Share

DIA MELECEHKANKU

"Apa kamu siap mencintai bajingan seperti Abang?" Bang Habib bertanya dengan suara berat dan serak.

Aku tidak sempat menghindar saat bibir penuh Bang Habib menempel di atas bibirku yang belum pernah terjamah. Awalnya hanya menempel, lalu dia mulai melumat kasar hingga aku sulit bernapas.

Bukan. Bukan ini yang aku mau. Aku ingin kamu saling menerima tanpa ada paksaan. Namun, kenapa dia jadi seperti ini? Aku tidak mengenal sosok laki-laki yang tengah menggigit bibir ini dengan kasar tanpa perasaan.

Aku memberontak saat Bang Habib menindih tubuhku. Ingin sekali mendorong tubuhnya agar menjauh, tapi sekali lagi tenagaku terkuras karena air mata yang merebak deras.

Napasku terengah-engah saat bibirnya berpindah ke batang leherku dan menghisapnya dengan kuat. Aku merutuki diri karena mendesah di sela isak tangis. Pasti nanti leherku akan dipenuhi bercak merah yang memalukan.

"Kamu menikmati, Ra. Munafik!" Bang Habib kembali merendahkanku, tapi tangannya menyelinap masuk ke dalam baju kaos yang aku kenakan. Menyentuh bagian sensitif tubuhku.

"Tolong jangan perlakukan Ra seperti ini, Bang." Aku terus memohon. Namun, Bang Habib tidak peduli sedikitpun.

Aku terisak-isak. Untuk bernapas pun terasa sulit karena dia kembali membungkam bibirku dengan ciuman kasar. Dia memperlakukanku layaknya jalang di luar sana.

Bang Habib mengehnrikan kegiatannya. Pandangan mata kami bersirobok, walaupun pandangku saat ini buram karena air mata, aku tahu sorot mata itu terpancar penyesalan.

Tangannya terulur hendak menghapus air mataku. Tetapi, aku membuang wajah ke samping. Enggan menatap laki-laki bergelar suami itu. Rasa kecewa saat ini lebih mendominasi. Ya, dia telah menabur luka di malam pertama kami.

"Ini balasan karena kamu berani menaruh rasa padaku," sengit Bang Habib sebelum bangkit dari atas tubuhku.

Dia menggerutu sambil mengusap wajah kasar. Aku segera membalikkan badan dan meringkuk meratapi nasib. Bantingan pintu kamar mandi membuat aku terlonjak kaget, lalu setelah itu gemercik air terdengar samar. Mungkin dia tengah mendingankan kepalanya yang terbakar birahi.

Setengah jam kemudian, dia keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet. Aku tidak melihat, tapi aku dapat mendengar setiap pergerakannya dari bunyi yang dihasilkan.

Aku tidak dapat memejamkan mata hingga adzan Subuh berkumandang dari masjid yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Bang Habib duduk di depan jendela yang terbuka. Asap rokok memenuhi kamar ini, tapi dia tidak peduli, meskipun aku terbatuk-batuk.

Aku beringsut dan turun dari ranjang menuju kamar mandi. Lebih baik salat dan mengadu pada pemilik kehidupan. Aku tahu bahwa Bang Habib sengaja melecehkan agar aku menyerah dan memilih pergi.

Akan tetapi, apakah aku salah jika tetap bertahan. Bukan hanya karena rasa cinta yang sepihak, tapi pantang bagiku menyerah tanpa harus berjuang terlebih dahulu. Entah seperti apa nantinya dan harus berapa banyak lagi luka yang dia berikan.

Lewat pantulan cermin di atas wastafel. Aku dapat melihat bercak merah memenuhi leher hingga di atas dada. Bibirku bengkak seperti disengat lebah pada puncaknya. Merah dan mengkilat. Menandakan bahwa dia begitu bernafsu pada bibir ini.

Ironi memang. Dia suami, tapi berprilaku seperti pencuri. Jika dia meminta hak secara baik-baik, pasti aku akan memberi dengan suka rela. Namun, untuk menyesal pun rasanya percuma. Aku telah jauh berjalan seperti ini.

"Mbak Naya ...! Apa yang harus aku lakukan pada suami kita? Dia tidak memandangku sedikit pun. Di matanya cuma ada Mbak, begitu juga di hatinya. Tidak ada tempat untukku, walau hanya sedikit." Aku bergumam pada diri sendiri. Berharap angin akan mengantar suaraku pada perempuan bermata bulat itu.

Semua memang salahku. Andai waktu itu aku tidak ceroboh dan meninggalkan buku diary di atas ranjang. Mungkin sampai saat ini aku menyimpan rasa cinta ini hanya untukku sendiri. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuatku bahagia.

Tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menjadi istri Bang Habib, walau rasa cinta sudah tertanam dan tumbuh subur sejak aku remaja. Namun, siapa yang menyangka? Diary yang tertoreh semua rasa, akhrinya diketahui oleh Mbak Naya.

Sejak saat itu, Mbak Naya selalu mendorongku agar mendekati suaminya. Aku kesal, aku marah tanpa tahu alasan Mbak Naya kala itu. Semua terkuak saat dia tidak lagi kuat menahan sakit karena penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya.

Aku mengeglengkan kepala. Kemudian membersihkan tubuh dengan cepat. Waktu subuh tidak terlalu lama dan aku tidak mau menjadi orang yang merugi karena sengaja melalaikan kewajiban. Biarlah urusan hati aku serahkan pada Sang Maha Pengasih. Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kami.

"Abang nggak salat? Sebentar lagi matahari akan terbit. Salatlah, Bang! Mbak Naya pasti sedih jika Abang terus-terusan seperti ini." Aku berusaha membujuk Bang Habib yang masih terpekur di ambang jendela. Sejak kejadian tadi, tidak sedikit pun dia bersuara.

Bang Habib telah banyak berubah sejak kepergian Mbak Naya. Tiada lagi pernah terdengar suara merdu dari bibir penuh itu kala melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Pun dengan salat yang sering bolong-bolong. Kata Mama Hani, dia akan marah jika diingatkan.

Aku menarik napas panjang karena Bang Habib tidak merespon. Lebih baik aku salat sendiri tanpa berharap dia mau menjadi imam. Namun, gerakanku terhenti saat pemilik suara bariton itu menyapa indra pendengaran.

"Abang ambil wudhu dulu."

Aku tersenyum menanggapi. Semoga ini menjadi langkah baik untuk hubungan kami. Dia kembali dari kamar mandi dengan wajah lembab karena air wudhu. Di mataku dia makin tampan dan memiliki sejuta pesona.

Aku menikmati setiap gerakan salat yang diimami Bang Habib hingga akhir salam. Jika dikurung seperti ini membuat dia lebih baik, maka aku lebih memilih terus dikurung.

Dengan ragu aku mengulurkan tangan. Bang Habib menatap tanganku lamat-lamat sebelum meraihnya dengan lembut. Untuk yang kedua kalinya, aku mencium punggung tangan dia. Walaupun tanpa kecupan di dahi, sudah membuat diri ini senang.

"Ra ...!" Aku mendongak dan menatap matanya. Bang Habib tampak ragu meneruskan perkataan.

"Dalam waktu dekat, Abang mau mengajak kamu pindah dari rumah ini." Akhrinya Bang Habib kembali melanjutkan ucapannya setelah terdiam beberapa jenak.

Aku mengernyitkan dahi. Merasa bingung dengan alasan mengajakku pindah dari rumah Mama Hani.

"Kita butuh tempat yang tidak menyatu dari keluarga dan Abang nggak mau kalau mereka terlalu ikut campur dengan urusan kita."

"Tapi kenapa waktu Mbak Naya masih hidup, Abang nggak tinggal terpisah dari Mama?" sanggahku keberatan. Mama Hani tinggal sendiri di rumah sebesar ini. Sesekali, Mbak Vio atau Bang Ridwan akan menemani. Aku tidak mungkin tega meningkatkan Mama Hani.

Rahang Bang Habib mengatup keras dan kedua tangannya mengepal dengar erat hingga buku-buku jarinya memutih. Apakah dia marah karena aku membandingkan saat Mbak Naya masih hidup?

"Jangan pernah menyamakan dirimu dengan Naya, Ra. Harusnya kamu ingat siapa kamu untukku." Ucapan Bang Habib terdengar tajam. Belum lagi, dia menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.

Ya, Tuhan .... Mengapa rasanya sangat sakit? Padahal aku tahu semua yang dia katakan benar adanya. Sampai kapan dia menganggapku sebagai istri bayangan?

Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ova Bakri
sosor terus sampai bengek ......
goodnovel comment avatar
Fithriah Arrahman
Bang Habib katanya terpaksa, tapi main sosor aja, wkwk.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status