Share

Bab 2. Kedatangan Mas Erick

1,3,4,5,6,7,8,9,10. Sudah benar belum menghitungnya?

* Kok nggak ada dua-nya?

*Sama kayak kamu dong! Enggak ada duanya ... 

***

Hatiku terasa teremas mendengar percakapan mereka. "Awas saja kamu, Mas!" seruku lirih sambil menggeretakkan gigi menahan kesal dan amarah. 

"Dan Ayah ternyata menyembunyikan rahasia besar selama ini. Apa sekarang lebih baik aku tiba-tiba muncul saja dan mengagetkan mereka?" gumamku lirih. 

"Ah, jangan! Nanti malah aku yang dikeroyok oleh mereka. Lagipula, kalau ketahuan sekarang kan jadinya tidak seru. Mereka harus malu bahkan harus menderita lebih parah dibandingkan rasa sakit hatiku ini!"

Aku masih berjongkok di luar pintu rumah mas Erick dengan menimbang apa langkah yang seharusnya aku ambil saat ini seraya tetap merekam kelakuan dan segala ucapan mereka.

Aku mencoba menahan rasa kram dan kesemutan yang mulai menyerang kedua kaki demi mendapatkan bukti untuk mempermalukan mereka.

"Sudah cukup nih rekamannya. Sudah cukup bukti untuk membalas rencana mereka. Emang mereka saja yang bisa bikin rencana. Aku juga bisa."

Aku segera berlalu dari rumah mas Erick dan segera pulang.

***

Di tengah jalan, ponselku berdering lagi. Kulirik dengan rasa malas. Masih terasa nyeri di hati karena kenyataan yang baru saja tersaji di depan mata membuatku merasa malas untuk melakukan apapun selain bernafas dan mengedipkan mata. 

"Huft, ada apa sih ini? Kenapa Dokter Reyhan menelepon?! Bukannya dia sekarang sedang dinas?" gumamku pada diri sendiri.

Ponselku terus berdering tanpa kenal lelah apalagi menyerah. 

"Haduh, terima saja deh. Barangkali ada hal penting yang ingin disampaikan oleh dokter Reyhan," gumamku lalu menekan tombol hijau dan memasang salah satu headshet di telinga kiri.

"Halo Dok, ada apa menelepon? Bukannya sedang dinas ya? Terus kata Dokter tadi sedang banyak pasien. Kenapa menelepon?" tanyaku beruntun. 

"Halo, Nis. Kamu tadi berhutang penjelasan kenapa mendadak lari dan pulang setelah melihat status calon suamimu?"

Aku memutar bola mata. 'Haduh, kepo banget jadi orang!'

"Dokter mau tahu saja apa mau tahu bulat?" tanyaku kesal.

Tanpa kuduga terdengar suara tertawa dari seberang.

"Hahaha, kamu bisa saja, Nis. Jadi ada apa?"

Aku menghela nafas panjang. Antara kesal dan gemas dengan dokter Reyhan.

"Rahasia Dok. Itu privasi saya. Sudah ya. Saya akhiri teleponnya. Saya kira ada keperluan apa sampai telepon saya saat Dokter sedang dinas, eh, ternyata Dokter cuma penasaran saja."

"Eh, tunggu! Aku ...,"

Tutt.

Aku bergegas mengakhiri panggilan telepon sepihak tanpa menunggu respon dari dokter Reyhan dan langsung mematikan ponsel. 

"Ya Tuhan, kenapa hari ini terasa begitu berat dan mengejutkan?" keluhku sambil menepikan mobil di sebuah masjid besar. Aku baru ingat belum menunaikan salat duhur dan tentu saja selain itu ada air mata yang ingin kutumpahkan agar perasaanku reda.

***

"Ganis, kamu darimana saja. Kok baru pulang. Ditelepon juga enggak diangkat," omel bunda saat aku baru saja menutup pintu depan.

"Haduh Bunda! Rengganis kan sudah besar. Sudah bisa jaga diri kalau Ganis jalan-jalan," sahutku sambil melenggang masuk ke dalam kamar.

"Kamu sudah izin cuti ke direktur tempat kamu bekerja?" tanya mas Aris. 

"Sudah Mas. Ayah mana?" 

"Dimana lagi kalau bukan ke restoran apung. Ayah tetap saja enggak percaya walaupun aku sudah berkunjung dan mengawasi karyawan di sana," keluh Mas Aris.

Aku mengedikkan bahu.

"Iya lah. Ayah kan memang super teliti. Kali aja uang customer di kasir diembat sama mas Aris," selorohku membuat mas Aris melemparkan bantal kursi depan padaku.

"Eits, gak kena!"

Aku menjulurkan lidah dan berlari menghindar.

"Hei sudah-sudah. Kamu ini Dek, tiga hari lagi menikah kok masih bertingkah seperti anak kecil." 

Mas Aris tertawa melihat bunda yang mengomeliku.

"Daripada Mas Aris sudah berusia 30 tahun belum nikah juga," sambungku tertawa lalu bergegas menuju kamar.

Di dalam kamar aku menutup pintu lalu merebahkan diri di atas kasur.

"Ya Tuhan, apa aku tega memberitahukan yang sebenarnya terjadi di hadapan keluargaku nanti," batinku seraya meraih ponsel yang ada di dalam tas selempang.

Rekaman dari ponselku tidak terlalu buruk. Masih jelas kalau diputar memakai microphone. Sayangnya rekaman gambarnya tidak begitu jelas, karena aku mengambil videonya dari kejauhan.

Aku menghela nafas dan air mata mulai mengantri untuk dikeluarkan saat menggeser dan membuka galeri foto.

"Ya Tuhan, ternyata rasanya sakit sekali menghadapi kenyataan ini. Apa salahku pada mereka sehingga mas Erick tega menyusun rencana untuk menciptakan neraka bagiku?" Aku bergumam lirih sambil menyentuh foto mas Erick yang sedang melambaikan tangan di area pembangunan perumahan.

"Apa aku tega mengatakan rencana ini pada orang tuaku? Padahal mereka serius ingin menebus kesalahan saat Ayah menabrak almarhum papa mas Erick." 

Aku menggumam lagi dengan pikiran buntu.

Tidak terbayang berapa biaya yang harus digelontorkan Ayah untuk pernikahanku yang ternyata sudah direncanakan oleh Mas Erick dan ibunya akan menjadi gerbang neraka untukku.

Tiba-tiba selintas ide muncul di kepala. Ide untuk mempermalukan mereka secara langsung di hadapan banyak tamu.

Dan Anin, sepertinya aku pernah melihat wajahnya. Ah, dia akan selebgr*m lokal.

Tunggu saja. Akan kupersiapkan hal khusus saat pernikahanku.

Peristiwa yang akan membuat mereka menyesal pernah membuat rencana untuk menyengsarakanku.

"Woy, putri tidur! Bangun! Ah elah! Ileran lagi!"

Terasa sebuah tangan dingin yang menepuk-nepuk pipi.

"Ayo makan! Ditunggu Ayah!

Aku mengucek mata. "Iya, iya.

Perlahan berjalan menuju kamar mandi dan segera cuci muka secepatnya.

"Gimana dengan persiapan akad dan walimah nanti, Nduk?" tanya Ayah saat aku sedang menyendok bakso yang ada di hadapanku.

"Siap Pa. Jangan khawatir. WO yang disewa sudah profesional kok," sahutku tersenyum getir. 

'Ah, bagaimana perasaan mereka kalau tahu bahwa aku berencana membongkar kebusukan keluarga mertuaku saat akad nikah?'

Sejenak berpikir untuk menanyakan tentang kejadian ayah yang menabrak almarhum papa mas Erick, tapi kuurungkan. Karena sama saja dengan membiarkan rencana yang sudah kususun gagal.

"Hm, sebentar lagi kamu akan meninggalkan Ayah dan Bunda. Bunda harap kamu masih mau sering menjenguk kami."

"Tentu saja Bun. Walaupun rencananya setelah menikah sebulan atau dua bulan, Ganis resign dan ikut ke rumah Mas Erick, Ganis akan sering mengunjungi rumah ini," sahutku mantap.

"Ya sudah. Ayo makan dulu. Keburu dingin ini," tukas ayah. 

Aku mengangguk dan berusaha menelan makanan yang terasa sekam di mulutku.

Namun tak lama kemudian, kami serempak berpandangan saat mendengar suara bel di ruang depan berbunyi.

"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" tanya Ayah. 

"Biar Ganis saja yang bukain, Yah."

Aku beranjak ke arah ruang tamu dan sangat terkejut begitu membuka pintu.

"Surprize!" seru mas Erick yang datang dengan membawa sebuket bunga mawar merah. 

"Kaget nggak?" tanyanya mengulas senyum.

"Iya. Kaget. Tentu saja. Karena aku baru tahu rencana busuk keluargamu, Mas!" bisikku. Tentu saja dalam hati.

"Masuk, Mas." 

Aku membuka daun pintu dengan lebih lebar lagi lalu mendahuluinya untuk duduk di sofa ruang tamu.

"Ayah dan Bunda ada kan?" tanyanya sambil menatap berkeliling ke seluruh ruangan.

"Ada. Sedang makan."

Dulu setiap aku melihat mas Erick, hatiku berdebar dan berbunga-bunga, tapi sekarang hanya ada rasa muak dan jijik

"Aku kesini untuk memberitahu bahwa ada perubahan rencana dalam pernikahan kita."

Aku mendelik.

"Apa Mas bilang?"

Hatiku berdebar, apakah tadi kedatanganku ke rumah mereka ketahuan dan rencana mempermalukan mereka akan berantakan? Tapi darimana mas Erick tahu? Bukankah rencanaku masih belum aku bicarakan pada siapapun?

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status