Share

bab 7. tanpa senyum

Dan laki-laki yang memiliki tinggi 183 cm itu membacanya dengan detail tanap melewatkan satu kata pun.

Bola matanya mengikuti setiap kata demi kata yang di bacanya,

Dan Hans menelan ludahnya membaca sebuah tulisan riwayat sekolah Vania.

"Ini adalah sebuah wilayah dimana malam itu terjadi." gumamnya dalam hati..

Dan jantungnya pun semakin berdegup dengan kencang.

Dan Hans beranjak dari duduknya.

Dan dia mengalihkan pandangannya menuju langit yang membiru, untuk menetralkan gemuruh yang ada di dadanya.

"Sudah ada dua bukti yang mengerucut mengarah ke arah wanita yang bernama Vania Seisilia itu." lanjutnya dalam hati dengan perasaan entah senang atau justru canggung.

Keesokan harinya.

Di poisisi C3 lagi sedang ramai dengan sebuah rancangan Vita yang sangat fenomenal.

Semua para desainer mengerubungi hasil karya Vita.

Tak terkecuali Vania, dia sangat kagum dengan desain dari Vita, namun setelah tangannya menyentuh bahan kain yang di gunakan dalam karya Vita membuat Vania mengerutkan alisnya. "Sayang sekali." gumamnya dalam hati.

Hari ini Vita akan mengajukan karyanya ke pihak petinggi perusahan untuk di lirisnya.

Jam menunjukan pukul 9 pagi.

Para desainer berkumpul tak lupa para petinggi juga ikut berkumpul tak terkecuali Hans, dia ikut langsung untuk melihat hasil karya para desiner yang di bawah naungannya.

Mereka berkumpul dalam sebuah ruangan aula perusahan untuk melihat karya Vita.

Semua duduk rapi dan melihat sebuah desain baju tidur yang tak lain adalah sebuah baju lingerin.

Mereka yang melihat desian Vita merasa jika karya Vita adalah sebuah trobosan dalam perkembangan fashion di masa depan.

Acara pun di mulai dan para petinggi berdiskusi apakah karya Vita bisa di rilis bulan ini, mereka akan memberi keputusan hari ini juga.

Dan saat mereka diskusi Vania yang tengah duduk dia pun beranjak, dia mengangkat tangan kanannya.

"Maaf semuanya, saya mau memberi masukan untuk karya yang ada di depan." serunya.

Seisi ruangan semua langsung mengalihkan pandangannya kepada Vania, dan mereka kompak melihat Vania.

Banyak di antara mereka bertanya satu sama lain, "Itu siapa ya? Aku kok gak pernah lihat ya?" ujar mereka kepada rekannya yang berada di sisinya..

Dan pembawa acara yang berada di depan menyuruh Vania untuk maju ke depan. "Silahkan ibu, jika ingin memberi masukan." ujarnya mempersilahkan.

Dan Vania pun melangkahkan kakinya untuk maju ke depan, dia berjalan dengan langkah tegapnya.

Wajah cantiknya membius semua orang yang melihatnya, namun sayang tak ada raut wajah senyum di bibirnya.

Yang ada hanya tatapan mata yang tajam yang menatap lurus tanpa memperdulikan orang di sekitarnya.

Dan Vania naik ke panggung dan berdiri di sisi karya Vita.

"Menurut saya desainya sangatlah bagus, namun dalam karyanya ada beberapa hal yang harus di evaluasi, bahannya menurut saya kurang cocok." ujar Vania.

Mendengar apa yang di katakan Vania membuat Vita mendengus kesal, dia pun memutar bola matanya. "Sialan karyawan baru ini, masih baru masuk tapi sudah sok tahu." gerutunya dalam hati.

Dan Vita pun menyipitkan matanya.

Sedangkan Vania pun menatap kembali karya Vita lebih seksama. "Itu adalah masukan saya, jika kalian tak berkenan tak masalah jika masukan saya tak di gunakan." seru Vania kembali.

Lalu dia pun turun dari panggung, dan tatapan matanya tak sengaja saling bertemu dengan tatapan Hans yang tengah duduk di kursi paling depan.

Dan Vania pun langsung mengalihkan pandangannya, dan dia pun melangkahkan kakinya untuk duduk kembali ke kursinya

Dan di atas panggung Vita pun langsung membela karyanya yang di cacat oleh Vania.

Vita sepertinya menahan amarah yang besar pada Vania, dadanya kembang kempis tak karuan namun dia harus menahan itu.

"Maaf untuk ibu karyawan baru di sana yang sudah memberi masukan pada karya saya, di sini saya menjelaskan jika karya saya adalah sebuah trobosan dalam dunia fashion. Dan bahannya juga halus ini sungguh cocok dengan karya saya." ujarnya yang menjelaskan di hadapan semua orang seisi ruangan.

Dan pembawa acara pun menyuruh para petinggi untuk diskusi lebih lanjut tentang karya yang di buat oleh Vita.

"Saya persilahkan untuk para petinggi diskusi terlebih dahulu, mengangat karya baru ibu Vita ada yang menyanggah." seru sang pembawa acara.

Dan mereka pun berdiakusi, dan setelah sekian lama para petinggi berdiskusi, mereka menimbang-nimbang karya Vita untuk di produksi secara masal di pabrik mereka.

"Menurut saya karya ibu Vita itu cukup bagus di pasaran." ujar salah satu petinggi perusahan tersebut.

Dan mereka yang berrembuk saling melempar opini mereka. "Tapi tadi ada karyawan baru yang berani memberi komentar atas karya ibu Vita. Apa itu tidak masuk dalam pertimbangan kita?" sanggah salah satu petinggi lainnya.

Dan mereka pun saling menatap satu sama lain. Lalu mereka mengalihkan pandangan mereka ke karya Vita yang di pamerkan di atas panggung.

"Sudahlah kita kan sudah mengetahui kapasitas dari ibu Vita, kita harus akui itu, sedangkan wanita yang memberi masukan tadi adalah wanita yang baru masuk ke sini." ujar lainnya.

Dan para petinggi pun mengikuti votting apakah karya Vita bisa rilis bulan ini atau tidak.

Setelah sekian lama akhirnya pembawa acara dalam rangka praperilisan akhirnya mengumumkan.

"Hadirin yang berbahagia... dari sekian lama acara berlangsung, ini adalah saatnya yang di tunggu-tunggi, para petinggi sudah memiliki keputusan, dan keputusannya adalah jika bulan ini karya ibu Vita bisa rilis." ujar pembawa acara tersebut di atas panggung yang membawa acara dengan kebahagian dan senyum merekah.

Tepuk riuh pun terdengar bergemuruh di seisi ruangan menyambut kebahagian Vita yang bisa merilis karyanya yang ke 8.

"Karya akan di produksi masal, mulai dua hari yang akan datang." tambah sang pembawa acara.

Dan acara pun di tutup, para yang hadir pergi satu persatu meninggalkan ruangan.

Begitu pula dengan Hans, Mata Hans menatap setiap arah seperti tatapan mata elang untuk mencari keberadaan Vania.

Namun sayang keberadaannya tak di dapatkannya dan dia pun langsung keluar dari aula,

Dan Hans pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang kerjanya.

Dan dia pun sesampai ruang kerjanya langsung duduk di sofa, dia melepaskan jas yang melekat di tubuhnya.

"Tatapan matanya sangat tajam, ucapannya sangat lugas. Apa mungkin dia? Dulu aku ingat betul jika dia adalah perempuan yang ramah, dan gaya perilakunya sangat lembut." ujar Hans yang pikirannya terus berperang sendiri memikikirkan sesosok Vania.

"Tapi jika dilihat bukti semakin mengerucut ke dia, dari tanda lahir di lehernya dan dari asal sekolahnya juga." lanjut Hans yang terus menimbang-nimbang apa yang tengah terjadi.

Dan Hans pun meraih telepon yang terletak di atas meja tepatnya di samping sofa.

"Hallo, tolong kamu suruh datang karyawan baru atas nama Vania ke ruangan saya sekarang." ujar Hans dan dia pun langsung menutup panggilan teleponnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status