Share

[3]

Sebuah seringai hadir di wajah cantik Giselle saat melihat wajah Selena yang memerah. Wanita yang dia panggil 'ibu' itu hanya tersenyum simpul dan menatap Giselle marah.

"Seperti itukah caramu berbicara dengan ibumu, Giselle?" tukas Natalie membela. Entah apa yang terjadi antara adiknya dan juga sang ibu sehingga hubungan meraka kian memburuk.

"Aku tidak memaksa kalian untuk percaya ... Aku pergi." Giselle pergi dari ruang tamu. Dia terlalu malas berdebat dengan orang-orang di rumah.

"Giselle!" teriak Selena memanggil.

"Aku tidak tahu, apa yang salah dengan diriku, sehingga Giselle bersikap seperti itu sekarang." Raut frustasi itu berhasil membuat orang yang berada di ruang tamu simpati kepada Selena.

Jika setiap mata merasa iba pada Selena, berbeda dengan Jose yang merasa ditantang dengan sikap Giselle yang sangat luar biasa itu. Gadis cantik dengan kehidupan yang sempurna itu lebih suka menghabiskan waktunya diluar dibandingkan duduk manis di rumah. Sesuatu pasti sudah terjadi padanya.

Harry membuang nafasnya kasar, tangannya beralih mengusap punggung Selena untuk menenangkan istrinya. Dia berucap, "Kau tidak salah Selena, aku yang terlalu keras padanya, sehingga dia tumbuh menjadi gadis yang keras."

Selena mengangguk pelan.

"Ikuti dia!" seru Harry pada asisten pribadinya.

Mendengar perintah dari Harry, pria dengan setelan rapi itu segera keluar untuk menyusul Giselle.

~o0o~

Suara riuh terdengar saat mobil Giselle sudah sampai di cafe yang terletak di sudut kota. Cafe ramai dengan pengunjung yang siap untuk menonton balapan malam ini.

'Gigi' begitulah mereka memanggil Giselle. Tidak ada yang tahu pasti siapa itu perempuan yang mereka panggil 'Gigi'. Mereka hanya tahu Gigi yang berasal dari keluarga kaya raya.

"Bukankah malam ini kau ada urusan penting?" Seorang perempuan menghampiri Giselle.

Giselle diam menatap Diana sesaat, setelah itu membuang napasnya kasar. Dia berucap dengan lirih, "Kehadiranku bukanlah sesuatu yang penting."

"Mau rokok?" Diana menyodorkan sekotak rokok yang dia punya pada Giselle. Berharap perempuan di sampingnya ini menerima tawarannya.

"Aku tidak suka merokok," tolak Giselle melangkahkan kakinya menuju Cafe. Alkohol lebih baik dibandingkan rokok menurut Giselle.

Giselle melewati benyak mobil sport yang tidak kalah mewah daripada miliknya yang berjejer di depan cafe. Banyak perempuan dan pria yang juga seusia dengannya. Jika mereka datang karena suka dengan hal yang berbau otomotif, Giselle datang karena merasa tidak nyaman jika terus berada di rumah.

"Gigi! Mau balapan denganku malam ini?" teriak salah seorang yang duduk berkerumun dengan teman-temannya.

Tidak ada niatan untuk membalas ucapan si lelaki, Giselle hanya membuang muka berlalu. Dia hanya ingin masuk ke dalam cafe dan meminum alkohol sebanyak yang dia mau.

"Dasar perempuan jalang! Apa kau sedang mengabaikanku?" Pria berambut gondrong itu tersulut emosi saat Giselle mengabaikannya.

Diana masih setia mengikuti langkah Giselle. Selain dirinya, tidak ada yang tahu siapa Giselle sebenarnya. Dia juga cukup tahu masalah di keluarga Giselle.

Mereka berteman dekat sejak Giselle bergabung dalam group ini. Tidak banyak yang bisa mendekati Giselle, walaupun banyak diantara mereka yang berniat baik untuk menjadi temannya, tetapi Giselle benar-benar tertutup dan pemilih.

Giselle duduk tepat di depan bartender yang sudah siap melayaninya. Namun, belum ada niatannya untuk memesan minuman apapun.

"Kau bertengkar lagi dengan ibumu?" tanya Diana sedikit berbisik.

"Dia tidak bisa bersikap adil padaku, seolah aku bukan anaknya," jawab Giselle cepat.

"Dia tetaplah ibumu. Dia menjagamu dari kecil hingga tumbuh menjadi Giselle yang sekarang. Sudah sepantasnya kau bersikap baik padanya, kan. Walaupun, dia bersikap tidak baik padamu," ucap Diana mencoba menenangkan Giselle.

"Dia hanya memikirkan perasaan Natalie, seolah aku akan merampas kebahagiaan saudariku."

Diana menghela napasnya, permasalahan orang kaya memang berbeda dengan masalah orang miskin sepertinya. Jika diberi kesempatan bertukar tempat dengan Giselle, mungkin dia akan tetap menikmati hidupnya tanpa memikirkan bagaimana sikap orang tuanya.

"Jadi, apa yang kau inginkan? Kau punya banyak uang, harta berlimpah, dan karir yang bagus di perusahaan ayahmu. Kenapa tidak pindah saja dari rumah itu?" tanya Diana lagi. Pertanyaan yang sensitif, dia harap Giselle tidak tersinggung pada kalimatnya.

"Ayah tidak mengizinkanku," jawab Giselle menghela napasnya.

Diana mengangguk. Dia juga tidak tahu harus memberi solusi seperti apa pada Giselle. Giselle benar-benar keras kepala, jadi sarannya juga tidak akan berguna.

"Tenangkan dirimu, aku keluar sebentar." Diana beranjak dari kursinya, dia bergegas keluar untuk ikut berkumpul bersama teman-temannya yang lain.

"Lama tidak bertemu, Giselle." Bartender yang sedari tadi hanya diam di depan Giselle kini bersuara dan mmengangkat wajahnya menatap GIselle. Senyum terukir di wajahnya saat mendapati wajah terkejut dari Giselle.

"Kau?"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status