Share

Part 3

Aku tersentak ketika Bang Malik menggoyang-goyangkan badanku. 

"Bangun, Cha. Truk sudah mau berangkat."

Aku membuka mata dengan perlahan. Rupanya aku tadi tertidur pulas karena kelelahan hingga tidak terasa sudah jam empat subuh. 

Bang Malik meraih tanganku dan kembali menggendong ranselnya yang penuh sesak itu. Warung yang kami singgahi itu ternyata buka selama dua puluh empat jam sebagai tempat persinggahan truk-truk muatan yang singgah, atau sekedar melintas. 

Hari ini truk dari Pekan Baru yang bermuatan pupuk, akan melintasi Medan menuju  Banda Aceh. Ibu pemilik warung sudah menitipkan kami kepada supir yang sudah lama dikenalnya.

"Hati-hatilah di jalan. Semoga kalian selamat sampai di tujuan. Jaga baik-baik adikmu itu." Pesan ibu penjaga warung, sambil memberikan kami bungkusan untuk bekal di jalan. 

Truk melaju dengan kencang, membawa sejuta angan, yang kini bermain-main di dalam pikiran kami. 

Aku dan Bang Malik saling menatap sambil melempar senyum, berharap ada kehidupan yang lebih baik menunggu di sana. 

*******

Medan 2019

Aku melupakan semua firasatku tentang Pak Malik. Meyakinkan hati, bahwa dia adalah orang yang berbeda. Malik sudah mati walaupun aku tidak sepenuhnya yakin. 

Masih terlintas sekelabat ingatan saat para preman itu memukuli Bang Malik habis-habisan. Wajahnya basah tertutupi darah.

Tubuh nya tersungkur tak berdaya. Lalu lengan besar dan kuat itu memikul tubuhku yang meronta-ronta menjauhi tubuh Bang Malik yang tak bergerak.

"Ngelamun aja woi, kesambet baru tau." Sebuah tepukan di pundak menyadarkanku dari lamunan. "Masih kepikiran sama yang namanya Malik?" tanya Aira, pemilik rumah tempatku menumpang. 

"Nggak lah, beda. Yang ini lebih ganteng," jawabku santai. 

"Emang bener, dia anak Bos kamu? Bukannya kemarin kamu bilang anaknya jauh lebih muda?"

"Ya, aku juga heran. Kayaknya baru kemarin  mereka ngadain pesta anaknya yang kuliah ke luar negeri. Tau-tau udah jadi bos aja." Aku dan Aira cekikikan. 

"Bisa aja kan, kalau Bos kamu itu punya anak yang lain. Mana tau suaminya juga punya simpanan." Aira mengoceh semakin tak karuan. 

"Nyari temen?" sindirku pelan. 

Aira terkekeh dengan ucapanku. 

"Eh, Cha, ntar malam kamu cabut dulu ya. Mas Harris lagi ada di Medan. Dia mau datang malam ini," ujarnya tanpa bisa dibantah. 

Aku dan Aira sudah lama saling mengenal. Dulu kami bekerja di sebuah club malam sebagai pelayan pengantar minuman.

Aira adalah seorang yang ramah tamah dan mudah beradaptasi dengan tamu-tamu yang baru dikenalnya. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi mampu menggoda para tamu lelaki untuk tidak segan-segan memberikan uang tips yang banyak. 

Tak jarang dia juga mau menemani para tamu untuk minum-minum. Hingga pada suatu hari ada lelaki paruh baya yang sangat tertarik pada kecantikannya. 

Aira selalu dimanja dengan segala kemewahan. Hingga suatu hari dia membuat keputusan untuk bersedia menjadi istri simpanan lelaki setengah tua tersebut. 

Hidupnya kini berkecukupan, tak perlu repot-repot lagi bekerja di club tersebut. Bahkan kini dia tinggal di sebuah rumah bergaya khas Belanda di kawasan elite, kota Medan. 

Aira pun mengajakku untuk tinggal bersamanya tanpa harus membayar, karena paling hanya sebulan sekali suami sirinya itu datang untuk menjenguk.

Tapi tentu saja dengan satu syarat, kapan pun dan jam berapa pun laki-laki itu datang, aku harus segera angkat kaki dari rumah. Termasuk malam ini, seperti yang dia katakan barusan. 

Ah Aira, jalan hidup kita memang tidak ada yang tau. Dia mungkin belum sadar dengan perbuatannya. Betapa tidak, apa yang dia jalani saat ini pastilah menghancurkan hati wanita lain yang ada di suatu tempat. 

"Iya, iya. Aku akan pergi dan menginap di kost annya Vera. Selamat bersenang-senang," ujarku, seraya bangkit dan bersiap-siap.

******

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status