Share

KEKASIHKU BUKAN BODYGUARD BIASA
KEKASIHKU BUKAN BODYGUARD BIASA
Penulis: La Bianconera

Part 1 Aruna

"Mbak Runa, bagaimana tanggapan Anda tentang film baru Anda?"

"Mbak Runa, dua menit saja, Mbak. Hanya dua menit, tolong jelaskan tentang..."

"Mbak, tunggu, Mbak!"

Suara puluhan awak media saling bersahutan. Rupanya, mereka sudah menunggu di depan lobby hotel berbintang tempat Aruna menghadiri acara gala dinner.

"Lewat sini, saja!" seru seorang laki-laki sambil menuntun lengan kurus Aruna.

Gadis bertubuh tinggi semampai itu mengangguk. Dia segera melepas high heelsnya supaya lebih cepat berjalan menuju ke halaman parkir samping. Aruna tidak menghiraukan rasa perih di telapak kakinya yang menginjak kerikil.

Pemandangan seperti itu selalu ditemui Aruna ketika dirinya keluar rumah. Apalagi, semenjak beberapa bulan terakhir, Aruna menjalin pertemanan dengan seorang atlet sepakbola. Tidak hanya tentang proyek film yang diincar para pemburu berita. Namun, juga tentang kisah asmara gadis itu.

Aruna menghempaskan tubuhnya ke jok mobil. Dia memejamkan mata yang terasa penat. Sang sopir pribadi melirik sekilas dari center mirror, lalu menarik napas pelan.

"Setelah ini, Mbak mau mampir ke mana?" tanya Pak Sopir.

Aruna membuka mata sebentar dan melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. "Langsung pulang, Pak. Sudah malam. Nanti diceramahi Papa," jawabnya sambil terkekeh pelan.

Meskipun sudah menjadi artis yang karirnya tengah meroket, Aruna tidak melupakan sosok ayahnya itu. Laki-laki tua itu cenderung cerewet dan posesif memperlakukan Aruna. Bahkan tidak jarang dia selalu menganggap Aruna gadis kecil yang perlu dipantau 24 jam.

Aruna memaklumi perlakuan sang ayah. Apalagi dia adalah anak perempuan satu-satunya. Kedua orang tua Aruna bercerai ketika Aruna masih berusia belum genap setahun. Sang kakak dibawa pergi oleh ibunya yang menikah lagi dengan pria warga negara asing.

Ciiit!

Aruna tersentak kaget. "Ah! Ada apa, Pak?" tanyanya.

Sang sopir berdecak kesal. "Itu, Mbak. Biasa, anak-anak random lagi keluyuran!" jawabnya sambil menunjuk segerombolan anak baru gede yang mengendarai motor secara zig zag.

"Oh, ya sudah. Hati-hati saja, Pak," ucap Aruna sabar.

Gadis itu ikut menoleh ke arah luar kaca jendela mobil. Dia menggeleng samar kemudian menoleh pada Isma, asisten pribadinya.

"Neng, sudah malam. Nggak usah pulang. Tidur saja di rumah, besok baru pulang."

"Iya, Mbak. Nanti aku telepon Mama," jawab Isma kemudian memejamkan mata lelah.

Setiap hari, Aruna dan Isma disibukkan dengan jadwal shooting, pemotretan, dan undangan ke stasiun televisi. Aruna melirik handphonenya yang bergetar.

Aruna memutar bola mata malas mendapati beberapa pesan masuk dari ayahnya. Yang semua intinya sama. Yakni, menanyakan kapan dirinya pulang.

["Sebentar lagi, sampai rumah, Pa."] Aruna membalas singkat.

Pak Sopir melirik spion kiri. Laki-laki 40-an tahun itu menggeleng samar dan mempercepat laju kendaraannya. Aruna dan dan Isma yang berada di jok belakang masih tidak menyadari jika dua sepeda motor mengikuti mereka.

Pak Sopir kembali menggeleng samar. "Apa maunya mereka, perasaan sering banget mengikuti mobil kami," batin laki-laki itu. Dia melirik center mirror.

Di sisi kiri, Aruna sibuk dengan handphone. Sedangkan di jok kanan, Isma sudah terlelap dalam mimpi. Pak Sopir kembali melirik spion. Dua sepeda motor tadi masih membuntuti mereka.

"Mbak Isma!" panggil Pak Sopir.

Isma langsung mengerjap kaget dan mencondongkan badan ke depan. "Ada apa, Pak?" tanyanya bingung.

"Kamu telepon kantor polisi, Mbak. Sepertinya ada yang membuntuti kita," titah laki-laki itu.

Isma dan Aruna langsung menoleh. Benar saja, di sisi kiri mobil, pengendara motor itu tampak mengacungkan sesuatu ke arah mobil.

"Menunduk, Mbak Runa. Mbak Isma, cepat hubungi polisi!" seru Pak Sopir lagi.

Tangan Isma bergetar memegang handphone. Di sisi kiri, Aruna meringkuk di jok. Gadis itu melirik ketakutan ketika mendengar kaca mobil digedor dengan kuat.

"Berhenti! Serahkan benda berharga kalian!" teriak salah seorang pengendara motor.

Aruna semakin ketakutan. Sedangkan Pak Sopir tetap fokus pada kemudi. Wajah Isma tampak pucat.

"Pak, lemparkan tas ini keluar supaya mereka nggak ngejar kita lagi!" cetus Isma gemetaran.

Isma mengulurkan tasnya ke depan setelah mengosongkan isinya. Pak Sopir berdecak dengan kepolosan gadis itu. Bukan itu yang diinginkan dua pemotor tersebut. Mereka menginginkan Aruna celaka.

Entah apa yang mendasari mereka hendak mencelakai Aruna. Hal ini tidak hanya sekali. Aruna pernah mengalami insiden yang membuat lengannya cidera di lokasi pemotretan. Aruna juga sering diteror oleh paketan yang mengatasnamakan fans.

Isma sedikit mengangkat wajahnya. Gadis itu memejamkan mata sejenak sembari menarik napas lega ketika mendengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan.

"Sialan! Lolos lagi tuh perempuan. Kita harus segera kabur sebelum polisi menangkap kita!" seru salah satu dari mereka.

Kedua motor itu hendak berbelok. Namun, salah satu dari mereka mengacungkan pistol ke arah mobil yang ditumpangi Aruna.

"Jangan bodoh! Kamu mau, polisi menemukan kita lewat peluru itu? Kabur! Masih banyak waktu untuk menghabisi Aruna!" teriak laki-laki berbadan tegap.

Mobil polisi semakin mendekat. Pak Sopir menghentikan mobil di bahu jalan. Salah satu polisi turun dari mobil dan menatap ke dalam mobil milik Aruna.

"Terima kasih, Pak!" ucap Isma lega.

Di sebelah kiri, Aruna masih meringkuk ketakutan meskipun kedua pemotor tadi telah kabur entah ke mana. Gadis itu mendongak pelan lalu membekap wajahnya dengan telapak tangan.

"Apa alasan mereka ingin mencelakai aku?" tanyanya retoris.

Isma mengusap pelan lengan Aruna. "Mungkin itu hanya ulah fans yang nggak suka sama Mbak Runa. Jangan khawatir, Mbak. Kita semua pasang badan untuk Mbak," hiburnya.

Aruna tidak menanggapi. Dia benar-benar frustasi. Kepopuleran yang dia gapai tidak diiringi dengan keselamatan dirinya. Jutaan fans mengidolakan Aruna, namun segelintir orang menginginkan dirinya celaka.

Sesampai di rumah, Aruna langsung diinterogasi oleh ayahnya karena terlambat pulang. Mau tidak mau, Isma menjelaskan apa yang terjadi. Laki-laki tua itu mengusap kasar dahinya yang keriput.

"Papa harus cari bodyguard untuk kamu!" ucap sang ayah tegas.

Aruna langsung mendongak dengan tatapan protes. Bodyguard? Dia tidak menyukai itu. Dia tidak ingin privasinya diganggu oleh kehadiran orang asing.

"Nggak usah, Pa. Ini cuma ulah fans. Nanti juga bosan sendiri!" tolak Aruna cemberut.

Sang ayah berdecak kesal. "Ini bukan ulah fans, Runa! Tapi ulah orang yang ingin melihat kematianmu!" ucapnya lantang.

Aruna tersentak. Begitu juga dengan Isma. Ternyata mereka tidak hanya ingin melihat Aruna celaka, tetapi ingin melihat Aruna mati?

* * *

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status