Share

#5. Calon Nyonya Wong

“Tumben kau menelepon,” ujar Krystal yang masih sibuk di kantor.

“Apa kau tahu bahwa Marcus menyewa pelacur?” tanya Travis dengan nada menyindir.

“Oh ya?” Krystal terdengar oke. “Lalu kenapa?”

“Marcus menyewa pelacur itu untuk melayaninya secara eksklusif selama sebulan.”

“Kurasa itu lebih baik daripada Marcus tidur dengan perempuan berbeda setiap malam.”

“Bagaimana kalau kakakku jatuh cinta pada pelacur itu?”

Krystal tidak menjawab. Travis mendengus tertawa. Rupanya Krystal pun merasakan cemburu.

“Kau calon Nyonya Wong, sebaiknya kau lakukan sesuatu untuk mempertahankan statusmu di rumah ini sebelum seorang pelacur mencurinya,” hasut Travis. “Sejujurnya, Cecilia Song sangat cantik. Sepertinya dia juga hebat di ranjang. Kakakku sudah bolos dua hari menemani pelacur itu.”

Tanpa menanggapi Travis, Krystal memutuskan sambungan.

***

Ketika Marcus kembali ke kantor, sekretarisnya menyambutnya dengan setumpuk tugas. Dalam tiga hari, setidaknya ada sepuluh janji temu yang harus dijadwalkan ulang. Hana, sekretaris Marcus, tampak sangat lelah dan tertekan.

Baru selesai Hana membacakan agenda bosnya hari ini, yang sangat padat sampai pukul 10 malam nanti, Kevin Lau, wakil CEO Wong Enterprise, masuk ke ruangan Marcus.

Wajah Kevin merah padam terpanggang amarah. Selama tiga hari dia menahan emosinya. Karena selama itu pula Marcus selalu mengabaikan panggilannya.

“Kau sudah gila?!” Kevin mengamuk. “Kau meninggalkan pekerjaanmu demi seorang wanita penghibur?!”

Marcus melirik Kevin. “Bagaimana kau tahu?”

“Karena kau susah sekali dihubungi, aku bertanya pada Travis apa yang kau lakukan!” Kevin menggebrak meja. “Adikmu bilang kau terus berada di kamar bersama seorang pelacur buta!”

“Sudahlah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku,” ucap Marcus ringan. “Jadi, selama kau aku tinggalkan, apa ada berita bagus?”

Sambil lipat tangan di atas dada, Kevin menatap Marcus, mengutuk dengan matanya.

“Apa kau benar-benar merasa bersalah?” cecar Kevin.

“Haruskah aku minta maaf sambil berlutut?” balas Marcus.

Kevin berdeham.

“Untungnya ada berita bagus. Soal pelelangan yang dibuka untuk kelola sistem automasi pembayaran dan keamanan baru di Genting Casino, kita berhasil mengalahkan Wudang Group. Jangka waktu kerjasama mencapai tiga puluh tahun,” jawab Kevin.

Kevin melirik Marcus. Sang CEO hanya tersenyum simpul. Begitulah Marcus kalau hatinya senang, hanya tersenyum simpul.

“Kudengar kau menawarkan sesuatu pada Bos Besar pemilik kasino itu,” lanjut Kevin.

“Putranya yang berbisnis di Las Vegas memerlukan seorang pengacara. Aku hanya mempertemukannya dengan pengacara rekan Krystal di Amerika. Sepertinya pertemuan itu berjalan lancar,” jawab Marcus.

“Makanya, berhentilah main perempuan, dan lebih baik kau segera menikah dengan Nona Li.” Kevin mulai sok tahu.

Marcus tidak berkomentar. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah mendengar nama tunangannya sendiri. Kevin curiga mereka sudah tidak bersama.

“Kau dan Nona Li masih akur kan?”

Marcus mendengus tertawa. “Jangan ikut campur.”

Kevin mengitari meja kerja Marcus, lantas memegang kedua bahu Marcus. “Kau tak boleh meninggalkan Krystal Li! Bahkan walaupun kau tak mencintainya! Li & Associates bukan hanya penasihat hukum kita, tapi juga informan yang sangat lihai!”

Marcus masih membisu.

“Jawab aku, Marcus Wong!” Kevin mengguncang bahu Marcus yang bidang dan kekar. “Jika kau meninggalkan Krystal Li, kau menelantarkan tugasmu sebagai pemimpin Wong Enterprise! Kau diangkat menjadi CEO Wong Enterprise selama dua periode karena kau calon menantu Keluarga Li! Utang budimu sangatlah besar pada Keluarga Li!”

“Kau benar-benar cerewet, lebih cerewet daripada ibu mertua.” Marcus berdecak.

Sekretaris Kevin datang menghadap.

“Tuan-tuan, para tamu dari Genting sudah tiba,” kata sekretaris Kevin itu.

Marcus bangkit dari kursinya, sejenak merapikan jas dan dasi, kemudian berangkat ke ruang rapat bersama Kevin.

Ketika Marcus melangkah memasuki ruang rapat, semua kepala yang ada di ruangan itu langsung menoleh kepadanya.

Ketampanan pria itu, matanya yang tajam dan auranya yang terasa misterius segera mencuri perhatian banyak orang.

Matanya yang cokelat terang kontras dengan kulit yang agak gelap, khas lelaki Hong Kong. Wajah oblongnya bagaikan karya seni agung yang dipahat secara khusus. Dia memiliki tulang pipi yang tinggi, hidung besar yang mancung, serta lesung pada dagunya yang kotak.

Segala benda yang melekat di tubuh pria itu menunjukkan status sosialnya sebagai miliarder. Setelan jas hitam dan sepatunya yang dibuat secara khusus di Italia, jam tangan yang dia kenakan, bahkan penjepit dasinya yang terbuat dari platina. Penampilan Marcus membuat orang yang melihatnya akan merasa terintimidasi.

“Selamat datang, Madam.”

Suara berat itu membuat Madam Tan, tamu dari Malaysia, terkesima. Pemilik kasino besar itu sengaja berkunjung demi menyaksikan dengan matanya sendiri ketampanan CEO Wong Enterprise. Konon sang CEO lebih tampan dari aktor-aktor pujaannya.

“Saya harap Madam tidak menunggu terlalu lama,” kata Marcus sambil menempati kursi di seberang Madam Tan.

“Oh ya, sangat menyenangkan.” Tampaknya cukup sulit bagi Madam Tan untuk berkonsentrasi. “Oh, maksudku, tidak. Jangan khawatir, Tuan Wong. Aku tidak menunggu lama.”

“Senang mendengarnya.” Marcus mengangguk. “Ini Henry Ng, kepala divisi teknik Wong Enterprise. Dialah yang akan menjelaskan tentang sistem pembayaran dan keamanan baru di kasino Madam. Silakan, Henry.”

Henry maju dan memulai presentasi. Sesekali Madam Tan mencuri pandang ke arah Marcus. Sungguh sulit dipercaya, bagaimana seorang lelaki di dunia nyata bisa terlihat lebih tampan daripada lukisan?

Sementara itu diam-diam Marcus juga sedang memikirkan perkara lain. Benak Marcus dipenuhi sosok gadis pendiam yang dia tinggalkan di kamarnya.

Ketika Marcus terbangun pagi ini, dia mendapati gadis itu tidur lelap seperti bayi dalam pelukan Marcus. Mengingat hal itu membuat Marcus tersenyum.

Gadis itu terus menempel erat pada Marcus. Karena Cecilia tidak suka dingin, tanpa sadar tubuhnya mencari kehangatan. Itu kebiasaan tidur yang sangat menggemaskan.

Di balik meja rapat, Kevin mencubit pinggang Marcus.

“Fokuslah,” tegur Kevin sambil berbisik. “Kulihat kau sama sekali tidak memperhatikan presentasi Henry.”

Marcus mengubah posisi duduknya. Rapat siang ini terasa lebih panjang dari biasanya. Marcus ingin segera pulang.

“Tuan, sepertinya Anda terganggu oleh sesuatu,” komentar Hana seusai rapat, ketika menemani Marcus kembali ke ruangannya. “Apa yang dapat saya bantu?”

Sejenak Marcus membaca agenda di dalam tablet elektroniknya. Acara nanti malam adalah pertemuan di luar kantor. Seorang klien Wong Enterprise mengundang Marcus mengunjungi club malam barunya.

“Batalkan semua acaraku setelah pukul 9,” perintah Marcus. “Aku ingin cepat pulang hari ini.”

“Karena alasan apa?” tanya Hana bingung.

“Kerjakan saja, tak usah banyak tanya,” jawab Marcus ketus.

“Baik, Tuan.” Hana membungkuk. “Maafkan saya.”

Sekretaris Marcus itu merasa heran. Baru kali ini Hana lihat wajah kusut Marcus. Sang bos juga terus mengesah seperti orang bosan.

Sekitar pukul setengah sembilan malam, ketika agenda terakhir di kantor selesai dikerjakan, Marcus bergegas pulang.

Empat puluh lima menit kemudian, Marcus tiba di rumah. Pria itu berlari menaiki tangga, menuju kamarnya. Dia membuka pintu dengan semringah.

“Cecil—”

Wanita yang menyambutnya bukanlah Cecilia.

“Oh, halo, Marc ….” Krystal, mengenakan lingerie yang sangat terbuka, menghampiri dan mengecup bibir Marcus. “Kau tidak merindukanku?”

[Akhir Bab 5]

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Chubby Misso
Terima kasih Kakak sayang hehe
goodnovel comment avatar
Dwi Rahayu
Menarikkkkk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status