Share

Ditolak Magang Malah Jadi Ayang
Ditolak Magang Malah Jadi Ayang
Author: Namericanou

1. Bocah Tengil

“Sejak kapan kamu magang di perusahaan ini?”

Pertanyaan itu terlontar begitu Chiara memasuki ruangan. Bahkan sebelum ia memberikan salam ramah pada pria itu. Jantungnya terus berdetak lebih cepat hingga membuatnya menjeda jawaban sedikit lama.

“Baru seminggu lalu, Pak,” aku Chiara jujur. Kepalanya tertunduk, tak berani menatap atasannya yang dari auranya saja sudah mengerikan.

Semenjak menjadi pemagang di PT Melintang Raya, Chiara belum pernah sekalipun berhadapan dengan CEO-nya langsung. Hari ini ia berkesempatan bertemu karena mendadak dipanggil sosok pria 30 tahunan itu. Namun, bukan untuk memperkenalkan diri sebagai anak magang baru, melainkan disidang atas kesalahannya sendiri.

“Setelah ini, kamu balik ke meja dan ketik surat pengunduran diri,” titah Yanuar dengan dagu sedikit terangkat. “10 menit cukup, ‘kan?”

Dua iris Chiara melebar. “Lho, Pak, jobdesk saya bukan mengetik surat pengunduran—“

“Coba kamu lihat laporan data keuangan yang kamu buat di sini!” Yanuar melempar berkas ke meja, tepat di hadapan Chiara. “Banyak sekali typo bertebaran, mengetik huruf saja kamu bisa asal-asalan. Saya nggak butuh pekerja apalagi anak magang nggak becus kayak kamu!”

Napas Chiara tercekat. Ia sadar kesalahan itu ketika sang leader memberitahunya kemarin. Chiara pikir, data yang dibuatnya itu tidak akan diketahui pihak atasan, apalagi Yanuar selaku CEO perusahaan. Ternyata dugaannya melenceng.

Mau bagaimana lagi, itu memang kesalahannya. Namun, Chiara tak bisa menjelaskannya dengan jujur atas alasan yang sebenarnya terjadi. Dua hari kemarin, kepalanya penuh lantaran memikirkan biaya sewa indekos yang belum dibayar, mengingat ayahnya belum mengiriminya uang. Ditambah beasiswa yang didapat baru bisa turun bulan depan.

“Maaf, Pak, segera saya revisi secepatnya.” Gadis itu meraih berkas yang dilempar Yanuar tadi.

Helaan napas Yanuar terdengar berat dan panjang. Terkesan kesal bukan main atas ulah anak magang di perusahaannya. Perlahan pria itu bangkit dari kursi kerjanya, memasukkan sebelah tangan sebelum akhirnya berjalan mendekati tempat Chiara berdiri.

“Nggak perlu!” sambarnya telak. “Saya baru lihat di CV yang kamu lampirkan saat melamar menjadi pemagang di sini. Kamu gap-year dua tahun, itu tandanya pengalamanmu cukup banyak.”

Gadis itu menggerakkan kepala naik-turun, begitu pelan. “Iya, betul, Pak. Saya sempat kerja di pabrik, selebihnya pernah serabutan di toko bangunan ikut saudara,” terangnya.

“Kalau lagi ngomong sama orang, lihat lawan bicaramu. Bukan malah nunduk begitu!”

Tubuh Chiara berjengkit mendengar seruan berisi sindiran itu. Mau tak mau, ia mengikuti Yanuar dengan mengangkat wajah. Kemudian membalas tatapan dingin yang berbalut menyeramkan itu bersama keberanian yang tak seberapa.

“M-maaf.”

“Terus kenapa jadi berminat kuliah?” tanyanya. “Kebanyakan orang yang udah kerja, udah bisa dapat duit per bulan, merasa nggak perlu tuh kejar pendidikan. Tapi, kamu kenapa malah meninggalkan pekerjaan tetap di pabrik dan memilih lanjut kuliah di universitas negeri?”

Chiara membuang napas pelan. Malas sekali mendapati template pertanyaan yang sama seperti HRD. Pertanyaan klise seperti itu bukannya sudah jelas, ya.

“Mau kejar impianlah, Pak. Saya mau sukses daripada jadi buruh pabrik bertahun-tahun,” akunya jujur. “Beda sama Bapak, nggak perlu kuliah pun tetap bisa dapat posisi kayak gini. Tinggal meneruskan apa yang dimiliki orangtua, tanpa pusing mikirin tugas kuliah.”

Kedua alis Yanuar bertaut. Napasnya terembus kasar kala mendengar si gadis berbicara tanpa ragu. “Kamu sedang meremehkan saya?”

Mendengkus samar, Chiara membalas, ”Bapak merasa diremehkan atau justru merasa ucapan saya tadi itu … benar?”

“Jaga bicaramu, ini kantor dan saya adalah atasanmu!” gertak Yanuar.

Chiara menipiskan bibir, menahan senyum. “Orang-orang juga tahu, Pak, ini kantor. Gedung sebesar ini, ruangan ber-AC, ditambah pernak-pernik mahal. Saya nggak bodoh, Pak.”

Mendengar itu Yanuar mendecakkan lidah. “Oke, kamu nggak bodoh, tapi sayangnya dari empat semester yang kamu lewati, hasilnya kosong. Anak SD aja lebih pinter ngetiknya daripada kamu!” Ia menarik salah satu sudut bibir, membuat lengkungan miring yang menunjukkan sikap remeh. “Sudah paham arah pembicaraan ini, Chiara? Saya nggak butuh pekerja seperti kamu, jadi lebih baik kamu cari perusahaan lain.”

Mata Chiara sontak melebar. Lalu mengerjap kaget usai benar-benar berhasil mencerna kata-kata Yanuar. Kepalanya lantas menggeleng sambil membayangkan akan seperti apa nasibnya nanti jika harus keluar dari perusahaan ini.

“Wah, yang benar aja, Pak? Masa sih, karena hal sepele Bapak memecat pemagang seperti saya?” kata Chiara tak terima. “Ini nggak adil, Pak. Beri saya kesempatan sekali lagi, saya mohon.”

Yanuar mengangkat tangan. Mengibaskannya dengan raut datar, seakan memberi isyarat agar Chiara berhenti merengek padanya. Namun, gadis itu masih saja berusaha hingga Yanuar angkat bicara.

“Kamu bisa kemas barang-barang di kubikel dan pulang lebih awal.” Ia mengedik pada pintu yang tertutup rapat. “Silakan, tutup pintu dari luar.”

Chiara mengikuti arah yang diberikan Yanuar. Saat menyadari ia baru diusir atasannya, lekas tubuhnya terduduk dan terus memohon. “Pak … saya butuh program magang ini,” ujarnya tegas, nyaris meraih lengan Yanuar untuk menahannya. “Saya juga butuh uang saku untuk hidup sehari-hari, Pak.”

Dalam pikirannya hanya satu; harus bertahan agar mendapatkan uang. Setidaknya jika magang selama tiga bulan, sesuai kontrak yang ada, Chiara bisa memastikan tempat tinggalnya nanti selama berkuliah. Ia tidak perlu memaksa ayahnya bekerja keras, apalagi menunggu beasiswanya. Tak peduli gengsi dan malu, Chiara harus mendapatkan kesempatan itu dari Yanuar langsung.

“Ah, kamu butuh pekerjaan? Mungkin kamu bisa kembali bekerja di pabrik dan mengambil cuti?” beo Yanuar santai, tak terpengaruh sama sekali. “Ah, kebetulan kantor sedang buka lowongan di bagian cleaning service. Kenapa kamu nggak coba memasukkan lamaran ke sana?”

Kembali ke pabrik dan mengambil cuti? Wah, sudah gila rupanya pria itu. Memang mudah bersilat lidah, apalagi jika orang kaya yang melakukannya. Semua itu membuat benak Chiara mendidih, raut melasnya kini lenyap dan diganti dengan senyum miring menyebalkan. Kesabaran Chiara sudah mencapai batasnya, keinginan melempar bogem mentah sudah di ujung buku-buku jarinya sekarang.

Lantas perlahan kepalanya terangkat dan menatap Yanuar dengan sorot mata tajam. “Apa Bapak terbiasa mengoceh seperti ini pada karyawan dan sesuka hati memecat mereka karena satu kesalahan?”

“Mengoceh?” ulang Yanuar dan refleks menegakkan tubuh di sisi meja.

Chiara bangkit, membenahi pakaiannya dan berjalan maju beberapa langkah agar bisa berhadapan langsung dengan “Iya, emang kenapa? Mengoceh kayak beo!” jeritnya tak segan-segan mengomentari. “Pantas aja banyak lowongan yang muncul di portal pencari kerja dari kantor ini, nggak heran, sih, atasannya aja begini. Nggak punya hati nurani dan etika!”

Kini Yanuar melototi Chiara. “Hei, hei, berani ya kamu bilang seperti itu?”

“Beranilah, emang situ siapa? Toh sekarang saya bukan anak magang di sini, jadi Bapak nggak bisa ngatur-ngatur saya lagi!”

Kalau sudah dibentak dan direndahkan seperti itu, mana bisa Chiara diam saja. Ia selalu punya keberanian lebih untuk melawan. Sekalipun orang yang ada di hadapannya sekarang adalah penguasa. Chiara tak peduli, sebab logikanya mendadak surut kalau sedang berapi-api.

Mendapati tatapan tajam dari si gadis, Yanuar sontak menunjuk, “Apa maksud kamu lihat-lihat seperti itu?”

“Mata-mata gue, terserah guelah mau lihat ke mana!” balasnya makin menyolot.

“Astaga, anak jaman sekarang sudah gila semua!” keluh Yanuar geram. “Pantas aja mentalnya macam krupuk, mlempem!”

Merasa tak terima dikatai gila, Chiara meraih berkas kerjanya. Lalu melempar ke arah Yanuar yang sedang berjalan kembali ke tempat duduk. Sayangnya berkas itu mendarat pas di bagian belakang kepala. 

“Lebih gila lo, nggak bisa menghargai sesama manusia!” serunya puas sekali. “Rasain tuh!”

Entah seberapa keberanian yang Chiara miliki, tapi ketika Yanuar memutar tubuh dan mendekatinya, ia tampak biasa saja. Bahkan masih bisa terkekeh geli. Namun, tidak saat tangan kirinya dipegang dan dicengkeram kuat-kuat. Waktu itu ia bisa merasakan napas berat Yanuar yang menimpa wajahnya ketika ia mendongak.

Alis Chiara bertaut begitu merasakan sakit di pergelangan tangan. “Lepas … sakit!” ujarnya merintih. “Tahu sakit nggak, sih? Apa jangan-jangan lo budek ya?”

“Berisik, bocah tengil!”

“Bukan bocah tengil, lo aja yang aja ketuaan!”

“Masih berani jawab ya, kamu?”

Alih-alih melepaskan cengkeraman, Yanuar justru makin memangkas jarak. Menatap lekat nan dalam wajah menyebalkan gadis itu. Sampai ringisan yang tercetak jelas di raut Chiara berubah menjadi ketakutan.

Chiara boleh dianggap tengil, tapi ia masih punya otak yang bisa digunakan dengan baik. Tentu ketika sadar satu tangannya bebas bergerak, ia tak segan-segan mendaratkan tamparan telak di pipi Yanuar.

“Kurang ajar!” desisnya begitu tangannya yang lain terbebas. “Pergi dari sini dan jangan kembali lagi. Chiara Sagita, kamu … saya pecat!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status