah siri, belum ada buku nikah dan nama kami yang terdaftar di Pengadilan Agama. 

"Ambil aja!" Paksa mas Abi. 

"Tidak perlu, mas." Tolak ku. 

"Kalau begitu nanti aku saja yang membayarnya. Aku tahu kamu tidak akan menerimanya sampai kapan pun." Ucap mas Abi, membuatku tertawa. Dia tahu bagaimana tipikalku selama ini.

Akhirnya, kita sudah sampai di tempat yang sudah kita cari. Ini adalah bagian ku sebagai perempuan dan hanya aku yang bisa memahaminya. Aku masuk, pula dengan mas Abi yang mengikutiku dengan mendorong troli bersamanya. 

Sebab tidak ada sama sekali peralatan di rumah, maka kali ini aku memilih untuk membeli peralatan dasar saja. Karena bagiku, setelah ini kita tidak punya waktu dengan memasak untuk waktu yang lama dan dengan lauk yang beragam. Setelah ini, kita sibuk dengan urusan kantor. 

Lagipula, aku sangat yakin kalau mas Abi akan lebih sering pulang ke rumahnya atau rumah Elisa. Untuk apa dia ke rumah yang kemarin dia beli untukku tinggali?. Aku pikir, mas Abi terlalu aneh kalau sampai mau berduaan sepanjang hari denganku di rumah itu. 

Meski ada status suami-istri yang mengikat kita berdua. 

Beberapa alat sudah aku masukan ke troli. Dan kini, aku sedang memilih teflon mana yang bagus untukku gunakan nantinya. Namun tiba-tiba terdengar suara seruan. 

"Oh, jadi ini perempuan yang udah bikin kamu lupa hari ulangtahun ku?!"

"Ini jalangnya?!"

Aku sontak melepas teflon itu dan membalikkan badan. Apa yang aku lihat kini membuatku terkejut bukan main. Ternyata Elisa, dia dia menyebutku jalang?. 

Atau mungkin karena itu lah yang membuat mas Abi pulang dalam keadaan mabuk?. Jujur saja, aku agak bingung dengan keadaan yang kini tercipta di depanku sendiri.

"Maksud kamu apa, Elisa?. Aku dan dia hanyalah sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih!" Bantah mas Abi dan aku mendengarnya langsung. 

Atasan-bawahan? Tidak sepenuhnya salah, sebab selama ini pernikahan kita begitu tertutup, bahkan foto untuk membuktikan itu semua pun tidak ada. 

"Alah!. Aku gak percaya. Mana ada atasan-bawahan bisa terciduk membeli perlengkapan rumah tangga seperti ini kalau tidak ada hubungan yang serius diantara kalian berdua. Ngaku saja, Abi, dia selingkuhanmu, kan?" Paksa Elisa. 

"Hei, jalang!. Dibayar berapa kamu sama Abi?. Sudah main berapa kali?!" Tanya Elisa ini padaku. 

"A-aku..."

"Dia hanya teman!" Bentak mas Abi dengan lantang.

Suara mas Abi menyadarkan ku dengan lantang kalau kita berdua memang sudah salah langkah. Aku dan mas Abi seharusnya tidak lebih dari atasan dan bawahan, atau tidak lebih dari sekedar teman. Hanya saja, karena satu keadaan aku dan dia malah menikah yang mana tidak ada yang suka dengan hal itu. 

"Benar, Elisa. Aku dan mas Abi hanya sekedar atasan-bawahan saja. Kami berteman. Dan alasan kenapa mas Abi bersamaku kini karena aku mau pindah kontrakan, jadi dia membantuku untuk membeli perlengkapan dapur. Tidak lebih, sedikitpun." Kataku. Hatiku rasanya sedikit tercubit setelah mengakui hal itu. 

"Dan menggunakan kartu Abi?!" Tanyanya. Dia menatapku nyalang. 

Aku menggeleng tegas. "Aku menggunakan kartu milikku sendiri. Kalau tidak percaya, kamu bisa pastikan pada mas Abi." Ujarku. 

"Dan mas Abi, terimakasih atas tumpangannya. Sepertinya aku sudah membuat kekacauan dalam hubungan mas Abi dengan Elisa. Sebaiknya aku pulang sendiri saja. Sekali lagi, terimakasih." Ucapku dan merebut troli itu dari mas Abi. Mendorongnya menuju kasir. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status