Share

Sang Genius
Sang Genius
Author: Rahayu avilia

SG 01

Matahari mulai meninggi, tapi seorang pemuda masih asyik dengan selimut dan bantal di atas ranjang kamarnya. Bias cahaya matahari yang masuk melalui jendela kamarnya seakan tidak mampu untuk membangunnya. Ia terlihat masih enggan meninggalkan mimpi indahnya saat ini. Hingga suara ponselnya yang berbunyi beberapa kali menyadarkan pemuda itu dari tidurnya yang terlalu nyenyak.

"Siapa sih pagi-pagi gini mengganggu tidurku?" Gumamnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia pun meraih ponselnya di atas meja kecil yang ada di samping ranjangnya.

"Hallo," 

"Cepat bangun woy! Udah jam berapa ini?" ucap seseorang di seberang sana dengan suaranya yang keras sehingga membuat pemuda itu menjauhkan ponselnya dari telinga. 

"Memangnya ada apa? Masih ngantuk nih." tanyanya dengan nada malas, karena baginya memejamkan matanya kembali akan terasa lebih nikmat saat ini ketimbang melakukan aktivitas yang lain. Mengingat jika tadi malam ia harus begadang semalaman karena pekerjaan sampingan yang ia tekuni tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.

"Jangan banyak tanya. Cepat bangun sekarang juga, kami tunggu di base camp tempat biasa. Kalau kamu tidak segera kesini. Apa perlu aku yang datang ke rumahmu, dan membawa serta Alex ke sana?" ancam orang di seberang sana seakan sudah tak sabar menunggu. "Masalahnya kondisi saat ini sedang gawat, server punya Alex mendapat serangan dari hacker. Alex tidak bisa menanganinya sendirian."

Mendengar hal itu, pemuda itu pun terbangun dan melompat dari ranjangnya karena terkejut. "Wo, wo, nggak perlu, nggak perlu, aku akan segera kesana." jawabnya yang kemudian melempar asal ponselnya ke atas kasur. Lalu ia berlari menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Buruan!" teriak orang di seberang telepon, walaupun orang itu tahu jika pemuda yang di ajaknya bicara tidak bisa mendengar suaranya.

"Sialan! Beraninya dia mengancam akan ke rumah," gerutu pemuda itu sambil menggosok gigi di depan wastafel. "Bisa habis di marahi mama kalau dia sempat datang ke rumah membawa serta si Alex." 

Baginya saat ini jika orang yang barusan menghubunginya itu beneran datang ke rumah maka tamatlah riwayatnya. Semua kegiatan yang ia lakukan di luar rumah, maka akan terbongkar di depan mamanya. Mengingat jika sahabatnya itu sangat banyak bicara dan bisa saja keceplosan di depan mamanya.

Setelah selesai dengan ritualnya membersikan diri, pemuda itu dengan segera memakai kaos lengan pendek dan celana jeans panjang serta tas selempang hitam yang selalu ia bawa menuju ke lantai bawah rumahnya. 

"Mau kemana, Rey?" tanya Mamanya saat melihat sang buah hati kesayangan turun dari lantai 2 dengan langkah terburu-buru sambil berlari menuruni anak tangga.

"Mau ke tempat Ben, Ma. Sama Ara juga kok." jawabnya.

"Sarapan dulu, ini udah Mama siapkan." teriak Serly (Mamanya).

"Iya."

Reyhan menghela napasnya, lalu ia berbalik badan dan melangkah menuju ke meja makan. Senyum tipis terpancar dari raut wajah Serly saat melihat buah hatinya berjalan mendekatinya. 

"Kenapa wajahnya di tekuk gitu? Kamu nggak mau makan sarapan yang sudah Mama siapkan?" pertanyaan Serly dengan raut wajah terlihat kecewa. 

"Bukan, Ma. Aku lagi buru-buru aja kok. Sejak kapan anak kesayangan Mama ini tak mau makan masakan Mama?" Hibur Rey saat melihat tatapan kecewa dari Mamanya. 

"Kamu tuh kebiasaan. Selalu saja alasan, kapan memangnya kamu bilang nggak pernah terburu-buru, Hem?" ucap Serly sambil mengambilkan sepotong sandwich untuk Rey. 

Rey menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Karena memang begitulah dirinya dengan alasan yang sama jika ingin keluar rumah. "Papa mana, Ma?" Tanya Rey mengalihkan pembicaraan. 

"Ada di kamar, mungkin sebentar lagi kemari. Cepat dimakan, katanya buru-buru." ucap Serly. 

Rey terkekeh mendengar perintah mamanya. "Siap, kapten." jawabnya. 

Lalu Reyhan mulai memakan sarapannya dan meminum susu yang memang sudah di siapkan untuknya. 

Setelah menghabiskan sepotong sandwich dan segelas susu, Rey berpamitan pada Mamanya untuk latihan taekwondo bersama Shakira (Sahabatnya sejak dia masuk ke sekolah SMA) di tempat salah satu sahabatnya yang lain yang bernama Benny. Dan tentu saja itu hanya alasan Rey supaya Mamanya tidak curiga dan mengintrogasi dirinya.

                           *****

Di sebuah cafe, terlihat 3 orang pemuda sedang serius berbincang sambil menikmati minuman pesanan mereka. Ada yang sedang mengotak-atik laptop di depannya, ada juga yang terlihat cemas dengan sebentar-sebentar melihat ke arah pintu utama cafe tersebut. 

"Lama amat tuh bocah." gerutu salah satu di antara mereka. 

"Halah, kamu kayak nggak tahu dia aja. Kalau dia bilang sebentar lagi, itu tandanya dia masih di atas kasur." sambung yang lain dengan tatapan matanya masih fokus ke arah laptop.

"Keburu virusnya nyerang ke server utama, kalau tuh bocah kelamaan datangnya. Bisa habis proyek Alex yang ratusan juta itu. Menciptakan sebuah aplikasi game juga butuh asupan dana, Ben." sambungnya lagi. Dengan tatapan matanya yang masih sebentar-sebentar melihat ke arah pintu cafe.

"Aku tahu, kan ada Alex, dia bisa handle sementara, iya kan Lex?" tanya Benny yang menyikut lengan Alex yang sejak tadi tampak serius melihat ke layar laptopnya dengan wajah cemas.

"Tapi tetap saja aku kan nggak sejago, Rey. Cuma dia yang bisa ngatasi masalah begini. Apalagi masalah keamanan server kan emang tanggung jawab dia." jawab pemuda yang bernama Alex.

Benny menghela napasnya, "Ya setidaknya kamu bisa menghandle sementara sebelum Rey datang." sahut Ben. 

"Nah itu dia orangnya datang," ucap Bagas yang sedari tadi terlihat paling cemas. Melihat kedatangan Reyhan yang sedang berjalan ke arah mereka, tampak kelegaan di raut wajahnya kali ini. 

Benny dan Alex menoleh ke arah pintu utama cafe yang sudah menjadi tongkrongan mereka selama ini. Karena cafe tersebut milik keluarga Bagas. 

"Sorry lama," ucap Rey yang kemudian segera duduk di samping Alex dan mengambil alih laptop milik Alex.

"Kebiasaan kamu nggak pernah hilang, Rey. Selalu saja hobi terlambat." Gerutu Benny.

Reyhan hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ya sorry brother, aku kan harus nyari alasan yang tepat ke nyokap supaya dia nggak curiga." kilah Rey.

Lalu ia mulai melihat layar laptop milik Alex. Walaupun Reyhan sudah datang, tapi wajah Alex masih terlihat tegang. Ia takut jika data penting yang ada di dalam server pribadinya, akan di ambil alih oleh hacker yang tidak bertanggungjawab.

"Syukurlah kamu sudah datang, Rey. Coba kamu periksa dulu semua datanya. Apa masih aman? Atau sudah di ambil alih sama orang itu." ucap Alex yang masih cemas. 

"Aku akan buatkan minuman dulu," ucap Bagas lalu ia meninggalkan ketiga temannya.

Benny beralih posisi duduknya di samping Reyhan. Sehingga posisi Reyhan kini berada di tengah-tengah kedua sahabatnya. "Mereka sepertinya mengincar data game yang akan kamu luncurkan, Lex." ucap Reyhan yang masih fokus dengan layar laptop di depannya.

Benny dan Alex saling pandang. "Sudah kuduga. Mereka pasti salah satu pesaing bisnis kamu, Lex." ucap Benny. 

"Kalian tenang saja, aku jamin mereka tidak akan mendapatkan apa-apa." ucap Reyhan mantap. 

"Aku percaya padamu sobat." ucap Alex sambil menepuk bahu Reyhan. 

Bagas datang dengan segelas minuman dan juga makanan ringan, lalu ia letakkan di meja. "Gimana? Apa sudah terlacak siapa pelakunya?" tanya Bagas yang terlihat cemas. 

"Wait. Sebentar lagi, tidak ada yang tidak bisa aku tangani kalau soal beginian." ucap Rey dengan penuh percaya diri. 

Ketiga sahabatnya itu melihat bagaimana jari Reyhan dengan cepat mengoperasikan keyboard laptop milik Alex. Karena Reyhan yang sedang serius dengan hal itu, mereka bertiga tak ada yang berani menganggu. 

Satu jam sudah berlalu, kini Reyhan menghela napas lega. "Ini alamat IP yang dia gunakan. Lokasinya tidak jauh dari sekolah kita." ucap Reyhan. 

Ketiga temannya menghambur mendekat ke arah Reyhan dan melihat ke layar laptop. Sedangkan Reyhan dengan santai mengambil gelas minuman yang tadi di sediakan oleh Bagas. 

"Kamu benar-benar hebat, Rey. Sebentar saja sudah bisa mendapatkan IP orang itu." ucap Benny kagum. 

"Bagaimana dengan semua datanya?" tanya Alex. 

"Semua aman, aku sudah memperbaharui sistem pengamanan untuk itu. Dan aku jamin tidak akan ada hal seperti ini lagi ke depannya." ucap Rey memberikan garansi pada sahabatnya itu. 

Alex menghela napas lega, "Syukurlah, bisnisku akan aman kalau ada kamu, Rey." ucap Alex. 

Reyhan tersenyum, "Tapi bisnisku akan hancur kalau kamu sampai datang ke rumah dan keceplosan pada mamaku." ucap Reyhan. 

Ketiga sahabatnya itu saling pandang lalu kemudian tergelak tawanya. Mereka semua tahu bagaimana Reyhan sangat patuh pada mamanya. Jadi tidak heran jika Reyhan melakukan pekerjaan sampingan itu tanpa sepengetahuan dari sang Mama.

Bersambung ...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status