Share

BAB 4 (POV RANI 2)

POV Rani 2

Acara resepsi baru diselenggarakan, hiasan bunga-bunga mewah memenuhi ruang gedung ini. Sengaja aku ingin resepsi di gedung, agar tetangga dan keluargaku merasa takjub. Dengan banyak jenis menu masakan yang tersaji yang menggugah selera, sampai-sampai ada menu kambing guling disana. Pasti besanku yang sengaja menambahkan menunya.

Aku bahagia, semua tetangga dan keluarga besarku memuji kemewahan acara ini. kulihat diantara banyaknya tamu yang hadir, Bu Lusi tampak langsing dengan balutan kain brukat khas Sunda, sama persis denganku. kecantikannya tak beda jauhlah denganku.

Sejak hari itu para tetangga selalu memujiku, apalagi soal masakan yang dihidangkan dan dekorasi yang super mewah menurut versi mereka.

3 bulan kemudian

***

"Nduk, apa kamu sudah berfikir matang-matang mau ninggalin ibu disini?" Ucapku pada mantuku.

"Sudah Bu, Nisa sudah diskusi dulu sama Mas Aldi kalau kita mau mengontrak rumah saja, hitung-hitung belajar mandiri,"

Belajar mandiri kok ngontrak. Apa orangtuanya gak sediain rumah buat anakku tinggal. Kan kasian Aldi, harus nanggung biaya kontrakan perbulan. Memang dasar pelit si Besan.

"Yasudah nduk. Kalau itu keputusan kalian, ibu gak bisa maksa."

Hari itu sengaja ku carikan kontrakan yang dekat dengan rumahku. Agar jika ada apa-apa tak susah. Kebetulan kontrakan milik Bu Retno ada yang kosong, buru-buru ku booking agar tak didahului orang lain.

"Makasih Bu, ini Nisa ganti biaya sewa kontrakannya,"

"Gak usah kamu ganti Nis, udah.. kamu tempatin saja. Masalah perabotan biar itu jadi urusan Ibu, yang penting cepat-cepat kasih Ibu cucu ya," ucapku sambil mengelus perut rata mantuku.

Biarlah keluar duit dulu, kan nanti bisa kuminta ganti sama Aldi, pasti uang amplop resepsi masih banyak kan. Yang terpenting sekarang aku bisa mengambil hati mantuku dulu, agar kalau aku minta apa-apa sama orangtuanya kan gak susah.

Hari berlalu, kudengar kabar bahagia dari anak mantuku, impianku untuk segera menimang cucu akan segera terkabul. Bahagianya hati ini.

Sembilan bulan kujaga mantuku baik-baik. Kurawat, kuratukan dia. Agar nanti calon cucuku lahir sehat sempurna. Aku tak mau ada c4cat sedikitpun pada calon cucuku.

Tiba hari lahirnya cucuku, kusarankan untuk lahiran di bidan dekat rumah, selain bagus, Bidan Wati juga penyabar. Sudah terlihat kedua besanku yang setia mendampingi, aku, Aldi dan suamiku juga ikut menemani.

Tak lama suara tangis bayi terdengar. Kami semua mengucap hamdalah seraya menitikan air mata atas lahirnya penerus keturunanku.

"Alhamdulillah, bayinya perempuan.. cantik seperti mamanya." Ucap Bidan Wati

Enak saja. Ya jelas mirip Aldi anakku. Yang jelas-jelas ketampanannya menurun dariku.

Buru-buru kugendong cucuku, sebelum yang lain mendahului.

"Bu Rani, apa sebaiknya bayinya disusui dulu sama Nisa, kasihan sepertinya ingin mimi, sudah daritadi Bu Rani gendong," ucap besanku.

"Nisa, apa air su5umu sudah keluar,?" Tanyaku

"Alhamdulillah sudah bu, malah suka rembes akhir-akhir ini, biar Nisa su5uin dulu, Bu."

Terpaksa kuberikan cucuku untuk menyu5u. Aku beranjak dari ruang perawatan menuju ruang administrasi. Ku lunasi semua biaya pembayaran lahiran Nisa, agar nanti aku berhak atas cucuku.

Sepulang dari klinik bersalin, kusuruh Aldi dan Nisa untuk tinggal dirumahku dulu. Agar aku bisa memantau cucuku. Sebenarnya yang kuinginkan Nisa kembali bekerja. Biar cucuku, aku yang urus. Masalah asi kan bisa kuberikan cucuku sufor. Tinggal setiap bulan gaji Nisa full diberikan kepadaku, hitung-hitung biaya mengurus anaknya dan untuk beli sufor.

"Nisa, ibu sudah punya nama untuk cucu ibu. Pokoknya harus pakai nama itu. Alea.. namanya Alea. Kalau kepanjangannya terserah kalian. Yang terpenting nama ayahnya gak ketinggalan." Ucapku

"Bagus Bu namanya, tadinya Nisa sama Mas Aldi juga sudah siapkan nama, tapi gak apa-apa, Nisa kasih nama Alea Kirana Prasetya, cantik kan seperti parasnya,"

"Lah iya, keturunan saya semuanya gak ada yang gagal. Termasul Alea, baguslah, Nama ayahnya gak ditinggal."

Hari-hari kulalui dengan bahagia. Semenjak Alea lahir, sayangku padanya amatlah besar. Bisa jadi melebihi kasih sayang mamanya, si Nisa.

Aku harus memikirkan bagaimana caranya memisahkan Alea dari Nisa, selain menguasai gaji Aldi, aku juga ingin bersama cucuku selalu.

Waktu itu aku sengaja membawa Alea ke rumah Mbak Susi, kubilang mau kepasar, malas juga lama-lama lihat kelakuan si Nisa, tiap waktu kerjanya gak makan ya ngelonin Alea aja, masih mending kalau badannya tambah gede, ini habis lahiran malah kayak sapu lidi badannya. Padahal sudah mau dua bulan. Sepertinya aku harus cari cara supaya si Nisa buru-buru kerja. Biar Alea aku yang urusin.

Kuceritakan pada Mbak Susi kalau ASI si Nisa seret, wong badannya kayak sapu lidi, biar Mbak Susi memihakku, ku bilang saja kalau sekarang Alea minum sufor, tak disangka Mbak Susi percaya saja, malah membelikan sekotak sufor plus botolnya. Mungkin karena Alea nangis terus, ku katakan bahwa aku lupa membawa perlengkapan menyu5ui Alea.

Ternyata gampang membuat Nisa manut apa kataku. Apalagi malam itu kuyakinkan Aldi agar Nisa tak menolak. Dan akhirnya, dia bersedia bekerja di pabrik tempat suamiku kerja. Kusuruh Nisa mempersiapkan lamaran agar semakin cepat dia masuk kerja.

Hari itu kulihat Putri sedang menemani Alea,

"Put, Mbakmu mana,?

"Ke toko Wa Susi Bu,"

Mungkin si Nisa beli untuk perlengkapan melamar pekerjaan. Baguslah, memang tugas mantu itu nurut apa kata mertua. Tapi kok lama ya. Jangan sampai si Nisa ngobrol keterusan sama Mbak Susi. Bisa gawat kalau semuanya ketauan.

Setengah jam berlalu, kudengar suara gerbang depan seperti ada yang membuka, buru-buru kugendong Alea agar si Nisa tau, betapa sayangnya aku sama cucuku.

Dari gelagatnya si Nisa seperti marah denganku, nada bicaranya yang datar, dan tatapan matanya yang jika ku tanya dia menjawab dengan tatapan tajam sekali seperti pisau belati.

Dan benar saja. Mbak Susi menceritakan semuanya. Soal biaya persalinan dan soal susu formula. Harus pakai alasan apa sekarang. Pokoknya rencanaku tak boleh ada yang gagal. Aku ingin Alea bersamaku, apapun keadaannya.

POV Annisa

***

Sepulang suamiku, seperti biasa kusiapkan air hangat untuk mandi, setelah itu makan bersama, hanya aku dan Mas Aldi. Putri, Ibu dan Bapak mertua sudah lebih dulu menyantap makan malam. Aku sengaja menunggu Mas Aldi pulang, rasanya kasian jika pulang kerja suamiku makan tak ada yang menemani.

Kulihat semua penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya, kesempatan bagus untuk ku utarakan keinginan dan kukeluarkan perasaan yang mengganjal ulah Ibu Mertuaku pada Mas Aldi.

"Alea sudah bobo dek,"? Tanya suamiku sambil menunggu kusendokkan nasi beserta lauk kepiringnya.

"Sudah mas, dari sebelum maghrib Alea sudah tidur," jawabku dengan memberikan sepiring nasi dan lauk.

"Mas, sepertinya aku gak jadi kerja. Difikir-fikir kasian Alea,"

"Lho, terus katanya mau bantu Mas buat bayar hutang ke Ibu agar bisa cepat-cepat bawa Alea pindah,"

"Ibu berbohong Mas, soal biaya lahiran Nisa." Jawabku dengan datar

"Maksud kamu,?"

"Biaya lahiran Nisa hanya sebesar 1,5juta Mas, Uangnya ibu pinjam dari Wa Susi, Wa Susi bilang kalau dia sudah mengikhlaskan uang itu."

Tak ada keterkejutan diraut wajah suamiku. Apa sebenarnya dia sudah tau masalah ini, tapi kenapa dia tidak bilang. Sampai uang gajinya tiap bulan habis diberikan untuk ibunya. Memang, semua urusan dapur Ibu yang atur, tetapi aku juga ingin merasakan nafkah dari suamiku, sekedar untuk beli makanan yang ku suka, atau menchack-out baju Alea yang sudah banyak tertimbun di keranjang online shop ku.

"Jadi kamu ngadu sama Wa Susi ? Seharusnya, kamu harus bisa menjaga nama baik ibu. Jangan sampai keluarga lain salah faham sama Ibu. Niat ibu baik, menyimpan gaji Mas di tabungannya." Ucapmya pelan dengan tanpa memandang wajahku.

"Apa Mas bilang ? Aku gak ngadu sama Wa Susi Mas, kok kamu jadi nyalahin aku,? Apa mas sudah tau ini semua?"

Kecewa, apakah ini sifat asli suamiku? Menghalalkan perlakuan dzolim ibu mertuaku, sampai suamiku lupa jika sekarang sudah beristri.

"Mas gak nyalahin kamu, pokoknya kita harus nurut apa kata ibu, surga mas tetap ada pada Ibu, surga kamu ada pada Mas, faham?"

"Itukan Ibumu Mas, bukan Ibuku." Kataku sambil beranjak pergi menuju kamar.

"Nisaaa.. Mas belum selesai bicara."

Tak kuhiraukan teriakan suamiku yang terus memanggilku. Tak bisakah dia mengertikan perasaanku saat ini.

Ku sudahi acara makan malam ini. Walaupun baru dua suap nasi yang kutelan, rasa lapar itu hilang berubah menjadi rasa kecewa. Kubaringkan tubuhku sambil menatap wajah putri kecilku. Tak terasa bulir bening membasahi pipi, aku terhanyut dalam semua peristiwa yang ku alami hingga tak terasa mata pun terpejam.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status